arah kebijaksanaan berbahasa kita ?

Meskipun dididik , ditraining dan dihidupi dengan kompetensinya dibidang rekayasa (civil engineering, computer programming) tetapi tidak menganggap bahwa bahasa adalah sesuatu yang sepele, bahkan mempunyai pemikiran bahwa pelajaran berbahasa itu lebih penting dari pelajaran matematika. Begini maksudnya, jika seseorang disuruh memilih pertama-tama kali dalam hidupnya, pelajaran mana yang harus dikuasai terlebih dahulu maka dipilihlah bahasa yang utama, baru setelah itu yang lainnya.

Jadi saya termasuk salah satu engineer yang berpikir bahwa penguasaan bahasa adalah sangat penting, sangat berguna karena satu-satunya cara untuk mengungkapkan ide atau opini yang dipunyainya. Bahkan selalu getol mengajak mahasiswa, engineer dan orang lain untuk mempraktekkan kemampuan berbahasa tadi dengan sering menulis, misal ini, ini, ini juga setiap hari diusahakan untuk mempunyai kebiasaan menulis di blog ini. Ya seperti ini.

Meskipun demikian melihat kebijaksanaan-kebijaksanaan berbahasa yang ada di negeri ini saya cukup prihatin.

Mengapa ?

Baca lebih lanjut

pelajaran bahasa Indonesia

Tadi pagi baru saja selesai rapat dosen di Jurusan Teknik Sipil UPH. Ada informasi dari Kajur bahwa berkaitan dengan kurikulum baru maka muatan wajib, mata kuliah Bahasa Indonesia dinaikkan, dari 2 sks menjadi 3 sks, perintah DIKTI katanya.

Bagi pecinta negeri ini pasti bersyukur: “Hiduplah Indonesia Raya !”.  Sebagian besar pasti setuju mendukung hal tersebut, meskipun untuk itu maka ada mata kuliah rekayasa tertentu yang harus menjadi korban. Kenapa ? Ya untuk mempertahankan jumlah SKS yang totalnya 144 atau 146 sks itu. Yah, namanya aja cinta negeri, jadi harus berkorbanlah !

Pak Wir setuju khan ? Demikian seorang teman dosen bertanya.

Baca lebih lanjut