prosiding EACEC Singapore 2001

Artikel tentang prosiding dan down-load gratis ternyata cukup menarik bagi pembaca blog ini. Itu ditandai dengan dibacanya artikel tersebut ratusan kali pada hari pertama launching. Padahal jumlah artikel di prosiding HAKI 2006 itu relatif kecilll.

Kalau begitu, saya akan meluangkan waktu surfing data-data di storage digital pribadi untuk melihat kumpulan data lama, kelihatannya prosiding berikut cukup menarik untuk di up-load. Setuju ?

Jika pada setuju, nanti saya usahakan untuk meng-up-load data-data digital lain yang saya punya. Mumpung tidak keselip, saking banyaknya sih. 🙂

Manusia itu memang aneh ya, punya sedikit : “bingung”, kalau kebanyakan : “juga bingung akhirnya”. Jadinya, nggak kebaca semua !

Mampir ke blog ini, pasti puas-puas !!! 😀

Baca lebih lanjut

prosiding HAKI 2006

Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) secara rutin menyelenggarakan seminar nasional di Jakarta. Pada kesempatan tersebut banyak ahli-ahli struktur dari Indonesia dan kadang-kadang pembicara tamu dari luar negeri yang menyampaikan makalah tentang bidang-bidang struktur yang ditelitinya.

Kalau melihat trend-nya cukup banyak dari mereka yang menyampaikan makalah-makalah tentang kegempaan yang cukup baik untuk diketahui oleh para insinyur.

Sayangnya makalah-makalah tersebut hanya terdistribusi terbatas, hanya bagi peserta seminar tersebut dan orang-orang disekitarnya. Tentu saja itu menimbulkan kesan eksklusif karena saya yakin masih banyak insinyur lain yang belum tahu. Saya yakin itu, karena saya yang di Jakarta saja kadang-kadang kelewatan mendengar acara tersebut, mungkin itu salah saya juga karena kartu keanggotaan HAKI-nya sudah lama tidak diperpanjang.

Tetapi untunglah banyak teman-teman engineer lain yang baik hati, nggak tahu bagaimana caranya, tetapi makalah-makalah pada seminar yang tidak saya hadiri itu pada akhirnya dapat dibaca juga. Karena alasan itulah, maka makalah tersebut perlu disosialisasikan ke teman-teman lain. Tentu ini akan sangat menarik bagi pembaca di blog ini. Setuju ?

Bagi pembuat makalah, saya kira juga setuju, karena ide-idenya yang brilian dapat tersebar secara lebih luas sehingga nama-nama beliau (pemakalah) semakin dikenal ke kalangan lain dan tidak terbatas pada para peserta seminar HAKI saja, juga yang lain. Siapa tahu, yang belum jadi anggota HAKI ingin masuk jadi anggota, begitu khan.

Moga-moga para pengurus HAKI berkenan dengan upaya ini. Semoga.

Baca lebih lanjut

PLTN di Indonesia ?

Jika di luar sana, penggunaan teknologi nuklir masih saja menjadi perdebatan (ingat Korea Utara,  Iran, dsb) sehingga hal-hal tersebut menimbulkan masalah dengan dunia internasional.

Indonesia yang tanpa nuklirpun sudah banyak masalah ternyata diam-diam masih ngotot agar teknologi tersebut digunakan dalam bentuk PLTN.

Siapa yang ngotot ?.

Itu lho. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) , Dr. Hudi Hastowo yang saat ini sedang mengusahakan ketetapan Presiden ttg siapa kepemilikan PLTN , memberi pernyataan ke Kompas bahwa “Perkembangan teknologi nuklir sekarang semakin maju. Untuk melindungi radiasi radioaktif ditempuh secara berlapis, setidaknya hingga lima lapis” (Kompas, 27/6) .

Itu khan jelas, secara tidak langsung Dr. Hudi menyatakan bahwa PLTN itu aman lho. Jadi dapat dipakai di sini (Indonesia) !

Pernyataan Dr. Hudi Hastono didukung penuh oleh mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi , Dr. Muhammad A.S. Hikam, pakar ahli bidang politik yang menjadi anggota Komisi Ahli Nuklir Indonesia, dengan menekan pemerintah agar segera memberi jawaban atas penetapan kepemilikan PLTN  tersebut (Kompas, 27/6). 

Wah, wah top, para ‘ahli’ mendukung digunakannya nuklir di Indonesia.

Tetapi ternyata tidak semuanya.

