Makna lain tahun baru

Makna lain tahun baru

Jika kita mau meluangkan sejenak membaca artikel-artikel di internet atau media publikasi lain, mengenai bagaimana semangatnya mereka dalam menyambut tahun baru yang segera menjelang. Sebagaimana konsep berpikir positip yang memang seharusnya diambil, maka banyak rencana-rencana positip diberikan untuk tahun mendatang. Bagaimana strategi baru agar marketing-nya sukses, caranya agar dapat belajar efektif dengan lebih baik agar sekolahnya juga sukses. Demikian juga pada diriku, aku tanamkan keyakinan bahwa disertasiku harus selesai di tahun 2008 itu juga.

Intinya adalah adanya harapan atau bagaimana memberi motivasi bahwa apapun tantangan yang dihadapi di tahun mendatang ini dapat kita terjang demi kesuksesan di tahun tersebut. Iya khan.

Tetapi jika kita mau menengok sejenak, di sisi lain, adanya tahun baru menunjukkan bahwa manusia, sejak keberadaannya sampai hari ini ternyata masih di bawah kendali waktu, hanya sebagai objek pasif. Atau dengan kata lain, bahwa kita yang harus aktif menyesuaikan diri dengan kemauan waktu, kalau lengah maka waktu akan meninggalkan kita dan hanya penyesalan yang akan kita hadapi.

Baca lebih lanjut

gramedia matraman grand opening

Buku merupakan suatu investasi !
Benarkah ?

Ya, saya kira hanya sedikit orang yang mempunyai pendapat seperti itu, salah satunya adalah aku. Itu memang bermula dari suatu kebiasaan, kebiasaan membaca, membaca dan membaca. Mula-mula komik, pengetahuan umum, teknik dan akhirnya banyak topik yang dianggap menarik. Karena selalu tertarik ingin membaca literatur, tetapi waktu tidak menyempatkan maka akhirnya buku menjadi suatu koleksi. Untuk dibaca pada waktu yang tepat.

Baca lebih lanjut

Renungan akhir tahun 2007

Apa makna hidup bagi anda ?
Adakah tujuan yang ingin anda capai ?
Sekedar kaya, berhasil mengumpulkan uang, tanah, atau keberhasilan lain dalam karir / sekolah, atau mungkin ada yang sederhana saja: asal bisa makan, ngrokok dan santai, mau apa lagi ?

Wah pak, kalau saya, hidup ini adalah untuk berdoa, dzikir, untuk memuliakan Tuhan, oleh karena itu hampir setiap hari saya ke gereja (atau mesjid atau pura atau kuil atau apa lagi pokoknya yang berkaitan dengan hal-hal religius gitu). Itulah hidup pak ! ”, seseorang dari balik kegelapan dan yang sudah kelihatan memutih rambutnya tiba-tiba berkata.

Siapa anda, koq tahu apa yang saya pikirkan.

Baca lebih lanjut

pendapat pakar tentang blog ini

Pengantar Wiryanto Dewobroto :
Seorang saudara yang kebetulan liburan di Jogja di akhir tahun ini meluangkan diri membaca tulisan-tulisan saya pada blog ini. Karena beliau juga seorang pakar, dengan gelar Ph.D dari universitas ternama luar negeri yang juga menelorkan alumni yang sekarang menjadi menteri pada kabinet ini, juga seorang pembimbing doktoral di universitas negeri ternama di jabotabek, dan yang juga masih rutin menjadi salah satu penasehat ahli menteri, maka komentarnya tentu tidak sembarangan. Jadi ketika beliau berkesempatan menuliskan sms tentang blog ini maka saya rasa anda-anda juga pengin tahu isinya khan.

Baca lebih lanjut

wisata kuliner di Jogja

Wisata kuliner di Jogja

Akhirnya misa natal di gereja Antonius Kotabaru selesai juga. Dua jam lebih misa natal yang kami ikuti, cukup lama ! Padahal umumnya hanya sekitar satu jam lho. Mungkin ini dikarenakan misa khusus untuk anak-anak, jadi selain kebaktian rutin, cukup banyak juga diselipkan adegan operet. Bagus sih bagus, tapi kalau ditata lebih baik maka diyakini akan lebih khusuk.

Pada misa natal kali ini kelihatan sekali kalau mbak-mbak pengarah acara untuk anak-anak terlihat lebih dominan mengatur acara dibanding romo-nya. Mungkin karena volume mic yang dipakai terlalu keras, sedangkan punya romo-nya kurang kencang. Sayang, jadinya kelihatan nggak serius, romo-nya hanya terlihat sebagai obyek pelengkap.

By the way, saya kira itu hanya pendapat pribadi, semoga orang-orang lain yang ikut misa saat itu tidak berpikiran sama.

Eyang, setelah misa, kita mau kemana ? “, seorang cucu dengan nada lugu bertanya.

Baca lebih lanjut

natal dan kebersamaan

Waktu adalah uang. Itu jelas ! Apalagi bagi teman-teman netters yang terhubung ke dunia maya (world-wide-web) memakai fasilitas dial-up telpon. Semakin lama, maka semakin mahal. Juga yang senang berbicara via HP, mereka-mereka semua pasti paham bagaimana berharganya waktu. Jika tidak, maka bokek jadinya. 😐

Berkaitan dengan waktu, maka menyediakan waktu untuk bisa bersama-sama juga bukan sesuatu yang mudah. Ini tentunya sangat dirasa oleh teman-teman yang lagi sibuk-sibuknya mengejar maupun mempertahankan karier. Jadi kalau tidak berkaitan dengan urusan bisnis yang sedang ditangani maka menyediakan waktu bersama adalah tidak mudah, bahkan ada orang-orang tertentu yang tidak punya waktu bagi anak-anaknya sekalipun.

