• Selamat pagi teman-teman. Semoga sehat selalu.
    Sudah lama saya tidak menengok wiryanto.blog. Maklum interface-nya tempo hari berubah drastis, dua tahun lalu nggak nyaman untuk menulis. Tetapi pagi ini, hasil dialog dengan Meta AI, jadi tertarik masuk ke sini. Ternyata editornya sudah jauh meningkat dari yang terakhir dulu. Sudah lebih enak.

    Tulisan saya biasa hanya saya sampaikan via Facebook. Editornya sederhana, jadi hanya tulisan pendek-pendek. Tetapi ketika kembali ke WordPress ini, editornya memungkinkan untuk menulis sedikit panjang.

    (lebih…)
  • memahami Jokowi !

    Kurang lebih dua minggu lagi, pemilu pemilihan Presiden akan berlangsung. Situasi yang dirasakan menjelang pemilu tahun ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya, narasi-narasi terkait sentimen agama sangatlah santer, adapun saat ini hanya sayup-sayup terdengar, bahkan bagi yang tidak memperhatikan, tentunya tidak mendengarkan apa-apa. Nyaman, ini sesuatu yang menyejukkan tentunya.

    Saya merasakan bahwa di era pemerintahan Presiden Jokowi ini, rasa nasionalisme yang berbingkai bhineka tunggal ika, dan kecintaan memakai produk budaya lokal, semakin menguat. Dampaknya luar biasa, lihat saja video dari content creator Dara Sarasvati di bawah ini, yang hit dilihat ribuan orang. Video ini bisa menimbulkan kebanggaan akan keindahan busana nasional, tidak kalah dari busana manca negara. Jika banyak video yang dibuat seperti itu, bisa-bisa menjadi trend-setter dunia nantinya.

    Video seperti di atas, sebelum era Jokowi, tidaklah mudah ditemukan. Kalaupun ada, bisa-bisa membuat heboh dan menimbulkan hujatan. Maklum bisa dikonotasikan negatif. Saya berharap anda tidak melihat konotasi negatif tersebut. Jika ternyata iya, alangkah baiknya untuk quit dari blog ini, dan mencari bacaan yang lain. Maklum mindset kita pasti akan berbeda. Tulisan berikutnya saya akan membahas sisi positip Jokowi. Sebagai pendukungnya dari mulai era gubernur DKI, sampai menjadi Presiden NKRI dua periode ini, maka tidak ada yang berubah. Saya tetap apresiasi langkah-langkah beliau, dan mendukung penerusnya nantinya. Itu pula alasan mengapa avatar FB saya adalah pak Jokowi.

    (lebih…)
  • Ultah perkawinan berlian orang tuaku

    Lirik lagu berjudul “Harta Berharga”, yang dinyanyikan BCL berikut tentu cukup familiar

    Harta yang paling berharga adalah keluarga
    Istana yang paling indah adalah keluarga
    Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
    Mutiara tiada tara adalah keluarga

    Selamat pagi emak
    Selamat pagi abah
    Mentari hari ini
    Berseri indah

    Terima kasih emak
    Terima kasih abah
    Untuk tampil perkasa
    Bagi kami putra putri yang siap berbakti

    Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
    Mutiara tiada tara adalah keluarga

    Saya setuju sekali dengan lirik di atas, bahwa keluarga adalah salah satu harta yang tidak ternilai (selain kesehatan tentu saja). Saya bahkan selalu mengingatkan kepada anak-anak bahwa di awal kehidupan ada dua hal yang perlu diperjuangkan, yaitu CITA (karir) dan CINTA (keluarga). Keduanya harus mulai dipikirkan bersama, keduanya sama pentingnya. Jangan berpikir bahwa keduanya itu terpisah, ibarat seperti makan dan minum, keduanya harus seimbang sesuai waktunya agar hidup ini harmonis.

    Dalam konteks itu bisa dijelaskan bahwa yang dimaksud CINTA itu tidak sekedar seks, atau untuk menghindari zinah, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai bagian dari tanggung jawab untuk mewujudkan anak keturunan dengan membentuk keluarga yang damai dan sejahtera dan bisa memuliakan pencipta-Nya. Dalam konteks seperti itu maka permasalahan childfree dan LGBT dapat dijelaskan kepada anak-anak mengapa kita harus menolaknya. Jika keduanya dipilih, maka jelas anak keturunan seperti yang diharapkan tidak akan tercapai.

    (lebih…)
  • ada apa dengan standardisasi jembatan baja

    Permintaan untuk menjadi invited speaker atau pembicara yang diundang secara khusus, bahkan menjadi pembicara utama adalah sesuatu yang biasa tentunya bagi dosen bergelar guru besar. Saya yang juga guru besar menyadari bahwa hal itu bukan sebagai suatu hal yang bisa disombongkan, itu adalah tugas atau peranan saya saat ini. Tugas seorang guru besar adalah mengajar, tidak hanya murid kelasnya saja, tetapi juga masyarakat profesional.

    Masyarakat profesional, atau hanya golongan masyarakat tertentu, yang berlatar belakang pendidikan teknik sipil. Itu terjadi karena apa yang saya ajarkan, hanya topik yang memang dipahami (berguna) bagi kalangan tersebut, kalangan profesional di bidang konstruksi. Itupun juga masih terbatas, hanya yang memahami kata kunci berikut : risiko, keselamatan, keamanan, kekuatan, stabilitas, struktur, baja, beton atau semacamnya. Di luar kata kunci tersebut, rasa-rasanya saya akan sama seperti orang awam umumnya. Untuk kata kunci tersebut, kadang kemampuan otak bawah sadar akan merespon dengan cepat. Itulah yang membantu saya, untuk menerima tanggung-jawab jika diminta menyiapkan materi sebagai pembicara di atas. Pokoknya yang penting, saya merasa senang menerima undangan menjadi pembicara, mempunyai harapan positip (merasa terhormat diundang), dan diberi waktu cukup (jangan sampai ada kesan dadakan, hanya jadi pembicara pacokan karena pembicara lain tidak bisa hadir). Permintaan jadi pembicara dadakan, biasanya akan saya tolak dengan sopan. Maklum motivasi mau menjadi pembicara adalah karena “merasa dianggap ada” atau aktualisasi diri. Bukan cari duit, meskipun ketika menerima honorarium, tentu akan senang sekali.

    Dalam penyiapan materi, jika topik yang dibenak telah disetujui, dan ada waktu tenang, menyendiri, maka materi presentasi bisa dengan cepat dibuat. Pembuatannya kalau dilakukan dengan suka-cita kadang kala tidak terasa, tahu-tahu jadi. Hasilnya bahkan di luar ekspetasi, yang penting memuaskan. Tentu saja untuk saat itu. Maklum, ketika membaca tulisan lama, kadang merasa ada yang perlu diperbaiki dan ditambah lagi.

