UTS Str Baja II – Okt. 2020

Hari ini periksa jawaban murid yang ambil mata kuliah Struktur Baja 2, Semester Ganjil 2020/2021 di Progdi Teknik Sipil UPH. Ini sudah UTS ke dua kalinya yang benar-benar pakai sistem on-line. Nggak pernah ketemu langsung, dan sudah tidak ada lagi kertas yang bertumpuk-tumpuk seperti dulu. Hasil pembelajaran sekarang semua tersimpan di data Cloud. Aksesnya dari Ipad dan corat-coretnya pakai digital Pencil. Sudah benar-benar paperless.

Lanjutkan membaca “UTS Str Baja II – Okt. 2020”

intro – tentang space frame

Catatan : Ini baru intro dari tulisan yang sedang aku susun. Ada seorang teman yang mengasuh seminar-seminar teknik berbayar, yang memintaku membawakan topik berjudul “Metode Konstruksi Struktur Baja Space Frame“. Katanya saya punya kompetensi untuk membawakanya, tidak sekedar secara akademis, tetapi juga ada pasar yang mau membelinya. Lho koq bisa, menurut temanku alasannya adalah [1] adanya buku yang kutulis, ini ada reviewnya juga a, b, [2] pengalamanku sebagai anggota K2K PUPR yang mengevaluasi banyak metode konstruksi dari para kontraktor infrastruktur di negeri ini, dan [3] karena kegiatanku tempo hari terkait dua proyek dome dengan konstruksi baja, yaitu di Jateng (desain) dan Papua (konstruksi). Hebat juga temanku tersebut, maklum banyak acara-acara seminar yang diselenggarakannya pada sukses, padahal biayanya saja mahal. Jauh dibanding acara seminar akademis yang host-nya perguruan tinggi. Saya juga senang, karena kalau mengisi acaranya, waktunya tidak dibatasi hanya 15 menit saja. Tahu khan, bisa berbagi apa kalau hanya 15 menit. Itu sih sekedar presentasi untuk dapat KUM saja, tidak untuk berbagi ilmu. Padahal jujur saja tulisan dengan judul tersebut sangat menantang. Maklum jenis struktur yang dibahas relatif jarang ada. Oleh sebab itu untuk menuliskannya saya perlu membaca banyak literatur asing dari jurnal-jurnal ilmiah dibanding berdasarkan pengalaman di lapangan. Selain itu juga berarti harus mulai mengasah kembali kemampuan berimajinasi sebagai penulis. Ini intro yang telah aku buat, selamat membaca.

Lanjutkan membaca “intro – tentang space frame”

menyambut Kurikulum Kampus Merdeka

Selamat pagi semua, delapan hari menjelang HUT kemerdekaan ke-75 Indonesia. Merdeka, sekali merdeka tetap merdeka !

Mas Mendikbud membuat keputusan yang membuat “heboh” para pengelola perguruan tinggi, yaitu ide Kurikulum Kampus Merdeka (ini sudah banyak yang menanggapi, ini ada panduannya oleh Unila, silahkan baca untuk dipahami). Pembahasan tentang ini adalah sangat relevan dengan hari kemerdekaan Indonesia ke-75 ini. Kita perlu meyakini apakah keputusan dengan kata merdeka tersebut adalah keputusan strategis bagi kemajuan bangsa ini atau bahkan ternyata sebaliknya.

Dalam membuat ulasan ini tentu perlu dilihat latar belakang pembahas. Beda latar belakang tentu akan berbeda pendapat. Jujur, saya ini tipe pendidik, yang meskipun dianggap senior tetapi pengalamannya di bidang birokrasi kampus adalah tidak banyak, tidak ada yang bisa dibanggakan. Saya ini lebih berpengalaman pada profesionalitas dalam penerapan ilmu dari mata kuliah yang diampunya. Saya ini lebih fokus atau tepatnya lebih senang untuk mengembangkan content mata-kuliah tersebut sehingga bisa dijadikan rujukan. Itu sebabnya dalam mengajar, saya jarang (kecuali pertama kali) untuk memakai materi orang lain. Saya punya keyakinan bahwa materi kuliah yang saya buat, adalah yang terbaik.

Oleh karena alasan itu pula, saya selalu menuliskannya jadi buku ajar, yang bersifat publik. Semua orang bisa mengakses dan mengevaluasinya. Itu mungkin yang menyebabkan saya banyak terlibat dengan dunia praktis konstruksi. Itu juga alasan, mengapa saya tidak punya banyak dana penelitian hibah DIKTI, yang menurut saya banyak birokrasi dan dananya terbatas. Penelitian saya lebih banyak memanfaatkan problem aktual lapangan sehingga bisa dikerjakan dan dibiayai oleh praktisi. Dari situ akhirnya bisa diangkat menjadi materi tulisan di jurnal international. Hal itu yang mendukung nilai kum saya sehingga bisa meraih gelar jabatan tertinggi di dunia akademisi, yaitu GB seperti sekarang ini.

