complaint !

Complaint !

Suatu bentuk untuk mengobati kekecewaan adalah melakukan complaint. Ini ibarat melepaskan uneg-uneg atau kedongkolan hati. Padahal dulunya, ini biasa terjadi ada orang yang beli sesuatu, dan ternyata tidak sesuai dengan janji awal atau seperti yang dipromosikan, maka complaint jadinya.

Bisa juga dengan keputusan pimpinan yang merasa kita, dia jadi karena pilihan yang telah kita buat. Serperi pak JKW ini sekarang yang sedang ditunggu-tunggu keputusannya. Sudah banyak orang yang tidak sabar, dan merasa gondok, kecewa. Tapi kalau mau complaint gimana, emangnya apa yang kita coblos kemarin memang mengantarnya ke kursi tersebut.

He, he, ini mungkin bentuk complait itu juga ya, sebagai saluran pelepas kedongkolan. Eh, tunggu. Ini mungkin juga strategi pak JKW, maklum saat ini khan masih panas, belum kebakar. Jadi kalau kebakar khan efektif air untuk memadamkannya. Kalau hanya panas, dituang juga belum tentu dingin juga, apalagi kalau airnya juga panas. Jadi kalau kebakaran, sudah keluar apinya, maka dituang air panas juga akan padam. Jadi situasinya kayak penghuni perumahan liar, yang jumlahnya banyak, ya udah nunggu terjadinya kebakaran agar dapat bersih-bersih. Nah pada sisi ini, aku percaya dan jadi penghibur untuk menutup kekecewaan yang terjadi.

Ini complaint ya pak Wir.

He, he, introduction tentang complaint. Kalau mau complaint tentang perpolitikan kita, nggak ada gunanya. Nggak ada yang dengar. Jadi tulisan di atas itu memang sekedar pembuka saja.

Baca lebih lanjut