Kaleidoskop 2016

Selamat pagi semua, senang tentunya jika anda masih tetap membaca blog ini.

Pada penghujung tahun 2016 ini, ada baiknya saya melakukan refleksi peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi di seputaran kehidupan saya. Ini penting karena jika tidak dicermati dari tulisan-tulisan yang saya buat, rasa-rasanya tidak banyak yang tahu bahwa ada seorang yang bernama Wiryanto Dewobroto di dunia ini. Jujur saja, banyak orang yang lebih mengenal nama tersebut secara tertulis daripada dari orangnya langsung. 😀

Saya ini pendiam, tapi bukan berarti seperti patung. Saya ini ibarat gong, jika ada yang “memukul”, bisa nyaring suaranya. Untuk soal basa-basi memang saya ini bukan jagonya, ngalah deh. Juga soal berdoa, rasa-rasanya koq nggak pede-pede juga. Hanya saja kalau untuk ngomong atau khususnya nulis di bidang yang digeluti, wah demen sekali. Sudah pernah baca buku-buku yang saya tulis atau belum. Kata orang, saya ini cocok disebut novelis di bidang engineering. Itu kata pembaca lho. Kalau belum pernah membaca buku saya, pasti tertawa deh dengan sebutan tersebut. Ini buku karya saya yang terbaru dan tanggapan pembacanya. Jika anda berlatar belakang teknik sipil, kebangetan jika belum tahu soal buku tersebut, maklum ketebalan buku hampir 1000 halaman, adalah langka sekali di Indonesia. Bisa dihitung dengan jari lho. << serius mode on >>

Baca lebih lanjut

Jurnal Internasional Bereputasi Teknik Sipil

Bagi teman-teman dosen yang ingin karir profesionalnya optimal maka mengurus jenjang akademik adalah penting. Bagi dosen muda-muda tentu ini belum terasa, tetapi yang sudah menginjak senior (tua) maka hal itu akan berpengaruh pada usia pensiun. Di UPH misalnya, bagi dosen yang tidak mengurus jenjang akademik atau hanya punya jenjang akademik pemula maka usia pensiun adalah 55 tahun, untuk yang punya jenjang akademik Lektor Kepala usia pensiunnya adalah 60 tahun. Adapun profesor adalah 65 tahun. Info terbaru DIKTI katanya profesor bisa 70 tahun.

Nah dalam pengurusan jenjang akademik, sekarang ini kelihatannya semakin lama semakin sulit, yaitu terkait persyaratan  adanya publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal. Apalagi untuk mencapai jenjang profesor jurnalnya harus dalam bentuk Jurnal International Bereputasi di bidangnya (teknik sipil). Jadi jurnalnya tidak sekedar berbahasa Inggris dan terindeks Scopus, tetapi harus masuk peringkat dunia. Salah satu (atau mungkin satu-satunya) yang dapat dijadikan rujukan untuk peringkat tersebut adalah :

Journal Metrics (CiteScore metrics from Scopus) 

Baca lebih lanjut