struktur menurut arsitek

Kata “struktur” ternyata mempunyai pengertian berbeda diantara satu profesi tertentu dengan profesi lainnya. Adapun pengertian awam, sebagaimana terdapat pada “struktur kalimatnya tidak jelas“, tentu  akan diartikan pada susunan tata kalimat. Bagi seorang pemrogram komputer kelihatannya masih diartikan pada hal yang sama, seperti misalnya pada “struktur data“. Itu masih dapat dikaitkan dengan susunan data dan perintah yang mengikuti aturan tertentu untuk memudahkan pengelolaan dalam pemrograman komputer.  Pada bidang manajemenpun demikian juga, lihat saja tentang “struktur organisasi“, tentu masih ok juga, jika dikaitkan dengan susunan organisasi dan yang terkait.

Jadi bagi awam, kata struktur tersebut kira-kira dapat diartikan dengan kata susunan, atau yang seperti itulah. Bahkan jika digunakan pada kata struktur bangunan maka rasanya juga masih wajar jika hal itu dikaitkan dengan susunan bangunan tersebut. Pokoknya nggak anehlah jika kata susunan bisa digunakan untuk mengartikan kata struktur.

Dengan pemahaman seperti itu, lalu ketemu orang atau tepatnya insinyur yang mengaku keahliannya di bidang struktur, maka wajarlah jika timbul pertanyaan: “apa yang sebenarnya dipahami dengan keahlian tersebut ? ”

Baca lebih lanjut

detailing di rekayasa struktur

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keruntuhan jembatan Kutai Kartanagara (Kukar) di Kalimantan merupakan bencana buatan manusia (man made disaster) terdahyat. Jika sebelumnya bencana-bencana memang telah silih berganti di negeri ini, yang menelan korban jauh lebih banyak, tetapi semua itu selalu dapat dikaitkan dengan kondisi alam, yang memang tidak dapat diduga. Untuk yang seperti itu, biasanya sudah tersedia satu jawaban ampuh untuk menerangkannya, yaitu dengan satu kata “nasib“.

Biasanya kalau sudah kata “nasib” disampaikan, maka rasanya tidak akan timbul banyak pertanyaan. Penanya sungkan, karena pasti nasehat selanjutnya selalu dikaitkan dengan himbauan untuk lebih rajin beribadah, mohon ampun dosa-dosa. Padahal kalau mau jujur, di tempat lain, di negeri yang disebutnya sekuler, kondisinya bisa lebih baik. Padahal penduduknya banyak yang mengaku tidak beragama. Jadi kalau beragama hanya sekedar ingin nasib baik, bisa kecewa.

Nah sekarang dengan adanya kejadian di Kutai Kartanagara, ada fakta bahwa buatan manusia ternyata bisa menjadi bencana tidak terduga. Untuk itu, apakah kita masih dapat dengan mudah mengatakan bahwa itu adalah nasib ?

Jika demikian adanya, malang nian rakyat negeri ini.

Baca lebih lanjut

guru, tenaga ahli, nara sumber atau selibriti

Guru, tenaga ahli, nara sumber atau selibriti, kadang pada suatu kondisi tertentu sukar dibedakan perannya. Bayangkan saja, dalam beberapa hari ini, sejak terjadinya tragedi jembatan bentang panjang di Tengarong yang rubuh, ternyata kalau mau dihitung ada lebih dari tiga rekan wartawan yang menghubungi.  Via hp lagi, padahal rasa-rasanya saya tidak pernah mencantumkannya secara terbuka di blog atau facebook. Maklum, komunikasi melalui hp sifatnya pribadi. Jadi yang biasa ditanggapi adalah yang pernah melakukan kontak langsung secara personal.

Bagaimanapun juga saya menganggap siapapun yang mengkontak saya, tanpa saya tahu secara pribadi maka saya anggap anonim. Secukupnya saja dan kemudian jangan dipikirkan serius. Meskipun dalam hal ini, mereka biasanya ketika mengkontak selalu menyebutkan nama dan institusi tempat bekerjanya. Boleh-boleh saja itu menurutku, tetapi bagaimana tahu bahwa itu benar. Jadi bisa saja benar atau bisa saja salah, dan saya selalu berpikir pada kondisi terburuk. Jadi jangan terlalu ditanggapi serius lha. Artinya kita jangan terlalu berharap bahwa apa yang dinyatakan kepada mereka nantinya juga akan keluar di media seperti itu. Oleh karena itu jawaban klise menanggapi orang bertanya, seperti kasus jembatan yang rubuh itu adalah bahwa “saya tidak punya komentar“. Titik.

