stand buku di seminar HAKI 2017

Selain sebagai seorang pengajar atau kerennya Dosen maka di sisi lain, saya adalah seorang Penulis. Bagi yang sering mengunjungi blog ini, tentu tidak perlu jelaskan lagi. Aku sering menulis rencana buku-buku yang akan diterbitkan. Sayang, tahun ini belum ada buku yang baru lagi. Di luar pembaca blog ini, memang banyak yang tidak tahu. Maklum buku-buku karanganku tidak dijual di toko-toko buku yang biasa. Adanya hanya di toko buku on-line saja, di sini.

Baca lebih lanjut

Berita heboh – publikasi ilmiah RI

Ini ada berita yang bikin heboh grup WA teman-teman di fakultasku. Dari kantor berita on-line, ini judul lengkapnya.

Edisi 07-08-2017
Publikasi Ilmiah RI Tiga Besar Dunia
http://koran-sindo.com/page/news/2017-08-07/0/8

Tahu sendiri khan, yang namanya teman-teman fakultas, itu berarti anggota-anggotanya adalah dosen. Bagi seorang dosen, yang namanya publikasi ilmiah adalah sesuatu yang penting. Bahkan bisa disebut penting sekali. Maklum dari publikasi ilmiah tersebut seorang dosen akan berbeda posisinya dari dosen yang lain. Bagi dosen, publikasi ilmiah berarti suatu kum penilaian. Bila mendapatkan kum yang tepat maka jabatan profesor bukanlah sesuatu impian lagi, karena memang begitu persyaratannya. Jadi intinya, dosen dan publikasi ilmiah adalah saling terkait.

Baca lebih lanjut

seminar HAKI Komda Sumut, Medan – 2017

Risih juga mendengar gonjang ganjing para politikus, apalagi itu pak mantan dengan komentar-komentarnya. Untuk komentar yang kubaca, di awalnya sih seperti ada kesan sebagai seorang penasehat lihai, yaitu memberi petunjuk sana-sini.  Padahal jika dipikir-pikir, dulu saja saat menjabat tidak banyak yang dapat dibanggakan.  Eh akhir-akhir ini, pak mantan koq komentarnya menjadi beda. Mungkin apa karena nasehat-nasehat yang disampaikan tidak dianggap ya . . . . . . koq jadi seperti kritik gitu lho.   😀

Iya betul pak, “tidak dianggap” itu masalahnya !

Wooo, segitunya ya. Tapi memang betul juga sih. Tidak dianggap itu adalah masalah besar bagi orang yang suka ngasih nasehat. Jujur saja, orang yang memberi nasehat umumnya berpikir dianya itu lebih baik (unggul) lho dari orang yang diberi nasehat. Selanjutnya jika yang diberi nasehat itu mendengarkan dan melaksanakan, apalagi bisa membuktikan bahwa yang nasehatnya manjur, misalnya masalahnya jadi selesai. Maka itu akan memberikan kepuasan bagi sang penasehat. Puas karena apa yang diberikannya dalam bentuk nasehat itu terbukti “kebenarannya” dan yang tak kalah pentingnya bahwa itu adalah pengakuan bahwa sang pemberi nasehat memang oye. Jika karena merasa “dianggap” dapat memberikan kepuasan, kelegaan maka jika “tidak dianggap” tentunya adalah kebalikannya. Bisa kecewa gitu lho . . . .

Itu juga alasannya mengapa aku pilih-pilih jika akan memberikan nasehat. Kebanyakan adalah kepada muridku, maklum aku kerja di kampus dan mendapat sebutan guru atau kerennya dosen, yang secara formal menunjukkan bahwa yang bersangkutan berhak atau bahkan wajib memberikan atau mengajarkan nasehat-nasehat yang baik, khususnya di bidang yang dikuasainya atau ada kaitannya dengan pendidikan si murid. Jadi kalau para murid itu tidak mau mendengarkan, maka bisa-bisa tidak lulus risikonya. 😀

Nah karena murid-muridku banyak yang ingin lulus dari perkuliahan yang aku ajarkan, maka mereka banyak mendengar dan mengikuti nasehat-nasehat yang aku berikan. Itu makanya, aku nggak koar-koar di berita untuk memberikan nasehat, seperti pak mantan. Maklum di kampusku sendiri banyak yang ingin mendengarkan nasehatku. He, he, << ge er mode ON>>

Baca lebih lanjut

karena nila setitik, rusak susu sebelanga

Hati-hati dengan pepatah di atas, itu benar-benar ada dan bahkan masih berlaku nyata sampai detik ini !

Pepatah itu ingin menunjukkan bahwa adanya satu tindakan tidak benar, yang mungkin bisa saja semula dianggap sepele dan tidak terpikirkan, ternyata bisa berdampak menghilangkan semua hasil pekerjaan baik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya. Jika hasilnya masih berupa barang material, tentunya tidak terlalu bermasalah karena bisa dicarikan gantinya, tetapi kalau yang hilang adalah immaterial. Woo, sangat susah untuk mendapatkannya.

Hal immaterial yang dapat hilang adalah reputasi atau nama baik atau kehormatan. Tahu sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang akan reputasi atau nama baik atau kehormatan, itu perlu waktu dan kesempatan. Jadi tentunya untuk mendapatkannya lagi tidak mudah, apalagi usia orang yang kehilangan tersebut sudah berbeda, bertambah tua (semangat dan tenaga sudah berbeda).

Baca lebih lanjut