35 respons untuk ‘Daftar Isi

  1. Pak Wir, salam kenal dari saya. Saya punya pertanyaan mengenai pekerjaan slab struktur dengan tebal 50 mm apakah dibenarkan, bentang bersih sekitar 1 meter. Hal ini terjadi untuk peninggian lantai existing tapi beban tambahan tidak boleh melebihi batas yang ditetapkan.
    Terima kasih

    Suka

  2. Pak Hadi, soal pekerjaan slab struktur setebal 50 mm, menurut saya tidak perlu dibahas dari segi struktur atau engineering-nya, kalau dibahas seperti itu nanti bisa banyak pendapat yang berbeda2 seperti sanggahan, saran, ide, dll..

    Lebih mudah kalau kita mengacu pada code kita saja. SNI Tata Cara Perencanaan Struktur Beton, pada pasal 9.7.1.c disebutkan tebal selimut beton untuk pelat adalah 20 mm..

    Apakah masih dimungkinkan dibuat slab struktur dengan tebal selimut beton (atas dan bawah) adalah 40 mm, dan sisa tebal untuk letak tulangan (atas dan bawah) adalah 10 mm..

    Itu case secara umum nya pak, tapi soal case seperti bapak, saya kurang jelas dengan case bapak, tapi mungkin pendapat saya di atas bisa jadi pertimbangan.

    Sepertinya kalau maksud bapak mempertebal slab yang sudah ada dengan memberi tambahan topping concrete di atas existing slab setinggi 50 mm, artikel pak wir tahun 2007 No.93 precast hollow-core slab – 16 Juni 2007, mungkin bisa jadi pertimbangan.

    Mohon bimbingannya pak.

    Terima kasih

    Suka

  3. Terima kasih pak Hendrik buat advicenya, pada intinya masalah yang kami hadapi disini adalah lantai yang telah ada sekarang atas permintaan client minta dinaikkan 350 cm, sedangkan beban maksimun yang diijinkan adalah hanya 120 kg/m2, jadi kami membuat raised floor dengan tebal hanya 50 mm. Sebenarnya metoda raised floor baku banyak digunakan untuk ruang2 khusus seperti server dan bioskop, tapi beban kami hanya 250 kg/m2 (LL). Mgkn ada rekan kontraktor yang punya solusi

    Wir’s responds: kenapa nggak pakai pelat bondek aja pak.
    Nggak perlu bekisting, tebal bisa minimal karena tulangan bawah bisa tepat dibawah, tidak perlu penutup beton, jadi jelas kekuatannya akan lebih besar dibanding RC biasa (ingat penutup beton bagian tarik diabaikan). Masalahnya khan tinggal hitung jarak tumpuan yang harus menjadi beban ke pelat dibawahnya. tulangan hanya pada tumpuan, lebih gampang.

    Suka

  4. Salam Kenal Dari saya pak, nama saya Dill Raaj Singh.. saya mahasiswa arsitektur UPI-YAI… saya mendapat rekomendasi dari dosen saya untuk mencari data dari bapak, tentang Burj Al Arab..

    Saat ini saya sedang mendisain gedung bertingkat tinggi, dan saya ingin menjadikan Burj AL Arab sebagai referensi utama saya..

    Saya harap bapak dapat membantu saya… untuk memperoleh data-data seperti denah tampak potongan, struktur detail, proses pembuatan pulau, konstruksi nya (bracing, truss, eksoskleton)… dll…

    Saya harap bapak dapat membantu say..

    Sebelum nya saya ucapkan terimah kasih.

    Suka

  5. saloom,
    Maaf mengganggu Pak Wir, bisa nggak saya mendapatkan cara menggunakan winest yaitu program untuk estimasi. maaf ya Pak Wir, karena ini bukan masalah struktur. sekali lagi terima kasih yang banyak.
    hormat saya,
    zana

    Suka

  6. Selamat Siang Pak Wiryanto, keunggulan dan kelemahan bekisiting Plywood dan Bekisiting FRP (Fiberglass) dilihat dari segi cetakan dan banyak cetakan untuk beton. Bisa di bantu pak untuk saya
    terima kasih

    dari: Asep Mahdi

    Suka

  7. Salam kenal Pak

    Bisa saya bertanya bagaimana cara perhitungan dan perancangan scaffolding untuk sebuah struktur bangunan?

