DISRUPTIF konstruksi kayu dan penelitiannya

Berbicara tentang penelitian di Indonesia memang gampang-gampang susah. Teorinya bisa saja segunung. Bayangkan saja, setiap dosen yang bergelar doktor kalau ditanya tentang penelitian pastilah bisa menjawab mantap dan panjang lebar. Hanya saja implementasinya di lapangan, kadang tidak sesuai seperti yang dibayangkan.

Topik dan hasil penelitian hanya ramai di ruang sidang kampus-kampus, menjadi bahan diskusi dan debat antara tim penguji dan mahasiswa. Ujung-ujungnya penelitian hanya sekedar prasyarat lulus untuk meraih gelar akademik. Maklum dari banyaknya laporan penelitian yang dibuat, hanya sedikit yang bisa dipublikasikan ke luar untuk terbit di jurnal ilmiah bermutu atau terimplementasi menjadi inovasi bisnis. Terkait dengan publikasi, bahkan ada bukti bahwa laporan penelitian berbentuk skripsi (persyaratan akademik), akhirnya hanya dibuang karena memakan tempat di ruang perpustakaan.

1499702381-skripsi-dibuang
Gambar 1. Skripsi-skripsi yang jadi sampah (www.rempong.net)

Kelihatannya sepele, tetapi adanya skripsi-skripsi dengan kondisi seperti di atas menunjukkan bahwa hasil pemikiran akademisi terbukti tidak bermanfaat, kecuali sekedar persyaratan kelulusan belaka.

Baca lebih lanjut

proses review menuju GB

Profesi saya adalah structural engineer, yang mulai ditekuni sejak lulus sarjana teknik dari UGM (1989) dan bekerja pertama kali di kantor konsultan rekayasa, PT. Wiratman & Associates. Kantor konsultan rekayasa struktur yang didirikan Prof Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata (almarhum). Waktu saya bekerja saat itu, beliau belum meraih gelar Doktor dan Profesor, tetapi setahu saya saat itu sudah terkenal. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dan melamar bekerja kantor beliau. Saya ingat waktu itu saya menyampaikan amplop lamaran sendiri ke kantor PT W&A di tepian sungai di area Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang saat ini gedungnnya sudah digantikan oleh gedung bertingkat tinggi. Maklu, waktu masih kuliah dulu saya punya cita-cita seperti almarhum, yaitu pakar di bidang struktur dan dikenal banyak orang.

Saat ini 2018 atau hampir 30 tahun lamanya sejak menekuni profesi structural engineer. Cita-cita sebagai pimpinan perusahaan konsultan terkenal seperti PT W&A jelas tidak kesampaian, maklum pekerjaan utama yang digeluti adalah mengajar, sebagai dosen di perguruan tinggi dan bukan pimpinan perusahan atau direktur. Hanya saja yang masih bisa disyukuri adalah masih tetap berkecipung dipermasalahan structural engineering. Bahkan diberi kesempatan untuk lebih mendalami, mengajarkan, meneliti permasalahan dan menemukan solusi serta mampu mempublikasikannya  untuk dijadikan bahan pembelajaran dan perenungan lebih lanjut bagi para engineer lain. Saya bersyukur, apa yang saya bayangkan 30 tahun lalu, terlihat mendapatkan jalan. Hanya soal kesehatan dan waktu tentunya jika Tuhan berkenan tentu dapat diwujudkan. Semoga.

Baca lebih lanjut

Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia

Terbiasa bekerja profesional secara mandiri, baik sebagai dosen, penulis buku, maupun praktisi rekayasa struktur (structural engineer), maka sendirian dan tidak punya kelompok adalah hal biasa. Tetap percaya diri meskipun tetangga sebelah bangga dengan kelompoknya yang terdiri dari banyak orang. Itu paling berlaku di bidang kepenulisan, yang mutu produk hasilnya sangat ditentukan oleh individu penulisnya, bukan dari jumlah atau banyaknya penulis yang dilibatkan. Kualitas hasil penulisan sangat tergantung kompetensi indivindu dari penulisnya sendiri.

Latar belakang karakter saya adalah introvet, oleh sebab itu saya tidak terlalu tertarik ikut berorganisasi.  Sisi lain, tuntutan segi profesi tidak mengharuskan karena yang penting adalah kemandirian. Maka keduanya, yaitu [1] profesi yang dipilih; dan [2] karakter pribadi, menjadi terkesan cocok (matching). Itu mungkin pula yang mengakibatkan saya bisa berkembang dengan baik. Kesendirian yang dinikmati bahkan menghasilkan dunia imajinasi yang begitu luas dan dalam, sebagaimana terlihat pada buku-buku karanganku, yang umumnya tebal-tebal. Berbobot  begitu katanya. Ini buku-buku yang aku maksud, klik saja jika ingin membacanya.

Oleh sebab itu terasa aneh juga jika threat in iakan membahas tentang PERKUMPULAN. Terkesan tidak nyambung dengan introduction yang aku sampaikan, yang membanggakan akan kemandirian. Koq bisa.  <>.