Baca lebih lanjut

diskusi teknik

Diskusi teknik berikut berlangsung di Bali World Hotel, Jl. Soekarno Hatta No. 713 By Pass Timur, Bandung, yang diselenggarakan oleh teman-teman dari Kementrian PU untuk membahas tentang bangunan bertingkat pracetak. Brosur dan pembicaranya adalah sebagai berikut :

Adapun pembicara-pembicaranya adalah :

Bagi pembaca yang akan hadir pada acara tersebut, selamat bertemu besok. Salam.

workshop SAP2000 di UPH – 2011

<<< up-dated daftar acara >>>

Informasi dari sdr. Enrico (Hp: 081808655816) , jadwal acara yang berkaitan dengan workshop di UPH pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2011 adalah sebagai berikut:

  • 08.00 – 09.00 : Registrasi di Gedung D502 Kampus UPH Lippo Karawaci
  • 09.00 – 11.00 : Seminar “Aplikasi Bangunan Tahan Gempa di Indonesia“, Bapak Ir. Suradjin Sutjipto, M.Sc.
  • 11.00 – 12.00 : Seminar Pengantar Workshop SAP2000 “Dasar-dasar Teori dan Solusi dengan SAP2000“, Bapak Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto, MT.
  • 12.00 – 13.00 : Makan siang
  • 13.00 – 15.00 : Workshop SAP2000, Bapak Hendrik Wijaya, ST., di Gedung B Laboratorium Desain (informasi akan disampaikan nanti).

.

Catatan :

  1. Untuk yang berminat mengikuti Workshop SAP2000 tempat terbatas maksimal 50 orang (keterbatasan Laboratorium Komputer yang digunakan).  Untuk yang mengikuti seminar tidak dibatas.
  2. Sambil menunggu buku SAP2000 yang tak kunjung terbit, panitia (mahasiswa teknik sipil UPH) berinisiatif untuk melakukan reproduksi buku tersebut. Untuk itu dicoba dibuatkan copy sebanyak 20 eksp. Jadi yang belum pernah membaca (punya) nanti pada kesempatan tersebut dapat mengganti ongkos copy kepada panitia yang terlibat.

Baca lebih lanjut

materi UTS semester ganjil 2011

Menjadi  “orang dikenal” atau kalau bisa bahkan menjadi “orang terkenal”, adalah sesuatu yang banyak didambakan dewasa ini. “Menjadi orang terkenal” dipahami sebagai faktor pembawa keberuntungan. Ingat saja kasusnya Briptu Norman, yang dengan caiya-caiya-nya di You-Tube dan yang kemudian diliput banyak media menjadikannya dia banyak dikenal orang saat ini.  Akibatnya, dianya akan keluar dari profesi sebagai polisi, karena katanya ada tawaran jadi artis dengan bayaran tinggi (menjadi terkenal = kesuksesan). Hal-hal seperti itulah yang saat ini menjangkiti banyak pikiran anak muda Indonesia, sehingga acara-acara seperti “Indonesian Idol” menjadi laris. Mereka ingin terkenal ( = sukses).

Baca lebih lanjut

uts – kerja praktek di uph

Istilah “Kerja Praktek” banyak dikenal dan dilakukan para mahasiswa diberbagai bidang kependidikan. Perhotelan misalnya, disitu dikonotasikan bahwa mahasiswa akan melaksanakan praktek kerja di luar kelas, karena yang dipelajari adalah masalah perhotelan maka biasanya di luar kelas itu berupa kegiatan di hotel atau usaha wisata lainnya. Untuk mahasiswa di jurusan teknologi pangan, maka mahasiswanya akan praktek kerja di industri makanan atau semacamnya, bisa di proses pelaksanaannya (pabrik) atau juga di bidang riset (laboratorium) membantu mengevaluasi produk makanan atau membuat formulasinya.

Menurut istriku, yang ahli teknologi pangan, senang sekali dengan adanya mahasiswa yang kerja praktek. Maklum, istriku bertanggung jawab di lembaga R&D perusahaan pangan yang meneliti tentang produk pangan yang akan dibuatnya. Jadi jika ada mahasiswa yang kerja praktek di kantornya, maka mereka dapat diarahkan untuk sekaligus membantu pekerjaan yang sekaligus memberinya pengalaman nyata di bidangnya. Bahkan, adanya kewajiban mahasiswa menyusun laporan kerja praktek, adalah sesuatu yang diharapkan. Maklum ada yang membuatkan laporan tertulis tentang kegiatan riset yang dilakukannya tersebut. Win-win begitulah.