    Suka

    • pertanyaan ini sifatnya umum, seperti halnya perencanaan struktur pada umumnya maka anda perlu melalukan langkah-langkah sebagai berikut:

      1). Pelajari terlebih dahulu spesifikasi teknik dari scaffolding anda, dan bagaimana cara pakainya. Mengetahui gaya-gaya apa saja yang dapat diterima (sebagai kolom atau sebagai balok) dan besarnya gaya/momen yang diijinkan. Jadi dalam hal ini sudah dapat diketahui gaya reaksi maksimum yang diijinkan.

      2). Konfigurasikan scafolding tersebut untuk memikul bekisting yang dimaksud. Paling gampang adalah meniru usulan yang diusulkan oleh pabriknya. Pelajari aliran-gaya-gaya yang bekerja, dimulai dari lokasi tempat pembebanan sampai pondasi (bagian paling bawah scafolding). Perkirakan berat sendiri dari bekisting, beton basah, berat sendiri scafolding dan beban pekerja di atasnya. Check kekuatan scafolding, bandingkan gaya yang bekerja dan daya dukung ijin.

      3) perhatikan daya dukung system pondasi pendukung scafolding. Jika perlu pasang balok yang dapat mendistribusikan gaya reaksi ke bidan yang lebar, sehingga tidak terjadi penurunan.

      4) yang terakhir pastikan sistem penahan lateral, anggap ada gaya lateral minimal, seperti misalnya 5% – 10% berat yang harus dipikul. Untuk itulah harus dipasang bracing. Karena scafolding tidak diikat secara khusus pada tumpuannya (pondasinya) dan biasanya hanya kuat terhadap tekan, maka usahakan tidak ada gaya tarik pada scafolding. Untuk itulah rasio lebar bawah dan tinggi perlu dievaluasi. Kecuali jika pakai scafolding khusus yang dapat menahan tarik.

      Mungkin itu sebagai gambaran umum perencanan scaffolding.

      Suka

  8. sdr Faqihn
    Secara umum memang dapat dikatakan bahwa kombinasi yang menghasilkan kondisi ekstrim (maksimum atau minimum) yang diambil. Jadi pernyataan anda sudah benar.

    Meskipun demikian, pada suatu struktur rangka portal maka karakter beban gravitasi dan beban lateral berbeda. Itu tentu telah dipelajari oleh para calon engineer dengan mendapatkan pelajaran Analisa Struktur, khususnya statis tak tentu. Untuk portal thd beban gravitasi maka momennya adalah tumpuan (neg) dan lapangan (pos), sedangkan thd beban lateral (gempa) maka momen adanya ditumpuan (bisa pos dan neg), sedangkan lapangan relatif kecil.

    Jadi berdasarkan pemahaman di atas, maka pernyataan anda bahwa momen pada balok lapangan (maksudnya ditengah bentang?) adalah ditentukan oleh kombinasi dgn gempa maka jelas ada yang tidak cocok dengan pernyataan saya yang pertama ttg karakter beban tetap dan gempa di atas. Untuk itu maka anda perlu mengetahui dulu, mengapa itu dapat terjadi.

    Jika sudah dapat dijelaskan maka saya kira bisa dilanjutkan ke langkah berikutnya, sepeti mengolah data dng Excel dsb.

    Keputusan-keputusan seperti di atas itulah memang tugas engineer. Memastikan bahwa setiap tahapan hitungan sudah benar.

    Suka

  9. Yth Pak Wir,
    Saya berencana meningkat rumah ke atas menjadi 2 lt, namun rumah yang sekarang ini strukturnya tidak memakai besi sama sekali jadi saya harus membuat strukturnya yg kuat terlebih dahulu, dan saya memilih dengan menggunakan beton bertulang. Yang saya tanyakan adalah:
    1. Apakah pembuatan balok sloof tulangan besinya harus menyambung (tidak terpotong) antar kolom strukturnya ataukah bisa disambung seandainya besinya kurang panjang?
    2. Berapakah jumlah dan ukuran besi tulangan yang diperlukan untuk pembuatan kolom struktur, balok sloof bawah dan atas? (untuk dimensi rumah 6 m X 12 m)
    3. Apabila menggunakan pondasi cakar ayam, perlukah pondasi menerus yang posisinya dibawah balok sloof?
    4. Apabila pembangunan rumah terhenti karena masalah biaya, perlukah penanganan khusus terhadap besi beton yang masih tidak dicor sebagai sambungan nantinya mengingat bisak terkena korosi dsb? bagaimana caranya?

    demikian pertanyaan saya, semoga bapak berkenan menjawabnya dan menjadi amal baik bapak, terimakasih.

