beban hidup atap “konstruksi pabrik”

Meskipun nama Wiryanto Dewobroto tidak disertai gelar akademik lengkap, juga tidak dikaitkan dengan adanya SKA profesi tertentu, tetapi ketika nama tersebut terbaca pada tumpukan buku seperti foto di bawah ini, khususnya buku yang paling tebal.

Gambar 1. Tumpukan buku-buku di meja kerjaku

maka tentunya banyak orang yang percaya bahwa nama penulis buku tebal tersebut adalah ahli / pakar. Beberapa senior menyandingkan nama saya tersebut dengan keahlian struktur baja (steel structure). Padahal sejatinya, yang punya nama tersebut hanyalah seorang penulis, yang memang secara spesifik memilih genre khusus engineering. Kebetulan buku yang diterbitkan tahun 2015 dan tahun 2016 yang laris manis adalah struktur baja. Itu bisa terjadi karena kehidupan sehari-harinya adalah guru atau dosen di bidang rekayasa atau engineering , khususnya mata kuliah struktur baja. Jadi yang ditulisnya adalah keseharian yang dijumpainya.

Banyaknya orang yang mempercayai bahwa saya adalah seorang ahli dibanding sekedar dosen di perguruan tinggi, ternyata menghasilkan persepsi positip, yang kadang tidak terduga dampaknya. Sering kujumpa kenalan baru, yang mengenal nama tersebut tetapi belum pernah bertemu langsung dengan diriku. Jadi tulisan-tulisan yang aku buat  bekerja membantuku mengembangkan jejaring pertemanan dalam kehidupanku. Sering aku mendapatkan undangan dari orang-orang yang tertarik untuk untuk hadir di acara yang mereka selenggarakan. Padahal mereka mengenalku hanya berdasarkan nama yang tertulis di tulisan-tulisan yang kubuat. Ini bukti adanya dampak positip dari hobby menulis. Jujur, kondisi seperti ini, aku nikmati saja. Aku menganggapnya sebagai rejeki dan kehormatan bagi seorang penulis.

Bagiku kompetensi menulis lebih tinggi dari seorang yang disebut pakar atau tenaga ahli. Seorang pakar memang bisa memberikan solusi bagi suatu masalah rekayasa, tetapi seorang penulis yang juga seorang ahli atau pakar bahkan bisa menginspirasi orang-orang lain yang biasa-biasa untuk nantinya menjadi pakar. Itulah mengapa aku bangga menyebut diriku seorang penulis dan menampilkan karya-karyanya. Maklum SKA atau sertifikasi profesi seorang penulis adalah karya-karyanya. Masyarakat pembaca sendirilah yang menilai.

Gambar 2. IASTAR Short Talk 2018, Ballroom D’Cost VIP, Jakarta Pusat (Sabtu, 8 Des.2018)

Oleh sebab itu jangan kaget jika kemudian aku bisa berfoto bersama-sama dengan para pakar yang sesungguhnya, misalnya foto di atas dalam acara IASTAR Short Talk 2018 yang hadir sebagai invited speaker adalah bapak Hadi J. Yap, Ph.d, PE, GE (Vice President / Senior Consultant  – Langan Engineering & Enviromental Services USA) dan Ir. Y. P. Chandra M.Eng. (General Manager / Senior Technical Advisor –  PT. Pondasi Kisocon Raya), pakar dan praktisi geoteknik yang terlibat pada perencanaan pondasi pada gedung tertinggi nantinya di Indonesia, yaitu Jakarta Signature Tower.

Dianggap orang sebagai pakar di bidang tertentu ternyata menjadi magnet untuk terus terlibat dengan bidang tersebut. Ini mungkin seperti yang dibilang oleh para psikolog, tentang potensi pikiran bawah sadar : pikiran-pikiran yang senada saling mencari kawannya. Ibarat sekali menaruh minat akan sesuatu, maka sesuatu yang dimaksud tersebut akan berdatangan dengan sendirinya. Jadi sejak aku menulis buku struktur baja di atas, maka banyak topik dan permasalahan terkait struktur baja ada di sekitarku. Termasuk saat ini ada tiga mahasiswa S1 di UPH yang sedang membahas “perencanaan bangunan baja bertingkat rendah tahan gempa” untuk tugas akhirnya.