Itulah yang umum diketahui tentang kerja praktek.

Dalam kenyataannya, yang dimaksud Kerja Praktek bisa berbeda antara satu institusi pendidikan dengan institusi pendidikan lainnya terkait dengan detail pelaksanaannya. Adapun kesamaannya adalah bahwa mahasiswa akan melakukan hal itu di luar kelas, bahkan di luar kampus tempat belajarnya. Itu saja.

Baca lebih lanjut

check lendutan pada balok beton bertulang

Lama juga saya tidak memegang dashbord WordPress dan menulis artikel, maklum dalam beberapa minggu terakhir ini banyak kegiatan menulis paper yang menyita waktu, misalnya untuk Seminar Internasional EACEF-3 di Yogyakarta (20-23 Sept 2011), juga Seminar Nasional Konteks-5 di Medan (14-15 Okt 2011).

Bisa berpartisipasi aktif dalam temu ilmiah itu asyik lho. Maklum selain bisa menambah wawasan pengetahuan, juga ada kesempatan jalan-jalan gratis atas biaya institusi. Itu khan tugas mulia yang membawa nama institusi, yang bisa meningkatkan kum untuk akreditasi. Yah, begitulah tugas sehari-hari dosen, mengajar, meneliti, menulis dan presentasi (serta jalan-jalan).

Tulisan saya terakhir adalah tentang acara seminar HAKI. Itu diadakan sebelum puasa, disana tempo hari saya bertemu dengan mas Purbo dari Yogyakarta, yang juga tertarik dan mendalami program SAP2000. Beberapa hari kemudian, setelah dari seminar tersebut saya mendapat kiriman buku beliau (et. al.) yang pertama tentang SAP2000. Sampul bukunya lumayan, isinya juga bagus. Nah bagi teman-teman yang tertarik belajar dan ingin menguasai program SAP2000 maka buku itu perlu dikoleksi. Jika anda belum mendapatkan secara jelas informasinya, silahkan kunjungi website beliau di sini.

Trims ya mas Purbo atas kiriman bukunya.

Selanjutnya dari berbagai komentar yang masuk pada blog ini, saya akan mencoba menjawab. Maklum, tidak setiap komentar yang masuk pada blog ini dapat dijawab dengan baik. Jadi seperti yang biasa disarankan pada murid-murid saya, bahwa untuk menjawab soal ujian mulailah dari soal atau pertanyaaan yang paling mudah. Dengan cara yang sama maka saya pilih pertanyaan tersebut seperti ini misalnya :

Submitted on 2011/09/01 at 22:51

Pak Wir, berhubung pembahasan blog ini mengenai beton bertulang, saya jadi ingin tahu nih, kenapa para desainer dalam merancang dimensi balok beton bertulang itu tidak pernah melakukan perhitungan Lendutan ? Kebanyakan para desainer langsung menggunakan Feeling / pengalaman dalam menentukan dimensi ( B dan H ), padahal kan lendutan merupakan hal penting juga, apalagi sejak diberlakukannya metode kekuatan batas ini.

Thanx

Suatu pertanyaan yang menarik. Mengapa, karena yakin yang bertanya di atas sebenarnya telah sedikit banyak mengetahui tentang perencanaan struktur beton. Lihat saja komentarnya “apalagi sejak diberlakukannya metode kekuatan batas“.

Pernyataan yang terakhir tersebut, tentu disampaikan dengan pemahaman bahwa perencanaan berdasarkan kekuatan batas adalah berfokus pada kekuatannya saja dan tidak atau belum memikirkan pengaruh kekakuan penampang baloknya.

Maklum pada kondisi batas, yang paling penting adalah mengetahui kekuatan ultimate yang dapat dihasilkan suatu penampang beton dan perilaku keruntuhannya apakah daktail (under-reinforced section) atau non daktail (over-reinforced section).

Dalam memprediksi kekuatan batas (ultimate) pada penampang dengan keruntuhan daktail, yaitu leleh atau keruntuhan pada tulangan, maka bagian beton yang mengalami tarik akan mengalami retak (crack) sehingga diabaikan pengaruhnya dalam perhitungan. Kondisi tersebut tentu menyebabkan seakan-akan penampang beton menjadi berkurang, atau dengan kata lain momen inersianya akan berkurang dibanding penampang beton yang utuh. Momen inersia penampang beton adalah hal yang penting yang akan mempengaruhi lendutan. Nah dengan cara pikir tersebut, maka teman kita di atas mengajukan pertanyaannya tersebut.

Jadi dengan kata lain, yang bertanya itu tahu tentang teori beton ultimate. Good.