    Penggunaan kemampuan bawah sadar dalam bekerja, dan mempresentasikan adalah hal penting bagi saya. Itulah sebabnya, untuk undangan acara, saya selalu berusaha datang tepat waktu, lebih pagi dari jadwal, agar tidak panik kalau sampai terlambat. Saya perlu waktu untuk mengatur diri agar tenang. Bahkan pada awal presentasi, yang bisanya masih menggunakan kesadaran biasa karena untuk mengingatkan siapa-siapa yang harus disapa, maka jika diperhatikan, di awalnya masih terasa kagok. Saya sadar akan hal itu. Tetapi biasanya setelah berapa saat, setelah merasa nyaman, biasanya saya akan berbicara dengan lancar, cepat, dan tidak harus berpikir lagi. Kata-kata dengan lancar akan keluar dengan sendirinya. Tentu saja selama pembicaraannya dalam topik kata-kata kunci di atas. Ini mungkin efek positip dari terbiasa menulis. Bayangkan saja, materi buku struktur baja saya, yang setebal hampir 900 halaman, itu materinya dapat dijelaskan dengan mudah tanpa harus membaca ulang terlebih dahulu.

    Dengan kemampuan seperti itulah, maka saya merasa banyak menulis, banyak presentasi adalah tidak melelahkan. Bisa karena biasa, itu mungkin yang menyebabkannya. Mungkin dengan kemampuan itu, maka ketika berbincang-bincang dengan para profesional, dapat dengan mudah menggali ilmunya. Jika seseorang berbincang pada kata kunci yang sama, dengan yang saya pahami. Otomatis terbayang semua apa-apa yang melatar-belakangi pembicaraan tersebut. Jika ada kata kunci yang belum dipahami, biasanya saya simpan. Jika bisa ditanyakan langsung, tentu bersyukur, tetapi jika belum maka saya klik internet untuk mencari jawabannya. Puji Tuhan biasanya ketemu jawabannya. Hal-hal seperti inilah yang membuat saya bisa berkembang, meskipun tanpa guru formal sekalipun. Adapun yang menjadi guru, adalah para profesional tersebut, yang tugasnya adalah memicu syaraf-syarat dendrit otak saya agar bisa mencari jawaban sendiri, dibantu internet (buku dan jurnal atau hal lainnya).

    Oleh sebab itu menjadi pembicara, tidak sekedar memberi kepada masyarakat, tetapi juga kesempatan untuk menerima pengetahuan baru, khususnya jika bertemu profesional berilmu lebih tinggi. Pernyataan yang terakhir ini tentu tidak berlaku untuk semua acara. Maklum tidak di semua acara, pasti akan didatangi para profesional berilmu tinggi. Mereka biasanya sangat sibuk, dan hanya hadir pada acara-acara yang dianggap istimewa saja.

    Acara istimewa, salah satunya adalah yang diselenggarakan industri. Acara yang baru selesai kemarin, yang diselenggarakan pabrik baja Krakatau Posco adalah contohnya. Ini posternya.

    Penyelenggaranya adalah pabrik baja terbesar di Indonesia, penyumbang 60% produk baja nasional, yang diselenggarakan di hotel berbintang, JS Luwansa Hotel and Convention Center. Meskipun yang hadir tidak lebih dari 100, tetapi sebagian besar adalah pemimpin utama atau bos perusahaan terkait baja, atau profesional kunci perusahaan tersebut. Pada acara tersebut, saya berbicara pertama kali untuk memicu diskusi, makalahnya berjudul “Prospect and Problems using Steel Construction in Indonesia”. Pembicara lainnya dari internal Krakatau Posco. Pembicara luar diperlukan agar acaranya tidak membosankan, begitu skenarionya. Ini suasana acara di atas.

    Jumlah yang diundang relatif sedikit, itu bisa dimaklumi, karena para hadirin adalah para elitnya. Jika terlalu riuh tentu tidak menyenangkan.

    Hal yang menarik dari menghadiri acara tersebut adalah bertemu dengan seorang praktisi, pengusaha dan pelaku konstruktor jembatan baja Indonesia, yaitu bapak Ernest Guillaume dari Waagner Biro. Bagi orang yang pernah terlibat dengan proyek jembatan baja di Indonesia, maka nama perusahaan tersebut tentunya tidak asing lagi. Saya sering bertemu anak-buah beliau, tetapi bertemu President Director, baru di acara ini. Ini enaknya diundang jadi pembicara, tempat duduk disiapkan.

    Sebagai orang yang mempunyai passion, begitu istilah pak Ernest, terhadap jembatan baja, maka dalam waktu yang pendek, terjadilah dialog yang cukup berbobot. Ini tentang kemajuan jembatan baja Indonesia.

    Hal yang menarik dari beliau, yang telah puluhan tahun tinggal di Indonesia, yang anak-anaknya ternyata juga bersekolah di Indonesia, adalah rasa bangganya dengan Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa perusahaan beliau adalah satu-satunya perusahaan yang telah mengekspor jembatan baja ke luar negeri. Saya agak lupa negara-negara mana yang dimaksud, tetapi yang teringat adalah satu-satunya. Mengapa begitu, karena kata kuncinya adalah karena bisa memberi solusi yang inovatif dengan jembatan baja yang dibuatnya. Hal yang menarik, bahwa inovasi itu dihasilkan oleh para insinyur Indonesia sendiri, dan bukan dari barat. Bayangkan, beliaunya yang orang bule, tetapi begitu bangga menyebut hasil kerja orang Indonesia. Selama ini khan ada kesan, kalau yang terkait inovasi, itu pasti hasil kerja orang bule.

    Dalam diskusi, beliau menyinggung kebijakan pemerintah tentang standardisasi jembatan baja, yang selanjutnya dibuat e-katalog, dan juga perlunya proteksi bagi industri baja dalam negeri. Jika tidak hati-hati, industri baja kita akan tergilas oleh produk Cina. Untuk hal tersebut, beliau mencontohkan, situasi yang terjadi di Bangladesh dan juga beberapa negara lain, yang akhirnya tergantung pada Cina. Lho koq bisa, bukankah standardisasi dan e-katalog adalah hal yang positip. Dengannya maka kualitas produk akan seragam dan biayanya transparan. Itu akan menyebabkan produknya efisien dan ekonomis.