Ada ahli lain

  • Prof Liek Wilardjo (fisikawan di Universitas Satyawacana, Salatiga) berarti tahu sekali dong tentang nuklir dibanding ahli politik,  menyatakan bahwa memilih PLTN adalah sikap gegabah (Kompas, 12/6) .
  • Prof Otto Soemarwoto (ekolog di UNPAD, Bandung) menekankan perlunya kajian nisbah untung rugi yang mendalam sebelum memilih opsi PLTN (Kompas, 14/6).
  • Prof. Budi Widianarko (anggota SETAC Asia Pacifi, guru besar toksilogi lingkungan Unika Soegijapranata, Semarang) menekankan perlunya persetujuan masyarakat terhadap pilihan teknologi yang sarat resiko. (Kompas, 27/6)

Resiko ? Ya benar. Prof Liek bilang :

… akibat ulah manusia mengoperasikan PLTN, muncul ratusan jenis radio isotop dan limbah serta bahan bakar nuklir bekas di dunia ini bertambah terus. Itulah warisan maut untuk generasi yang akan datang ! (Kompas 27/6)

Gimana itu ?

Yang ahli yang mana sih tentang nuklir tersebut ?

yang sedang punya jabatan dan punya gelar doktor (meskipun bukan bidangnya) !!!! .
He, he, jadi inget tentang salah satu dosen yang nglamar pengin ngajar di program pascasarjana (teknik), kalau udah doktor (meskipun ikip) khan ahli semua. Jadi bisa ngajar mata kuliah apa saja di s2 teknik (itu ketika ditanya mata kuliah apa yang menjadi keahliannya).

atau

profesor ahli di bidangnya, tapi tidak punya jabatan yang berkaitan tentang kebijaksanaan nuklir tersebut ????

indonesia, indonesia, ….  sudah begini nggak kapok-kapok lagi.  😦

gambar 3D, perlukah ?

Gambar 3D lebih mudah dipahami dibanding gambar 2D, khususnya bagi awam. Jika bagi awam saja demikian, tentunya jika gambar 3D diterapkan bagi para engineer pasti akan sangat membantu.

Kenapa selama ini memakai gambar 2D. Jelas karena lebih mudah, khususnya jika dikerjakan secara manual. Jadi dasar pemikirannya adalah cara penggambaran manual. Meskipun dalam pelaksanaannya sudah memakai program komputer AutoCAD.

Seperti pendapat umum: bisa karena biasa. Karena terbiasa memakai gambar 2D (adanya itu sih) maka engineer tidak mempunyai permasalahan mewujudkan karya-karyanya berdasarkan gambar tersebut.

O ya, ada keunggulan dari gambar 2D, yaitu paling mudah jika digabung dengan pen-dimensian, penempatan ukuran. Kalau gambar 3D jadi sangat rumit (ruwet) hasilnya.  Itulah keunggulannya. Benar nggak sih ?

Intinya jika mau gambar 3D maka gambar 2D tetap diperlukan, atau gambar 3D menjadi pelengkap. Gambar 3D tidak menggantikan gambar 2D dibidang engineering.

Baca lebih lanjut

yg penting NIAT dan USAHA

Sebagai orang timur, kita selalu menghibur diri atau menenangkan hati untuk suatu tindakan yang mungkin belum berhasil, yaitu “yang penting khan niat dan usaha” hasilnya mah nanti , kita lihat dulu.

Tapi kalau hanya didasarkan atas niat dan usaha, tanpa didukung oleh ilmu dan pengetahuan yang benar maka kadang-kadang hasilnya mengecewakan lho, meskipun alat-alatnya ada dan canggih. Bahkan bisa berbahaya.

Yang benar pak Wir ?

Inilah salah satu gunanya ilmu mekanika teknik tentang hukum keseimbangan. Kalau nggak diikutin atau dicheck terlebih dahulu, ya itulah akibatnya.

Lihat aja peristiwa berikut !

Baca lebih lanjut

gedung parkir paling EFISIEN

Jumlah pemakai mobil terus meningkat, padahal lahan parkir semakin terbatas. Solusinya adalah dibangun gedung parkir bertingkat. Itu telah menjadi trend solusi masalah perpakiran gedung-gedung tinggi di Jakarta, khususnya mal atau pusat perbelanjaan yang jumlah pengunjungnya pada jam-jam tertentu melonjak tinggi.

Tetapi pemakaian gedung-gedung parkir juga menimbulkan masalah, khususnya di bidang keamanaan. Jelas dengan ketinggian pasti lebih beresiko dibanding parkir di tanah (bawah). Jika yang konvensional saja tempo hari dapat mendatangkan celaka (ingat mobil Jazz yang jatuh di salah satu mal di Jakarta).  Jika demikian sistem gedung parkir yang paling efisien mungkin susah di bangun di Indonesia.

Mengapa ?

Tentu jika anda telah melihat sistem yang dimaksud, mungkin sudah tahu jawabannya. Perlu pengoperasian yang teliti dan disiplin agar dapat bekerja sesuai fungsinya. Apakah orang-orang kita sanggup itu.

Aku koq nggak tahu apa yang Bapak maksud ? Apa sih pak !?

Itu lho sistem parkir bertingkat di Wolfsburg, Jerman. Belum tahu ya ? Jika belum silahkan aja baca kelanjutannya, ada fotonya koq.

Baca lebih lanjut