    Suka

  10. Salam kenal, Pak Wir

    Saya sangat tertarik dengan media ini yang membehas mengenai teknik sipil,
    Mohon kiranya informasi mengenai Scaffolding (tipe tube & coupler), softwarenya, atau metoda perhitungannya (apakah sama dengan perhitungan baja biasa)?
    Terima kasih sebelum dan sesudahnya

    Suka

    • Scaffolding pada umumnya bervariasi bentuk dan macam material yang digunakan, ada yang aluminum tetapi umumnya baja. Karena produk jadi dari pabrik, maka pemakaiannya tidak boleh sembarang dan harus mengikuti petunjuk pabrik.

      selanjutnya mengikuti petunjuk yang telah saya uraikan di atas. Rasanya sudah cukup jelas.

      Suka

  11. salam kenal pak,
    dalam dunia konstruksi cukup sering dilakukan perkuatan2 struktur existing dikarenakan perubahan fungsi gedung (pembebanan), ataupun kesalahan pelaksanaan konstruksi, mis:

    – penambahan balok baja pada balok beton existing,
    – penambahan pelat baja pada balok beton existing,
    – penambahan serat kaca atau karbon sebagai penambahan tulangan tarik yang dipasang diluar balok.

    Apakah bapak punya referensi buku yang membahas tentang perhitungan analisis perkuatan tersebut, terutama penggunaan serat kaca/carbon.

    Tentunya akan lebih afdol bila ditambah dengan komentar2 dan pendapat bapak mengenai perkuatan2 tsb…

    Terimakasih sebelumnya..

    Marlon

    Suka

  12. slmt pagi pa..
    pak, saat ini kami sedang melakukan study mengenai geotekstil. Salah satunya mengenai perbandingan dari bahan material nya seperti bahan polypropylene (atau synthetic fibers lainnya, nonbiodegradable) dan coconut fiber mesh/jute (atau bahan yang biodegradable lainnya) . Mohon maaf, ini bukan bidang saya, sehinggakami butuh bantuan dari pak Wir dan rekan2 lain mengenai informasi yang diperlukan seperti :
    1. Untuk struktur apa/bagian apa sajakah umumnya geotekstil/geojute sering digunakan
    2.Produk manakah yang lebih umum digunakan dan mengapa.
    3.Untuk konstruksi jalan raya,apakah bisa gunakan sebagai lapisan perkuatan dan bagimana komposisi lapisan jalannya serta cara pemasangannya
    4.Mohon informasi untuk supplier masing2 produk di indonesia
    sekian dahulu pertanyaan kami, dan terima kasih untuk bantuannya.

    Suka

  13. selamat sore Pak Wir, saya lia almila mahasiswi teknik sipil universitas jember. saya ingin tanya mengenai prategang eksternal pada SAP 2000, itu bagaimanakah aplikasinya? karena fitur yang ada disediakan untuk internal. dan saya juga pernah membaca tentang penelitian itu hanya saja saya tidak tahu siapa penelitinya, hanya ada nama Pak Wiryanto sebagai dosen pembimbingnya. terimakasih sebelumnya
    airazura@yahoo.com

    Suka

  14. Sugeng pinanggihan pak Wir, punapa saged kawula nyuwun alamat emailipun pak wir, wonten badhe kula tangletaken kalihan pak Wir namung mboten sekeca yen wonten papan publik punika. Bingah manah menawi dalem saged diparingi alamat email pak wir. Matur Nuwun sakderengipun, bilih wonten lepat atur kula nyuwun pangapunten.

    berkah Dalem.