    Tentang hal tersebut, tidak ada yang salah. Tetapi kita (saya agak kaget dengan kata kita, apakah sama-sama merasa sudah jadi orang Indonesia). Menurut beliau jika hal itu dilakukan, maka SDM Indonesia, khususnya para rekayasawan menjadi tidak banyak aktif lagi untuk berpikir, pakai standard saja, toh akan lebih murah dan sudah terbukti. Kreatifitas insinyur menjadi tidak diperlukan, atau bisa juga karena sudah tidak diperlukan pemikiran baru, maka pekerjaan konstruksi lebih banyak pada pekerjaan tukang, atau produksi berulang, dibandingkan proses rekayasa yang khusus. Jadi intinya, jika pemerintah membuat kebijakan bahwa semua jembatan di Indonesia adalah yang standard, maka lama-lama para ahli yang kreatif, yang harus memikirkan sesuatu yang baru, menjadi tidak ada lagi. Padahal, kemajuan rekayasa itu terjadi ketika kemampuan inovasi (otak) mampu mengungguli kemampuan tukang (fisik dan ketrampilan).

    Juga beliau mengingatkan, jika tujuannya adalah sekedar mutu dan ekonomis, maka produk Cina suatu saat akan pasti lebih mengungguli, dengan biaya lebih ekonomis. Jika itu terjadi, akhirnya kita hanya menjadi konsumen saja.

    Jujur, ada benarnya juga argumentasi dari pak Ernest, padahal di satu sisi, tahu juga mengapa kebijakan standardisasi dan e-katalog dipilih oleh pemerintah. Standardisasi menjadi pilihan, karena disadari bahwa sumber daya dengan kompetensi mendesain dan mengkonstruksi jembatan yang baik itu terbatas. Oleh karena itu disadari bahwa tidak semua ahli bisa terlibat pada proyek-proyek jembatan yang begitu banyak. Jika bisa dibuat standardisasi, maka para ahli bisa berkonsentrasi untuk desain dan konstruksi beberapa tipe jembatan saja. Setelah hasilnya mantab lalu bisa diproduksi secara berulang. Itulah prinsip standardisasi yang saat ini dipilih.

    Adapun cara pikir pak Ernest, sebagai bos perusahaan konsultan besar, agar bisa eksis maka kemampuan inovatif yang dapat diberikan, sehingga untuk situasi proyek yang khas, dapat dihasilkan produk yang optimum, ekonomis dan aman. Artinya, setiap proyek jembatan baja bagi pak Ernest itu perlu dipikirkan secara khusus, disesuaikan dengan situasi, kondisi. Karena kompetensi para sdm itulah maka perusahaan beliau bisa ekspor ke manca-negara.

    Saya jawab, anda tidak salah karena perusahaan anda telah siap. Adapun untuk diterapkan umum, di Indonesia tentu tidak sesuai. Saya bahkan bilang, orang Indonesia itu kalau bekerja di konsultan itu cenderung pendek, hanya dijadikan batu loncatan untuk karir lain yang lebih baik. Maklum kerja di konsultan itu gajinya relatif kecil. Padahal yang namanya kreatifitas, inovasi, itu selain membutuhkan otak yang baik, juga ketekunan. Jika gaji kecil, bagaimana bisa tekun. Tentang hal ini, beliau juga mengakui, bahkan menyebutkan bahwa insinyur staf-nya banyak yang bekerja cukup lama menekuni bidangnya. Kalau seperti itu, dan sudah dibiasakan kreatif, maka akan bisa semakin kreatif. Beliau mengkuatirkan, jika semua jembatan dibuat standar, maka proses kreatif menjadi tidak utama, jika tidak banyak terlatih, maka orang-orang kreatif tentu menjadi berkurang. Jika itu terjadi, dan ada pihak lain yang mampu dan modal besar (Cina misalnya), akhirnya perusahaan dalam negeri mati suri, dan kita tergantung dari luar.

    Memang buah simalakama, setiap pilihan pasti ada konsekuensi logis yang menyertai. Akhirnya disepakati, karena sama-sama punya passion di bidang konstruksi baja, beliaunya mengundang ke kantor di gedung Talavera, dan workshopnya di Cikande.

    Kata kunci yang menarik, agar bisa eksis di bidang rekayasa konstruksi jembatan baja, maka kreatifitas dan inovasi adalah utama. Menulis adalah bagian penting dalam proses mencapai hal tersebut. Semoga bermanfaat.

  • Buku Wiryanto 2023 telah beredar !

    Puji Tuhan kemarin bos Lumina Press datang ke kampus memberikan sampel buku “Jembatan Gantung Infrastruktur Kemakmuran), yang saya tulis bersama bapak Herry Vaza dan bapak Iwan Zarkasi, para ahli jembatan dari Kementerian PUPR. Lega sudah kerja keras penulisan yang telah dimulai sejak akhir 2021 lalu. Lebih dari satu tahun untuk menyelesaikan buku tersebut. Buku dicetak full-color, dengan kertas istimewa hardcover, jika anda tertarik untuk membaca dan memiliknya silahkan diorder saja via online di http://lumina-press.com.

    Adapun penampakan fisik buku baru tersebut dapat dilihat pada foto-foto berikut.

    Ucapan terima kasih pertama-tama disampaikan kepada 23 perusahaan dari industri konstruksi, yang berkenan menjadi sponsor buku tersebut. Adanya sponsor dari industri menyebabkan buku dapat dicetak dengan spesifikasi tertinggi, yang bisa dibuat percetakan besar negeri ini. Jika tidak ada sponsor, maka tentu harga jualnya menjadi tidak terjangkau, atau penulisnya nggak berani order spesifikasi tinggi. O ya, jika ada pembaca merasa bahwa ada spesifikasi yang lebih baik, dari percetakan dalam negeri, mohon diinformasikan. Maklum saya dan Lumina Press mempunyai cita-cita bisa membuat buku berbahasa Indonesia yang elegan dan bermutu baik, tidak kalah dengan buku-buku impor, tetapi dengan harga terjangkau.

    Berbicara tentang kualitas buku darisi sisi fisik, memang lebih gampang. Setiap orang bisa menilai dan membandingkan dengan mudah. Maklum kalau melihat buku-buku berbahasa Indonesia, meskipun membawa nama institusi besar, tetapi kualitas buku tidak membanggakan. Ada yang sekedar pasang foto, yang mungkin saja sewaktu dilihat di layar komputer terkesan bagus, tetapi ketika dicetak menjadi jelek. Untuk itulah saya selalu berusaha membuat buku itu menjadi terbaik, misalnya tata layout memakai program Adobe Indesign. Untuk ini saya mengucapkan terimakasih kepada kampus UPH yang telah mengijinkan memakai software asli Adobe. Jadi editingnya tentu pakai Indesign yang paling updated.

    Terlepas dari itu semua, tntu saja ada konsekuensi, banyak waktu yang tersita, tidur lebih sedikit. Untung saja, tidak semua orang bisa melihatnya, kesannya kalau dari FB maka saya banyak jalan-jalan, menjadi pembicara dimana-mana. Padahal itu hanya intermezo, setelah selesai bisa terlupakan, untuk buku tentu istimewa. Maklum sekali terbit, maka orang akan bisa membaca lagi buku tersebut, bahkan setelah penulisnya meninggal dunia.