Mari kita jawab.

Baca lebih lanjut

dari Seminar HAKI 2011

Seminar dan pameran yang diselenggarakan HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia), merupakan salah satu event favorit yang ditunggu-tunggu para insinyur konstruksi, khususnya yang berkecipung di proyek-proyek bangunan gedung tinggi. Para peserta yang hadir kebanyakan dari kalangan konsultan, kontraktor, juga kalangan akademisi. Sedangkan teman-teman insinyur yang bekerja pada proyek jalan dan jembatan, atau PU, yang sering aku jumpai di acara KJI (Kompetesi Jembatan Indonesia) jarang yang menghadiri acara ini.

Jadi kelihatannya benar juga, jika HAKI memang kumpulan orang-orang bangunan gedung tinggi dan yang terkait. Apalagi jika dicermati, materi-materi yang diberikan juga tentang bangunan tinggi dan tetek bengeknya.

Berbicara tentang bangunan gedung tinggi, maka persoalan yang sering diungkapkan dalam seminar ini dari tahun ke tahun adalah tentang ketahanan bangunan tersebut terhadap gempa. Jadi intinya adalah mempresentasikan cara-cara atau metode baru untuk mengantisipasi suatu bangunan gedung tinggi terhadap gempa yang akan terjadi. Inilah yang mungkin menjadi penyebab sehingga teman-teman di jalan dan jembatan menjadi sedikit terabaikan sehingga menjadi tidak tertarik untuk menghadirinya. Kalaupun ada yang berbicara tentang jembatan, relatif sedikit, tahun lalu ada, yaitu tentang jembatan Suramadu oleh pak Eko Prasetyo (Virama Karya). Tahun ini kelihatannya tidak ada satupun makalah yang membahas tentang jembatan.

Banyaknya materi tentang gedung dan bukan yang lain bisa juga diakibatkan anggota yang hadir adalah dari kalangan proyek-proyek gedung sehingga yang dibicarakan juga hanya gedung saja. Akhirnya yang datang lagi, juga dari gedung juga. Yah, begitulah seperti telur dan ayam, mana yang duluan.

Jadi, kalau anda adalah insinyur yang tertarik dan bekerja di bisnis perancangan atau pelaksanaan gedung tinggi dan industrinya yang terkait maka di sinilah tempatnya. Di Seminar HAKI ini banyak banget lho yang membuka stand tentang produk-produk bahan-bahan material bangunan. Jadi bagi produser bahan yang terkait bangunan gedung dan ingin produknya dikenal maka ada baiknya mensurvey acara ini. O ya, pesertanya tidak kurang dari sekitar 400 – 500 peserta. Itu insinyur atau profesional semua. Coba kalau ikut stand pasaraya, yang datang bisa saja ribuan, tetapi belum tentu kena sasaran. Kalau di pasaraya brosur ribuan bisa habis, tapi tahunya hanya jadi bungkus kacang. Nah jangan lupa, agenda seminarnya setiap tahun, yaitu sekitar bulan Agustus, lokasi tempatnya juga selalu sama, yaitu di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Untuk seminar HAKI tahun ini memang ada anomali, diselenggarakannya pada bulan Juli tepatnya hari Selasa dan Kamis kemarin tanggal 26-27 Juli 2011. Ini tentu tidak biasanya, maklum bulan Agustus tahun ini adalah telah memasuki masa puasa. Nggak afdol khan kalau di seminar nggak ada acara makan-makan.

Lihatlah spanduk seminar terpampang dengan gagahnya di lobby hotel sisi selatan. Sepi, memang sih maklum fotonya diambil pagi hari sekali. Maklum mau memilih tempat duduk yang strategis.

Gambar 1. Lokasi :  Flores Room, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat

Tema seminarnya cukup menarik, yaitu:  “Konstruksi Indonesia Melangkah ke Masa Depan“. Tetapi kalau dari segi bahasa maka judul yang dipilih sebenarnya tidak bermakna. Coba saja dibaca ulang, yang paling mengesan khan hanya kata “Masa Depan”. Tapi itu khan sebenarnya nggak punya pengaruh apa-apa. Diam saja pasti juga akan mencapai masa depan. Harusnya ditambahkan suatu pernyataan kondisi masa depan apa yang diinginkan. Jadi kalau diubah sedikit menjadi : “Konstruksi Indonesia menuju Masa Depan yang  . . . . ” maka tentunya akan lebih bermakna.

He, he, emangnya ada yang peduli, yang penting bisa ketemu teman-teman aja. Iya khan.

Baca lebih lanjut