Baca lebih lanjut

curhat mahasiswa

Lama sudah saya tidak menyentuh blog ini, tetapi itu tidak berarti saya tidak suka menulis. Bukan itu penyebabnya,  waktunya saja yang ternyata sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya tulisan lain yang harus dibuat, yang hasilnya dianggap lebih nyata atau realistis bagi seorang dosen.

Apa itu ?

Menulis di blog, apresiasinya adalah dari pembaca. Jika pembaca suka maka penulis juga suka, kalaupun ternyata tidak ada yang membaca. Anggap saja tulisan blog sekedar curhat penulisnya.

Hal berbeda jika menulis untuk jurnal ilmiah international. Ini dampaknya nyata, karena bisa membawa penulisnya ke jenjang Profesor dan diakui oleh komunitasnya. Juga menulis untuk presentasi atau workshop. Itu jelas ada pendengar (peserta), ada panggung dan sekaligus ada amplopnya. 😀

Baca lebih lanjut

My ASCE Paper Has Been Published

Kemarin malam menerima email dari ASCE Publisher. Isinya menyatakan bahwa paper saya, yang versi Indonesia-nya dipresentasikan di Seminar HAKI 2018 kemarin, telah terbit dan dapat diakses di seluruh dunia. Rasanya lega dan senang, meskipun paper tersebut hanya terdiri dari 12 halaman saja, ternyata kesenangannya sama seperti ketika launching buku ke-9 saya, yang hampir 1000 halaman tersebut. Jumlah halaman ternyata tidak bisa dijadikan ukuran, mutu suatu publikasi.

Ini linknya : https://ascelibrary.org/doi/abs/10.1061/%28ASCE%29SC.1943-5576.0000392

Halaman depannya adalah sebagai berikut :

halaman-depan
Gambar 1. Halaman depan paper ASCE saya

Baca lebih lanjut

jadwal Seminar HAKI 2018

Kira-kira dua minggu lagi dari sekarang, tepatnya besok pada hari Selasa tanggal 28 Agustus 2018 selama dua hari berturut-turut akan diadakan Pameran dan Seminar HAKI 2018 bertempat di Hotel Borobodur, Jakarta.  Informasi lebih lengkap, langsung baca saja di website HAKI di http://haki.or.id/.

HAKI atau Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia adalah asosiasi profesi ahli konstruksi, umumnya terdiri dari para insinyur teknik sipil di bidang kontruksi bangunan gedung dan yang terkait. Anggotanya banyak yang bekerja di perusahaan developer, kontraktor, konsultan rekayasa, akademisi dan supplier bahan bangunan atau yang semacamnya.

Keistimewaan dari acara ini adalah biasa dihadiri oleh sekitar 500 – 600 peserta, dan semuanya adalah profesional karena untuk ikut acara ini relatif mahal, yaitu sekitar 1.5 – 1.75 juta rupiah. Itu menyebabkan akan sedikit dihadiri oleh mahasiswa S1. Adapun mahasiswa S2 karena biasanya telah bekerja, maka sering-sering juga dijumpai. Karena HAKI juga mengeluarkan SKA atau sertifikasi keahlian untuk bekerja profesional, maka hanya orang-orang yang bekerja secara profesional di bidang konstruksi saja yang menyempatkan diri untuk hadir. Jadi yang hadir sangat selektif, yaitu para penggiat konstruksi yang aktif. Itulah makanya para usahawan di bidang bahan dan alat-alat konstruksi, melihat acara itu sebagai kesempatan berharga untuk berpartisipasi, mengenalkan produk-produk mereka ke para peserta acara. Itulah makanya, ada acara pameran di sana.

Adanya para profesional yang akan berkumpul, juga pameran yang meriah, menyebabkan acara tanggal 28 dan 29 Agustus 2018 besok pastilah telah ditunggu-tunggu oleh kita semua, para penggiat di bidang konstruksi. Maklum, selain menjadi acara temu ilmiah, event tersebut juga adalah ajang reuni tahunan, bertemu teman-teman lama untuk berbagi informasi terbaru. Network gitu lho.

Baca lebih lanjut

Ngajak berkelahi ?

Jokowi adalah trendsetter, sehingga setiap tindakan dan kata yang diucapkannya, jadi berita. Tidak itu saja, bahkan tanggapan yang muncul diberitakan oleh media. Ini misalnya, penggalan pidatonya di depan rapat umum barisan relawan di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8/2016) :

Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani.” kata Jokowi.
[Sumber : nasional.kompas.com]

Menurutku, itu kalimat biasa-biasa saja, tidak istimewa. Tetapi karena yang mengucapkannya adalah pak Jokowi, maka muncullah berita-berita heboh, dua diantaranya adalah sebagai berikut :

Coba kalau yang mengucapkan bukan pak Jokowi, maka tentunya akan hilang tidak berbekas. Karena itu adalah kata-kata pak Jokowi sebagai trendsetter makanya isi kalimat untuk setiap kata akan dicerna habis-habis. Karena ada kata “berantem” pula maka kata itu dijadikan objek oleh pihak yang suka nyinyir untuk diarti-negatifkan.

