beban hidup atap “konstruksi pabrik”

Meskipun nama Wiryanto Dewobroto tidak disertai gelar akademik lengkap, juga tidak dikaitkan dengan adanya SKA profesi tertentu, tetapi ketika nama tersebut terbaca pada tumpukan buku seperti foto di bawah ini, khususnya buku yang paling tebal.

Gambar 1. Tumpukan buku-buku di meja kerjaku

maka tentunya banyak orang yang percaya bahwa nama penulis buku tebal tersebut adalah ahli / pakar. Beberapa senior menyandingkan nama saya tersebut dengan keahlian struktur baja (steel structure). Padahal sejatinya, yang punya nama tersebut hanyalah seorang penulis, yang memang secara spesifik memilih genre khusus engineering. Kebetulan buku yang diterbitkan tahun 2015 dan tahun 2016 yang laris manis adalah struktur baja. Itu bisa terjadi karena kehidupan sehari-harinya adalah guru atau dosen di bidang rekayasa atau engineering , khususnya mata kuliah struktur baja. Jadi yang ditulisnya adalah keseharian yang dijumpainya.

Banyaknya orang yang mempercayai bahwa saya adalah seorang ahli dibanding sekedar dosen di perguruan tinggi, ternyata menghasilkan persepsi positip, yang kadang tidak terduga dampaknya. Sering kujumpa kenalan baru, yang mengenal nama tersebut tetapi belum pernah bertemu langsung dengan diriku. Jadi tulisan-tulisan yang aku buat  bekerja membantuku mengembangkan jejaring pertemanan dalam kehidupanku. Sering aku mendapatkan undangan dari orang-orang yang tertarik untuk untuk hadir di acara yang mereka selenggarakan. Padahal mereka mengenalku hanya berdasarkan nama yang tertulis di tulisan-tulisan yang kubuat. Ini bukti adanya dampak positip dari hobby menulis. Jujur, kondisi seperti ini, aku nikmati saja. Aku menganggapnya sebagai rejeki dan kehormatan bagi seorang penulis.

Bagiku kompetensi menulis lebih tinggi dari seorang yang disebut pakar atau tenaga ahli. Seorang pakar memang bisa memberikan solusi bagi suatu masalah rekayasa, tetapi seorang penulis yang juga seorang ahli atau pakar bahkan bisa menginspirasi orang-orang lain yang biasa-biasa untuk nantinya menjadi pakar. Itulah mengapa aku bangga menyebut diriku seorang penulis dan menampilkan karya-karyanya. Maklum SKA atau sertifikasi profesi seorang penulis adalah karya-karyanya. Masyarakat pembaca sendirilah yang menilai.

Gambar 2. IASTAR Short Talk 2018, Ballroom D’Cost VIP, Jakarta Pusat (Sabtu, 8 Des.2018)

Oleh sebab itu jangan kaget jika kemudian aku bisa berfoto bersama-sama dengan para pakar yang sesungguhnya, misalnya foto di atas dalam acara IASTAR Short Talk 2018 yang hadir sebagai invited speaker adalah bapak Hadi J. Yap, Ph.d, PE, GE (Vice President / Senior Consultant  – Langan Engineering & Enviromental Services USA) dan Ir. Y. P. Chandra M.Eng. (General Manager / Senior Technical Advisor –  PT. Pondasi Kisocon Raya), pakar dan praktisi geoteknik yang terlibat pada perencanaan pondasi pada gedung tertinggi nantinya di Indonesia, yaitu Jakarta Signature Tower.

Dianggap orang sebagai pakar di bidang tertentu ternyata menjadi magnet untuk terus terlibat dengan bidang tersebut. Ini mungkin seperti yang dibilang oleh para psikolog, tentang potensi pikiran bawah sadar : pikiran-pikiran yang senada saling mencari kawannya. Ibarat sekali menaruh minat akan sesuatu, maka sesuatu yang dimaksud tersebut akan berdatangan dengan sendirinya. Jadi sejak aku menulis buku struktur baja di atas, maka banyak topik dan permasalahan terkait struktur baja ada di sekitarku. Termasuk saat ini ada tiga mahasiswa S1 di UPH yang sedang membahas “perencanaan bangunan baja bertingkat rendah tahan gempa” untuk tugas akhirnya.