Untuk meningkatkan mutu tugas akhir yang dibuat, maka aku minta bantuan teman-teman praktisi fabrikator baja agar memberikan contoh gambar struktur baja yang sukses mereka kerjakan. Teman-temanku di fabrikator baja, baik hati. Aku mendapatkan tiga bangunan struktur baja berbeda untuk dibahas mahasiswa-mahasiswaku. Strategi ini aku gunakan agar mahasiswaku benar-benar memahami sistem struktur baja yang sebenarnya yang dibuat di lapangan. Struktur bangunan yang kupilih adalah bangunan tingkat rendah (low-rise building) dan berbentang panjang, yang umumnya dijumpai pada bangunan industri dan semacamnya.

Selanjutnya agar dapat dijadikan objek penelitian tugas akhir bagi  mahasiswaku, maka dari gambar-gambar yang diterima tersebut perlu diajukan permasalahan untuk dibahas,  yaitu :

  1. Apakah detail bangunan struktur baja yang sukses dibangun tersebut memenuhi kriteria pembebanan terbaru, yaitu SNI 1727:2013 – Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain. Jangan-jangan masih memakai peraturan lama, yang spesifikasi beban hidupnya hanya sekitar 1/3 dari yang baru.
  2. Apakah detail bangunan struktur baja yang sukses dibangun ini telah memenuhi kriteria bangunan tahan gempa terbaru, yaitu SNI 1726:2012 – Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non-gedung. Peraturan terbaru lebih ketat dibanding peraturan gempa yang lama bertahun 2002.

Dengan disusunnya permasalahan (berbentuk pertanyaan) di awal pengerjaan tugas akhir, maka mahasiswa tentu mempunyai bayangan atau motivasi tentang apa yang perlu dilakukan. Ini penting karena kalau tidak, bisa-bisa akan ada argumentasi seperti ini: “Gambar struktur bajanya sudah ada, dan sudah sukses dibangun, lalu untuk apa perlu dilakukan tinjauan lagi”. Juga kalau hanya sekedar menghitung saja (perencanaan), tanpa difokuskan terlebih dahulu apa yang perlu diamati, maka nggak cocok untuk dijadikan tugas akhir.  Itu sekedar tugas besar saja.

Strategi yang aku gunakan untuk tugas akhir mahasiswaku tersebut merupakan salah satu strategi yang aku gunakan agar dapat terus mempelajari struktur baja secara kontinyu. Adapun masalah-masalah yang aku titipkan di atas, adalah hal-hal yang aku belum tahu banyak. Melalui diskusi ilmiah selama bimbingan mahasiswa tugas akhir, aku akhirnya dapat melakukan up-dated terhadap ilmu-ilmu yang belum aku punya. Ini seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air, sambil melakukan tugas akademis sebagai pembimbing tugas akhir, sekaligus juga meng-up-dated keilmuan. Jadi semakin banyak mahasiswa bimbingan maka semakin banyak ilmu yang diasah. Atas alasan ini pula selama ini saya menerima suka cita tugas bimbingan S2 dari Pasca Sarjana Universitas Tarumanagara, Jakarta. Jujur, atas kerja keras mahasiswa-mahasiswa bimbingan dari S1 (UPH) maupun S2 (Untar) maka ilmuku semakin terasah.

Dari proses bimbingan mahasiswa S1 tentang perencanaan ulang struktur baja bangunan industri, yang telah sukses dibangun, ditemukan sesuatu hal yang baru. Itu terjadi ketika dilakukan analisis ulang menggunakan spesifikasi beban hidup atap yang baru, yaitu SNI 1727:20136 , ternyata tidak memenuhi syarat perencanaan, atau tidak OK.  Harus ganti profil setingkat lebih tinggi. Kondisi akan OK (profil tidak dirubah) jika kondisi beban memakai spesifikasi beban lama, yaitu PPIG-1983.  Itu membuktikan bahwa konstruksi baja khususnya untuk bangunan industri, umumnya masih mengacu peraturan beban lama, yaitu Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung – 1983 (PPIG-1983), dan belum merujuk pada SNI yang terbaru.

Ini menunjukkan bahwa meskipun SNI terbaru sudah diedarkan mulai tahun 2013, tetapi ternyata belum tersosialisasi secara baik ke seluruh Indonesia. Bayangkan saja, fabrikator baja yang memberikan gambar perencanaan tersebut adalah termasuk yang besar dan berada di pusat (dekat Jakarta). Apalagi untuk fabrikator lain yang lebih kecil, dan di daerah, bisa-bisa lebih nggak up-dated saja.