Berantem khan memang tidak baik pak Wir !

Berantem atau adu fisik adalah sesuatu yang tidak baik. Itu betul, kalau hanya ditinjau satu kata, tetapi tentu saja untuk mendapat makna yang tepat, maka tentu saja tidak bisa dilihat hanya sepotong-sepotong. Harus dibaca secara keseluruhan untuk mendapatkan konteks makna yang tepat. Itu tentu sudah diketahui oeh pak RG, yang katanya berlatar belakang akademisi.

Sebagai orang Jawa yang lahir di Yogyakarta, saya dapat memahami konteks ucapan pak Jokowi. Kesan saya, itu adalah kalimat standar sebagaimana orang tua umumnya memberi nasehat pada anak-anaknya, yaitu “berbuat baik bukan karena takut, tetapi karena ingin berbuat baik“. Tahu sendiri khan, di Jawa, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya maka sikap sopan-santun kepada anak-anak muda selalu diajarkan, misalnya kebiasaan berjalan merunduk di depan orang tua yang sedang duduk (jawa : jalan munduk-munduk). Itu adalah bentuk bagaimana anak muda menghormati orang tua atau orang asing. Sikap itu bagi sebagian orang, yang memang tidak biasa melihat budaya Jawa, akan membayangkan seperti sikap jongos berjalan di depan tuannya. Tampak fisik dari luarnya sama, tetapi maksud yang sesungguhnya keduanya berbeda.

Dengan demikian, kata “Tapi, kalau diajak berantem juga berani“, ibarat nasehat orang tua ke anaknya agar cara menghormat dalam budaya Jawa itu (berjalan merunduk) tidak diartikan sebagai suatu bentuk ketakutan, sebagaimana jongos kepada tuannya.

Emangnya berani berantem betulan pak ?

Pertanyaan di atas timbul tentunya karena menemukan kesan bahwa orang Jawa (Jogja / Solo dan sekitarnya) itu klemak-klemek, dan halus tata bahasanya. Berbeda sekali dengan preman yang nampak di film-film bioskop, bahwa yang jago berkelahi adalah orang yang berwajah garang dan kasar. Itu artinya, orang yang berani berantem identik dengan wajah garang. I ya khan ?

Jangan salah, berani berantem atau tidak kadang tidak ada hubungannya dengan wajah garang atau lembut. Lihat saja dengan jago silat film mandarin, banyak jago silat yang ahli berantem berwajah klimis (tanpa kumis) dan nampak lembut. Mereka berani berantem karena terlatih, atau tepatnya punya ilmu beladiri.

Ngomong-ngomong tentang ilmu beladiri, maka kota-kota di selatan Jawa tengah (Jogja dan Solo serta sekitarnya) adalah gudangnya. Saya termasuk yang tidak terlalu mendalami ilmu ini, tetapi waktu kecil atau masa sekolah dulu, sering sekali mendengar kabar tentang aktifitas organisasi beladiri di Yogyakarta, baik yang resmi (seperti perguruan Tapak Suci atau Merpati Putih) dan yang nggak resmi, yang hanya dikenal berdasarkan alur guru silat pembimbingnya. Kalau nggak percaya, coba saja sekali-kali bermain di kota Jogja menjelang malam 1 Suro. Jika keluar malam hari, khususnya di jalan-jalan menuju pantai selatan, maka akan banyak bertemu dengan barisan anak-anak muda yang berjalan kaki malam hari ke arah selatan (pantai).  Mereka sedang menjalankan ritual tradisionil yang banyak dilakukan oleh para pelibat ilmu beladiri di kota tersebut.

Oleh sebab itu, bagi warga kota Jogja – Solo dan sekitarnya, adalah wajar menjumpai banyak anak-anak mudanya belajar ilmu bela diri. Tahu khan, yang namanya ilmu bela diri adalah belajar bagaimana agar tidak kalah dan terluka ketika harus berantem.  Nah pada konteks seperti itulah, orang tua yang mempunyai anak yang perlu belajar tata krama budaya Jawa dan di sisi lainnya adalah pelajar seni bela-diri, maka nasehat sebagaimana yang diungkapkan oleh pak Jokowi adalah sangat relevan. Itu nasehat yang biasa yang dijumpai di daerah tersebut.

Jadi komentar-komentar dari pak Fahri dan Rocky itu nggak perlu ditanggapi ya pak ?

Ya gimana lagi, kalau sudah dari sononya apriori, maka ya begitulah nggak perlu ditanggapi, karena semakin mendapat tanggapan mereka akan senang, dianggapnya selevel dengan pak Jokowi. Btw, adanya tanggapan-tanggapan yang heboh sebenarnya hanya menunjukkan bahwa pak Jokowi saat ini adalah trendsetter dan mempunyai pengaruh kuat di masyarakat.  Wajar saja jika beliau perlu diberi kesempatan dua periode jabatan. Buat siapa, buat kita semua agar NKRI jaya.