Untuk meningkatkan mutu tugas akhir yang dibuat, maka aku minta bantuan teman-teman praktisi fabrikator baja agar memberikan contoh gambar struktur baja yang sukses mereka kerjakan. Teman-temanku di fabrikator baja, baik hati. Aku mendapatkan tiga bangunan struktur baja berbeda untuk dibahas mahasiswa-mahasiswaku. Strategi ini aku gunakan agar mahasiswaku benar-benar memahami sistem struktur baja yang sebenarnya yang dibuat di lapangan. Struktur bangunan yang kupilih adalah bangunan tingkat rendah (low-rise building) dan berbentang panjang, yang umumnya dijumpai pada bangunan industri dan semacamnya.

Selanjutnya agar dapat dijadikan objek penelitian tugas akhir bagi  mahasiswaku, maka dari gambar-gambar yang diterima tersebut perlu diajukan permasalahan untuk dibahas,  yaitu :

  1. Apakah detail bangunan struktur baja yang sukses dibangun tersebut memenuhi kriteria pembebanan terbaru, yaitu SNI 1727:2013 – Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain. Jangan-jangan masih memakai peraturan lama, yang spesifikasi beban hidupnya hanya sekitar 1/3 dari yang baru.
  2. Apakah detail bangunan struktur baja yang sukses dibangun ini telah memenuhi kriteria bangunan tahan gempa terbaru, yaitu SNI 1726:2012 – Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non-gedung. Peraturan terbaru lebih ketat dibanding peraturan gempa yang lama bertahun 2002.

Dengan disusunnya permasalahan (berbentuk pertanyaan) di awal pengerjaan tugas akhir, maka mahasiswa tentu mempunyai bayangan atau motivasi tentang apa yang perlu dilakukan. Ini penting karena kalau tidak, bisa-bisa akan ada argumentasi seperti ini: “Gambar struktur bajanya sudah ada, dan sudah sukses dibangun, lalu untuk apa perlu dilakukan tinjauan lagi”. Juga kalau hanya sekedar menghitung saja (perencanaan), tanpa difokuskan terlebih dahulu apa yang perlu diamati, maka nggak cocok untuk dijadikan tugas akhir.  Itu sekedar tugas besar saja.

Strategi yang aku gunakan untuk tugas akhir mahasiswaku tersebut merupakan salah satu strategi yang aku gunakan agar dapat terus mempelajari struktur baja secara kontinyu. Adapun masalah-masalah yang aku titipkan di atas, adalah hal-hal yang aku belum tahu banyak. Melalui diskusi ilmiah selama bimbingan mahasiswa tugas akhir, aku akhirnya dapat melakukan up-dated terhadap ilmu-ilmu yang belum aku punya. Ini seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air, sambil melakukan tugas akademis sebagai pembimbing tugas akhir, sekaligus juga meng-up-dated keilmuan. Jadi semakin banyak mahasiswa bimbingan maka semakin banyak ilmu yang diasah. Atas alasan ini pula selama ini saya menerima suka cita tugas bimbingan S2 dari Pasca Sarjana Universitas Tarumanagara, Jakarta. Jujur, atas kerja keras mahasiswa-mahasiswa bimbingan dari S1 (UPH) maupun S2 (Untar) maka ilmuku semakin terasah.

Dari proses bimbingan mahasiswa S1 tentang perencanaan ulang struktur baja bangunan industri, yang telah sukses dibangun, ditemukan sesuatu hal yang baru. Itu terjadi ketika dilakukan analisis ulang menggunakan spesifikasi beban hidup atap yang baru, yaitu SNI 1727:20136 , ternyata tidak memenuhi syarat perencanaan, atau tidak OK.  Harus ganti profil setingkat lebih tinggi. Kondisi akan OK (profil tidak dirubah) jika kondisi beban memakai spesifikasi beban lama, yaitu PPIG-1983.  Itu membuktikan bahwa konstruksi baja khususnya untuk bangunan industri, umumnya masih mengacu peraturan beban lama, yaitu Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung – 1983 (PPIG-1983), dan belum merujuk pada SNI yang terbaru.

Ini menunjukkan bahwa meskipun SNI terbaru sudah diedarkan mulai tahun 2013, tetapi ternyata belum tersosialisasi secara baik ke seluruh Indonesia. Bayangkan saja, fabrikator baja yang memberikan gambar perencanaan tersebut adalah termasuk yang besar dan berada di pusat (dekat Jakarta). Apalagi untuk fabrikator lain yang lebih kecil, dan di daerah, bisa-bisa lebih nggak up-dated saja.