    Buku akan memperlihatkan kepada semua orang, siapa penulisnya. Ini mungkin yang menyebabkan banyak industri mau berpartisipasi sebagai sponsor. Ingin menjadi bagian bagi kemajuan negeri ini. O ya, buku “Jembatan Gantung Infrastruktur Kemakmuran” ini adalah buku pertama setelah saya mencapai gelar Guru Besar di bidang ilmu teknik sipil. Jadi saya berharap, buku tersebut menjadi gambaran seberapa kompeten saya di bidang ilmu teknik sipil, khususnya struktur jembatan. Belum lama kemarin saya mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai Ahli Utama Jembatan dari BNSP melalui LSP Infrastruktur Jalan dan Jembatan, yang dinahkodasi oleh bapak Iwan Zarkasi, yang notabene penulis ke-3 buku ini. Semoga keberadaan buku ini bisa meneguhkan tingkat kompetensi yang saya punyai.

    Tidak banyak komentar yang perlu saya sampaikan, yang jelas buku ini menurut Prof Iswandi Imran adalah buku pertama berbahasa Indonesia yang membahas Jembatan Gantung secara mendalam (bukan sekedar reportase dokumentasi foto-foto jembatan yang telah dibangun). Saya sendiri juga merasa demikian, karena selama membuat / menulis buku tersebut tidak ada atau belum ada buku yang dapat dibaca atau dijadikan rujukan, yang ada hanya buku tentang jembatan gantung yang pernah dibangun, jadi semacam buku laporan.

    Jika anda telah membeli dan membaca buku ini, mohon berkenan memberikan tanggapan, untuk kebaikan di masa depan. Semoga apa yang saya tulis bersama pak Herry dan pak Iwan pada buku di atas, dapat membawa manfaat bagi kemajuan dunia rekayasa konstruksi di Indonesia.

    Semoga Tuhan memberkati hidup kita sekaligus agar kita menjadi berkat bagi sesama. GBU

    Order di LUMINA-Press.com

    O ya, ada yang minta daftar isi buku, ini ya:

    Brosur buku-buku Wiryanto yang dapat dibeli di LUMINA-Press.

  • sukses meniti karir

    Ini tulisan intermezo, tentang topik yang diharapkan banyak pihak. Hanya saja isinya bisa saja berbeda-beda tergantung cara pandang penulisnya. Penulisnya berlatar belakang praktisi (konstruksi) dan saat ini hidup sebagai dosen (juga expert di industri konstruksi), tentu bisa dipahami apa yang disampaikannya adalah didasari oleh pengalaman karirnya tersebut. Jangan berharap isinya tentang kesuksesan karir bagaimana menjadi pejabat atau juga pengusaha. Bisa berbeda strateginya.

    Tulisan tentang karir, ini seakan-akan meloncat dari tulisan-tulisan sebelumnya, yang banyak membahas tentang penerbitan buku (warna cover buku, buku istimewa 2023). Progress buku yang dibahas sudah on the right track, sesuai rencana. Saat ini posisinya, buku sedang tahap naik cetak. Ternyata untuk mencetak sesuai spesifikasi, perlu waktu empat (4) minggu dari sekarang. Itu berarti tidak bisa diperkenalkan kepada publik pada acara Seminar HAKI di Medan (19 Mei 2023). Padahal saya menjadi salah satu pembicaranya (ada di panggung). Ini bukti poster seminarnya.

    Suatu even yang cukup besar khan, sayang terlewatkan. Moga-moga rencana launching buku yang akan diadakan oleh Progdi Teknik Sipil UPH (2 Agustus 2023) dapat terlaksana. O ya, pihak LUMINA Press berencana membuka meja promosi dan penjualan buku di Seminar HAKI di Jakarta (22 Agustus 2023). Semoga ini juga bisa sukses terlaksana.

    He, he kembali ke laptop, ke masalah sukses meniti karir.

    Jujur, saya menulis ini karena terinspirasi oleh pertemuan kemarin dengan teman kerja lama, yang puluhan tahun tidak ketemu. Saya berpikir karena sudah sukses, maka jadi lupa. Eh ternyata tidak seperti itu halnya, bahkan kebalikan dari yang aku pikirkan. Orangnya datang secara tiba-tiba, terkesan kusut dan nampak tua (padahal umurnya di bawahku), ditemui bersama rekan kantor yang lain, obrol punya obrol, yang bersangkutan ternyata mencoba mencari peluang kerja. Ini tentu suatu hal yang sangat jarang terjadi. Ini sekedar petunjuk, ternyata ada orang yang belum tahu bagaimana cara meniti karir yang sukses.

    Agar sukses dalam berkarir, sehingga bisa berdiri tegak penuh percaya diri dan mensyukuri hidup, maka ada dua faktor yang menentukan, yaitu [1] faktor di dalam diri kita; dan [2] faktor di luar diri kita. Jika ke dua faktor itu bisa bertemu dan cocok, maka kesuksesan adalah tinggal menunggu waktu. Oleh sebab itu kita harus menyadari, meskipun faktor di dalam diri kita sudah dianggap ideal, tetapi kalau belum ketemu atau tepatnya belum mendapatkan kesempatan yang baik atau pas dengan faktor di luar diri kita, maka tentu tidak ada rasa suka cita yang diperoleh . Agar sukses, dan akhirnya dapat bersuka-cita, bisa saja mencari faktor luar di tempat lain, yang pas.

    Nah poin yang terakhir itu yang bisa memahami, mengapa ada teman kerja yang akhrinya perlu “keluar”. Ini sesuatu yang wajar , siapa tahu di luar akan menjadi semakin baik. Pertemuan kemarin menunjukkan bahwa ternyata tidak seperti itu adanya.

    Adanya dua faktor, diri kita dan dunia luar, menunjukkan bahwa tidak setiap keinginan kita, pasti akan mendapatkan kesuksesan. Baru ketika dua faktor tersebut, diri kita (kompetensi) dan dunia luar (kesempatan) itu pas, atau cocok, maka kesuksesan akan terjadi. Ingat apakah bisa pas, itu yang harus kita pikirkan. Tentang hal tersebut, ada narasumber yang berpendapat atau mungkin untuk menghibur, yaitu “cobalah terus, pantang menyerah, suatu saat pasti akan berhasil, selanjutnya menunjukkan bukti-bukti real yang mendukung ide tersebut“. Kapan saat berhasil itu, tidak ada yang tahu. Bagaimanapun juga, ketika mencoba, maka waktu terus berjalan, usia bertambah, dan tentu saja itu semua akan sangat mempengaruhi.

    Kita harus realistis tentang hal tersebut. Kalau tidak, maka kejadian kemarin yang saya ceritakaan di atas, akan terjadi. Saya tentu saja merasa prihatin, hanya saja untuk suatu pekerjaan tertentu, tidak bisa sekedar dijadikan pelarian.

