Endorse dari mas Ridho (Padang)

Dalam masa new-normal para dosen yang kreatif berusaha mencari cara baru dalam pengajaran. Salah satunya adalah membuat content Youtube untuk mendukung proses pembelajaran.

Salah satu content Youtube milik dosen muda mas Ridho Aidil Fitrah, staf pengajar di Universitas Dharma Andalas (Padang) ternyata ikut mempromosikan buku saya. Adanya endorse dari teman dosen seperti itu tentunya suatu kehormatan, maklum sejak terbit 2016 lalu sudah jarang yang kasih testimoni. Oleh sebab itu video mas Ridho perlu ditayang ulang di blog ini. Terima kasih mas Ridho.

Buku-buku saya dapat dibeli via online di situs http://lumina-press.com

Note : saat ini lagi Lumina-press masih dalam masa libur mengikuti masa Covid-19. Belum ada informasi untuk mulai aktif lagi. Hanya saja buku tersebut juga ada yang menjual di toko online Bukalapak dan Tokopedia. Silahkan mana yang dapat dulu.

berinovasi atau hilang

Istilah inovasi jika mengacu wikipedia, yaitu reka baru, ditujukan pada proses atau sistem baru yang bisa memberi nilai tambah. Pendapat saya, istilah tersebut juga cocok diaplikasikan pada cara kita bekerja. Tentu tidak semua pekerjaan, hanya cocok untuk pekerja profesional yang mandiri, yang bekerja mengandalkan otak (kompetensi keilmuan). Dosen pada batasan tertentu bisa juga disebut profesional mandiri, tentunya selama memenuhi kewajiban dari kampusnya.

Note : saya punya teman dosen yang sangat inovasi. Tetapi karena inovasinya tersebut yang bersangkutan sering meninggalkan kampus dan tidak mengajar. Akibatnya yang bersangkutan harus berhenti, tetapi karena tetap berinovasi maka tetaplah jadi pengusaha sukses. Itu artinya karena inovasi maka tetap eksis dan tidak hilang. Maklum, dosen pada titik tertentu masih juga seperti pegawai. Harus tunduk pada peraturan yang berlaku, termasuk juga para Profesor.

Dosen bisa disebut profesional mandiri jika apa-apa yang diajarkannya adalah buatannya sendiri, dan hanya mengajarkan hal-hal yang jadi kompetensinya. Maklum bisa saja seorang dosen mengajarkan ilmu yang bukan topik kompetensinya, hanya karena ketersediaan slot mengajar. Kalau kondisinya seperti itu, yang bersangkutan hanya dosen atau staff pengajar, yang dilakukan sekedar agar rutin dapat gaji bulanan.

Nah dalam era pasca covid-19, dimana proses mengajar-belajar akan lebih banyak tergantung pada teknologi, akibatnya kebutuhan tenaga pengajar akan berkurang. Media-media pembelajaran akan banyak digantikan oleh content-content pembelajaran digital, yang bisa dipilih dari yang terbaik dari berbagai content yang ada. Akibatnya dosen yang sekedar mengandalkan ketrampilan mengajar, maka sedikit demi sedikit tentunya akan tersisih (hilang).

Cara sederhana untuk melihat bahwa hal itu akan terjadi adalah sangat gampang. Lihat saja sekarang ini, adanya peralihan media pembelajaran dari off-line ke on-line maka banyak dosen-dosen senior (tua) yang “kesulitan”. Padahal dosen-dosen seperti itu di hirarki administrasi pendidikan mempunyai gaji lebih tinggi dari dosen-dosen yunior (maklum karena lama pengabdian di institusi). Akibat adanya kesulitan beralih ke on-line, kedepannya tentu pihak kampus akan lebih mudah mengangkat dosen muda saja, yang tentunya gajinya juga bisa lebih “murah”. Ini khan keputusan yang rasional dari pengurus kampus.