Untuk melihat perbedaan spesifikasi beban antara peraturan lama dan baru, ada baiknya kita bandingkan ke duanya.

PPI_01.psd
Gambar 3. Peraturan Pembebanan Indonesia 1983 (Peraturan Lama)

Untuk atap bangunan industri, dianggap sebagai atap yang tidak dapat dicapai atau dibebani oleh orang, sehingga digunakan beban hidup atap 20 kg/m2. Adapun spesifikasi beban yang terbaru, yaitu SNI 1727 – 2013 yang merupakan terjemahan dari peraturan beban di USA, yaitu ASCE 7-2010. Beban hidup untuk perencanaan atap adalah sebagai berikut :

PMI2013-1
Gambar 4. SNI Pembebanan terbaru (2013)

Beban hidup yang disyaratkan adalah 0.96 kN/m2 atau kira-kira 100 kg/m2, yang berarti sama dengan beban hidup atap pada peraturan lama (1983) yang menganggap atap dapat terjangkau atau dapat dibebani oleh orang. Beban hidup peraturan baru (100 kg/m2) adalah kelipatan 5 x dari peraturan lama (20 kg/m2). Oleh sebab itu adanya catatan n menjadi sangat penting karena dapat dilakukan reduksi menurut Pasal 4.8.1 berikut.

PMI2013-2
Gambar 5. Beban hidup minimum setelah direduksi

 

Berdasarkan ketentuan yang terbaru, setelah dilakukan reduksi yang diperbolehkan oleh peraturan maka beban hidup minimum adalah 0.58 kN/m2 atau sekitar 60 kg/m2. Itu berarti spesifikasi beban hidup atap berdasarkan peraturan terbaru (SNI 2013) masih 3 x lebih besar dari peraturan beban yang lama.

Oleh sebab itu wajar jika suatu bangunan baja atapnya didesain berdasarkan peraturan lama, maka ketika dievaluasi berdasarkan peraturan beban terbaru, maka perlu ganti profil.

Dari kaca mata owner, maka dapat dinyatakan bahwa perencanaan struktur baja bangunan industri berdasarkan peraturan terbaru, akan lebih mahal dibandingkan jika memakai peraturan lama. Karena selama ini tidak ada permasalahan terkait kondisi atap pada bangunan industri ketika memakai peraturan lama, maka apa perlunya harus pakai peraturan baru, adakah sanksi-nya.

Ini perlu ketegasan dari pemerintah, karena kalau tidak, maka para perencana bandel (nggak mau pakai peraturan baru) akan berjaya, karena menghasilkan konstruksi baja yang lebih murah dibanding hasil perencanan dari engineer yang tertib aturan (pakai SNI terbaru). Kalau tidak ada penyelesaiannya maka tentu akan dihasilkan mutu bangunan publik yang berbeda-beda.

Ini tentu tidak gampang penyelesaiannya, maklum tidak ada unsur yang menakut-nakuti sebagaimana jika digunakan ketentuan gempa. Bahkan tidak hanya itu saja, ketika sedang mendiskusikan akan hal itu. Ada yang memberikan pendapat yang berbeda. Begini kira-kira usulannya : “Pak Wir, bangunan industri itu khan seperti bangunan pabrik khan“.

Tentu saja sayanya menjawab “betul, untuk bangunan pabrik“. Beliaunya langsung menyambung : “Nah kalau begitu Bapak salah dalam memakai ketentuan yang digunakan pada peraturan yang terbaru. Untuk KONSTRUKSI PABRIK, beban hidupnya berbeda pak. Cukup 0.24 kN/m2. Hampir mirip dengan beban hidup atap pada peraturan lama“. Begitu pernyataan beliau dengan mantap terkait dengan hasil penelitian mahasiswa saya tersebut.

Kaget juga aku dengan pernyataan baru terkait dengan beban hidup atap yang digunakan.  Rasa-rasanya beban hidup minimum 0.58 kN/m2 adalah yang paling minimum. Bagaimana bisa ada yang lebih kecil lagi. Ketika dicermati lagi di peraturan tersebut (lihat Gambar 4) memang betul ada kata-kata KONSTRUKSI PABRIK YANG DIDUKUNG OLEH STRUKTUR RANGKA KAKU RINGAN maka beban hidupnya 0.24 kN/m2 tanpa boleh dilakukan reduksi beban hidup.