    Langkah utama yang bisa dilakukan adalah menyiapkan bagian dari diri kita untuk sukses. Pertama adalah mengenal betul diri kita, mana kekuatan dan mana kelemahan. Ada tiga komponen di dalam diri kita yang menunjang kesuksesan dalam kehidupannya, yaitu : [1] ketrampilan yang dimiliki (pengalaman formal akademik atau non-andemik); [2] bakat (talent); dan [3] karakter, atau kebiasan dalam kehidupan kita.

    Kecuali bakat, yang memang dari sononya, maka ketrampilan dan karakter biasanya dipengaruhi oleh proses pendidikan dan lingkungan kehidupannya di masa muda. Semakin tua umur seseorang, maka mengubah karakter atau menambah ketrampilan, menjadi sesuatu yang semakin berat. Itu pula alasannya, mengapa perusahaan mau menerima anak muda yang baru lulus untuk menjadi pegawai dan kemudian mendidiknya lagi. Jelas, nggak ada yang mau menerima yang sudah tua.

    Oleh sebab itu, keterlambatan menyadari bagaimana mencapai kesuksesan dalam kehidupan saat sudah berumur, maka hanya penyesalan yang terjadi. Pada kasus seperti ini, banyak yang kemudian menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam ketidak-suksesan tersebut. Jika ini terjadi, maka saya yakin, hanya akan kegetiran yang ditemui, dan kesuksesan akan menjadi semakin menjauh. Jadi kalau begitu bagaimana ?

    Sukses adalah terwujudnya harapan, yang terkait dengan pihak lain. Pihak lain itu punya kriteria, jika kita tidak bisa memenuhi kriteria tersebut, maka tentu kesuksesan tidak akan tercapai. Jadi jika kasusnya sudah terjadi (sudah berumur), maka yang pertama adalah introspeksi diri terlebih dahulu. Mencari tahu ke tiga (3) point penunjang kesuksesan di atas, dari sana kita tawarkan ke pihak lain yang mempunyai kriteria yang bisa dipenuhi. Jika perlu, nggak usah takut untuk down-grade dibanding karir yang dulu. Nah di sini biasanya ego yang tidak memungkinkan.

    Jujur menasehati orang muda itu lebih mudah daripada menasehati orang tua yang tidak sukses (gagal). Biasa kalau ketemu orang di atas usia 40 tahun, saya takut menasehati (kecuali tentu jika diminta pendapat). Karakternya sudah terbentuk.

    Paling baik adalah menasehati anak-anak muda (yang mau), dan tentu saja anaknya sendiri. Ini tentu sangat penting, karena kalau sampai anak-anaknya sendiri di hari tua bermasalah, pasti tidak punya waktu juga untuk memikirkan orang tuanya. Jadi adalah kewajiban orang tua untuk memastikan anak-anaknya, minimal bisa mandiri, agar nanti minimal tidak menjadi bahan pemikiran orang tuanya di hari tua, dan bahkan bisa memikirkan balik.

    Sebagai seorang yang berpengalaman berkeluarga sejak 1991 atau sudah 32 tahun, maka mendapatkan jodoh yang baik, adalah salah satu syarat untuk mendapatkan kesuksesan hidup. Untung saja saya dulu menikah relatif muda, sebelum pensiun, anak-anak sudah selesai kuliah, dan sudah ada yang berumah-tangga. Bisa dibayangkan, jika terlambat menikah, maka pada usia tua, harus kerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya. Beruntung, jika terlambat menikah, tetapi di usia tua sudah bebas finansial. Nggak ada masalah itu. Tetapi apa ada jaminan jika menika terlambat itu kalau tua akan bebas finansial.

    Oleh sebab itu, kepada anak-anak, aku menjelaskan agar segera ketika sudah mendapatkan kepastian karir agar segera mencari jodoh untuk mau bersama-sama menjalani kehidupan ini. Kepastian karir, biasanya sudah bisa terdeteksi ketika sudah lulus SLTA atau SMA. Ini tentu jika jalan kehidupan sesuai cita-citanya, misalnya ketika SLTP sudah bercita-cita jadi dokter. Akibatnya cari SLTA yang alumninya banyak ketrima di FK. Jadi ketika lulus SLTA dan bisa masuk FK, maka jelas itu karirnya sudah pasti. Upaya yang dilakukan sekedar belajar giat, dan mencari peluang mendapatkan jodoh. Saya yakin, hal seperti ini tidak setiap orang tua berani menyatakan kepada anaknya. Jika cewek, maka itu lebih aku tekankan lagi. Maklum usia prima seorang putri untuk menarik minat jodoh adalah di bawah 30 tahun. Ini ideal, meskipun setelah itu sah-sah saja, dengan catatan fisik masih prima.

    Jujur, saya bilang ke anak-anak bahwa secara rasional cowok masih melihat fisik sebagai hal utama, sedangkan dari sisi cewek akan melihat cowon dari potensi kemapanan di masa depan. Oleh sebab itu wajar ditemui di lingkungan kerja saya, seorang cewek dengan karir yang bagus, ternyata masih melajang. Hal-hal ini aku identifikasi agar bisa dijadikan bahan renungan anak-anak muda (anak saya atau yang lain yang mau mendengar) dalam melangkah. Karir dan keluarga itu seperti dua hal yang paralel dalam kehidupan, bahkan bisa saling menopang.

    Dengan cara pikir seperti itu, maka tahun 1991 saya melangkah dalam perkawinan. Istri saya empat (4) tahun di bawah saya, menurut kepercayaan Tionghoa, itu seperti kaki meja, cocok. Ini aku ingat betul, sekedar motivasi dalam berkeluarga. Setelah 32 dalam kehidupan perkawinan ternyata ok-ok saja. Apakah karena kepercayaan kaki meja atau bukan, aku nggak tahu. Intinya, hal-hal yang positip, selalu aku ingat, yang tidak mendukung, buang.

    Agar keluarga bisa saling menopang, maka anggota keluarga dibebaskan berkarir atau meraih prestasi, pengikatnya adalah saling kepercayaan dan komitmen untuk membentuk keluarga untuk kebaikan bersama dan untuk kemuliaan Tuhan. Ini memang visi jauh, itu pula alasannya mengapa harus memilih istri yang seiman, agar tujuan di atas bisa tercapai. Jika berbeda agama, tentu akan ada pertanyaan terkait Tuhan. Ini bisa jadi masalah, dan biasanya jika aku amati mereka ada salah satu yang mengalah, atau bahkan bersifat universal, tidak condong salah satu.