    Suka

  15. tanya pak wir, utk tulangan wire mesh apakah ada pengaruh nya bila posisi tulangan utama sama pembagi terbalik? wire tsb sebagai tulangan atas satu lapis dan di bawah nya di pasang bondex sebagai tul bawah termasuk sbagai bekistingnya, dan apakah yang terjadi bila hal yg sama tulangan utama sama pembagi posisinya terbalik pada lantai tangga, tulangan utama di bawah dan pembagi diatas, tulangan lantai dua lapis
    terima kasih

    Suka

  16. Selamat pagi Pa Wir,sebelumnya perkenalkan dahulu, nama saya Adi dan sekarang ini saya bekerja di salah satu perusahaan baja ringan (cold formed) di Indonesia..
    Saat ini saya sedang mendesain sebuah reng menggunakan profil “hat”, dan ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan :
    1. Dalam analisis pembebanan, saya menggunakan pemodelan struktur “continuous beam” dengan 3 perletakan sendi sehingga reng tersebut akan mengalami momen lentur (+) di lapangan dan momen lentur (-) di tumpuan. Seperti yang kita ketahui,akibat dari momen lentur tersebut, maka ada kemungkinan reng akan mengalami lateral torsional buckling (LTB).Yang ingin saya tanyakan adalah, bolehkah saya mengasumsikan bahwa di tumpuan tidak terjadi LTB?
    2. Saya sempat mengecek kekuatan reng dari competitor-competitor lain, dan setelah saya cek, ternyata mereka mengasumsikan kegagalan yang terjadi adalah “Yielding” dan tidak memperhitungkan terjadinya “LTB”, dan bila saya perhitungkan terjadinya LTB, maka reng tersebut memiliki Persamaan Interaksi > 1 sehingga tidak memenuhi kriteria desain. Apakah hal ini diperbolehkan? Ataukah penutup atap yang disambung ke reng dapat berfungsi sebagai lateral bracing sehingga memeberi kekauan yang cukup untuk mencegah terjadinya LTB?
    3. Untuk mendesain Cold Formed Steel saya memepelajari buku-buku yang ada, seperti AISI,AS/NZ, dan buku teks karya Wei-Wen Yu. Setelah saya mempelajarinya, ternyata tidak dibahas mengenai kuat lentur “penampang tanpa sumbu simetri” yang mengalami LTB. Kenapa ya pa?Apakah “penampang tanpa sumbu simetri” tidak akan mengalami LTB?Sepengetahuan saya LTB hanya terjadi pada sumbu kuat (sumbu dengan momen inersia max), dan menurut saya, “penampang tanpa sumbu simetri” pun mempunyai sumbu kuat meskipun sumbu tersebut tidak sejajar dengan salib sumbu kartesius.

    Terima kasih Pa Wir, mohon kritik,saran, dan koreksinya..God Bless…

    Suka

    • sdr Adi,
      ** 1 **
      Jika tumpuan yang diberikan mampu mencegah profil tersebut terhadap “puntir” maka bisa dianggap tidak terjadi LTB. Jadi dalam hal ini perlu dimengerti terlebih dahulu apa itu LTB (lateral torsional buckling) yaitu berputarnya penampang terhadap sumbu akibat momen lentur.

      **2** Apakah penutup atapnya dapat berfungsi sebagai lateral bracing atau tidak tentu tergantung dari jenis penutup atap tersebut. Jika misalnya penutup atap berupa steel-deck yang kontinyu bertumpu pada tiga reng misalnya, sehingga reng tidak bisa berputar, maka tentunya bisa dianggap tertambat dengan baik. Tetapi jika atapnya berupa genteng yang lepas satu dengan yang lain, tentu menganggap sebagai bracing adalah sangat berbahaya.

      **3** Penampang yang mempunyai kekakuan torsi tinggi resiko terjadinya LTB adalah kecil, bahkan tidak ada, misalnya pipa atau hollow section. Tetapi kalau penampang open section maka jelas LTB akan terjadi (harus dicheck) karena kekakuan torsi relatif kecil.

      Moga-moga menjawab.

      Note: O iya, ini tadi baru saja pulang dari PUSKIM Bandung, ada rangka cold-formed yang akan diuji. Apakah punya perusahaan anda ?

