penelitian di Indonesia

CEO Bukalapak kemarin posting di medsos tentang anggaran riset Indonesia. Dia membuat perbandingan besaran dana riset (bidang terkait bisnis si CEO) negara kita dengan negara lain yang lebih maju. Perbandingan seperti itu mestinya sesuatu yang biasa-biasa. Maklum, tidak ada yang wah dengan kondisi riset di negeri ini, apalagi kalau dibandingkan dengan negara maju. Masalah terjadi karena adanya kelemahan tersebut dikaitkan dengan Presiden. Padahal di medsos juga, ada bukti foto bahwa pak Presiden yang dimaksud sangat mendukung kegiatan bisnis CEO tersebut. Jadi kesan yang ditangkap pembaca, CEO yang “nggak tahu diri”. Jadi, kebetulan hp saya lemot, maka sekalian saja ikutan uninstall Bukalapak.¬† ūüėÄ

Baca lebih lanjut

Kaleidoskop 2018

Kehidupan berjalan begitu rupa, waktu berganti dengan cepat. Mengenang dan menuliskannya adalah salah satu upaya untuk mensyukurinya. Itulah motivasi utama mengapa Kaleidoskop 2018 ini dibuat, yang berisi semua catatan kegiatan yang terdokumentasi di 2018. Siapa tahu tulisan ini dapat dijadikan inspirasi bagi teman-teman pembaca yang masih muda. Jika ada yang baik, silahkan ditiru, adapun yang buruk, lupakan saja.

Pada saat Kaleidoskop 2018 ini dibuat, usiaku telah melewati 1/2 abad. Usia yang sebagian besar orang dianggap telah masuk pada ranah purna tugas atau pensiun. Adapun di tahun tersebut, dalam rangka menunjang akreditasi kampus maka ada program percepatan jumlah Guru Besar. Saya salah satu yang dipilih masuk dalam program tersebut. Akibatnya ada harapan untuk segera mempersiapkan kelengkapan DIKTI agar dapat segera diuruskan. Jadi tahun 2018 ini juga krusial bagi karirku nanti. Jika program GB sukses, maka usia pensiunku akan meningkat dari 60 ke 65. Semoga Tuhan berkenan atas semua rencana ini.

Materi Kaleidoskop ini akan saya susun secara kronologis, diurutkan dari awal (Januari 2018 – Desember 2018). Isinya tidak hanya kegiatan profesional tetapi juga warna-warni yang terdokumentasi.

Baca lebih lanjut

beban hidup atap “konstruksi pabrik”

Meskipun nama Wiryanto Dewobroto tidak disertai gelar akademik lengkap, juga tidak dikaitkan dengan adanya SKA profesi tertentu, tetapi ketika nama tersebut terbaca pada tumpukan buku seperti foto di bawah ini, khususnya buku yang paling tebal.

Gambar 1. Tumpukan buku-buku di meja kerjaku

maka tentunya banyak orang yang percaya bahwa nama penulis buku tebal tersebut adalah ahli / pakar. Beberapa senior menyandingkan nama saya tersebut dengan keahlian struktur baja (steel structure). Padahal sejatinya, yang punya nama tersebut hanyalah seorang penulis, yang memang secara spesifik memilih genre khusus engineering. Kebetulan buku yang diterbitkan tahun 2015 dan tahun 2016 yang laris manis adalah struktur baja. Itu bisa terjadi karena kehidupan sehari-harinya adalah guru atau dosen di bidang rekayasa atau engineering , khususnya mata kuliah struktur baja. Jadi yang ditulisnya adalah keseharian yang dijumpainya.

Banyaknya orang yang mempercayai bahwa saya adalah seorang ahli dibanding sekedar dosen di perguruan tinggi, ternyata menghasilkan persepsi positip, yang kadang tidak terduga dampaknya. Sering kujumpa kenalan baru, yang mengenal nama tersebut tetapi belum pernah bertemu langsung dengan diriku. Jadi tulisan-tulisan yang aku buat  bekerja membantuku mengembangkan jejaring pertemanan dalam kehidupanku. Sering aku mendapatkan undangan dari orang-orang yang tertarik untuk untuk hadir di acara yang mereka selenggarakan. Padahal mereka mengenalku hanya berdasarkan nama yang tertulis di tulisan-tulisan yang kubuat. Ini bukti adanya dampak positip dari hobby menulis. Jujur, kondisi seperti ini, aku nikmati saja. Aku menganggapnya sebagai rejeki dan kehormatan bagi seorang penulis.