    Bagi anak muda, modal pendidikan adalah sangat penting. Ini akan menambah komponen ketrampilan, yang dalam perjalanannya akan mempengaruhi karakter pribadinya. Meskipun praktiknya, hasil pendidikan yang baik, selain membekali dengan ketrampilan juga akan merubah mindset dan kemandirian. Dua hal ini, yang sebenarnya paling penting. Itu pula alasannya, mengapa pendidikan anak-anak tidak ada yang sama dengan kampus papanya. Agar diperoleh kemandirian.

    Salah satu indikator kesuksesan adalah mampu hidup mandiri, meskipun ketika dalam proses pendidikan, masih dibiayai oleh orang tua. Ini penting, karena saya menjumpai masih banyak orang tua yang enggan anak-anaknya jauh darinya selama proses pendidikan. Maunya di dekap terus, jika ada masalah anak, maka orang tuanya yang maju. Sampai kapan orang tua bisa selalu bersama anak-anak.

    Wah panjang juga, karena sukses itu biasanya telah menjadi karakter. Banyak bukti, jika seorang anak sukses di bagian tertentu, maka di bagian lain juga sukses, dan jika tidak sukses maka di mana-mana juga gagal. Ini biasanya harus ada perubahan dari sisi karakternya. Rejeki itu ibarat seperti kita akan memilih restoran untuk makan siang / malam. Kita cenderung memilih restoran yang ramai, dan bukan yang sepi. kalau hal seperti itu khan ada kesan tidak adil. Ini juga berlaku pada karir dosen, ada dosen yang selalu bisa dengan mudah menerbitkan artikel di jurnal international terindeks Scopus, adapun saya perlu kerja keras sekedar memenuhi syarat satu jurnal bereputasi tiap tiga tahun sekali. Juga menjawab mengapa setiap semester selalu mendapat undangan sebagai pembicara seminar, adapun yang lain tidak seperti itu. Hidup itu aneh, tidak bisa diukur dengan adil atau tidak. Mindset kita harus berubah yang positip.

    Saya kira cukup dulu, sekedar untuk uneg-uneg akan keprihatinan saya pada seseorang, yang sebenarnya hal itu bisa dihindari jika puluhan tahun lalu yang bersangkutan mau mendengarnya. Waktu telah berlalu, usia bertambah, semoga yang bersangkutan menemukan jalan yang pas untuk hidupnya, dan bisa mensyukurinya. Tuhan memberkati kita semua.

  • buku istimewa 2023

    Post yang terakhir saya tulis adalah tentang cover buku yang akan terbit. Terima kasih atas masukan yang diberikan. Keputusan final untuk cover buku saya itu adalah warna hijau. Alasan utama memilih warna tersebut adalah karena belum pernah dipilih untuk buku-buku saya yang telah terbit. Ini dipilih agar yang sudah mengkoleksi buku-buku saya, dapat dengan cepat membedakan masing-masing. JIka alasan memilih warna karena bagus atau tidaknya, maka itu bersifat subyektif. Jika itu yang digunakan, maka tidak akan selesai-selesai dibahasnya.

    Tulisan adalah produk intelektual tertinggi, sebagai cara agar ide atau pikiran kita dapat dipahami orang lain. Hanya saja sekarang ini, akibat kemajuan teknologi, maka tidak hanya tulisan tetapi juga ucapan lesan dapat berfungsi sama. Meskipun ucapan lesan yang direkama bisa digunakan untuk menyampaikan ide atau pikiran, tetapi mempunyai keterbatasan. Ide dan pikiran yang disampaikan via ucapan lesan, hanya akan dipahami oleh orang lain yang mempunyai latar belakang pemikiran yang sama. Itulah mengapa cara tersebut sangat efektif untuk khotbah agama, tetapi tidak bisa digunakan untuk menyampaikan ide di bidang rekayasa. Maklum untuk menyampaikan latar belakang tentang apa yang disampaikan adalah hal yang tidak mudah. Nah, di situlah keunggulan tulisan dalam bentuk buku, karena bisa disertakan juga gambar-gambar yang merupakan sejuta kata.

    Oleh sebab itulah, maka penerbitan buku saya tahun ini adalah penting. Agar gagasan sekaligus kedalaman dan keluasan berpikir, khususnya di bidang ilmu yang digeluti, dapat diketahui orang lain. Buku bagi seorang dosen atau tenaga ahli adalah seperti halnya panggung bagi seorang penyanyi. Sehebat apapun seorang penyanyi, jika hanya menyanyi di kamar mandi, tanpa diketahui orang lain, maka tentu saja nyanyiannya sia-sia (sekedar untuk pelepas emosi saja).

    Bagi saya, menulis buku itu tidak bisa sekedar menulis, atau sekedar untuk mendapatkan kum di kampus. Karena dari karya tulis itulah maka kita akan tahu kualitas penulis, juga keilmuan yang dimiliki. Pada dasarnya menulis itu “berat”. Buku yang akan terbit ini telah aku mulai sejak 2021 akhir. Setahun lebih. Sebenarnya bagian yang paling sulit adalah mencari topik yang cocok untuk dibuat buku. Topik tersebut harus istimewa. Jika tidak istimewa, tentu orang malas melihat apalagi membacanya. Tentang hal itu, maka saya sangat terbantu oleh kegiatan di luar kampus, sebagai tenaga ahli di Kementerian PUPR maupun di proyek-proyek. Itu membuat wawasan pergaulan maupun objek yang dibahas menjadi lebih banyak, yang tentu saja tidak bisa diperoleh jika sekedar bergaul dan bekerja di kampus saja. Adapun topik pada buku saya ini, ditemukan di komunitas Kementerian PUPR (pemerintah), yaitu tentang jembatan gantung pejalan kaki, yang saat ini di masa pemerintahan pak Jokowi telah dibangun lebih dari 400 buah, dan masih akan dibangun lagi.

    Isi buku yang akan terbit ini cukup istimewa, yang bahkan hasilnya tidak saya bayangkan pada bulan pertama atau ke dua ketika mulai menulis. Itu bisa terjadi karena menulis yang baik adalah jika kita bisa menggabungkan pengetahuan kita, baik secara sadar maupun secara tidak sadar (bawah sadar). Tentang hal itu, tentunya tidak perlu diperdebatkan, ada yang percaya dan ada yang tidak. Tetapi jika anda penulis, maka diyakini anda akan seperti saya, sangat mempercayainya. Tanpa dibantu kemampuan bawah sadar, maka kita tidak akan bisa berimprovisasi dengan imajinasi dan rasio kita. Dari situ bahkan kita bisa menulis banyak hal dan tempat, tanpa harus mengunjunginya secara fisik. Apalagi saat ini sangat dibantu oleh adanya internet, dunia maya yang benar-benar real.