Sebagai seorang yang disebut pakar (kata orang lho), kaget juga ada peraturan yang aku belum tahu atau keliwat. Itu tadi bahwa atap KONSTRUKSI PABRIK mempunyai spesifikasi beban hidup yang berbeda dari atap konstruksi baja pada umumnya. Karena yang memberi usulan atau tanggapan tadi adalah juga dosen yang juga praktisi, maka aku perlu memikir panjang terlebih dahulu. Benar nggak sih KONSTRUKSI PABRIK yang dimaksud itu adalah untuk atap bangunan industrik yang aku maksud. Jika benar maka tentu kesimpulanku di atas bisa nggak benar dong. Itu berarti benar-benar bukan pakar, karena pernyataannya yang diberikan tidak benar. Betul nggak.

Merasa yakin dengan pernyatan yang aku berikan, maka aku mencoba melihat buku asli darimana SNI baru itu dibuat, yaitu ASCE 7-2010. Ini isinya :

ASCE 7-10-60.jpg
Gambar 6. Tabel beban hidup dari ASCE 7-2010

Ternyata permasalahannya adalah pada penerjemahan kata, dimana Fabric construction = konstruksi pabrik. Jelas-jelas itu tidak ada hubungannya dengan pabrik yang dianggap sama sebagai bangunan industri. Fabric yang dimaksud adalah jenis tekstile atau hasil rajutan dari serat. Ini informasi lengkap definisi fabric construction.

Hal -hal seperti di atas itulah yang menyebabkan mengapa buku Struktur Baja yang aku tulis masih mengacu pada AISC 2010 dan bukannya pada SNI vesi Indonesianya. Itu terjadi karena banyak istilah-istilah di SNI yang kurang tepat, dan itu tadi salah satu buktinya. Memprihatinkan juga bahwa engineer lokal kita begitu mempercayai isi SNI, meskipun ada yang terkesan janggal. Itu berarti wawasan mereka perlu luas untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan yang mendasar. Untung ketemunya saya, yang berani memberikan koreksi, jika bukan, maka kesalahan itu secara tidak sadar akan dilakukan. Akhirnya menjadikan kebiasaan dan hasilnya akan terjadi kesalahan berjamaah.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk bahan berpikir lebih lanjut. Salam dari padepokan ilmu struktur baja di Lippo Karawaci, Tangerang.

7 respons untuk ‘beban hidup atap “konstruksi pabrik”

  1. Dear Pak Wir,

    Saya doakan Pak Wir selalu sehat sehingga bisa terus menulis, sebab dengan tulisan-tulisan Pak Wir inilah kami para engineer muda bisa belajar dan mendapatkan kebenaran.

    Jujur saya langsung tertawa pak, saat taHu translasi di SNI fabric = pabrik yang mana artinya jadi jauuuuh berbeda, saya tertawa sebab saya tidak taHu kalau di SNI tertulis seperti itu (selama ini saya selalu mengacu ke ASCE). Miris sebenarnya sebab code SNI yang notabene hanya terjemahan saja pun salah, ini bisa menjadi informasi yang sesat dan menyesatkan dan efeknya bisa jadi sangat membahayakan, sebab SNI ini code resmi yang jadi rujukan para engineer di Indonesia. Ini juga bisa menjadi permasalahan lagi jika ternyata bangunan yang didesain itu fail, dan para perencana merasa sudah mendesain sesuai SNI tadi.

    Saya jadi ingat ada cerita karyawan yang di PHK karena salah menerapkan dosis untuk pengolahan limbah karena salah mengartikan “ons”, sebab 1 ons (Ounce) menurut KBBI = 100 gram, padahal yang berlaku secara internasional adalah 28,3495 gram.

    Terimakasih Pak Wir atas tulisan-tulisannya, semoga Bapak terus berkarya.

    Suka

  2. Temuan yang ‘menarik’ pak Wir. Yang dulu sempat saya temui juga, masih pada tabel yang sama, untuk ruang pertemuan dgn kursi tetap/terikat pada lantai nilai bebannya tertera lebih besar (100 psf) dibandingkan ASCE (60 psf), yang kelihatannya salah ketik copy-paste dari nilai-nilai di bawahnya. Ada lagi pada ketentuan beban angin beberapa nilai, satuan, atau parameter yang belum sesuai dengan acuan normatifnya (masih ft seharusnya m, x/Lh seharusnya z/Lh, dst.). Di tempat lain belum tahu apa masih ada juga.