Dosen-dosen senior akan tetap eksis jika yang bersangkutan tidak sekedar mengandalkan segi pengajaran saja. Dosen-dosen senior harus unggul dalam memproduksi content-content khusus, yang dalam era on-line ini tetap diperlukan. Apalagi dengan semakin kuatnya undang-undang hak-cipta bahwa karya-karya unik orang tidak boleh diambil sembarangan.

Agar mampu menghasilkan content-content khusus maka inovasi adalah faktor yang sangat penting. Jika tidak maka siap-siap saja untuk hilang. Kalau tidak percaya maka lihat saja video berikut, tentang perlunya inovasi agar perusahaan-perusahan tetap bertahan. Jika tidak, maka betapapun besar dan terkenalnya perusahaan maka akhirnya bisa hilang dan digantikan yang lain.

Jika perusahaan yang begitu besar dan terkenal di seluruh dunia saja bisa hilang, maka tentunya pribadi-pribadi yang lemah seperti kita akan lebih mudah terjadi untuk hilang tak berbekas.

Baca lebih lanjut

atap kubah baja terbesar di timur

Struktur atap yang tentunya hanya digunakan untuk pelindung terhadap hujan dan angin, dan bukan untuk dilewati, maka berat sendirinya akan lebih dominan dibanding beban hidup rencana (hujan atau angin atau manusia pekerja). Untuk kondisi seperti itu maka jenis bahan material yang tepat adalah bahan material yang punya ratio kekuatan dibanding berat, yang terbesar. Material apa itu. Ini ada data dari internet kelihatannya bisa digunakan.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa beton hanya 15% efektifitasnya dibanding baja. Juga diketahui bahwa kayu dan bambu punya ratio yang lebih baik dari beton. Hanya saja untuk ke dua material tersebut. isue konsistensi mutu dan kekuatan absolut yang memang lebih kecil dibanding baja, menyebabkan bukan pilihan yang baik. Oleh sebab itu untuk konstruksi besar, yang karakternya didominasi oleh berat sendiri, maka material baja adalah satu-satunya material yang paling rasional dipilih. Itulah makanya ilmu struktur baja banyak dibutuhkan pada proyek yang besar-besar. 🙂

Baca lebih lanjut

bedah buku Vazirani (2005)

Prof V.N Vazirani dari India sangat terkenal dengan buku-buku ilmu strukturnya. Waktu mahasiswa, saya mengkoleksi buku beliau yang bersampul merah, yaitu “Analysis of Structures”. Waktu itu beliau menulis bersama Dr. Ratvani. Dari sana saya merasa bahwa ilmu saya bisa berkembang, yang akhirnya mengantar saya bisa mencapai level GB seperti sekarang ini. Jika 30 tahun yang lalu hasil karya Prof Vazirani sudah menjadi rujukan international maka tentunya jika ada edisi baru karangan beliau, tentunya sangat menarik untuk dibahas.

Nyatanya, dari searching di internet saya menemukan buku beliau terbitan tahun 2005. Jika tertarik ini link-nya. Dari tahun edisinya jelas relatif lebih baru dari yang aku punya dulu. Bahkan sekarang pengarangnya bertambah, yaitu ada tiga, Prof Vazirani, Dr. Ratvani dan Dr. Duggal. Judulnya ada tambahan Vol. II. Wah bertambah tebal saja isinya, sampai setebal 1380 halaman. Lebih tebal dari buku saya, padahal rasanya buku saya itu sudah paling tebal dari buku-buku serupa yang berbahasa Indonesia. Ini sampul buku Prof Vazirani yang aku maksud.

Sampul Buku Prof Vazirani (2005)

Setelah melihat isinya, ternyata sebagian masih familiar. Ternyata buku di atas adalah pengembangan dari bukunya yang terdahulu. Kalau dari jumlah halaman maka jelas memang lebih tebal. Pasti ada yang baru, tetapi tidak semua.

Ternyata mencari content yang baru itu memang tidak mudah. Sama seperti buku struktur baja yang terbit tahun 2015, yang pertama kali. Itu isinya sebagian besar masih dipakai ketika diterbitkan lagi tahun 2016. Hanya lebih tebal saja, persis sekali dengan bukunya Prof. Vazirani di atas. Nggak salah juga dong kalau begitu.

