ada apa dengan GURU kita ?

GURU = di GU gu lan di ti RU , artinya orang yang diikuti petunjuknya dan patut diteladani, suatu artian yang penuh falsafah moril, sedangkan istilah dosen hanya sekedar sebutan profesi pengajar di perguruan tinggi. Jadi GURU mestinya lebih membanggakan dibanding DOSEN. Kenyataan, karena DOSEN umumnya ‘materi’-nya lebih kelihatan maka dianggap lebih hebat. Apa benar demikian, ya saya kira tergantung situasi dan kondisi (tidak berlaku umum).

Itulah masyarakat kita, yang melihat kesuksesan seseorang selalu dilihat luarnya saja. Itu jugalah yang mendorong orang kalau ada kesempatan akan bertindak korupsi, atau untuk level tertentu mencontek juga tidak apa-apa asalkan nilai UN-nya di atas ambang lulus yang ditetapkan.  Itu khan yang terjadi saat ini.

Hari ini KOMPAS membahas kecurangan yang terjadi selama UN. Mendengar kata ‘curang’ maka sepengetahuan kita tentulah adalah inisiatip murid atau joki yang ketahuan guru. Yah, kalau ada kesempatan dan gurunya tidak tahu mau apa ?

Jadi gurunya yang harus waspada.

Kenyataan yang terjadi ternyata kecurangan tersebut berasal dari para gurunya, kalau begitu lalu bagaimana ? Guru yang seharusnya jadi panutan bahkan yang memberi contoh, ternyata tidak demikian adanya.

Baca lebih lanjut