keluh kesah dosen

Dosen mengeluh, bolehkah ?

Mengeluh itu menyampaikan beban batin. Jadi ketika mengeluh, rasanya lega. Hanya saja dengan mengeluh, kondisinya belum tentu bertambah baik. Maklum, mengeluh itu bukan tindakan yang nyata. Akibat mengeluh, ada kesan bahwa yang mengeluh itu pasti orang yang merasa kecewa akan sesuatu. Kecewa adalah sesuatu yang tidak enak di hati. Itu membuat tidak bahagia. Oleh sebab itu, kalau mengeluh pilih-pilihlah kepada siapa orangnya, agar ada bantuan, minimal arahan yang lebih baik agar dapat dilakukan tindakan. Jangan sembarangan mengeluh pada orang. Jika salah, maka bukannya dapat empati, atau nasehat agar tuntas masalahnya, tetapi nyinyiran yang membuat tambah kecewa.

Kesimpulannya, sembarangan mengeluh pada orang akan membuat orang tidak bahagia. Itulah mengapa banyak nasehat mengatakan agar hidup itu selalu bersyukur.

Bapak mengeluh apa ?

Itu, saya koq sebel kalau membaca tulisan atau komentar yang ditulis di grup dosen, khususnya di Facebook. Sebagian besar isinya koq mengeluh. Saya berpikir, ini grup dosen atau grup buruh. Dosen itu jelas berbeda dari buruh. Menurut saya, menjadi dosen adalah pilihan profesi bebas dari seseorang yang mandiri dan istimewa, yang punya pikiran bebas dan merdeka dalam menentukan kehidupannya agar berbahagia. Berbeda dengan buruh, yang karena kebutuhan hidupnya maka harus cari pekerjaan (apa saja) agar bisa bertahan hidup.

Lanjutkan membaca “keluh kesah dosen”

intro – tentang space frame

Catatan : Ini baru intro dari tulisan yang sedang aku susun. Ada seorang teman yang mengasuh seminar-seminar teknik berbayar, yang memintaku membawakan topik berjudul “Metode Konstruksi Struktur Baja Space Frame“. Katanya saya punya kompetensi untuk membawakanya, tidak sekedar secara akademis, tetapi juga ada pasar yang mau membelinya. Lho koq bisa, menurut temanku alasannya adalah [1] adanya buku yang kutulis, ini ada reviewnya juga a, b, [2] pengalamanku sebagai anggota K2K PUPR yang mengevaluasi banyak metode konstruksi dari para kontraktor infrastruktur di negeri ini, dan [3] karena kegiatanku tempo hari terkait dua proyek dome dengan konstruksi baja, yaitu di Jateng (desain) dan Papua (konstruksi). Hebat juga temanku tersebut, maklum banyak acara-acara seminar yang diselenggarakannya pada sukses, padahal biayanya saja mahal. Jauh dibanding acara seminar akademis yang host-nya perguruan tinggi. Saya juga senang, karena kalau mengisi acaranya, waktunya tidak dibatasi hanya 15 menit saja. Tahu khan, bisa berbagi apa kalau hanya 15 menit. Itu sih sekedar presentasi untuk dapat KUM saja, tidak untuk berbagi ilmu. Padahal jujur saja tulisan dengan judul tersebut sangat menantang. Maklum jenis struktur yang dibahas relatif jarang ada. Oleh sebab itu untuk menuliskannya saya perlu membaca banyak literatur asing dari jurnal-jurnal ilmiah dibanding berdasarkan pengalaman di lapangan. Selain itu juga berarti harus mulai mengasah kembali kemampuan berimajinasi sebagai penulis. Ini intro yang telah aku buat, selamat membaca.