Baca lebih lanjut

New normal, dalam prespektif pribadi

Kehidupan manusia memang unik, tidak mudah diprediksi. Meskipun telah dilakukan banyak penelitian, ditemukan begitu banyak ilmu pengetahuan di berbagai jurnal ilmiah atau buku untuk bisa dipelajari, juga banyaknya teknologi baru yang muncul, tetapi menurutku : masa depan masih sesuatu yang belum bisa dipastikan dengan baik. Cuma bisa diduga, bisa ya tetapi bisa juga tidak.

Baca lebih lanjut

Diskusi tentang R (gempa)

Ilmu struktur tahan gempa adalah salah satu ilmu penting bagi insinyur teknik sipil, khususnya yang mendalami bidang rekayasa struktur (structural engineering). Penting, karena dengan ilmu tersebut seorang profesional akan “didengar dan diperhatikan”. Maklum setiap keputusan berdasarkan ilmu tersebut dapat membuat orang lain harus mengikuti ketentuan yang dibuat. Akibatnya akan berdampak penambahan kerja atau meningkatnya biaya. Oleh sebab itu, proyek yang berisiko tinggi terhadap gempa, harus menunggu petunjuk dari empunya ilmu tersebut. Jika tidak, maka desain yang sudah jadi, bisa-bisa tidak lolos ujian sidang evaluasi para ahli (di Jakarta TPKB misalnya).

Karakter ilmu struktur tahan gempa agak berbeda dibanding ilmu stabilitas struktur. Dampak penggunaan ilmu struktur tahan gempa tidak secara langsung akan terlihat dengan cepat. Maklum gempa yang besarnya sesuai rencana, tidak setiap saat terjadi. Tempatnya juga belum tentu di lokasi bangunan yang dibangun. Ini berbeda dari ilmu stabilitas struktur, yang dapat mendeteksi risiko terjadinya keruntuhan struktur akibat pertambatan lateral yang tidak memadai. Jenis keruntuhannya bisa terjadi kapan saja, tidak perlu menunggu sampai ada gempa atau angin kencang. Ilmu stabilitas struktur banyak diperlukan pada struktur baja yang umumnya langsing sehingga menjadi ilmu standar bagi ahli struktur baja.

Baca lebih lanjut

bangunan berlogo SNI

Mungkin agak bingung dengan judul di atas, tetapi jika kata “bangunan” diganti dengan “helm” tentunya bisa dipahami  apa maksudnya. Istilah tersebut timbul tentunya dilatar-belakangi adanya produk-produk “helm” yang tampilannya bagus dan mentereng tetapi ketika ada yang memakai dan ketika kecelakaan ternyata jatuh korban juga. Helm-nya pecah. Itu berarti ada helm yang tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

Oleh sebab itulah maka pemerintah mengambil tindakan dengan cara memfilter helm-helm yang beredar. Helm yang produknya dianggap memenuhi kriteria minimum, diberi label atau logo SNI. Harapannya masyarakat dapat mengenal mana helm yang sebaiknya diberli, tidak hanya dari segi keindahan atau murahnya saja tetapi juga mutu kekuatannya sehingga jika dipakai nanti dapat terhindar dari kecelakaan akibat helm yang pecah.

Adanya logo (SNI = Standar Nasional Indonesia) memudahkan masyarakat awam menentukan pilihan produk yang akan digunakan. Ada logo berarti telah memenuhi mutu tertentu (kekuatan) yang hanya orang berpengalaman yang memahaminya. Baca lebih lanjut

kompeten dan profesional

Lama tidak bertemu, untuk itu perkenankan saya mengucapkan “Selamat Tahun Baru 2020”. Semoga tahun ini membawa berkah, dan semoga kita semua diberi kesempatan oleh Tuhan untuk tetap berkarya di sepanjang tahun tersebut. GBU

Ini tulisan pertama di tahun 2020. Ada yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perbedaannya adalah sekarang dan selanjutnya, tulisan-tulisan di blog ini adalah mencerminkan pemikiran seorang guru besar Indonesia.