Lanjutkan membaca “menyambut Kurikulum Kampus Merdeka”

berinovasi atau hilang

Istilah inovasi jika mengacu wikipedia, yaitu reka baru, ditujukan pada proses atau sistem baru yang bisa memberi nilai tambah. Pendapat saya, istilah tersebut juga cocok diaplikasikan pada cara kita bekerja. Tentu tidak semua pekerjaan, hanya cocok untuk pekerja profesional yang mandiri, yang bekerja mengandalkan otak (kompetensi keilmuan). Dosen pada batasan tertentu bisa juga disebut profesional mandiri, tentunya selama memenuhi kewajiban dari kampusnya.

Note : saya punya teman dosen yang sangat inovasi. Tetapi karena inovasinya tersebut yang bersangkutan sering meninggalkan kampus dan tidak mengajar. Akibatnya yang bersangkutan harus berhenti, tetapi karena tetap berinovasi maka tetaplah jadi pengusaha sukses. Itu artinya karena inovasi maka tetap eksis dan tidak hilang. Maklum, dosen pada titik tertentu masih juga seperti pegawai. Harus tunduk pada peraturan yang berlaku, termasuk juga para Profesor.

Dosen bisa disebut profesional mandiri jika apa-apa yang diajarkannya adalah buatannya sendiri, dan hanya mengajarkan hal-hal yang jadi kompetensinya. Maklum bisa saja seorang dosen mengajarkan ilmu yang bukan topik kompetensinya, hanya karena ketersediaan slot mengajar. Kalau kondisinya seperti itu, yang bersangkutan hanya dosen atau staff pengajar, yang dilakukan sekedar agar rutin dapat gaji bulanan.

Nah dalam era pasca covid-19, dimana proses mengajar-belajar akan lebih banyak tergantung pada teknologi, akibatnya kebutuhan tenaga pengajar akan berkurang. Media-media pembelajaran akan banyak digantikan oleh content-content pembelajaran digital, yang bisa dipilih dari yang terbaik dari berbagai content yang ada. Akibatnya dosen yang sekedar mengandalkan ketrampilan mengajar, maka sedikit demi sedikit tentunya akan tersisih (hilang).

Cara sederhana untuk melihat bahwa hal itu akan terjadi adalah sangat gampang. Lihat saja sekarang ini, adanya peralihan media pembelajaran dari off-line ke on-line maka banyak dosen-dosen senior (tua) yang “kesulitan”. Padahal dosen-dosen seperti itu di hirarki administrasi pendidikan mempunyai gaji lebih tinggi dari dosen-dosen yunior (maklum karena lama pengabdian di institusi). Akibat adanya kesulitan beralih ke on-line, kedepannya tentu pihak kampus akan lebih mudah mengangkat dosen muda saja, yang tentunya gajinya juga bisa lebih “murah”. Ini khan keputusan yang rasional dari pengurus kampus.

Dosen-dosen senior akan tetap eksis jika yang bersangkutan tidak sekedar mengandalkan segi pengajaran saja. Dosen-dosen senior harus unggul dalam memproduksi content-content khusus, yang dalam era on-line ini tetap diperlukan. Apalagi dengan semakin kuatnya undang-undang hak-cipta bahwa karya-karya unik orang tidak boleh diambil sembarangan.

Agar mampu menghasilkan content-content khusus maka inovasi adalah faktor yang sangat penting. Jika tidak maka siap-siap saja untuk hilang. Kalau tidak percaya maka lihat saja video berikut, tentang perlunya inovasi agar perusahaan-perusahan tetap bertahan. Jika tidak, maka betapapun besar dan terkenalnya perusahaan maka akhirnya bisa hilang dan digantikan yang lain.

Jika perusahaan yang begitu besar dan terkenal di seluruh dunia saja bisa hilang, maka tentunya pribadi-pribadi yang lemah seperti kita akan lebih mudah terjadi untuk hilang tak berbekas.

Lanjutkan membaca “berinovasi atau hilang”

atap kubah baja terbesar di timur

Struktur atap yang tentunya hanya digunakan untuk pelindung terhadap hujan dan angin, dan bukan untuk dilewati, maka berat sendirinya akan lebih dominan dibanding beban hidup rencana (hujan atau angin atau manusia pekerja). Untuk kondisi seperti itu maka jenis bahan material yang tepat adalah bahan material yang punya ratio kekuatan dibanding berat, yang terbesar. Material apa itu. Ini ada data dari internet kelihatannya bisa digunakan.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa beton hanya 15% efektifitasnya dibanding baja. Juga diketahui bahwa kayu dan bambu punya ratio yang lebih baik dari beton. Hanya saja untuk ke dua material tersebut. isue konsistensi mutu dan kekuatan absolut yang memang lebih kecil dibanding baja, menyebabkan bukan pilihan yang baik. Oleh sebab itu untuk konstruksi besar, yang karakternya didominasi oleh berat sendiri, maka material baja adalah satu-satunya material yang paling rasional dipilih. Itulah makanya ilmu struktur baja banyak dibutuhkan pada proyek yang besar-besar. 🙂