    Agar istimewa, maka tampilan buku harus dirancang sedemikian rupa. Maklum jumpa pertama buku tersebut adalah dari tampilan luar. Oleh sebab itu tampilan luar harus diolah dengan baik. Berdasarkan konsultasi dengan mitra kerja yang membantu mewujudkan buku ini, maka disaraankan untuk menggunakan sampul tebal atau hardcover. Agar terkesan elegan maka sampul tebal tersebut harus sederhana, dan jangan banyak tulisan. Hanya saja agar buku mudah diamati secara sepintas, maka perlu dibuat lagi sampul pelapis, yang tipis, yang disebut softcover. Untuk membayangkan sampul buku saya, maka ini foto sampulnya.

    (lebih…)
  • cover buku 2023 – warna apa ?

    Dosen profesional apalagi GB itu diberikan tunjangan tambahan oleh pemerintah. Itu adalah hak sebagai bagian dari profesi yang diakui oleh negara, yaitu dosen, yang bertugas mendidik anak bangsa ini. Hak adalah yang akan diterima, tetapi mereka juga punya kewajiban, yaitu melaporkan kinerja mereka dengan profesi dosen tersebut, yang dibagi menjadi tiga kriteria, yaitu porsi pendidikan & pengajaran; porsi penelitian dan publikasi ilmiah; dan ke tiga porsi pengabdian bagi masyarakat.

    Terkait hal tersebut maka sebagai GB setiap 3 (tiga) tahun ditagih untuk menghasilkan minimum 1 (satu) buku ajar; 3 (tiga) jurnal international atau 1 (satu) jurnal international terindeks (misalnya Scopus) dan bereputasi. Itu juga merupakan syarat untuk meraih jenjang GB. Itu semua sebenarnya sekedar bukti bahwa dosen yang dimaksud mempunyai kompetensi ilmiah dan layak disebut GB. Pada kenyataan, yang penting bahwa mereka telah mencapai standar minimum yang disyaratkan oleh pemerintah. Terkait hal itu, sebagai seorang reviewer BKD pernah ditemukan jurnal ilmiah dari dosen bergelar tertinggi, ternyata publikasi di jurnal abal-abal. Ini jadi pertemanan menjadi tidak enak. Kalau kondisi seperti itu, maka selalu yang saya tekankan, tolong cari bukti lain, yang tidak termasuk jurnal yang saya sebut abal-abal itu. Karena kalau itu, maka saya tolak. Kadangkala ada alasan, kalau asesor satunya sudah ok. Kalau kondisi ngeyel seperti ini, biasaya saya melepas posisi saya sebagai reviewer, saya minta cara reviewer yang lain. Pikiran saya, reviewer nggak digaji, maka idealisme setinggi mungkin, nggak mau ngikutin saran, cari yang lain saja.

    (lebih…)
  • Puji Tuhan, materi penulisan untuk buku telah selesai (format MS Word). Selanjutnya bisa melangkah lebih lanjut ke format Indesign, untuk akhirnya dicetak.

    Seperti biasa, buku yang saya buat harus terbaik yang bisa dikerjakan. Juga judul buku, serta isi adalah khas dan tidak boleh meniru yang lain. Oleh sebab itu materi yang saya tulis juga sekaligus unjuk kompetensi profesional yang saya miliki. Apa yang pernah menyangkut dibenak, saya cobakan ungkapkan dalam bentuk tulisan. Minimal apa yang saya rangkai itu adalah real, berdasarkan pengalaman di lapangan dan juga telah dikonfirmasi dari bacaan ilmiah yang mendukung. Semuanya itu akan dijelaskan secara kronologis sekaligus rasional. Ini penting untuk mengevaluasi apakah memori di kepala ini memang layak disimpan untuk tidak dilupakan, atau harus diganti memori lain yang baik dan benar.

    Seperti biasa, saya coba tampilkan dulu sampul buku dan nomer ISBN. Penerbit yang bekerja sama untuk kali ini adalah UPH Press. Penerbit kampus tempat saya bekerja yang mulai aktif lagi.

    O ya lembar ISBN dan penerbitnya adalah sebagai berikut.

    Foto pada cover buku ini adalah khusus. Foto tersebut adalah pemberian Bapak Jajang Rakmat (Project Manager PT Bukaka Teknik Utama Tbk), fabrikator jembatan gantung PUPR. Beliau sangat gercep ketika diminta foto proyek-proyek beliau. Sudut pengambilan foto sangat istimewa, tidak setiap orang bisa mendapatkan angle foto seperti itu. Foto tersebut memperlihatkan jembatan gantung PUPR dari atas puncak tower, memakai drone. Buku istimewa harus ditunjang foto istimewa.

    Foto relevan dengan judul buku “Jembatan Gantung Infrastruktur Kemakmuran”. Intinya daerah yang mendapatkan perhatian dengan dibangunnya jembatan gantung pejalan kaki, maka tentunya kemakmuran hanya soal waktu saja. Itu tentu saja jika rakyatnya bisa mensyukuri dan memanfaatkan anugrah tersebut.

    Seperti biasa, sambil memindahkan teks dari format MS Word (cara mudah untuk menuangkan ide) ke format Indesign (standard industri untuk buku cetak kelas dunia), maka saya juga akan mencari format bentuk buku yang terbaik. Menurut saya, membuat buku itu haruslah yang terbaik secara menyeluruh. Tidak hanya dari segi content (isi / materinya), tetapi bentuk tampilan harus terbaik. Ini untuk antisipasi jika ada orang awam membacanya, boleh saja dia tidak paham arti tulisannya, tetapi gambar-gambar yang ada, kertas, bentuk buku tentunya dapat dinilai selama itu terlihat mata. Saya selalu berusaha agar buku layak untuk dijadikan hadiah (fisik menarik). Ibarat seperti pemuda melihat pemudi untuk istrinya, fisik pertama yang menjadi perhatian, baru setelah itu isi hatinya. Cantik luar dalam !

    Pada kesempatan ini, untuk teman-teman pengusaha yang bisnisnya bisa dikaitkan materi buku. Saya memperbolehkan menyisipkan lembar portofolio bisnis perusahaan anda pada buku ini, untuk promosi dengan ikut paket sponsor. Itu diperlukan untuk mendukung biaya percetakan buku dengan mutu terbaik yang bisa diperoleh di negeri ini. Saya yakin jika portofolio perusahaan bapak dan ibu bisa turut termuat bersama buku ini, dipastikan akan bertahan lama. Buku-buku saya selama ini selalu dijadikan rujukan para insinyur Indonesia.

    Ini buku istimewa karena pada buku ini saya berkolaborasi dengan dedengkot ahli jembatan PUPR yang senior. Orang-orang yang terlibat di proyek jembatan-jembatan di Indonesia, pasti mengenal beliau berdua, yaitu bapak Herry Vaza dan bapak Iwan Zarkasi. Mantan salah satu direktur di Ditjen Bina Marga, Kementrian PUPR. Ini alasan mengapa saya bisa bilang, ini buku jembatan gantung paling lengkap yang diterbitkan berbahasa Indonesia.