Lanjutkan membaca “intro – tentang space frame”

atap kubah baja terbesar di timur

Struktur atap yang tentunya hanya digunakan untuk pelindung terhadap hujan dan angin, dan bukan untuk dilewati, maka berat sendirinya akan lebih dominan dibanding beban hidup rencana (hujan atau angin atau manusia pekerja). Untuk kondisi seperti itu maka jenis bahan material yang tepat adalah bahan material yang punya ratio kekuatan dibanding berat, yang terbesar. Material apa itu. Ini ada data dari internet kelihatannya bisa digunakan.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa beton hanya 15% efektifitasnya dibanding baja. Juga diketahui bahwa kayu dan bambu punya ratio yang lebih baik dari beton. Hanya saja untuk ke dua material tersebut. isue konsistensi mutu dan kekuatan absolut yang memang lebih kecil dibanding baja, menyebabkan bukan pilihan yang baik. Oleh sebab itu untuk konstruksi besar, yang karakternya didominasi oleh berat sendiri, maka material baja adalah satu-satunya material yang paling rasional dipilih. Itulah makanya ilmu struktur baja banyak dibutuhkan pada proyek yang besar-besar. 🙂

Lanjutkan membaca “atap kubah baja terbesar di timur”

Kaleidoskop 2018

Kehidupan berjalan begitu rupa, waktu berganti dengan cepat. Mengenang dan menuliskannya adalah salah satu upaya untuk mensyukurinya. Itulah motivasi utama mengapa Kaleidoskop 2018 ini dibuat, yang berisi semua catatan kegiatan yang terdokumentasi di 2018. Siapa tahu tulisan ini dapat dijadikan inspirasi bagi teman-teman pembaca yang masih muda. Jika ada yang baik, silahkan ditiru, adapun yang buruk, lupakan saja.

Pada saat Kaleidoskop 2018 ini dibuat, usiaku telah melewati 1/2 abad. Usia yang sebagian besar orang dianggap telah masuk pada ranah purna tugas atau pensiun. Adapun di tahun tersebut, dalam rangka menunjang akreditasi kampus maka ada program percepatan jumlah Guru Besar. Saya salah satu yang dipilih masuk dalam program tersebut. Akibatnya ada harapan untuk segera mempersiapkan kelengkapan DIKTI agar dapat segera diuruskan. Jadi tahun 2018 ini juga krusial bagi karirku nanti. Jika program GB sukses, maka usia pensiunku akan meningkat dari 60 ke 65. Semoga Tuhan berkenan atas semua rencana ini.

Materi Kaleidoskop ini akan saya susun secara kronologis, diurutkan dari awal (Januari 2018 – Desember 2018). Isinya tidak hanya kegiatan profesional tetapi juga warna-warni yang terdokumentasi.

Lanjutkan membaca “Kaleidoskop 2018”

karir profesional insinyur vs dokter

Bagaimana Bapak dulu memilih dan menentukan karir pekerjaan sehingga bisa menjadi dosen seperti sekarang ini ?“. Demikian awal mula percakapanku dengan anak muda yang baru saja lulus dari uji kompetensi profesi dokter.  Simpel, tetapi ternyata bisa membuka mata bahwa jalan karir pekerjaan seseorang itu berbeda-beda, tergantung profesinya.

Sarjana teknik sipil (saya tentunya) dan sarjana kedokteran (anak muda yang bertanya) ternyata berbeda dalam menempuh perjalanan karirnya. Bagaimana tidak, sarjana teknik sipil tidak dipaksa untuk menempuh ujian kompetensi sebelum masuk ke dunia kerja. Setelah wisuda, mereka bisa langsung melamar kerja kemana-mana, bahkan bukan di bidang teknik sekalipun (di bank misalnya). Adapun sarjana kedokteran (gelar S. Ked) meskipun sudah diwisuda, tetapi merasa belum selesai kuliah, masih masuk program kelas praktik dan belum merasa tuntas jika belum lulus uji kompetensi dokter-nya.  Perjuangan mereka memang lebih lama dibanding sarjana yang lain. Menurut cerita anak muda tersebut, teman-teman SMA-nya yang sekelas yang bukan mengambil jurusan kedokteran bahkan sudah ada yang terjun politik (jadi anggota partai) dan telah mencantumkan gelar S2-nya. Maklum di luar negeri khan ada program S2 yang hanya setahun tanpa thesis. Intinya, anak muda itu merasa karirnya untuk menjadi dokter terkesan lama sekali.