Untuk melihat perbedaan spesifikasi beban antara peraturan lama dan baru, ada baiknya kita bandingkan ke duanya.

PPI_01.psd
Gambar 3. Peraturan Pembebanan Indonesia 1983 (Peraturan Lama)

Untuk atap bangunan industri, dianggap sebagai atap yang tidak dapat dicapai atau dibebani oleh orang, sehingga digunakan beban hidup atap 20 kg/m2. Adapun spesifikasi beban yang terbaru, yaitu SNI 1727 – 2013 yang merupakan terjemahan dari peraturan beban di USA, yaitu ASCE 7-2010. Beban hidup untuk perencanaan atap adalah sebagai berikut :

PMI2013-1
Gambar 4. SNI Pembebanan terbaru (2013)

Beban hidup yang disyaratkan adalah 0.96 kN/m2 atau kira-kira 100 kg/m2, yang berarti sama dengan beban hidup atap pada peraturan lama (1983) yang menganggap atap dapat terjangkau atau dapat dibebani oleh orang. Beban hidup peraturan baru (100 kg/m2) adalah kelipatan 5 x dari peraturan lama (20 kg/m2). Oleh sebab itu adanya catatan n menjadi sangat penting karena dapat dilakukan reduksi menurut Pasal 4.8.1 berikut.

PMI2013-2
Gambar 5. Beban hidup minimum setelah direduksi

 

Berdasarkan ketentuan yang terbaru, setelah dilakukan reduksi yang diperbolehkan oleh peraturan maka beban hidup minimum adalah 0.58 kN/m2 atau sekitar 60 kg/m2. Itu berarti spesifikasi beban hidup atap berdasarkan peraturan terbaru (SNI 2013) masih 3 x lebih besar dari peraturan beban yang lama.

Oleh sebab itu wajar jika suatu bangunan baja atapnya didesain berdasarkan peraturan lama, maka ketika dievaluasi berdasarkan peraturan beban terbaru, maka perlu ganti profil.

Dari kaca mata owner, maka dapat dinyatakan bahwa perencanaan struktur baja bangunan industri berdasarkan peraturan terbaru, akan lebih mahal dibandingkan jika memakai peraturan lama. Karena selama ini tidak ada permasalahan terkait kondisi atap pada bangunan industri ketika memakai peraturan lama, maka apa perlunya harus pakai peraturan baru, adakah sanksi-nya.

Ini perlu ketegasan dari pemerintah, karena kalau tidak, maka para perencana bandel (nggak mau pakai peraturan baru) akan berjaya, karena menghasilkan konstruksi baja yang lebih murah dibanding hasil perencanan dari engineer yang tertib aturan (pakai SNI terbaru). Kalau tidak ada penyelesaiannya maka tentu akan dihasilkan mutu bangunan publik yang berbeda-beda.

Ini tentu tidak gampang penyelesaiannya, maklum tidak ada unsur yang menakut-nakuti sebagaimana jika digunakan ketentuan gempa. Bahkan tidak hanya itu saja, ketika sedang mendiskusikan akan hal itu. Ada yang memberikan pendapat yang berbeda. Begini kira-kira usulannya : “Pak Wir, bangunan industri itu khan seperti bangunan pabrik khan“.

Tentu saja sayanya menjawab “betul, untuk bangunan pabrik“. Beliaunya langsung menyambung : “Nah kalau begitu Bapak salah dalam memakai ketentuan yang digunakan pada peraturan yang terbaru. Untuk KONSTRUKSI PABRIK, beban hidupnya berbeda pak. Cukup 0.24 kN/m2. Hampir mirip dengan beban hidup atap pada peraturan lama“. Begitu pernyataan beliau dengan mantap terkait dengan hasil penelitian mahasiswa saya tersebut.

Kaget juga aku dengan pernyataan baru terkait dengan beban hidup atap yang digunakan.  Rasa-rasanya beban hidup minimum 0.58 kN/m2 adalah yang paling minimum. Bagaimana bisa ada yang lebih kecil lagi. Ketika dicermati lagi di peraturan tersebut (lihat Gambar 4) memang betul ada kata-kata KONSTRUKSI PABRIK YANG DIDUKUNG OLEH STRUKTUR RANGKA KAKU RINGAN maka beban hidupnya 0.24 kN/m2 tanpa boleh dilakukan reduksi beban hidup.

