untuk segala sesuatu ada waktunya

UNTUK segala sesuatu ada waktunya
(Pengkhotbah 3:1)

Saya kira nash di atas adalah salah satu ungkapan yang pas, untuk menggambarkan suatu peristiwa penting yang merupakan kulminasi dari serangkaian peristiwa yang meliputi berbagai segi kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Kehidupan yang dilakukan dengan melewati banyak suka-duka, tawa-tangis, kebanggaan-ketabahan, kerja-keras dan juga doa serta puasa, yang telah berlangsung tidak hanya berhari-hari, siang atau malam bahkan telah berlangsung selama lebih dari lima tahun ini. Riak-riak kehidupan yang mencakup berbagai lokasi yang perlu disinggahi, melalui perjalanan pulang balik Bekasi-Ciumbuleuit (kampus UNPAR)-Karawaci (kampus UPH) tiap minggunya, baik memakai kereta api, bis, travel maupun kendaraan pribadi.

Kehidupan yang menarik, karena telah berbaur menjadi satu, berbagai peran kehidupan selaku seorang suami, bapak dari dua anak yang menginjak dewasa, blogger, structural engineer, penulis dan sekaligus tanggung jawabnya sebagai seorang guru yang ingin menjadi teladan bagi murid-muridnya, maupun kewajibannya sebagai seorang murid (mahasiswa doktoral) yang harus berjuang dan berpikir keras dengan berkutat membaca jurnal-jurnal, buku-buku untuk menemukan sesuatu yang baru dan orisinil dalam kaca mata ilmiah untuk meraih gelar doktor.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
setya budya pangekesing dur angkara

Semuanya tersebut ingin dilaluinya sebagai laku, untuk berproses, bertransformasi dan bertumbuh untuk mencapai tidak sekedar gelar doktor, tetapi memang berharap menjadi manusia yang dapat diakui secara formal maupun informal untuk mampu mempertanggung-jawabkan diri dalam kapasitasnya sebagai doktor. Semuanya itu nantinya diharapkan dapat menjadi berkat bagi sesama dan bangsa, untuk kemuliaan nama-NYA.

Baca lebih lanjut