engineer-doctor

Lanjutkan membaca “karir profesional insinyur vs dokter”

My ASCE Paper Has Been Published

Kemarin malam menerima email dari ASCE Publisher. Isinya menyatakan bahwa paper saya, yang versi Indonesia-nya dipresentasikan di Seminar HAKI 2018 kemarin, telah terbit dan dapat diakses di seluruh dunia. Rasanya lega dan senang, meskipun paper tersebut hanya terdiri dari 12 halaman saja, ternyata kesenangannya sama seperti ketika launching buku ke-9 saya, yang hampir 1000 halaman tersebut. Jumlah halaman ternyata tidak bisa dijadikan ukuran, mutu suatu publikasi.

Ini linknya : https://ascelibrary.org/doi/abs/10.1061/%28ASCE%29SC.1943-5576.0000392

Halaman depannya adalah sebagai berikut :

halaman-depan
Gambar 1. Halaman depan paper ASCE saya

Lanjutkan membaca “My ASCE Paper Has Been Published”

robohnya selasar BEI

Berita tentang robohnya struktur lantai selasar gedung BEI, menjalar cepat via WA tadi siang. Ada yang melalui grup profesional, maupun grup awam, berita dari ibu-ibu perumahan yang dishare istri saya. Jadi berita ini mestinya sudah menjadi rahasia umum. Ini ada sedikit foto yang aku dapat via internet.

korban-reruntuhan-bei-di-evakuasi-ke-rs-mintoharjo-hqgsnMqUAi
Reruntuhan selasar di gedung BEI (sumber gambar : Oke Zone)

Berita-berita tentang musibah tersebut langsung bertebaran. Ini saya coba tampilkan beberapa link hasil om Google, siapa tahu anda tertarik :

Menarik sekali bahwa ini terjadi pada bangunan gedung di Jakarta, yang notabene adalah ibukota negara kita, Indonesia. Pantas saja tadi siang sudah ada komentar khusus dari pakar kita yang hidup di negeri seberang.

Lanjutkan membaca “robohnya selasar BEI”

stand buku di seminar HAKI 2017

Selain sebagai seorang pengajar atau kerennya Dosen maka di sisi lain, saya adalah seorang Penulis. Bagi yang sering mengunjungi blog ini, tentu tidak perlu jelaskan lagi. Aku sering menulis rencana buku-buku yang akan diterbitkan. Sayang, tahun ini belum ada buku yang baru lagi. Di luar pembaca blog ini, memang banyak yang tidak tahu. Maklum buku-buku karanganku tidak dijual di toko-toko buku yang biasa. Adanya hanya di toko buku on-line saja, di sini.

Lanjutkan membaca “stand buku di seminar HAKI 2017”

Berita heboh – publikasi ilmiah RI

Ini ada berita yang bikin heboh grup WA teman-teman di fakultasku. Dari kantor berita on-line, ini judul lengkapnya.

Edisi 07-08-2017
Publikasi Ilmiah RI Tiga Besar Dunia
http://koran-sindo.com/page/news/2017-08-07/0/8

Tahu sendiri khan, yang namanya teman-teman fakultas, itu berarti anggota-anggotanya adalah dosen. Bagi seorang dosen, yang namanya publikasi ilmiah adalah sesuatu yang penting. Bahkan bisa disebut penting sekali. Maklum dari publikasi ilmiah tersebut seorang dosen akan berbeda posisinya dari dosen yang lain. Bagi dosen, publikasi ilmiah berarti suatu kum penilaian. Bila mendapatkan kum yang tepat maka jabatan profesor bukanlah sesuatu impian lagi, karena memang begitu persyaratannya. Jadi intinya, dosen dan publikasi ilmiah adalah saling terkait.

Lanjutkan membaca “Berita heboh – publikasi ilmiah RI”