para peneliti juga nyari DUIT

Duit duit duit. Ujung-ujungnya DUIT atau UUD. Pernah dengar ?

Sering. Saya kira banyak orang yang sering mendengar istilah tersebut. Lalu umumnya akan membayangkan bahwa tindakannya adalah semata-mata demi duit. Kadang disikapi sinis: “He, he, paling UUD”. Gitu khan.

Baca lebih lanjut

LIPI: Tak Semua Hasil Penelitian Harus Diungkap

Judul di atas merupakan judul artikel di sini. Tidak saya rubah agar sesuai aslinya. Terus terang sebagai dosen yang juga mulai terlibat dengan kegiatan penelitian maka membaca judul di atas tentu saja tergelitik untuk menanggapi.

Apa betul tak semua hasil penelitian harus diungkap ?

Jika tidak diungkap, lalu apa gunanya penelitian tersebut dilakukan. Itu namanya menghabis-habiskan duit.

Dua pernyataan di atas, yang satu mengutip LIPI kemudian yang ke dua adalah komentar saya selaku dosen, maka itu saja sudah akan menimbulkan pro dan kontra. Saya yakin tidak semua pembaca akan mengamini, baik pernyataan pejabat LIPI maupun komentar tanggapan saya di atas. Untuk itu baiklah dilihat latar belakang argumentasi mengapa ke dua pernyataan tersebut timbul. Jika hal-hal seperti ini dapat dipahami masyarakat secara baik maka rasa-rasanya permasalahan tentang polemik hasil penelitian yang telah terjadi sejak tahun 2008 khususnya tentang tercemarnya susu formula pasti telah mendapat penyelesaiannya. Bayangkan saja, tentang tercemarnya susu tadi saya telah menuliskannya di blog ini, di sini. Tetapi ternyata sampai sekarang masih saja ada polemik di berita-berita  yang bermunculan.

Baca lebih lanjut

perlunya KULIAH (lagi)

Ternyata, postingan ringan saya tentang “pentingnya kuliah” di blog ini mendapat tanggapan yang relatif banyak dibanding postingan lain yang bahkan perlu lebih banyak mikirnya (agak sok ilmiah). Jadi ada baiknya kita ulas lagi saja topik tersebut. Judul di atas terkesan ada nada mengajak kuliah, bahkan bagi yang pernah kuliah agar dapat mengambil lagi, tentunya untuk level yang  lanjut.

Apakah ajakan tersebut penting dan perlu ditanggapi ?

Baca lebih lanjut

High-Strength Bolts installation – calibrated wrench

Dari judul di atas dapat diketahui bahwa materi tulisan saya kali ini  adalah tentang pemasangan baut mutu tinggi pada struktur baja. Maklum salah satu kegiatan kesehariannya khan menjadi dosen struktur baja, jadi tulisan ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana usahanya menekuni profesi tersebut.

Jika ceritanya adalah tentang pemasangan baut mutu tinggi, apa ya yang kira-kira dapat dibayangkan. Bagi awam yang tahu itu baut maka tentunya dapat membayangkan bahwa cara pemasangannya pasti tidak akan berbeda jauh. Mula-mula kepala baut dipasangkan pada komponen yang akan disambung, yang tentunya pasti sudah dilobangi. Selanjutnya dipasang washer dan mur, lalu  diputar kencang-kencang dengan kunci pas atau kunci inggris atau spud wrench (ini istilah di AISC), sekuat tenaga. Jika tenaga kita kurang kuat dapat juga memakai Impact Wrench, itu lho wrench yang digerakan secara pneumatik atau listrik. Simple,  selesai bukan.

Jika hanya seperti itu, maka tulisan ini sudah selesai dong. He, he, apa bener hanya seperti itu.

Nah inilah bedanya jika penulisnya mempunyai latar belakang engineer, bekerja sebagai guru dan penganut ngelmu “titen”. Tentu akan berbeda meskipun topik yang ditulisnya hanya tentang pemasangan baut yang bagi orang awam terlihat “kecil”. Jadi jika masih tetap tertarik silahkan saja dilanjut.

O ya sebagai catatan bahwa tulisan ini tidak sekedar hasil copy and paste, tetapi betul-betul original. Penulis sebagai seorang pembaca juga di bidang tersebut bahkan belum pernah menemukan tulisan serupa yang berbahasa Indonesia.

Mari kita buktikan.

Baca lebih lanjut

Studi Banding Jurusan Teknik Sipil UPH – 2010

Pengantar:

Terus terang studi banding yang kami lakukan di Jurusan Teknik Sipil telah terlaksana lama di akhir bulan November dan awal bulan Desember tahun lalu. Bahkan sebagian kecil pengalaman di sana telah penulis gunakan untuk melengkapi artikel di blog ini, yaitu :

Tetapi apa yang saya tulis di atas terkesan tidak secara langsung mengkaitkan dengan peranan kami selaku anggota akademisi di UPH, yang mana itulah yang menyebabkan kami melakukan studi banding. Oleh karena itu sebagai pertanggung-jawaban moral kepada yang memberi kesempatan untuk studi banding tersebut, yaitu ke institusi penulis di UPH dan juga yang di “atas” maka saya mewakili anggota studi banding menuliskan laporan perjalanan studi banding tersebut.

Pembuatan laporan perjalanan yang begitu panjang (versi resmi adalah 15 halaman) telah disampaikan dan dipresentasikan ke Jurusan kemarin pada hari Selasa 1 Februari 2011.

Ada yang mengatakan bahwa penulisan laporan seperti ini terkesan terlalu berlebihan karena ini tidak termasuk dalam kriteria penulisan ilmiah. Jadi ada juga dosen yang bahkan bertanya, ngapain menulis bukan tulisan ilmiah, khan tidak ada kum-nya. Karena tidak kum-nya itu juga maka dari institusi tidak ada insentifnya. Kalaupun nanti masuk majalah pasti artikel tersebut akan dikurangi, lima belas halaman terlalu banyak.

Memang jika hanya menulis untuk kum, maka jelas apa-apa yang saya lakukan adalah mubazir. Seperti juga menulis ratusan artikel di blog ini jelas tidak ada nilai kum-nya. Jadi juga tidak ada sumbangan real nantinya untuk menempuh jenjang profesor, yang persyaratannya adalah jumlah kum. Tetapi saya menulis ini semua sebenarnya hanya kesenangan saja. Suatu bentuk rasa syukur, berbagi info dengan pembaca. Sekaligus juga untuk belajar dan berlatih menulis sehingga nanti ketika menulis ilmiah akan lebih enak dan lebih baik.

Semoga sharing pengalaman saya bersama teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UPH ini dapat menginspirasi rekan-rekan pembaca. Semoga.

Baca lebih lanjut