progress kemajuan iptek Indonesia

Kemajuan iptek suatu negara umumnya selaras dengan produktifitas masyarakat ilmiahnya dalam menulis jurnal atau paper ilmiah. Itu pula yang menjadi alasan, mengapa penilaian kenaikan pangkat dosen untuk guru besar (GB) adalah didasarkan dari jurnal ilmiah international bereputasi yang ditulisnya. Bereputasi adalah jurnal ilmiah yang terindeks oleh lembaga pengindeks yang diakui DIKTI. Salah satu lembaga pengindeks yang sangat terkenal di Indonesia adalah SCOPUS.

Lembaga pengindeks lain adalah Web of Science, bahkan banyak pakar bilang ini levelnya lebih tinggi (sulit) dari Scopus. Ada juga yang namanya DOAJ (Directory of Open Access Journals), ini banyak juga digunakan tetapi kesannya agak di bawah Scopus. Maklum, ini akan mengindeks jurnal berbahasa Indonesia juga, jadi terkesan tidak eksklusif. Nah kita juga tidak mau kalah, pemerintah mencoba membuat juga pengindeks khusus versi Indonesia yang dinamakan Sinta (Science and Technology Index), dibawah pengelolaan Dikti. Kehebatan Sinta adalah mengindeks dosen-dosen Indonesia yang ber-INDN, seberapa produktif dosen tersebut. Ini link indeks saya. Masih kalah produktif dibanding dosen-dosen lain.

Selanjutnya kita membahas data berdasarkan pengindeks SCOPUS ya.

Tahun-tahun sebelum adanya kebijakan memakai indeks SCOPUS tersebut, maka selain jurnal international, karya tulis buku juga dianggap sebagai alat ukur kedalaman ilmu seorang. Apakah pantas menjadi GB atau tidak. Saat ini yang dianggap valid untuk menjadi GB, hanya jurnal international bereputasi. Menurutku itu terjadi karena kualitas buku yang diterbitkan, bahkan oleh seorang profesor, sangat beragam. Buku bisa diterbitkan, tanpa harus melalui peer-reviewer, suka-suka sendiri penulisnya. Karena sangat subyektif isinya, maka akhirnya sekarang ini yang dipakai alat ukur adalah jurnal international bereputasi, yang proses peer reviewer-nya terjaga.

Baca lebih lanjut

UTS Str Baja II – Okt. 2020

Hari ini periksa jawaban murid yang ambil mata kuliah Struktur Baja 2, Semester Ganjil 2020/2021 di Progdi Teknik Sipil UPH. Ini sudah UTS ke dua kalinya yang benar-benar pakai sistem on-line. Nggak pernah ketemu langsung, dan sudah tidak ada lagi kertas yang bertumpuk-tumpuk seperti dulu. Hasil pembelajaran sekarang semua tersimpan di data Cloud. Aksesnya dari Ipad dan corat-coretnya pakai digital Pencil. Sudah benar-benar paperless.

Baca lebih lanjut

intro – tentang space frame

Catatan : Ini baru intro dari tulisan yang sedang aku susun. Ada seorang teman yang mengasuh seminar-seminar teknik berbayar, yang memintaku membawakan topik berjudul “Metode Konstruksi Struktur Baja Space Frame“. Katanya saya punya kompetensi untuk membawakanya, tidak sekedar secara akademis, tetapi juga ada pasar yang mau membelinya. Lho koq bisa, menurut temanku alasannya adalah [1] adanya buku yang kutulis, ini ada reviewnya juga a, b, [2] pengalamanku sebagai anggota K2K PUPR yang mengevaluasi banyak metode konstruksi dari para kontraktor infrastruktur di negeri ini, dan [3] karena kegiatanku tempo hari terkait dua proyek dome dengan konstruksi baja, yaitu di Jateng (desain) dan Papua (konstruksi). Hebat juga temanku tersebut, maklum banyak acara-acara seminar yang diselenggarakannya pada sukses, padahal biayanya saja mahal. Jauh dibanding acara seminar akademis yang host-nya perguruan tinggi. Saya juga senang, karena kalau mengisi acaranya, waktunya tidak dibatasi hanya 15 menit saja. Tahu khan, bisa berbagi apa kalau hanya 15 menit. Itu sih sekedar presentasi untuk dapat KUM saja, tidak untuk berbagi ilmu. Padahal jujur saja tulisan dengan judul tersebut sangat menantang. Maklum jenis struktur yang dibahas relatif jarang ada. Oleh sebab itu untuk menuliskannya saya perlu membaca banyak literatur asing dari jurnal-jurnal ilmiah dibanding berdasarkan pengalaman di lapangan. Selain itu juga berarti harus mulai mengasah kembali kemampuan berimajinasi sebagai penulis. Ini intro yang telah aku buat, selamat membaca.

Baca lebih lanjut