Sebagai seorang yang disebut pakar (kata orang lho), kaget juga ada peraturan yang aku belum tahu atau keliwat. Itu tadi bahwa atap KONSTRUKSI PABRIK mempunyai spesifikasi beban hidup yang berbeda dari atap konstruksi baja pada umumnya. Karena yang memberi usulan atau tanggapan tadi adalah juga dosen yang juga praktisi, maka aku perlu memikir panjang terlebih dahulu. Benar nggak sih KONSTRUKSI PABRIK yang dimaksud itu adalah untuk atap bangunan industrik yang aku maksud. Jika benar maka tentu kesimpulanku di atas bisa nggak benar dong. Itu berarti benar-benar bukan pakar, karena pernyataannya yang diberikan tidak benar. Betul nggak.

Merasa yakin dengan pernyatan yang aku berikan, maka aku mencoba melihat buku asli darimana SNI baru itu dibuat, yaitu ASCE 7-2010. Ini isinya :

ASCE 7-10-60.jpg
Gambar 6. Tabel beban hidup dari ASCE 7-2010

Ternyata permasalahannya adalah pada penerjemahan kata, dimana Fabric construction = konstruksi pabrik. Jelas-jelas itu tidak ada hubungannya dengan pabrik yang dianggap sama sebagai bangunan industri. Fabric yang dimaksud adalah jenis tekstile atau hasil rajutan dari serat. Ini informasi lengkap definisi fabric construction.

Hal -hal seperti di atas itulah yang menyebabkan mengapa buku Struktur Baja yang aku tulis masih mengacu pada AISC 2010 dan bukannya pada SNI vesi Indonesianya. Itu terjadi karena banyak istilah-istilah di SNI yang kurang tepat, dan itu tadi salah satu buktinya. Memprihatinkan juga bahwa engineer lokal kita begitu mempercayai isi SNI, meskipun ada yang terkesan janggal. Itu berarti wawasan mereka perlu luas untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan yang mendasar. Untung ketemunya saya, yang berani memberikan koreksi, jika bukan, maka kesalahan itu secara tidak sadar akan dilakukan. Akhirnya menjadikan kebiasaan dan hasilnya akan terjadi kesalahan berjamaah.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk bahan berpikir lebih lanjut. Salam dari padepokan ilmu struktur baja di Lippo Karawaci, Tangerang.

9 respons untuk ‘beban hidup atap “konstruksi pabrik”

  1. Dear Pak Wir,

    Saya doakan Pak Wir selalu sehat sehingga bisa terus menulis, sebab dengan tulisan-tulisan Pak Wir inilah kami para engineer muda bisa belajar dan mendapatkan kebenaran.

    Jujur saya langsung tertawa pak, saat taHu translasi di SNI fabric = pabrik yang mana artinya jadi jauuuuh berbeda, saya tertawa sebab saya tidak taHu kalau di SNI tertulis seperti itu (selama ini saya selalu mengacu ke ASCE). Miris sebenarnya sebab code SNI yang notabene hanya terjemahan saja pun salah, ini bisa menjadi informasi yang sesat dan menyesatkan dan efeknya bisa jadi sangat membahayakan, sebab SNI ini code resmi yang jadi rujukan para engineer di Indonesia. Ini juga bisa menjadi permasalahan lagi jika ternyata bangunan yang didesain itu fail, dan para perencana merasa sudah mendesain sesuai SNI tadi.

    Saya jadi ingat ada cerita karyawan yang di PHK karena salah menerapkan dosis untuk pengolahan limbah karena salah mengartikan “ons”, sebab 1 ons (Ounce) menurut KBBI = 100 gram, padahal yang berlaku secara internasional adalah 28,3495 gram.

    Terimakasih Pak Wir atas tulisan-tulisannya, semoga Bapak terus berkarya.

    Suka

  2. Temuan yang ‘menarik’ pak Wir. Yang dulu sempat saya temui juga, masih pada tabel yang sama, untuk ruang pertemuan dgn kursi tetap/terikat pada lantai nilai bebannya tertera lebih besar (100 psf) dibandingkan ASCE (60 psf), yang kelihatannya salah ketik copy-paste dari nilai-nilai di bawahnya. Ada lagi pada ketentuan beban angin beberapa nilai, satuan, atau parameter yang belum sesuai dengan acuan normatifnya (masih ft seharusnya m, x/Lh seharusnya z/Lh, dst.). Di tempat lain belum tahu apa masih ada juga.