    Semoga di SNI penggantinya yang kabarnya masih sedang dimasak hal-hal tsb sudah bisa tereliminasi. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Salam pak Wir,

    Bila berkenan, saya ingin bertanya kepada mengenai syarat kelangsingan profil baja untuk gempa.
    Berdasarkan peraturan baja AISC 341-16 (Seismic Provision) Table D1.1, terdapat batasan width-to-thickness ratio yang cukup ketat khususnya untuk highly ductile member. Dalam kasus ini, profil baja (WF dan H-profile) dengan mutu SS400 (nilai Ry = 1.50, fy = 240 MPa) dan dimensi profil baja yang umumnya digunakan di Indonesia sudah tidak dapat digunakan bila mengikuti persyaratan dalam table D1.1. Seperti yang diketahui bersama bahwa peraturan SNI baja di Indonesia mengadopsi peraturan baja Amerika yaitu AISC dan hal ini mungkin akan dimasukkan dalam SNI baja selanjutnya.

    Bagaimana tanggapan bapak mengenai hal ini? Apakah ada referensi lain yang menjelaskan mengenai hal ini?
    Mengingat apabila peraturan ini diikuti sepenuhnya maka bisa dipastikan profil-profil baja WF dan H-profile yang saat ini umumnya beredar di pasaran tidak dapat digunakan dan konsekuensinya maka dalam setiap proyek perlu dibuat profil baja sendiri agar memenuhi persyaratan yang ada. Hal ini rasanya hampir mustahil untuk diaplikasikan pada seluruh proyek.

    D x B x tf x tw b h b/tf Limit Note h/tw Limit Note
    400 x 400 x 21 x 13 200 358 9.52 7.54 Not Ok 27.54 37.01 Ok
    350 x 350 x 19 x 12 175 312 9.21 7.54 Not Ok 26.00 37.01 Ok
    300 x 300 x 15 x 10 150 270 10.00 7.54 Not Ok 27.00 37.01 Ok
    250 x 250 x 14 x 9 125 222 8.93 7.54 Not Ok 24.67 37.01 Ok
    600 x 200 x 17 x 11 100 566 5.88 7.54 Ok 51.45 37.01 Not Ok
    500 x 200 x 16 x 10 100 468 6.25 7.54 Ok 46.80 37.01 Not Ok
    450 x 200 x 14 x 9 100 422 7.14 7.54 Ok 46.89 37.01 Not Ok
    400 x 200 x 13 x 8 100 374 7.69 7.54 Not Ok 46.75 37.01 Not Ok
    350 x 175 x 11 x 7 87.5 328 7.95 7.54 Not Ok 46.86 37.01 Not Ok

    Terima kasih pak Wir.

    Suka

    • Hallo pak Robby,
      Betul sekali, kita mengadopsi penuh peraturan baja Amerika, yaitu AISC. Sekarang yang terbaru untuk baja tahan gempanya adalah AISC 341-16. Saat ini saya juga sedang mempelajarinya. Anda lebih maju satu langkah, karena telah mencoba mengevaluasi ketersediaan profil baja yang ada, yang ternyata dari ketentuan di atas, ternyata banyak yang nggak masuk.

      Meskipun demikian perlu dipahami, bahwa dari untuk rangka pemikul momen khusus, yang perencanaannya mengacu ketentuan AISC 341-16 ada elemen yang direncanakan tetap elastis ketika bagian tertentu direncanakan akan berperilaku daktail. Bagian khusus yang dimaksud adalah bagian balok, adapun bagian kolom harus didesain “elastis” (lebih kuat dari kuat ultimate balok). Nah, yang “elastis” tidak harus mengikuti syarat ketat di atas, selama didesain berdasarkan beban dengan overstrength maka bisa mengikuti AISC 360-16, adapun bagian balok yang diharapkan akan berperilaku inelastis, maka mau tidak mau harus mengikuti ketentuan di atas.

      Karena tidak harus profil hot-rolled, maka untuk memenuhi kriteria AISC 341-16 untuk elemen yang akan berperilaku inelastis maka bisa memakai profil H-welded seperti punya Cigading H-Beam. Kalau ketentuan sendiri, tidak memakai AISC kelihatannya riset kita masih terbatas.