      Suka

  17. salam sejahtera pak wir.. saya merasa terbekati dengan adanya blog dr pak Wir ini.

    saya mahasiswa sipil ITB, angkatan 2008 dan sekarang sedang mengerjakan skripsi. saya sedang bermasalah mengumpulkan dasar teori mengenai bekisting plastik pak. dimana bekisting plastik ini menurut sumber yang lain merupakan bekisting yang mendukung green construction. tidak hanya itu bahkan dapat digunakan hingga 40-70 kali pemakaian.. sehingga sangat menarik bagi saya untuk membuat perbandingan mengenai bekisting plastik dan bekisting kayu yang biasa digunakan..menurut saya pembuktian jika bekisting plastik memang jauh lebih menguntungkan pasti memberikan dampak yang besar bagi dunia konstruksi Indonesia.Tetapi penggunaan di Indonesia yang masih sangat jarang membuat saya sulit mencari literatur mengenai bekisting plastik ini.

    apakah bapak mempunyai semacam jurnal ilmiah atau makalah yang membahas bekisting plastik? atau bapak mungkin tau siapa yang saya bs saya minta informasi atau keterangan lebih lanjut.
    Mohon bantuannya pak. 😀

    Terima kasih banyak sebelumnya..
    Tuhan memberkati

    Suka

    • Penggunaan bekisting yang puluhan kali. Wah ada baiknya anda mengkontak teman-teman yang mengerjakan proyek pracetak beton. Disitu akan terlihat begitu pentingnya bekisting dapat digunakan berulang kali. Selama ini, kalau memang perlu puluhan kali maka digunakan bekisting yang dilapisi pelat baja.

      Tentang penelitian yang terkait hal itu, yang berbahasa Indonesia rasanya belum pernah membaca. Maklum untuk mendapatkan data bagaimana bekisting tersebut dipakai puluhan kali rasanya tidak mudah. Jadi ada baiknya kerja sama dengan pengusaha pracetak tadi.

      Suka

  18. Selamat pagi Pa Wir, mohon koreksi dan penjelasannya.

    Jika ada suatu kolom langsing dari braced frame (non sway), misalkan saja struktur tersebut menerima kombinasi pembebanan gravitasi + lateral, yaitu 1.05DL + 1.275LL + 1.3W. Karena kolom langsing, maka efek kelangsingan harus diperhitungkan, sehingga saya menggunakan analisis orde pertama + efek orde kedua. Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah : Untuk menghitung momen ultimate Mu, manakah yang benar, versi 1 atau versi 2 ?atau keduanya salah?atau keduanya benar?Terima kasih..

    Versi 1
    Mns = 1.05DL + 1.275LL
    Ms = 1.3W
    Rumus umum : Mu = δns.Mns + δs.Ms
    = δns.Mns + 1 . Ms
    = δns. Mns + Ms
    **meskipun menerima gaya Ms yang mengakibatkan goyangan, tetapi karena goyangan tersebut ditahan, sehingga tidak ada pertambahan momen, sehingga saya ambil δs=1

    Versi 2
    Mns = 1.05DL + 1.275LL + 1.3W
    Ms = 0
    Rumus umum : Mu = δns.Mns + δs.Ms
    = δns.Mns + δs.0
    = δns. Mns
    **meskipun menerima beban lateral W yang akan mengakibatkan goyangan, tetapi karena goyangan tersebut ditahan, maka beban W tersebut saya asumsikan sebagai Mns dan Ms=0.

    Berikut definisi-definisi yang saya gunakan (mohon koreksi juga jika pengertian saya salah) :
    Mns = momen akibat beban yang tidak menyebabkan goyangan,misalkan akibat beban gravitasi
    Ms = momen akibat beban yang menyebabkan goyangan, misalkan akibat beban lateral
    δns = faktor amplifikasi/pertambahan momen untuk kolom tidak bergoyang
    δs = faktor amplifikasi/pertambahan momen untuk kolom bergoyang

    Suka

    • Nanti kalau ada topik ya mas. Maklum sudah lama tidak mengulik tipe struktur seperti itu. Prospek kelihatannya hanya untuk mengejar faktor ekonomi saja, relatif kurang woo. Padahal di satu sisi pembahasannya relatif sulit untuk dijelaskan karena menyangkut permasalahan stabilitas.