    Semoga di SNI penggantinya yang kabarnya masih sedang dimasak hal-hal tsb sudah bisa tereliminasi. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Salam pak Wir,

    Bila berkenan, saya ingin bertanya kepada mengenai syarat kelangsingan profil baja untuk gempa.
    Berdasarkan peraturan baja AISC 341-16 (Seismic Provision) Table D1.1, terdapat batasan width-to-thickness ratio yang cukup ketat khususnya untuk highly ductile member. Dalam kasus ini, profil baja (WF dan H-profile) dengan mutu SS400 (nilai Ry = 1.50, fy = 240 MPa) dan dimensi profil baja yang umumnya digunakan di Indonesia sudah tidak dapat digunakan bila mengikuti persyaratan dalam table D1.1. Seperti yang diketahui bersama bahwa peraturan SNI baja di Indonesia mengadopsi peraturan baja Amerika yaitu AISC dan hal ini mungkin akan dimasukkan dalam SNI baja selanjutnya.

    Bagaimana tanggapan bapak mengenai hal ini? Apakah ada referensi lain yang menjelaskan mengenai hal ini?
    Mengingat apabila peraturan ini diikuti sepenuhnya maka bisa dipastikan profil-profil baja WF dan H-profile yang saat ini umumnya beredar di pasaran tidak dapat digunakan dan konsekuensinya maka dalam setiap proyek perlu dibuat profil baja sendiri agar memenuhi persyaratan yang ada. Hal ini rasanya hampir mustahil untuk diaplikasikan pada seluruh proyek.

    D x B x tf x tw b h b/tf Limit Note h/tw Limit Note
    400 x 400 x 21 x 13 200 358 9.52 7.54 Not Ok 27.54 37.01 Ok
    350 x 350 x 19 x 12 175 312 9.21 7.54 Not Ok 26.00 37.01 Ok
    300 x 300 x 15 x 10 150 270 10.00 7.54 Not Ok 27.00 37.01 Ok
    250 x 250 x 14 x 9 125 222 8.93 7.54 Not Ok 24.67 37.01 Ok
    600 x 200 x 17 x 11 100 566 5.88 7.54 Ok 51.45 37.01 Not Ok
    500 x 200 x 16 x 10 100 468 6.25 7.54 Ok 46.80 37.01 Not Ok
    450 x 200 x 14 x 9 100 422 7.14 7.54 Ok 46.89 37.01 Not Ok
    400 x 200 x 13 x 8 100 374 7.69 7.54 Not Ok 46.75 37.01 Not Ok
    350 x 175 x 11 x 7 87.5 328 7.95 7.54 Not Ok 46.86 37.01 Not Ok

    Terima kasih pak Wir.

    Suka

    • Hallo pak Robby,
      Betul sekali, kita mengadopsi penuh peraturan baja Amerika, yaitu AISC. Sekarang yang terbaru untuk baja tahan gempanya adalah AISC 341-16. Saat ini saya juga sedang mempelajarinya. Anda lebih maju satu langkah, karena telah mencoba mengevaluasi ketersediaan profil baja yang ada, yang ternyata dari ketentuan di atas, ternyata banyak yang nggak masuk.

      Meskipun demikian perlu dipahami, bahwa dari untuk rangka pemikul momen khusus, yang perencanaannya mengacu ketentuan AISC 341-16 ada elemen yang direncanakan tetap elastis ketika bagian tertentu direncanakan akan berperilaku daktail. Bagian khusus yang dimaksud adalah bagian balok, adapun bagian kolom harus didesain “elastis” (lebih kuat dari kuat ultimate balok). Nah, yang “elastis” tidak harus mengikuti syarat ketat di atas, selama didesain berdasarkan beban dengan overstrength maka bisa mengikuti AISC 360-16, adapun bagian balok yang diharapkan akan berperilaku inelastis, maka mau tidak mau harus mengikuti ketentuan di atas.

      Karena tidak harus profil hot-rolled, maka untuk memenuhi kriteria AISC 341-16 untuk elemen yang akan berperilaku inelastis maka bisa memakai profil H-welded seperti punya Cigading H-Beam. Kalau ketentuan sendiri, tidak memakai AISC kelihatannya riset kita masih terbatas.