    Ok, saya akhiri terlebih dulu ya. Pos berikutnya adalah Table of Content atau Daftar Isi buku tersebut. O ya, buku ini tidak setebal buku-buku saya sebelumnya. Jumlah halamannya hanya 300 halaman utama, plus kata sambutan dan lain-lain, maka total sekitar 350 lembar. Materi buku ini akan bercerita tentang jembatan gantung PUPR dan Helvetas (Nepal), fokus materi bukan pada hitungan tetapi filosofi engineering. Style penulisan seperti ini masih sangat jarang dilakukan oleh para ahli di Indonesia. Nggak mudah mengubah hitungan yang banyak, menjadi cerita kisah seperti halnya novel. Yakin karena tanpa memahami esensi, maka insinyur hanya berani berkutat pada hitungan, adapun makna dari hitungan tersebut belum tentu tahu. Jika hanya bermodal sok tahu, bisa hilang itu reputasi dikuliti para ahli sesungguhnya.

    Meskipun ini hanya 300 halaman, tetapi isinya adalah intisari rekayasa tentang jembatan gantung pejalan kaki. Ini fakta ya, bukan sombong. Dengan modal materi buku ini, kemarin sewaktu membimbing mahasiswa arsitektur UPH di lomba jembatan PUPR maka langsung menyabet juara pertama. Bayangkan !

    Video di atas pengumuman resmi UPH sebagai juara pertama di acara yang dihadiri Menteri PUPR. Adapun detail tertulis tentang juara-juara dari lomba itu telah dirilis di pengumuman tersendiri sebagai berikut.

    Lomba ini ternyata menarik perhatian para mahasiswa dan umum di seluruh Indonesia lho. Saya dapat info bisik-bisik dari salah satu juri, yang nggak tahu kalau kampus saya juga ikut sebagai peserta. Materi lomba memang memakai cara penilaian buta, para juri tidak tahu siapa yang buat. Katanya peserta yang mengirim ke panitia sangat banyak dari seluruh Indonesia, dan hanya 145 peserta yang lolos administrasi yang ditetapkan panitia. Selanjutnya disaring oleh para ahli jembatan dan tinggal 84 peserta atau 58% yang dianggap layak secara rekayasa. Dari sejumlah itu maka tim juri dari fabrikator menyaring lagi, memilih desain yang dianggap layak difabrikasi, dan tinggal 10 peserta atau 7%. Akhirnya dari sepuluh peserta itu dipilih oleh juri yang berlatar belakang arsitek untuk memilih 3 pemenang lomba atau hanya 2% saja. Para pemenang di atas tentunya adalah tim-tim istimewa. Dari ketiga pemenang, maka urutan pemenang ditentukan oleh Dirjen Bina Marga, bapak Hedy Rahadian.

    Nah untuk mengetahui siapa-siapa juri yang terlibat, untuk melihat validitas penilaian yang diberikan, lihat tabel berikut.

    Bagi para insinyur Indonesia yang tertarik memahami apa itu jembatan gantung pejalan kaki. Buku ini wajib dibaca. Matur nuwun.

  • Saya akan mengutip sekaligus merespons curhatan mas Kukuh Budi Utomo (mahasiswa kampus favorit) yang menulis di komentar blog ini, sebagai berikut :

    Hallo Pak. Selamat Malam. Saya sangat suka membaca artikel bapak tentang skripsi.

    Saya mau nanya Pak. Saya sedang mengerjakan skripsi. Tapi yang jadi masalahnya adalah dapat dosen pembimbing yang tidak pernah membimbing. Saya mengajukan proposal yang sudah jadi Bab 1 ke dosen pembimbing. Kemudian saya tanya bagaimana hasilnya. Malah nggak dikoreksi. Malah disuruh lanjut seterusnya. Padahal saya maunya dikoreksi, biar kalau ada yang kurang bisa diperbaiki atau ditambah. Setelah selesai Bab 2. Disuruh lanjut. Begitu lagi suruh lanjut terus. Saya kan jadi bingung, mau konsultasi kalau ada yang nggak tahu, mau tanya ke pembimbing tapi malah nggak pernah dibimbing. Saya jadi kesulitan nulis skripsinya.

    Saya tanya pada kakak tingkat yang sudah-sudah, ternyata memang begitu karakternya. Suruh lanjut lanjut terus nggak dikoreksi sampai selesai. Eh tau-taunya nggak dikoreksi sampai ujian skripsi. Pas ujian skripsi kakak tingkat, yang saya tanyai, dapat banyak banget pertanyaan. Katanya sih dibantai gitu. Pas diuji ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Terus dapat revisian banyak. Saya membayangkan ke diri sendiri, saya jadi ngeri sendiri melihat saya besok gimana.

    Padahal saya kuliah di salah satu universitas negeri di **sensor** lho Pak. Kok ada dosen yang kayak gitu. Nggak mencerminkan dengan visi kampus yang katanya mau masuk ke world class university. Saya cek latar belakang dosen tersebut dia S1 dan S2 nya di **sensor**. Sekarang lagi kuliah S3. Beliau termasuk dosen yang murah dalam ngasih nilai banyak yang dapat A kalau mata kuliah yang diampu sama beliau. Paling paling kalau banyak yang salah. Dapat A.

    Saya jadi takut gimana nanti pas ujian skripsi jika dihadapkan sama dosen lain yang lebih kritis. Ya kalau ujian skripsi cuman satu orang alias dosen pembimbing nggak masalah sih. Ntar juga murah ngasih nilainya. Wkwkk. Lha tapi kan nanti dosen yang nguji ada 3.

    Maaf pak jadi curhat.

    Profesi dosen itu gampang-gampang sulit. Curhatan mas Kukuh Budi Utomo di atas menunjukkan bahwa dosen yang murah kasih nilai saja masih di-complaint, apalagi jika pelit nilai. Bisa-bisa akan lebih banyak curhatan dari muridnya.

    Untuk kasus bimbingan skripsi, umumnya mahasiswa akan banyak complaint jika dosennya banyak ngasih koreksi untuk perbaikan. Jika tidak dikoreksi, umumnya mahasiswanya senang dan bahkan bangga. Ini mas Kukuh koq berbeda, kecewa karena nggak dikoreksi dan jadi curhatan. Maklum dikoreksi dan dibaca itu berbeda. Nggak dikoreksi tetapi sudah dibaca, maka rasanya tidak ada yang salah dengan dosen tersebut. Bermasalah, jika ternyata dosennya nggak mau membaca. Ini berarti dosennya nggak ada perhatian. Mahasiswa jika kecewa bisa dimaklumi karena merasa tidak diperhatikan.

    (lebih…)