memahami denah arsitek

Jadi penulis itu memang mengecoh, disangkanya bisa menjawab semua permasalahan. Padahal, nggak mesti seperti itu. Ini ada email masuk, mencoba menanyakan sesuatu yang membuatnya “drop”, saya coba deh menanggapinya:

Yth Bapak Wiryanto Dewobroto
Selamat siang Pak, semoga Bapak dalam keadaan baik, sehat & bahagia.

Bapak Wiryanto, saya mohon petunjuk.
Saya ingin bertanya tetapi tidak tahu mesti tanya ke mana.
Saya ingin bertanya 3 hal saja, mohon Pak diberi petunjuk saya mesti tanya siapa.

Baca lebih lanjut

Rabu 9 Mei 2012 di UAJY – Yogyakarta

Catatan: Rencana awal memang ingin menyampaikan gedung tinggi dan jembatan bentang panjang sekaligus. Setelah terjun mendalaminya lebih lanjut,  ketahuan bahwa materi gedung tinggi cukup dalam dan menarik juga, membahas itu saja makalah tertulisnya sudah mencapai 90 halaman. Oleh karena itu mengingat waktu yang tersedia relatif terbatas, maka materi jembatan bentang panjang akan dialokasikan di lain waktu saja (Bagian ke-2).

Jadi hari itu, saya secara khusus akan membahas gedung tinggi saja, dimulai dari bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi insinyur dan bukan sekedar tukang, untuk akhirnya dapat terlibat pada proyek-proyek yang sebelumnya belum pernah ada , seperti misalnya gedung tertinggi di Indonesia . O ya, Burj Khalifa dibahas juga dari kaca mata falsafah rekayasa struktur dan siapa itu W.F Baker perencana struktur yang akhirnya mendapatkan beberapa award penghargaan atas prestasinya.

Informasi lain tentang materi yang akan disampaikan dapat dilihat di:

Jadi bagi pembaca blog ini, khususnya yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, ditunggu kehadirannya. Target peserta adalah mahasiswa-mahasiswi teknik sipil yang nantinya berkeinginan menjadi insinyur dan tidak sekedar bisa membangun seperti tukang. Juga kepada para praktisi di proyek-proyek konstruksi anda akan diajak pada falsafah dibelakang pekerjaan-pekerjaan rutin anda. Akhirnya yang diharapkan, kita semua memahami setiap makna dari tindakan praktis yang kita buat.

Terima kasih kepada rekan-rekan civitas akademi di UAJY yang telah memfasilitasi dan menawarkan juga untuk umum. Tuhan memberkati kita semua.

Amin.

aku cinta bahasa Indonesia

Terus terang sebenarnya nggak mantap juga memakai judul “Aku cinta bahasa Indonesia”, rasanya koq terlihat berlebihan. Apa perlu menyatakan seperti itu.  Apakah itu tidak berarti bahwa memang ada masalah dengan penggunaan bahasa Indonesia. 😦

Ah nggak boleh curiga-curigaan lhan. Nggak baik.

Ok, terlepas dari masalah itu, terus terang aku sebenarnya terkesan dengan gerakan dari Balai Bahasa Yogyakarta yang bekerja sama dengan anak-anak muda Yogyakarta, yang fotonya aku lihat di Facebook di sini. Mohon ijin ya, boleh aku promosikan lagi dengan aku muat di blog ini. Matur nuwun. 

Gambar 1. MERAH melambangkan keberanian untuk memakainya

Gambar 2. PUTIH melambangkan kesucian untuk tetap diperjuangkan

Baca lebih lanjut

pentingnya komunikasi

Melihat judulnya (“pentingnya komunikasi”), maka orang-orang berlatar belakang teknik telkom atau fisip tentu akan berbinar-binar. Senang, tapi bisa juga heran, mengapa di blog seseorang berlatar belakang teknik sipil mengatakan demikian. Mestinya (yang tidak membuat heran) adalah jika mengatakan bahwa ilmu teknik sipil adalah yang paling penting.

Kalau soal ilmu teknik sipil itu penting. Jelas, nggak perlu diungkapkan lagi. Bahkan sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat seharusnya mensyukuri bahwa ada orang-orang yang berkutat dan mengembangkan ilmu teknik sipil, karena merekalah maka mereka dapat menyebrangi sungai dengan aman melalui jembatan yang kuat dan kokoh, yang menjamin keamanan. Dapat membaca dengan terang karena ada supply listrik dari bendungan Jatiluhur. Itu khan salah satu pekerjaan dan hasil perencanaan orang-orang berlatar teknik sipil. Betul khan.

Baca lebih lanjut

ada apa dengan Mei besok ?

Bagi yang namanya  penulis, menjadi narsis itu adalah salah satu resiko. Maklum, itu salah satu strategi andal mencari pembaca. Karena bagaimanapun bagusnya tulisan, bila tidak ada yang membaca, maka tidak akan ada yang tahu betapa berharganya itu.

Jadi, penulis itu eksis karena ada pembacanya, begitu juga blog ini. Boleh-boleh saja bersemangat menulis blog, tetapi jika yang kasih komentar adalah teman-temannya saja, apalagi atas dasar kasihan. Wah, yakin deh penulisnya belum merasakan bagaimana dahsyat dan nikmatnya menulis itu.

Pak Wir masih menulis ya, koq sudah jarang artikel baru di blog ini ?

Baca lebih lanjut

mau jadi ahli struktur jembatan ?

Kalau mau tahu, untuk sukses menjadi seorang profesional adalah dapat menguasai terlebih dahulu salah satu ilmu yang khas, tidak kodian. Selanjutnya ilmu tersebut dijadikan basic untuk bekerja atau tepatnya dapat mengaplikasikannya dalam kasus nyata.

Hal itu penting untuk melihat dampak akhir dari penggunaan ilmu khas tersebut. Dalam hal ini lihat,apakah ada korelasi antara ilmu (teori yang dipelajari) dengan hasilnya (real). Ini merupakan feed back. Jika ternyata hasilnya baik, yaitu ada korelasi antara rencana dan kenyataan maka selanjutnya ilmu tadi dapat dipertahankan, bahkan dikembangkan lagi untuk di-imani (sorry jangan tersinggung dengan penggunaan kata itu).

Bagaimana jika ternyata tidak ada korelasinya. Gampang, lupakan saja karena itu ternyata bukan ilmu. Tentang kuantitas ilmu yang harus dikuasai, nggak usah terlalu bernafsu untuk sekaligus mendapatkan banyak. Cukup satu persatu, tetapi dapat dibuktikan dahulu. Jika terbukti, pelajari lebih mendalam, ulangi lagi proses tadi. Yakin deh, sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit.

Baca lebih lanjut