      Untuk sementara itu dulu yang bisa saya jawab. Maklum, untuk yang tahan gempa baru mau masuk. 😀

      Suka

      • Terima kasih banyak atas penjelasannya pak Wir. Ditunggu buku baru nya yg membahas struktur baja tahan gempa pak.. 😊😊

        Suka

    • Halo Pak Robby,

      Pertanyaan Pak Robby ini sungguh menarik.
      Sebenarnya, jika anda baca dengan lebih teliti lagi di bagian Commentary AISC 341-16, perubahan yang dilakukan dengan mengubah Fy menjadi RyFy itu adalah untuk ikut memperkirakan kemungkinan didapatkannya Fy yang lebih besar dari nilai nominal karena perencanaan mengenai tekuk, saat memperhitungkan kondisi desain tahan gempa, ini juga adalah desain berdasarkan kapasitas (capacity design).

      Alasan mengapa mutu baja seperti A36 disarankan untuk menggunakan nilai Ry = 1.25 sedangkan untuk A572 Gr.50 nilai Ry nya cuma 1.1 adalah karena tidak adanya syarat batas nilai Fy maximum yang ditetapkan untuk mutu baja A36, sehingga di lapangan, akan banyak ditemukan baja yang di bandrol dengan mutu A36 memiliki Fy yang setara dengan A572 Gr. 50. Hal ini sering terjadi karena kadang-kadang terdapat juga demand atas mutu A36 dan karena pabrik kadang akan merasa lebih praktis jika hanya memproduksi satu mutu. Di sini, kadang akan terjadi, pabrik menjual mutu A572 Gr. 50 sebagai A36, karena hasil produksinya sama-sama bisa memenuhi kententuan kedua mutu baja ini. Ini yang dinamakan dengan baja dengan “dual certificate”.

      Sebenarnya, jika baja yang biasanya digunakan di tanah air itu adalah baja hasil produksi dalam negri, sebenarnya ketentuan Ry = 1.25 untuk mutu SS400 itu tidak mutlak harus diikuti.
      Ada satu hal yang mungkin akan lebih baik dilakukan di Indonesia adalah dengan melakukan survey statistik hasil produksi profil baja di dalam negri. Sebenarnya dari hasil studi seperti ini, kita bisa saja menghasilkan nilai Ry untuk baja mutu tertentu yang lebih cocok untuk diterapkan di dalam negri.
      Untuk melakukan riset seperti ini, keberadaan institusi seperti ISSC yang baru belakangan ini berdiri itu akan sangat berperan. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah sebenarnya aturan-aturan di code itu semuanya sebenarnya hanyalah rekomendasi, untuk memudahkan praktisi dalam melakukan desain.
      Jika ada yang bertanya, apakah saya boleh menggunakan angka yang dibawah angka minimum yang ditentukan oleh code, jawabannya adalah bisa, selama anda memiliki data pendukung yang kuat. Seperti contohnya untuk masalah beban hidup yang dipakai untuk desain atap, sebenarnya jika si pemilik memang cukup yakin bahwa selama masa layan bangunan itu, atap nya tidak akan pernah diberikan beban sebesar itu, kententuan itu bisa saja diabaikan. Selama pemilik sanggup mempertanggung jawabkan itu, sebenarnya itu tidak masalah. Tetapi untuk praktisi yang kurang memahami segala seluk beluk mengenai penetapan besar beban hidup itu, memang sebaiknya disarankan untuk mengikuti syarat minimum yang direkomenadsikan di dalam design code.

      Sebenarnya, para peneliti maupun praktisi di lapangan yang ada di tanah air ini sangat diharapkan untuk lebih banyak melakukan riset untuk merevisi kententuan yang diadopsi dari luar negri seperti USA, karena belum tentu semua kondisi yang ada di negara lain itu adalah sama dengan kondisi di negara kita. Jadi, itu akan menjadi sangat menarik jika bisa dilakukan berbagai penelitian juga di dalam negri untuk membantu agar dapat menghasilkan desain yang memenuhi peraturan tetapi lebih efisien.

      Semoga komentar ini bisa membantu meningkatkan wawasan kita semua untuk lebih memajukan konstruksi di dalam negri kita.

      Salam
      Erwin

      Suka

      • Hallo pak Erwin,
        Terima kasih banyak atas komentarnya pak. Sedikit koreksi dari saya bahwa nilai Ry untuk baja mutu A36 adalah 1.50 (AISC 341-16 Seismic Provision Table A3.1) bukan 1.25. Nilai 1.50 pun sama untuk AISC versi sebelumnya yaitu yang versi 341-10. Dan yang ditanyakan dalam kasus ini bukan mengenai masalah Ry tetapi batasan width-to-thickness ratio 😊😊. Tetapi sekali lagi terima kasih atas tanggapannya sekaligus masukan-masukannya pak.

