satu suro

Satu Suro ! Bagi masyarakat jawa, itu mengandung arti khusus. Karena pagi ini libur maka pagi-pagi sudah bisa ngobrol dengan Bapak di Jogja via Fren, lumayan, interlokal murah. Dengan bermodal pulsa Rp 50 ribu untuk satu bulan , nggak habis-habis lho untuk bicara, sampai bosen deh.

Ketika berbicara tentang suro dan keris maka pembicaraan kita beralih pada keris pusaka keluarga besar kami yaitu Kiai Slamet. Ternyata beliau telah mendapatkan amanah khusus dari saudara tuanya (pakde Cip) dua minggu sebelum meninggal untuk merawat keris-keris keluarga besar kami. Salah satunya yang cukup populer di keluarga besar kami adalah kanjeng Kiai Slamet, keris yang dianggap dapat membawa aura positip bagi calon pasangan penganten, untuk dipakai penganten pria selama duduk di pelaminan. Harapannya agar keluarga baru akan mendapat keselamatan. Percaya, nggak percaya, tetapi sebagai orang jawa maka keluarga besar kami pada setiap mengawinkan anaknya akan meminjam keris tersebut. Itu sudah terjadi secara turun-temurun, termasuk aku dulu juga memakainya.

Lanjutkan membaca “satu suro”