adakah yang (berani) peduli pendidikan di sini

Bagaimanakah pedulinya seseorang terhadap pendidikan, maka lihatlah kehidupannya.

Tanpa didikan yang baik maka orang tidak akan bisa hidup sejahtera, bahkan bisa binasa. Nasehat seperti itu sudah jelas tidak perlu diperdebatkan, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Jika anda merasa itu tidak benar, ya silahkan saja renungkan sendiri. Ini adalah suatu hikmat.

Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.
[Amsal 5:23]

Memang sih, didikan dalam hal ini tidak terbatas pada pendidikan formal sekolah, tetapi juga pendidikan dalam kehidupan itu sendiri. Itu pula yang menyebabkan ketika ada orang sukses tanpa pernah bersekolah maka disebutnya sebagai otodidak.

Padahal kenyataannya dia belajar keras terhadap didikan real yang diperoleh dalam kehidupannya. Tetapi orang-orang seperti itu relatif sedikit, sehingga disebutlah sebagai suatu keistimewaan. Tidak berlaku sama hasilnya jika diterapkan pada banyak orang. Bagaimanapun prosentasi keberhasilannya akan lebih banyak jika mendapat pendidikan formal. Tentu saja ini dengan asumsi bahwa pendidikan yang dimaksud adalah yang berorientasi pada mutu dan tidak sekedar mendapatkan ijazah.

Oleh karena itu, mayoritas berpendapat bahwa pendidikan umumnya berkorelasi langsung pada peningkatan kesejahteraan hidup, sehingga para guru yang bekerja pada sektor tersebut mendapat julukan ‘pekerja mulia’ atau ‘pahlawan tanpa tanda jasa’.

Note: kesejahteraan hidup kadang tidak terkait langsung dengan kekayaan materi. Ada aja manusia yang disebut orang sebagai konglomerat, tetapi ternyata mati bunuh diri. Orang seperti itu apa bisa disebut sejahtera.

Baca lebih lanjut

program LOB gratis for CM

Kata Pengantar Wiryanto Dewobroto

Sdri Rima Kiswanto, mahasiswi jurusan teknik sipil UPH, baru saja menyelesaikan skripsi di bawah bimbingan Ir. Minawaty Tanujaya, MT.  Hasilnya adalah sebuah program komputer yang dapat digunakan untuk manajemen proyek.

Catatan : Rima adalah mahasiswi anggota team UPH yang merebut juara 1 Lomba Jembatan ITB 2007, baca ini. Merupakan satu dari empat mahasiswa angkatan 2004 yang lulus semester ini, jadi masa studinya kurang dari 4 tahun.

Program tersebut menurutnya cukup berguna membantu me-manage proyek-proyek yang mempunyai item pekerjaan yang berulang (repetitif), seperti misalnya pekerjaan pemancangan tiang.

Adapun program ditulis dengan memakai program Visual Basic 6.0, hasil pembelajaran yang saya berikan selama ini di JTS UPH. Jika anda tertarik ingin melihat materi pembelajaran tersebut, jangan kuatir sudah aku tulis dalam bentuk buku, informasinya ada di sini.

Dengan maksud agar orang lain mendapat manfaat dari program tersebut, juga untuk menunjukkan hasil pembelajaran mata kuliah pemrograman yang aku beri, maka aku meminta sdri Rima membuat ringkasan skripsinya dan menyiapkan program dan petunjuk pemakaiannya untuk di down-load pada blog ini.

Semoga berguna.

Intro 

Untuk mendapat gelar ST dari teknik sipil UPH, tentunya dibutuhkan banyak hal. Setelah melalui berbagai macam rintangan yaitu mengambil 142 sks mata kuliah temasuk 2 sks untuk kerja praktek, mahasiswa diwajibkan membuat skripsi (6 sks) sebagai final project atau tugas akhir yang menentukan kelulusan.

Tugas akhir yang saya ambil berjudul “Pengembangan Program LOB untuk Proyek Perumahan Yang Repetitif“. Dalam tugas akhir yang saya buat ini ternyata mengatakan secara tidak langsung kepada saya, bahwa mata kuliah yang diajarkan oleh Pak Wir, yaitu “Bahasa Pemrograman Visual Basic” ternyata sangat berguna.  Dengan menggabungkan ilmu dari VB dan juga tentunya dari bidang manajemen konstruksi, maka skripsi yang menjadi dasar pembuatan program ini telah rampung dibuat.

Baca lebih lanjut