        Ada salah satu komentar pak Erwin yang menarik yaitu:

        “Jika ada yang bertanya, apakah saya boleh menggunakan angka yang dibawah angka minimum yang ditentukan oleh code, jawabannya adalah bisa, selama anda memiliki data pendukung yang kuat. Seperti contohnya untuk masalah beban hidup yang dipakai untuk desain atap, sebenarnya jika si pemilik memang cukup yakin bahwa selama masa layan bangunan itu, atap nya tidak akan pernah diberikan beban sebesar itu, kententuan itu bisa saja diabaikan. Selama pemilik sanggup mempertanggung jawabkan itu, sebenarnya itu tidak masalah.”

        Mungkin pak Erwin dapat memberikan pencerahan bagaimana asal nilai beban hidup itu ditetapkan dalam peraturan. Karena selain kasus beban hidup atap misalnya kita ambil contoh nilai beban hidup ruang pertemuan dengan ketetapan beban hidup dengan kursi dapat dipindahkan di mana nilainya sebesar 479 kg/m2 (SNI 1727:2013) atau bila mengacu pada aturan lama PPPPURG 1987 nilainya sebesar 500 kg/m2.

        Dalam kasus ini dengan konsep pandangan pak Erwin berarti beban hidup tersebut nilainya berlebihan (bila ditanyakan ke pemilik). Karena berat manusia atau perlengkapan di ruang pertemuan tidak mungkin 400 kg per m2 menurut si pemilik. Berarti dalam mendesain bangunan mungkin beban hidup tidak perlu lebih besar dari 200 kg per m2 misalnya. Toh tidak rasional kalau mau diasumsi dengan perbandingan berat manusia atau perlengkapan yang digunakan dalam ruang pertemuan misalnya. “Apalagi jika si pemilik memang cukup yakin bahwa selama masa layan bangunan itu tidak akan pernah diberikan beban sebesar itu” sesuai pernyataan pak Erwin sebelumnya. Karena kalau pun ditanyakan kepada pemilik gedung pasti pemilik gedung secara logikanya pasti menjamin kalau nilai beban hidup pada ruang pertemuan tidak mungkin sampai 400 kg per m2. Tetapi apakah sesederhana itu pengambilan nilai beban hidup pak?

        Saya setuju dengan pendapat pak Erwin kalau kita boleh menggunakan angka yang dibawah angka minimum yang ditentukan oleh code. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Prof Bambang Budiono yang mengambil nilai batas periode getar struktur minimum yang tidak sesuai code tetapi dapat dibuktikan dengan performaced based design. Tetapi pembuktiannya ini yang tidak mudah dalam kasus pengambilan nilai beban hidup lebih rendah dari code apalagi perlu data survey dalam waktu tahunan seperti dalam data survey load ASCE. Bila ditinjau dari segi hukum, bagaimana dengan konsekuensinya bila seandainya perencana diproses secara hukum karena terjadi masalah misalnya. Apakah dengan berpedoman pada jaminan si pemilik yang cukup yakin dengan nilai beban hidupnya sudah cukup? Tentunya berbeda bila pedoman yang diambil adalah SNI.

        “Selama pemilik sanggup mempertanggung jawabkan itu, sebenarnya itu tidak masalah”. Ini masih menjadi tanda tanya karena tanggung jawab itu sulit diukur pak. Kalau masalahnya kecil pasti pemilik gedung tidak terlalu banyak menuntut tetapi kalau masalahnya besar apalagi sampai jatuh korban pasti pemilik gedung akan balik menyalahkan. Bisa saja mengatakan “Saya kan orang awam mana ngerti mau ambil nilai bebannya berapa besar? Saya cuma sampaikan mau untuk fungsi ruang pertemuan dan engineernya juga setuju kok nilai beban hidupnya 150 kg/m2 saja. Yang orang teknik kan bukan saya” misalnya.

        Kembali ke persoalan nilai beban hidup, ini sesuatu yang sangat menarik sebenarnya pak. Apalagi kalau dilihat dalam commentary ASCE 7-16 Table C4.3-2 Typical Live Load Statistics terlihat bahwa nilai hasil survey load semuanya lebih kecil dari batasan ketetapan dalam ASCE.
        Jadi mungkin pak Erwin bisa menjelaskan pandangan bapak kenapa demikian. Mungkin ada jawabannya kenapa live load diambil lebih besar pak 😊😊.

