mengintip visi-misi seorang pendiri UPH

Pengantar oleh Wiryanto Dewobroto

Mencermati beberapa diskusi dari teman-teman di blog ini ketika menanggapi berita PTS yang ‘seakan-akan bermimpi dengan keadaannya‘, sehingga banyak orang yang merasa tahu lalu berusaha ‘meluruskannya‘ agar sesuai dengan ‘kenyataannya.

Karena kebetulan PTS yang dimaksud adalah UPH, tempat hidup saya dalam tumbuh dan berkembang, maka tentulah sedikit banyak tahu, beberapa data atau informasi yang perlu disuguhkan untuk dapat melengkapi wacana pemikiran bagi teman-teman sekalian.

Artikel di bawah ini memuat wawancara eksklusif Pitan Daslani dari Campus Asia terhadap bapak Johannes Oentoro, salah satu pendiri yayasan pendidikan Pelita Harapan, yang juga rektor pertama UPH Lippo Karawaci. Dalam wawancara tersebut dapat diketahui bahwa waktulah yang paling tepat untuk memberi jawabannya, karena jika apa-apa yang diungkapkan beliau 10-15 tahun yang lalu pastilah hanya dianggap sebagai mimpi atau omong kosong belaka. Bahkan jika terlalu PD dan terlalu terekspose pada saat itu, bisa dianggap bahwa itu semua adalah pembohongan publik belaka. Tapi ternyata sekarang sudah ada fakta-fakta bahwa sebagian mimpi beliau telah terbukti dan telah dapat ditangkap indera wadag biasa.

Hanya sayang, wawancaranya dalam bahasa Inggris.


The language of a sincere heart


In the beginning was a dream, and the dream was in Johannes Oentoro’s heart, and the dream has come true.

By Pitan Daslani
Campus Asia Volume 2 Number 1 – March 2008

Baca lebih lanjut

anak-anak muda yang luar biasa

Jadi dosen itu saya kira merupakan suatu profesi yang menarik, suatu profesi yang dapat dijalani tanpa beban, apalagi jika dirasakan dengan rasa syukur. Kurang apa lagi.

Maksudnya tanpa beban adalah dalam arti begini, jika memberi kata-kata pujian (dengan tulus tentunya) tidak serta merta dicurigai bahwa ada udang dibalik batu. Coba bayangkan aja, jika seorang marketer sedang memuji client, itu khan lebih banyak merupakan strateginya agar dagangannya sukses, yakin deh. Selain itu, nggak mungkin dia berani memuji marketer lainnya dihadapan client. Pasti banyak ruginya. Juga kalau dikritik “kurang”, pasti deh itu juga mempengaruhi harapannya. Iya khan. Jadi gampang-gampang susah menerapkan konsep win-win.

Beda dengan dosen, memberi sanjungan maka hati sendiri bertambah senang dan tidak merasa menjadi lebih rendah dari yang disanjungnya. Iya khan. Itulah dosen dan tentu para guru pula. Semakin hebat itu murid atau yang mengaku murid, semakin bangga yang jadi guru atau dosennya.

Ingat, pak SBY aja masih ingat dan memberi apresiasi ke gurunya di kota masa kecilnya. Saya bisa membayangkan bagaimana bangganya seorang guru yang masih diakui oleh muridnya yang telah jadi.

Saya kira itu merupakan salah satu bentuk kepuasan yang tidak haram dan tidak memerlukan duit banyak. Kadang-kadang seorang konglomerat perlu mengeluarkan duit berjuta-juta hanya untuk mendapatkan pengakuan seperti itu. Ini benar lho, coba renungkan sendiri.

Jadi wajarlah, jika anda sering melihat guru, meskipun secara materi tidak bisa dibandingkan dengan pejabat publik lainnya, tetapi ketika dilihat tahun-tahun mendatang masih banyak yang terlihat berbahagia di hari tuanya, panjang umur, masih bisa melihat cucu-cucunya berbahagia. Bandingkan dengan pejabat publik, yang punya duit banyak, tetapi dari hasil korupsi, jika jabatannya mundur, pensiun, maka banyak diantara mereka meninggal tidak lama setelah itu.

Tuhan memang begitu adil dengan setiap profesi jika dapat dijalani dengan rasa syukur.

Baca lebih lanjut