      Untuk sementara itu dulu yang bisa saya jawab. Maklum, untuk yang tahan gempa baru mau masuk. 😀

      Suka

      • Terima kasih banyak atas penjelasannya pak Wir. Ditunggu buku baru nya yg membahas struktur baja tahan gempa pak.. 😊😊

        Suka

    • Halo Pak Robby,

      Pertanyaan Pak Robby ini sungguh menarik.
      Sebenarnya, jika anda baca dengan lebih teliti lagi di bagian Commentary AISC 341-16, perubahan yang dilakukan dengan mengubah Fy menjadi RyFy itu adalah untuk ikut memperkirakan kemungkinan didapatkannya Fy yang lebih besar dari nilai nominal karena perencanaan mengenai tekuk, saat memperhitungkan kondisi desain tahan gempa, ini juga adalah desain berdasarkan kapasitas (capacity design).

      Alasan mengapa mutu baja seperti A36 disarankan untuk menggunakan nilai Ry = 1.25 sedangkan untuk A572 Gr.50 nilai Ry nya cuma 1.1 adalah karena tidak adanya syarat batas nilai Fy maximum yang ditetapkan untuk mutu baja A36, sehingga di lapangan, akan banyak ditemukan baja yang di bandrol dengan mutu A36 memiliki Fy yang setara dengan A572 Gr. 50. Hal ini sering terjadi karena kadang-kadang terdapat juga demand atas mutu A36 dan karena pabrik kadang akan merasa lebih praktis jika hanya memproduksi satu mutu. Di sini, kadang akan terjadi, pabrik menjual mutu A572 Gr. 50 sebagai A36, karena hasil produksinya sama-sama bisa memenuhi kententuan kedua mutu baja ini. Ini yang dinamakan dengan baja dengan “dual certificate”.

      Sebenarnya, jika baja yang biasanya digunakan di tanah air itu adalah baja hasil produksi dalam negri, sebenarnya ketentuan Ry = 1.25 untuk mutu SS400 itu tidak mutlak harus diikuti.
      Ada satu hal yang mungkin akan lebih baik dilakukan di Indonesia adalah dengan melakukan survey statistik hasil produksi profil baja di dalam negri. Sebenarnya dari hasil studi seperti ini, kita bisa saja menghasilkan nilai Ry untuk baja mutu tertentu yang lebih cocok untuk diterapkan di dalam negri.
      Untuk melakukan riset seperti ini, keberadaan institusi seperti ISSC yang baru belakangan ini berdiri itu akan sangat berperan. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah sebenarnya aturan-aturan di code itu semuanya sebenarnya hanyalah rekomendasi, untuk memudahkan praktisi dalam melakukan desain.
      Jika ada yang bertanya, apakah saya boleh menggunakan angka yang dibawah angka minimum yang ditentukan oleh code, jawabannya adalah bisa, selama anda memiliki data pendukung yang kuat. Seperti contohnya untuk masalah beban hidup yang dipakai untuk desain atap, sebenarnya jika si pemilik memang cukup yakin bahwa selama masa layan bangunan itu, atap nya tidak akan pernah diberikan beban sebesar itu, kententuan itu bisa saja diabaikan. Selama pemilik sanggup mempertanggung jawabkan itu, sebenarnya itu tidak masalah. Tetapi untuk praktisi yang kurang memahami segala seluk beluk mengenai penetapan besar beban hidup itu, memang sebaiknya disarankan untuk mengikuti syarat minimum yang direkomenadsikan di dalam design code.

      Sebenarnya, para peneliti maupun praktisi di lapangan yang ada di tanah air ini sangat diharapkan untuk lebih banyak melakukan riset untuk merevisi kententuan yang diadopsi dari luar negri seperti USA, karena belum tentu semua kondisi yang ada di negara lain itu adalah sama dengan kondisi di negara kita. Jadi, itu akan menjadi sangat menarik jika bisa dilakukan berbagai penelitian juga di dalam negri untuk membantu agar dapat menghasilkan desain yang memenuhi peraturan tetapi lebih efisien.

      Semoga komentar ini bisa membantu meningkatkan wawasan kita semua untuk lebih memajukan konstruksi di dalam negri kita.

      Salam
      Erwin

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s