Suka tidak suka, formal maupun informal, setiap tulisan: sedikit atau banyak, adalah mencerminkan isi pikiran seseorang. SK guru besar bagi saya telah keluar sejak 1 Agustus 2019 dan telah dikukuhkan resmi pada tanggal 4 November 2019 lalu. Jadi apapun yang saya lakukan tentunya akan mencerminkan perilaku seorang guru besar Indonesia. Bisa mengangkat atau menjatuhkan derajat guru besar Indonesia. Tentang hal itu maka tentunya anda pernah dengar pepatah “diam adalah emas” atau “tong kosong bunyinya nyaring”. Pada kondisi seperti itu, maka menulis sesuatu adalah tentu berisiko tinggi.

Bagi saya, pengangkatan menjadi guru besar adalah anugrah dan sekaligus tanggung-jawab. Keduanya harus dipikul secara seimbang, agar tidak menjatuhkan. Di sisi lain, saya sudah terbiasa untuk menulis hal-hal yang bukan hoax, tetapi adalah berdasarkan kebenaran dan dapat dipertanggung-jawabkan secara akademik. Oleh sebab itu bagiku, apakah aku ini guru besar atau awam, adalah sama saja. Tulisan adalah sumbang sih pemikiran untuk kebaikan bersama.

Baca lebih lanjut

Prosentasi Guru Besar di Indonesia

Panggilan Jendral adalah sesuatu yang istimewa. Maklum, semua orang tahu bahwa itu adalah gelar kepangkatan tertinggi di dunia militer. Pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi ada juga yang mirip, kepangkatan tertinggi disebut Guru Besar atau jaman dulu disebut juga Maha Guru (sekarang tidak lagi digunakan).  Hanya saja istilah kepangkatan tersebut tidak digunakan sekaligus sebagai gelar panggilan di depan nama seseorang. Adapun gelar panggilannya adalah Profesor.

Dunia militer dikenal masyarakat karena keberadaannya dijumpai di setiap pelosok tanah air, bahkan daerah terpencilpun. Adapun dunia perguruan tinggi tidak demikian, mayoritas masih berkumpul di pulau Jawa. Info grafis dari PDDikti berikut sangat membantu.

Oleh sebab itu, masyarakat di pulau Jawa lebih mengenal istilah Guru Besar atau Profesor dibanding masyarakat pulau-pulau lain di Indonesia. Maklum mayoritas kampus-kampus perguruan tinggi berada di pulau Jawa. Selain di perguruan tinggi, maka gelar profesor juga dipakai pada lembaga riset non-perguruan tinggi. Untuk itu sebutannya adalah profesor riset atau Prof (R)  diikuti huruf R dalam tanda kurung untuk membedakannya.   Untuk selanjutnya akan dibahas guru besar berbasis perguruan tinggi saja.

Baca lebih lanjut

penelitian di Indonesia

CEO Bukalapak kemarin posting di medsos tentang anggaran riset Indonesia. Dia membuat perbandingan besaran dana riset (bidang terkait bisnis si CEO) negara kita dengan negara lain yang lebih maju. Perbandingan seperti itu mestinya sesuatu yang biasa-biasa. Maklum, tidak ada yang wah dengan kondisi riset di negeri ini, apalagi kalau dibandingkan dengan negara maju. Masalah terjadi karena adanya kelemahan tersebut dikaitkan dengan Presiden. Padahal di medsos juga, ada bukti foto bahwa pak Presiden yang dimaksud sangat mendukung kegiatan bisnis CEO tersebut. Jadi kesan yang ditangkap pembaca, CEO yang “nggak tahu diri”. Jadi, kebetulan hp saya lemot, maka sekalian saja ikutan uninstall Bukalapak.  😀

Baca lebih lanjut