Lanjutkan membaca “atap kubah baja terbesar di timur”
bedah buku Vazirani (2005)

bedah buku Vazirani (2005)

Prof V.N Vazirani dari India sangat terkenal dengan buku-buku ilmu strukturnya. Waktu mahasiswa, saya mengkoleksi buku beliau yang bersampul merah, yaitu “Analysis of Structures”. Waktu itu beliau menulis bersama Dr. Ratvani. Dari sana saya merasa bahwa ilmu saya bisa berkembang, yang akhirnya mengantar saya bisa mencapai level GB seperti sekarang ini. Jika 30 tahun yang lalu hasil karya Prof Vazirani sudah menjadi rujukan international maka tentunya jika ada edisi baru karangan beliau, tentunya sangat menarik untuk dibahas.

Nyatanya, dari searching di internet saya menemukan buku beliau terbitan tahun 2005. Jika tertarik ini link-nya. Dari tahun edisinya jelas relatif lebih baru dari yang aku punya dulu. Bahkan sekarang pengarangnya bertambah, yaitu ada tiga, Prof Vazirani, Dr. Ratvani dan Dr. Duggal. Judulnya ada tambahan Vol. II. Wah bertambah tebal saja isinya, sampai setebal 1380 halaman. Lebih tebal dari buku saya, padahal rasanya buku saya itu sudah paling tebal dari buku-buku serupa yang berbahasa Indonesia. Ini sampul buku Prof Vazirani yang aku maksud.

Sampul Buku Prof Vazirani (2005)

Setelah melihat isinya, ternyata sebagian masih familiar. Ternyata buku di atas adalah pengembangan dari bukunya yang terdahulu. Kalau dari jumlah halaman maka jelas memang lebih tebal. Pasti ada yang baru, tetapi tidak semua.

Ternyata mencari content yang baru itu memang tidak mudah. Sama seperti buku struktur baja yang terbit tahun 2015, yang pertama kali. Itu isinya sebagian besar masih dipakai ketika diterbitkan lagi tahun 2016. Hanya lebih tebal saja, persis sekali dengan bukunya Prof. Vazirani di atas. Nggak salah juga dong kalau begitu.

Lanjutkan membaca “bedah buku Vazirani (2005)”

New normal, dalam prespektif pribadi

Kehidupan manusia memang unik, tidak mudah diprediksi. Meskipun telah dilakukan banyak penelitian, ditemukan begitu banyak ilmu pengetahuan di berbagai jurnal ilmiah atau buku untuk bisa dipelajari, juga banyaknya teknologi baru yang muncul, tetapi menurutku : masa depan masih sesuatu yang belum bisa dipastikan dengan baik. Cuma bisa diduga, bisa ya tetapi bisa juga tidak.

Lanjutkan membaca “New normal, dalam prespektif pribadi”

Diskusi tentang R (gempa)

Ilmu struktur tahan gempa adalah salah satu ilmu penting bagi insinyur teknik sipil, khususnya yang mendalami bidang rekayasa struktur (structural engineering). Penting, karena dengan ilmu tersebut seorang profesional akan “didengar dan diperhatikan”. Maklum setiap keputusan berdasarkan ilmu tersebut dapat membuat orang lain harus mengikuti ketentuan yang dibuat. Akibatnya akan berdampak penambahan kerja atau meningkatnya biaya. Oleh sebab itu, proyek yang berisiko tinggi terhadap gempa, harus menunggu petunjuk dari empunya ilmu tersebut. Jika tidak, maka desain yang sudah jadi, bisa-bisa tidak lolos ujian sidang evaluasi para ahli (di Jakarta TPKB misalnya).

Karakter ilmu struktur tahan gempa agak berbeda dibanding ilmu stabilitas struktur. Dampak penggunaan ilmu struktur tahan gempa tidak secara langsung akan terlihat dengan cepat. Maklum gempa yang besarnya sesuai rencana, tidak setiap saat terjadi. Tempatnya juga belum tentu di lokasi bangunan yang dibangun. Ini berbeda dari ilmu stabilitas struktur, yang dapat mendeteksi risiko terjadinya keruntuhan struktur akibat pertambatan lateral yang tidak memadai. Jenis keruntuhannya bisa terjadi kapan saja, tidak perlu menunggu sampai ada gempa atau angin kencang. Ilmu stabilitas struktur banyak diperlukan pada struktur baja yang umumnya langsing sehingga menjadi ilmu standar bagi ahli struktur baja.

Lanjutkan membaca “Diskusi tentang R (gempa)”