Bagiku kompetensi menulis lebih tinggi dari seorang yang disebut pakar atau tenaga ahli. Seorang pakar memang bisa memberikan solusi bagi suatu masalah rekayasa, tetapi seorang penulis yang juga seorang ahli atau pakar bahkan bisa menginspirasi orang-orang lain yang biasa-biasa untuk nantinya menjadi pakar. Itulah mengapa aku bangga menyebut diriku seorang penulis dan menampilkan karya-karyanya. Maklum SKA atau sertifikasi profesi seorang penulis adalah karya-karyanya. Masyarakat pembaca sendirilah yang menilai.

Gambar 2. IASTAR Short Talk 2018, Ballroom D’Cost VIP, Jakarta Pusat (Sabtu, 8 Des.2018)

Oleh sebab itu jangan kaget jika kemudian aku bisa berfoto bersama-sama dengan para pakar yang sesungguhnya, misalnya foto di atas dalam acara IASTAR Short Talk 2018 yang hadir sebagai invited speaker adalah bapak Hadi J. Yap, Ph.d, PE, GE (Vice President / Senior Consultant¬† – Langan Engineering & Enviromental Services USA) dan Ir. Y. P. Chandra M.Eng. (General Manager / Senior Technical Advisor –¬† PT. Pondasi Kisocon Raya), pakar dan praktisi geoteknik yang terlibat pada perencanaan pondasi pada gedung tertinggi nantinya di Indonesia, yaitu Jakarta Signature Tower.

Baca lebih lanjut

karir profesional insinyur vs dokter

Bagaimana Bapak dulu memilih dan menentukan karir pekerjaan sehingga bisa menjadi dosen seperti sekarang ini ?“. Demikian awal mula percakapanku dengan anak muda yang baru saja lulus dari uji kompetensi profesi dokter.¬† Simpel, tetapi ternyata bisa membuka mata bahwa jalan karir pekerjaan seseorang itu berbeda-beda, tergantung profesinya.

Sarjana teknik sipil (saya tentunya) dan sarjana kedokteran (anak muda yang bertanya) ternyata berbeda dalam menempuh perjalanan karirnya. Bagaimana tidak, sarjana teknik sipil tidak dipaksa untuk menempuh ujian kompetensi sebelum masuk ke dunia kerja. Setelah wisuda, mereka bisa langsung melamar kerja kemana-mana, bahkan bukan di bidang teknik sekalipun (di bank misalnya). Adapun sarjana kedokteran (gelar S. Ked) meskipun sudah diwisuda, tetapi merasa belum selesai kuliah, masih masuk program kelas praktik dan belum merasa tuntas jika belum lulus uji kompetensi dokter-nya.  Perjuangan mereka memang lebih lama dibanding sarjana yang lain. Menurut cerita anak muda tersebut, teman-teman SMA-nya yang sekelas yang bukan mengambil jurusan kedokteran bahkan sudah ada yang terjun politik (jadi anggota partai) dan telah mencantumkan gelar S2-nya. Maklum di luar negeri khan ada program S2 yang hanya setahun tanpa thesis. Intinya, anak muda itu merasa karirnya untuk menjadi dokter terkesan lama sekali.

engineer-doctor

Baca lebih lanjut

DISRUPTIF konstruksi kayu dan penelitiannya

Berbicara tentang penelitian di Indonesia memang gampang-gampang susah. Teorinya bisa saja segunung. Bayangkan saja, setiap dosen yang bergelar doktor kalau ditanya tentang penelitian pastilah bisa menjawab mantap dan panjang lebar. Hanya saja implementasinya di lapangan, kadang tidak sesuai seperti yang dibayangkan.

Topik dan hasil penelitian hanya ramai di ruang sidang kampus-kampus, menjadi bahan diskusi dan debat antara tim penguji dan mahasiswa. Ujung-ujungnya penelitian hanya sekedar prasyarat lulus untuk meraih gelar akademik. Maklum dari banyaknya laporan penelitian yang dibuat, hanya sedikit yang bisa dipublikasikan ke luar untuk terbit di jurnal ilmiah bermutu atau terimplementasi menjadi inovasi bisnis. Terkait dengan publikasi, bahkan ada bukti bahwa laporan penelitian berbentuk skripsi (persyaratan akademik), akhirnya hanya dibuang karena memakan tempat di ruang perpustakaan.

