pidato Dr.(h.c.) WS Rendra

Kata pengantar Wiryanto Dewobroto

Pidato Dr.(h.c.) WS Rendra ternyata mendapat banyak tanggapan positip dari para cendekia negeri ini. Jika itu baik maka perlu juga disosialisasikan ke teman-teman engineer yang belum membacanya.

Bayangkan, yang nggak sarjana saja, jika berprestasi baik akan bisa mendapat pengakuan akademis tertinggi juga. Apalagi yang sarjana, seperti halnya teman-teman engineer, saya berharap ini dapat menjadi motivasi untuk terus bertumbuh, berkembang untuk kebaikan diri juga sesama.

Syallom.

Pengantar Umum : Rendra Ajak Masyarakat Bangkitkan Daya Cipta

REKTOR Universitas Gadjah Mada, Prof Sudjarwadi menyatakan pemberian gelar Doktor Honoris Causa di bidang kebudayaan kepada WS Rendra merupakan perwujudan penghargaan atas kiprah dan prestasi luar biasa yang dilakukan oleh promovendus.
 
Rendra mampu membangkitkan kesadaran dalam bermasyarakat, juga memberi nuansa pengayaan unsur budaya,” kata Prof Sudjarwadi usai mendengarkan orasi Rendra, berjudul

Megatruh Kambuh; Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu
di Balai Senat UGM, Yogyakarta. Selasa (4/2).

Tertarik membaca ? Awas panjang banget !  (wir’s comments)

Baca lebih lanjut

the untouchables

Tanpa membuang waktu, mobil-mobil KPK memepet mobil Urip yang saat itu melawan. Mobil Urip ditabrak dari belakang sehingga bempernya penyok. Ia baru menyerah diborgol ketika empat personel Brimob yang memburunya menjatuhkan dirinya ke jalan aspal dan menekan kepalanya agar tak bisa bergerak lagi.
[Kompas , Selasa 4 Maret 2008]

Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada saat itu, pasti cukup ‘keras’ dan itu dilakukan kepada orang yang tahu benar apa artinya keadilan, karena terdakwa adalah seorang jaksa yang pernah mengadili kasus terkenal pula. Jadi kalau KPK tidak mempunyai dasar argumentasi yang sangat kuat rasanya mustahil untuk dilakukan.

Tentang apa yang dilakukan oleh KPK saya setuju. Meskipun sampai saat ini tuduhan terhadapnya belum tuntas, tetapi dengan tertangkap basah jaksa tersebut ketika membawa 660 ribu U$ yang dikatakannya hasil jual beli permata adalah suatu fakta yang memang menarik untuk dikaji. Apakah anda bisa membayangkan orang mempunyai omzet jual beli permata seharga 660 ribu U$ , tetapi mau hidup sebagai jaksa dengan meninggalkan sanak keluarganya di tempat lain. Ha, ha, rasanya orang bodoh juga tahu.

Jikapun dia punya permata tersebut, darimana permata tersebut dia dapat. Padahal dia sehari-harinya khan di kejaksaan yang mungkin hanya segelintir bahkan nggak ada yang mau memperbincangkan tentang permata, kecuali jika itu dapat digantikan dengan penyelesaian perkaranya.

Juga, yang bisa membeli batu permata seharga seperti itu khan hanya segelitintir orang di negeri ini. Pokoknya ini fakta yang sangat istimewa, fakta yang sudah dapat bercerita banyak tanpa perlu cari argumen-argumen yang lain.

Baca lebih lanjut