Sering kita dengar istilah cita dan cinta; karier dan keluarga. Menurut anda mana yang lebih penting ? O ya, kadang-kadang di doa orang tua kepada anak-anaknya terselip kata-kata permohonan agar anaknya dimudahkan rejeki dan jodo. Yah, semacam itulah.

Jadi dua hal tersebut merupakan unsur-unsur yang mewarnai hidup kita, yang membuat kita tertawa atau menangis.

Bagaimana cara kita menghubungkan keduanya ?

Setelah saya cermati, ada dua sarana yang dapat mengkaitkan, dapat memperkuat atau bahkan menghancurkan satu sama lain, yaitu uang dan waktu. Agar anda mendapat manfaat sebesar-besarnya maka anda harus pintar-pintar meramunya. Jika ramuan tersebut didukung oleh kesehatan (baik jasmani maupun rohani) maka saya yakin kebahagiaan akan berada di sekitar orang tersebut. Dan jika orang tersebut dapat mensyukurinya maka saya yakin kebahagiaan akan dirasakannya.

Benar nggak !

Simple khan hidup ini. :mrgreen:

Baca lebih lanjut

memilih sistem pondasi

Dari artikel saya tentang sistem pondasi tiang bor, ada beberapa komentar yang bernada pertanyaan, intinya ingin tahu bagaimana memilih sistem pondasi. Saya sebenarnya tidak terlalu ingin menanggapi, bukan karena nggak mau memberi respons tetapi karena saya pikir itu sudah ada di buku-buku text tentang pondasi atau mekanika tanah, dan saya lihat buku-buku seperti itu sudah banyak beredar di toko-toko buku. Apalagi bidang keahlian saya adalah struktur (pondasi adalah daerah grey area). Tapi kalau melihat respon tentang hal tersebut yang cukup banyak, rasanya saya jadi tergelitik untuk sekedar urun rembug juga.

Terus terang, ilmu tentang pondasi yang saya miliki tidak terlalu dalam, tingkat amatir gitulah, tapi sebagai structural engineer yang bertanggung jawab pada bagian konstruksi atas, maka minimal bisalah jika sekedar mengevaluasi sistem pondasi apa yang cocok untuk dipasangkan dengan struktur atas.

Koq bisa begitu ?

Yah, ini ada untungnya dibesarkan dalam budaya jawa.

Emangnya ada hubungannya pak ?

Ya itu ngelmu titen. Jika anda dibesarkan dibawah budaya jawa, maka sejak awal kita sudah dibiasakan untuk mengenali kebiasaan-kebiasaan dan dampaknya. Ciri-ciri dari orang-orang atau alam dan kebiasaan yang dihasilkan, akhirnya kita mempunyai perbendaharaan tentang hubungan sebab-akibat dari suatu subyek (bisa alam atau manusia).

Baca lebih lanjut

apa sih bangganya jadi guru ?

Banyak tulisan-tulisan saya, judulnya memakai ‘tanda tanya’. Padahal menurut petunjuk penulisan yang baik maka tanda baca sebaiknya dihilangkan pada bahasa tulis. Tapi aku tidak peduli, bagiku bahasa adalah alat komunikasi, tanda baca disitu menunjukkan bahwa hal di atas bukanlah pernyataan tertutup tapi masih terbuka terhadap ide lain yang ada. Gimana setuju.

Ke judul di atas. Pertanyaan yang pendek tetapi saya yakin akan menohok dan tidak sederhana dalam menjawab. Jika pertanyaan itu dari kalangan umum, maka kita guru dapat langsung menjawab dengan bangga (?) bahwa

  • menjadi guru adalah pekerjaan mulia, mencerdaskan bangsa
  • adalah pahlawan tanpa tanda jasa
  • karena kita ingin mengabdi agar calon-calon penerus bangsa ini hebat
  • dll
  • dll

Baca lebih lanjut

arah kebijaksanaan berbahasa kita ?

Meskipun dididik , ditraining dan dihidupi dengan kompetensinya dibidang rekayasa (civil engineering, computer programming) tetapi tidak menganggap bahwa bahasa adalah sesuatu yang sepele, bahkan mempunyai pemikiran bahwa pelajaran berbahasa itu lebih penting dari pelajaran matematika. Begini maksudnya, jika seseorang disuruh memilih pertama-tama kali dalam hidupnya, pelajaran mana yang harus dikuasai terlebih dahulu maka dipilihlah bahasa yang utama, baru setelah itu yang lainnya.

Jadi saya termasuk salah satu engineer yang berpikir bahwa penguasaan bahasa adalah sangat penting, sangat berguna karena satu-satunya cara untuk mengungkapkan ide atau opini yang dipunyainya. Bahkan selalu getol mengajak mahasiswa, engineer dan orang lain untuk mempraktekkan kemampuan berbahasa tadi dengan sering menulis, misal ini, ini, ini juga setiap hari diusahakan untuk mempunyai kebiasaan menulis di blog ini. Ya seperti ini.

Meskipun demikian melihat kebijaksanaan-kebijaksanaan berbahasa yang ada di negeri ini saya cukup prihatin.

Mengapa ?

Baca lebih lanjut