1499702381-skripsi-dibuang
Gambar 1. Skripsi-skripsi yang jadi sampah (www.rempong.net)

Kelihatannya sepele, tetapi adanya skripsi-skripsi dengan kondisi seperti di atas menunjukkan bahwa hasil pemikiran akademisi terbukti tidak bermanfaat, kecuali sekedar persyaratan kelulusan belaka.

Baca lebih lanjut

proses review menuju GB

Profesi saya adalah structural engineer, yang mulai ditekuni sejak lulus sarjana teknik dari UGM (1989) dan bekerja pertama kali di kantor konsultan rekayasa, PT. Wiratman & Associates. Kantor konsultan rekayasa struktur yang didirikan Prof Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata (almarhum). Waktu saya bekerja saat itu, beliau belum meraih gelar Doktor dan Profesor, tetapi setahu saya saat itu sudah terkenal. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dan melamar bekerja kantor beliau. Saya ingat waktu itu saya menyampaikan amplop lamaran sendiri ke kantor PT W&A di tepian sungai di area Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang saat ini gedungnnya sudah digantikan oleh gedung bertingkat tinggi. Maklu, waktu masih kuliah dulu saya punya cita-cita seperti almarhum, yaitu pakar di bidang struktur dan dikenal banyak orang.

Saat ini 2018 atau hampir 30 tahun lamanya sejak menekuni profesi structural engineer. Cita-cita sebagai pimpinan perusahaan konsultan terkenal seperti PT W&A jelas tidak kesampaian, maklum pekerjaan utama yang digeluti adalah mengajar, sebagai dosen di perguruan tinggi dan bukan pimpinan perusahan atau direktur. Hanya saja yang masih bisa disyukuri adalah masih tetap berkecipung dipermasalahan structural engineering. Bahkan diberi kesempatan untuk lebih mendalami, mengajarkan, meneliti permasalahan dan menemukan solusi serta mampu mempublikasikannya  untuk dijadikan bahan pembelajaran dan perenungan lebih lanjut bagi para engineer lain. Saya bersyukur, apa yang saya bayangkan 30 tahun lalu, terlihat mendapatkan jalan. Hanya soal kesehatan dan waktu tentunya jika Tuhan berkenan tentu dapat diwujudkan. Semoga.

Baca lebih lanjut

Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia

Terbiasa bekerja profesional secara mandiri, baik sebagai dosen, penulis buku, maupun praktisi rekayasa struktur (structural engineer), maka sendirian dan tidak punya kelompok adalah hal biasa. Tetap percaya diri meskipun tetangga sebelah bangga dengan kelompoknya yang terdiri dari banyak orang. Itu paling berlaku di bidang kepenulisan, yang mutu produk hasilnya sangat ditentukan oleh individu penulisnya, bukan dari jumlah atau banyaknya penulis yang dilibatkan. Kualitas hasil penulisan sangat tergantung kompetensi indivindu dari penulisnya sendiri.

Latar belakang karakter saya adalah introvet, oleh sebab itu saya tidak terlalu tertarik ikut berorganisasi.  Sisi lain, tuntutan segi profesi tidak mengharuskan karena yang penting adalah kemandirian. Maka keduanya, yaitu [1] profesi yang dipilih; dan [2] karakter pribadi, menjadi terkesan cocok (matching). Itu mungkin pula yang mengakibatkan saya bisa berkembang dengan baik. Kesendirian yang dinikmati bahkan menghasilkan dunia imajinasi yang begitu luas dan dalam, sebagaimana terlihat pada buku-buku karanganku, yang umumnya tebal-tebal. Berbobot  begitu katanya. Ini buku-buku yang aku maksud, klik saja jika ingin membacanya.

Oleh sebab itu terasa aneh juga jika threat in iakan membahas tentang PERKUMPULAN. Terkesan tidak nyambung dengan introduction yang aku sampaikan, yang membanggakan akan kemandirian. Koq bisa.  <>.

Baca lebih lanjut