        Jadi kesimpulan akhir pernyataan pak Erwin itu sangat tepat yaitu:

        “Sebenarnya, para peneliti maupun praktisi di lapangan yang ada di tanah air ini sangat diharapkan untuk lebih banyak melakukan riset untuk merevisi kententuan yang diadopsi dari luar negri seperti USA, karena belum tentu semua kondisi yang ada di negara lain itu adalah sama dengan kondisi di negara kita.”

        Suka

      • Halo Pak Robby,

        Maaf Ry itu hanya salah ingat aja, iya benar Ry untuk A36 itu 1.5.
        Batasan width-to-thickness ratio itu berhubungan dengan nilai Ry itu pak.
        Jika kita bisa menggunakan angka Ry yang lebih kecil, maka ketentuan itu bisa menjadi lebih longgar.
        Tapi untuk bisa melakukan itu ya memang butuh data statistik.
        Yang ingin saya tekankan adalah kondisi variasi nilai Fy untuk baja yang di produksi di dalam negri tidak selalu sama dengan di luar negri.
        Jadi untuk bagian situ, di Indonesia sendiri sebenarnya bisa melakukan studi sendiri untuk mendukung industri dalam negri.

        Mengenai masalah beban hidup, memang benar itu akan sangat sulit untuk membuktikan bahwa beban hidup yang lebih kecil dari code bisa digunakan. Code kelihatannya memang tidak realistis, tetapi angka-angka itu didapatkan dari hasil studi yang berhubungan dengan data statistik. Itu semua berhubungan dengan variasi dari besar beban hidup tersebut. Jadi makanya saya nyatakan jika perencana tidak yakin dan kurang pengalaman untuk membuktikan angka yang akan dipakainya adalah angka yang aman, maka langkah terbaik adalah mengikuti rekomendasi dari code, karena kalo ada masalah masih bisa mengelak dengan “saya sudah ikuti beban minimum yang disarankan di code”. Untuk masalah dengan owner, ya itu untuk soal tanggung jawab ya mungkin memang harus ada kesepakatan antara perencana dengan owner di atas hitam dan putih, perencana mendesain dengan beban segini dan pemilik menyetujui dan menerima konsekuensinya. Walau pada kenyataannya mungkin pemilik tidak akan mau melakukan itu. Jika kondisi nya spt itu ya sebaiknya rekomendasi code itu diikuti jika memang tidak bisa mencapai kesepatakan spt itu.
        Kita sebagai perencana, jika kita bisa melakukan analisis, dan bisa meyakinkan pemilik, maka penghematan itu bisa dilakukan. Tugas sebagai perencana memanglah berusaha meyakinkan pemilik dengan berdasarkan pada data yang kita hasilkan. Tidak ada perencana yang bisa menjamin apakah bangunan ini tidak akan pernah runtuh, perencana hanya bisa menjelaskan hasil desainnya dan konsekuensi2 yang mungkin dihadapi, keputusan terakhir tetap ada pada pemilik.

        Memang untuk masalah nilai beban hidup untuk desain ini bukan hal gampang untuk dikurangi. Saya disini juga hanya memberikan contoh bahwa rekomendasi code itu bukan hal yang mutlak. Untuk bisa melakukan semua itu memang tidak gampang. Perlu usaha yang cukup besar dari banyak pihak. Satu hal yang bisa saya sampaikan adalah angka angka rekomendasi itu kelihatan terlalu besar itu biasanya juga ada maknanya. Angka angka itu diputuskan dengan mempertimbangkan ‘probability of failure’. Dan seperti yang Pak Robby sampaikan, “Apalagi kalau dilihat dalam commentary ASCE 7-16 Table C4.3-2 Typical Live Load Statistics terlihat bahwa nilai hasil survey load semuanya lebih kecil dari batasan ketetapan dalam ASCE.”. SNI mengadopsi dari ASCE, jadi jika memang ingin melakukan perubahan, maka akan sangat diperlukan juga data data statistik dari dalam negri. Dan ini memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi kita boleh punya impian. Manatahu di masa depan, dunia riset di Indonesia juga bisa sehebat negara negara lain yang code nya diadopsi di berbagai negara. 😀

        Salam
        Erwin

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s