jodoh dan kehidupan

Tidak tahu kenapa, sudah beberapa hari ini sejak kepulanganku dari Jogja, dalam rangka mengantar si bungsu berlibur di rumah kakek dan neneknya, maka aku ingin sekali aku menulis topik ini,  yaitu tentang JODOH dan KEHIDUPAN. Ini jelas topik umum, dimana setiap orang awam, baik yang muda dan tua bisa saja merasa sudah MASTER tentang hal itu. Jadi tidak heran jika nanti ada pendapat yang mantap mendukung maupun menentangnya.

Ide tentang topik tulisan ini terus terang sudah lama ada. Awal mulanya kalau saya renungkan adalah berasal dari keprihatinanku terhadap kondisi kehidupan berkeluarga dari banyak tokoh-tokoh yang diberitakan di media-media elektronik maupun cetak. Tokoh-tokoh yang menjadi berita itu ternyata sangat luas spektrumnya, mulai dari selibriti sinetron yang masih mudah-muda,  juga tokoh-tokoh tua yang dulunya hanya dikenal karena statusnya yang pejabat.

Intinya yang aku dapat adalah bahwa tokoh-tokoh yang diberitakan adalah sebagian besar sukses, kalau dilihat dari kaca mata materi kekayaan, selibritas, atau jabatan yang disandang, tetapi tidak sukses kalau dipandang dari sisi berkehidupannya berkeluarga. Tentu saja yang terakhir tersebut berasal dari penilaianku yang bersifat subyektif. Maklum, kawin-cerai terus terang tidak ada di dalam kamus keluarga besarku, kalaupun ada itu dianggap sebagai suatu hal yang buruk dan tidak dapat dibanggakan. Juga ketika ada anak yang berani melawan orang tua, pastilah itu akan menimbulkan keprihatinannya.

Adanya dua keping fakta yang melekat pada tokoh-tokoh tersebut, yang menurutku saling bertolak belakang tentu akan menimbulkan kebingungan kepada anak-anak muda yang saat ini sedang mencoba mencari jati diri kehidupannya tersebut. Jika mereka melihat berita-berita tersebut, bahkan bisa timbul suatu pendapat bahwa untuk memperoleh atau tepatnya mempertahankan kesuksesan materi dll-nya itu maka kalaupun kehidupannya berkeluarga terganggu, adalah suatu kewajaran saja. Kawin dan cerai bisa menjadi suatu hal yang biasa, yang penting telah disahkan oleh pengadilan, atau memenuhi syarat hukum pemerintahan dan hukum agama.  Yang penting tidak melakukan zinah, itu yang biasa saya dengar dari pendapat orang-orang tentang para tokoh tersebut dalam membenarkannya.

Sebagai orang tua yang mempunyai anak gadis menjelang dewasa, maka jelas aku benar-benar tidak sependapat dengan pernyataan-pernyataan tersebut, meskipun mungkin yang berbicara itu tokoh terkenal sekalipun. Aku akan mengatakan dengan mantap kepada anakku tadi, bahwa “kehidupan orang atau tokoh tersebut jangan kamu contoh, itu tidak baik !

Baca lebih lanjut

tambal-sulam dan compang-camping

Tidak lama lagi liburan anak-anak sekolah dimulai, bahkan kata temanku, ada beberapa sekolah yang sudah mulai. Adanya liburan seperti itu, aku selalu mengkaitkan dengan acara pulang kampung. Maklum, keluargaku berasal dari daerah yang sama, juga orang tua kami berdua masih ada. Jadi bila ada kesempatan berlibur maka keluargaku selalu memanfaatkan untuk pulang kampung. Harapannya agar anak-anakku bisa berkumpul sejenak dengan kakek dan neneknya. Kapan lagi kalau tidak seperti itu.

Untuk acara pulang kampung, aku selalu memakai kendaraan sendiri. Maklum, mengendari mobil di siang hari, melewati jalan-jalan luar kota adalah sesuatu yang menyenangkan. Strategi itu juga aku pilih karena biaya transportasi menjadi relatif murah, juga mobilitasnya lebih mudah di kampung.

