kurang berilmu (2)

Berbicara tentang ilmu tentu menarik sekali, apalagi memang pekerjaan penulis dalam hal ini  terkait sekali dengan proses penyebaran ilmu itu sendiri. Maklum guru. Oleh karena itu posting ke dua ini juga masih bertema “kurang berilmu”.

Tulisan saya kali ini akan membahas tentang bangunan tinggi (tall building). Tema ini perlu diungkapkan untuk menanggapi satu komentar engineer di blog ini, yang rasanya perlu juga untuk diketahui engineer-engineer lain . Jika tidak maka akan terkesan bahwa kita (para engineer indonesia) termasuk pada kategori engineer kurang berilmu. Penyebabnya karena merasa di luar sana, banyak dijumpai bentuk-bentuk bangunan yang aneh (menurut ukuran kita di sini), padahal bentuk seperti itu diusahakan dihindari untuk dibangun di Indonesia.

Komentar yang kumaksud adalah :

Dear Pa Wir dan Engineers,

Di luar sana, komunitas Teknik sipil (khususnya struktur) tidak lagi membicarakan tentang Disain Tahan Gempa dengan bentuk-bentuk geometris bangunan dan beban yang “harus” simetris.

Ini sumber komentar tersebut, yaitu pada tulisan saya tentang “struktur menurut  arsitek”.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan atau tepatnya pikiran anda (para engineer) dengan komentar di atas. Anda setuju atau tidak. Saya yakin pasti ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Anda termasuk yang mana.

Jika setuju berarti anda mengakui bahwa di luar sana, memang terdapat komunitas teknik sipil (khususnya struktur) yang telah keluar dari kebiasaan para ahli struktur di sini (Indonesia). Mereka telah mempunyai kemampuan mengatasi apa yang masih disebut sebagai problem-problem pada perencanaan pada bangunan gedung, yang selama ini masih kita hadapi, yaitu hindari bangunan tinggi dengan bentuk tidak beraturan.

Jika anda setuju dengan komentar di atas, maka berarti anda mengakui bahwa engineer kita (di dalam negeri sini) kurang berilmu dibanding engineer di luar sana (manca negara). Jadi kalau begitu bersiap-siaplah untuk menjadi bawahan dari engineer manca-negara yang datang dari luar sana. 🙂

Mau ?

Baca lebih lanjut

kurang berilmu (1)

Memang benar juga kata pepatah, “Jaga kata-katamu !“. Yah betul, kata. Jadi nggak perlu sampai mengatakan, kalimat. Memakai kata-kata saja rasanya sudah berdampak besar. Kalau tidak percaya, coba saja (anggap kamunya masih muda, belum menikah dan sedang mencari pacar). Lalu didepan seseorang yang lagi kamu demenin, kamu mendengar langsung dari orang tersebut sebagai berikut  : “Nggak, kamu jelek !”.

Pasti deh rasanya tidak terlupakan . Jadi dengan begitu kamu bisa merasakan juga, ada kemungkinan apa yang kamu ucapkan sesuatu saat nanti juga dapat membuat kesan seumur hidup bagi seseorang. Hati-hatilah dengan kata-kata yang disampaikan, karena dibalik itu semua, tersembunyi segunung besar makna di belakangnya.

Itu tadi hanya contoh lesan, apalagi jika kata-kata tersebut dituliskan. Maklum, suatu tulisan khan bisa mempunyai usia yang relatif panjang dibanding kata-kata yang terucap (lesan). Bahkan ada yang mengatakan, jika ditulis dan disimpan dengan baik, maka kata-kata yang merupakan segunung besar makna tersebut dapat menjadi abadi.

Baca lebih lanjut

wishes for 2012

Harapan adalah motivasi yang dapat menghibur kehidupan kita, membuat kita dapat bermimpi dengan tersenyum dan menjalaninya dengan penuh semangat. Harapan tentunya adalah sesuatu yang belum dapat kita raih saat ini. Bagaimanapun hidup itu adalah dinamik, selalu berubah, sebagaimana berjalannya waktu. Tidak ada yang tetap.

Sukses itu adalah orang yang dapat mewujudkan harapan-harapannya ditengah perubahan-perubahan yang terjadi, yang akhirnya mengakibatkan rasa syukur di hati. Jadi yang terlihat sukses pada seseorang, belum tentu itu sebenarnya sukses bagi orang itu sendiri. Kita biasanya menganggap orang lain sukses, berdasarkan kriteria dari harapan yang kita miliki.

Apa harapan anda di tahun 2012 ini.

Baca lebih lanjut