      Suka

  19. salam hormat pak wiryanto..
    pekernalkan saya Aldo mahasiswa Teknik Sipil di Politeknik Negeri Manado, semester 7. saya sedang mengumpulkan informasi tentang metode pelaksanaan pondasi bore pile dan saat sedang mencari saya mendapat artikel lama bapak yaitu pekerjaan tiang bor – 30 Nopember 2007. saya sangat tertarik dengan artikel bapak itu karena artikel itu sangat cocok dengan studi kasus yang akan saya angkat. kasus yang ingin saya angkat adalah metode pelaksanaan pondasi bore pile karena ada beberapa kasus/masalah yang ada di tempat saya praktek kerja.

    kasus 1 : kondisi tanah di tempat saya praktek kerja itu ada bekas rawa, tapi pengeboran dilakukan dengan dry drilling/bor kering.jadi pada saat pengeboran baru 3-5 m sudah ketemu dengan air. tapi kedalam yang akan di bor itu 9m dengan diameter lubang 60cm. masalahnya adalah pada saat pengeboran karena kondisi tanah berair jadi banyak sekali terjadi longsor di bawah tanah. chasing yang ada hanya sepanjang 2m. menurut bapak bagaimana pemecahan masalah ini ?

    kasus 2 : kasus kedua ini mengenai pengecoran. pada saat pengecoran karena kondisi lingkungan kerja berlumpur jadi mobil mixer tidak bisa menyalurkan langsung ke lubang bor. maka menggunakan Bucket Exa sebagai pengantar. masalah yang di hadapi karena adanya kelongsoran di dalam lubang secara otomatis volume lubang menjadi besar dan tidar tercor semua lubang yang ada masih tersisa 2-3 m dari permukaan tanah. bagaimana pemecahan dari kasus ini ? lokasi tempat penyedia ready mix jauh dari proyek.

    mohon responnya pak.
    Terima Kasih sebelumnya
    GBU

    Suka

  20. Bapak wiryanto memang seorang yg ingin memajukan pengetahuan di indonesia.
    Semoga sukses pak.
    Semoga buku buku yg bapak tulis bisa menambah dan menjadi inspirasi indonesia

    Suka

  21. Selamat sore pak,

    Saya sedang dalam proses membaca buku bapak tentang struktur baja. Ada sedikit pertanyaan mengenai panjang tertanam baut (hef) dalam beton. Panjang tertanam baut tersebut ditentukan dari trial and error atau ada formula khusus yang bisa dipakai untuk menetukan hef. Selama ini saya baru menemukan panjang tertanam minimum 12d dan 17d tergantung mutu baut. Mohon pencerahannya pak. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

    Salam,
    Welly E Charisma

    Suka

  22. Selamat sore Pak Wir,

    Apakah penggunaan stiffener pada kolom baja dapat meng”improve” kl/r ratio? Perhitungannya bagaimana ya seandainya jawabannya adalah ya. Selain itu, dibuku pak Wir saya baca, penggunaan stiffener di base plate dapat menggurangi ketebelan base plate kurang lebih 30%, bagaimana cara mendesignnya ya pak, base plate dengan stiffener? Sekiranya ada referensi yang bisa saya pelajari mengenai stiffener, mohon informasinya pak, karena saya coba cari-cari, belum menemukan. Terima kasih sebelumnya.

    Salam,
    Charisma

    Suka

    • Pelat stiffner ditujukan untuk pengaku lokal, biasanya untuk antisipasi adanya beban terpusat. Pelat stiffner juga digunakan untuk sambungan bracing yang ujungnya tertambat pada titik yang tetap. Jika demikian maka konfigurasi tersebut dapat digunakan untuk memodifikasi kl/r ratio. Jika hanya pelat stiffner saja, maka meskipun kaku secara lokal, tetapi bisa berubah tempat secara global. Itu berarti tidak bisa digunakan untuk meng-improve kl/r ratio.

      Suka

  23. Selamat sore Pak Wir,

    Berdasarkan kasus di lapangan, saya sering menjumpai kasus terkait dengan embedded plate. Embedded plate dari perencana biasanya menggunakan stud bolt. Sedangkan pada penerapannya, order stud bolt perlu waktu yang tidak sebentar sehingga ada usulan untuk diganti dengan tulangan rebar. Apakah bisa stud bolt digantikan dengan rebar pak? Terkhusus untuk ASTM A307 yg fy nya sama dengan deform rebar. Teknisnya bagaimana pak ya? Apakah dilaskan baut diujung rebar? Atau cukup dibuat hook? Atau dibuat bentuk U? Mungkin akan menarik jika bapak bisa membuat tulisan mengenai ini. Secara referensi untuk pendetailan sambungan sangat minim tersedia menurut saya.

    Terima kasih sebelumnya pak.

    Salam,
    Welly Eka C

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s