Baca lebih lanjut

membuat tulisan ilmiah

Bagi pembaca  yang berlatar belakang mahasiswa di perguruan tinggi,  maka threat berjudul  “membuat tulisan ilmiah”  dapat dipastikan akan mengarah pada cara pembuatan skripsi. Meskipun kadang kala dapat dikaitkan juga dengan pembuatan makalah ilmiah untuk jurnal atau seminar. Tapi saya kira hanya sedikit yang membayangkan bahwa itu juga menyangkut pada cara pembuatan buku-buku teks ilmiah.

Ketidak-percayaan diri untuk sampai pada pembuatan buku didasarkan pada pengalamanku dulu saat masih menjadi mahasiswa. Bayangkan saja, itu tidak hanya saat S1 maupun S2. Pada masa itu, saya berpikir bahwa hanya para pakar senior yang mampu membuat (menulis) buku teks, yang kadar ilmiahnya tidak diragukan para pembacanya.

Cara pikir seperti itu bisa dimaklumi, karena faktanya sewaktu menyelesaikan thesis S2-nya saja dulu memerlukan waktu lama. Bahkan merasakan bahwa membuat tulisan ilmiah merupakan beban berat (bikin stress).

Bayangkan saja, kala itu aku mempunyai sesi khusus untuk secara rutin datang ke kampus UI di Depok. Itu di sela-sela hariku bekerja, maklum waktu itu aku bukanlah seorang dosen, tetapi praktisi yang bekerja untuk membiayai sekolah dan sekaligus  keluarganya. Sekolah lanjut bagiku waktu itu merupakan  alternatif paling logis agar tetap dapat berkarir di bidangnya dan memberi harapan akan ada  peningkatan atau perbaikan dikemudian hari.

Catatan : kondisiku saat ini, tidak akan ada tanpa adanya pemikiran tersebut.

Kalau mengingat masa-masa sekolahku tersebut, aku pernah merasakan bahwa membuat tulisan ilmiah itu suatu momok yang menakutkan. Ini memang dapat dimaklumi karena kalau tulisan ilmiahnya yang berupa thesis,  tidak selesai, maka ijazahnya juga tidak keluar. Alias tidak lulus.  😦

Jika sekarang aku berani membuat tulisan seperti ini, petunjuk bagaimana membuat tulisan ilmiah, padahal dahulu itu sesuatu hal yang menakutkan, maka tentu ada sesuatu yang dapat diandalkan, sehingga membuat tulisan ilmiah menjadi sesuatu yang tidak menakutkan lagi.

Apa itu ?

Baca lebih lanjut

Agama menurut Daoed Joesoef

Meskipun kata orang, kebijakan pak Daoed dulu ketika menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978 – 1983), banyak yang tidak menyukai. Tetapi dengan berjalannya waktu, yaitu setelah beberapa kali membaca tulisan-tulisan beliau di buku maupun artikel koran, aku merasa bahwa pendapat itu tidak benar. Kalaupun ada yang tidak menyukai, maka dapat dipastikan bahwa itu adalah orang-orang yang merasa rugi secara langsung dengan adanya kebijakan yang dibuat.

Dari setiap ungkapan tulisan yang beliau buat, aku dapat berkesimpulan bahwa keputusannya waktu itu (ketika jadi Menteri) tentulah karena suatu maksud yang mulia, dan hanya bisa diterapkan jika kebijakan tersebut dibuat.

Kalau tidak salah, kebijakan beliau yang kontroversial adalah pelarangan organisasi politik di dalam organisasi kampus. Jadi sejak itu, yang namanya HMI, GMNI, PMKRI berada di luar kampus. Meskipun mahasiswa sebagai pribadi tidak dilarang ikut organisasi tersebut, tetapi tidak boleh secara terang-terangan organisasi tersebut terlibat langsung dalam kegiatan kampus.   Oleh karena itulah, maka dapat dimaklumi jika orang-orang yang berkepentingan dengan adanya organisasi-organisasi tersebut pasti tidak menyukainya.

Kasus di atas juga dapat dijadikan bukti, bahwa untuk berani mengambil sikap maka harus berani pula menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan suka dengan sikap yang diambil tersebut.

Baca lebih lanjut