Kaleidoskop 2018

Kehidupan berjalan begitu rupa, waktu berganti dengan cepat. Mengenang dan menuliskannya adalah salah satu upaya untuk mensyukurinya. Itulah motivasi utama mengapa Kaleidoskop 2018 ini dibuat, yang berisi semua catatan kegiatan yang terdokumentasi di 2018. Siapa tahu tulisan ini dapat dijadikan inspirasi bagi teman-teman pembaca yang masih muda. Jika ada yang baik, silahkan ditiru, adapun yang buruk, lupakan saja.

Pada saat Kaleidoskop 2018 ini dibuat, usiaku telah melewati 1/2 abad. Usia yang sebagian besar orang dianggap telah masuk pada ranah purna tugas atau pensiun. Adapun di tahun tersebut, dalam rangka menunjang akreditasi kampus maka ada program percepatan jumlah Guru Besar. Saya salah satu yang dipilih masuk dalam program tersebut. Akibatnya ada harapan untuk segera mempersiapkan kelengkapan DIKTI agar dapat segera diuruskan. Jadi tahun 2018 ini juga krusial bagi karirku nanti. Jika program GB sukses, maka usia pensiunku akan meningkat dari 60 ke 65. Semoga Tuhan berkenan atas semua rencana ini.

Materi Kaleidoskop ini akan saya susun secara kronologis, diurutkan dari awal (Januari 2018 – Desember 2018). Isinya tidak hanya kegiatan profesional tetapi juga warna-warni yang terdokumentasi.

Baca lebih lanjut

karir profesional insinyur vs dokter

Bagaimana Bapak dulu memilih dan menentukan karir pekerjaan sehingga bisa menjadi dosen seperti sekarang ini ?“. Demikian awal mula percakapanku dengan anak muda yang baru saja lulus dari uji kompetensi profesi dokter.  Simpel, tetapi ternyata bisa membuka mata bahwa jalan karir pekerjaan seseorang itu berbeda-beda, tergantung profesinya.

Sarjana teknik sipil (saya tentunya) dan sarjana kedokteran (anak muda yang bertanya) ternyata berbeda dalam menempuh perjalanan karirnya. Bagaimana tidak, sarjana teknik sipil tidak dipaksa untuk menempuh ujian kompetensi sebelum masuk ke dunia kerja. Setelah wisuda, mereka bisa langsung melamar kerja kemana-mana, bahkan bukan di bidang teknik sekalipun (di bank misalnya). Adapun sarjana kedokteran (gelar S. Ked) meskipun sudah diwisuda, tetapi merasa belum selesai kuliah, masih masuk program kelas praktik dan belum merasa tuntas jika belum lulus uji kompetensi dokter-nya.  Perjuangan mereka memang lebih lama dibanding sarjana yang lain. Menurut cerita anak muda tersebut, teman-teman SMA-nya yang sekelas yang bukan mengambil jurusan kedokteran bahkan sudah ada yang terjun politik (jadi anggota partai) dan telah mencantumkan gelar S2-nya. Maklum di luar negeri khan ada program S2 yang hanya setahun tanpa thesis. Intinya, anak muda itu merasa karirnya untuk menjadi dokter terkesan lama sekali.

engineer-doctor

Baca lebih lanjut

My ASCE Paper Has Been Published

Kemarin malam menerima email dari ASCE Publisher. Isinya menyatakan bahwa paper saya, yang versi Indonesia-nya dipresentasikan di Seminar HAKI 2018 kemarin, telah terbit dan dapat diakses di seluruh dunia. Rasanya lega dan senang, meskipun paper tersebut hanya terdiri dari 12 halaman saja, ternyata kesenangannya sama seperti ketika launching buku ke-9 saya, yang hampir 1000 halaman tersebut. Jumlah halaman ternyata tidak bisa dijadikan ukuran, mutu suatu publikasi.

Ini linknya : https://ascelibrary.org/doi/abs/10.1061/%28ASCE%29SC.1943-5576.0000392

Halaman depannya adalah sebagai berikut :

halaman-depan
Gambar 1. Halaman depan paper ASCE saya

Baca lebih lanjut

robohnya selasar BEI

Berita tentang robohnya struktur lantai selasar gedung BEI, menjalar cepat via WA tadi siang. Ada yang melalui grup profesional, maupun grup awam, berita dari ibu-ibu perumahan yang dishare istri saya. Jadi berita ini mestinya sudah menjadi rahasia umum. Ini ada sedikit foto yang aku dapat via internet.

korban-reruntuhan-bei-di-evakuasi-ke-rs-mintoharjo-hqgsnMqUAi
Reruntuhan selasar di gedung BEI (sumber gambar : Oke Zone)

Berita-berita tentang musibah tersebut langsung bertebaran. Ini saya coba tampilkan beberapa link hasil om Google, siapa tahu anda tertarik :

Menarik sekali bahwa ini terjadi pada bangunan gedung di Jakarta, yang notabene adalah ibukota negara kita, Indonesia. Pantas saja tadi siang sudah ada komentar khusus dari pakar kita yang hidup di negeri seberang.

Baca lebih lanjut

stand buku di seminar HAKI 2017

Selain sebagai seorang pengajar atau kerennya Dosen maka di sisi lain, saya adalah seorang Penulis. Bagi yang sering mengunjungi blog ini, tentu tidak perlu jelaskan lagi. Aku sering menulis rencana buku-buku yang akan diterbitkan. Sayang, tahun ini belum ada buku yang baru lagi. Di luar pembaca blog ini, memang banyak yang tidak tahu. Maklum buku-buku karanganku tidak dijual di toko-toko buku yang biasa. Adanya hanya di toko buku on-line saja, di sini.

Baca lebih lanjut

Berita heboh – publikasi ilmiah RI

Ini ada berita yang bikin heboh grup WA teman-teman di fakultasku. Dari kantor berita on-line, ini judul lengkapnya.

Edisi 07-08-2017
Publikasi Ilmiah RI Tiga Besar Dunia
http://koran-sindo.com/page/news/2017-08-07/0/8

Tahu sendiri khan, yang namanya teman-teman fakultas, itu berarti anggota-anggotanya adalah dosen. Bagi seorang dosen, yang namanya publikasi ilmiah adalah sesuatu yang penting. Bahkan bisa disebut penting sekali. Maklum dari publikasi ilmiah tersebut seorang dosen akan berbeda posisinya dari dosen yang lain. Bagi dosen, publikasi ilmiah berarti suatu kum penilaian. Bila mendapatkan kum yang tepat maka jabatan profesor bukanlah sesuatu impian lagi, karena memang begitu persyaratannya. Jadi intinya, dosen dan publikasi ilmiah adalah saling terkait.

Baca lebih lanjut

seminar HAKI Komda Sumut, Medan – 2017

Risih juga mendengar gonjang ganjing para politikus, apalagi itu pak mantan dengan komentar-komentarnya. Untuk komentar yang kubaca, di awalnya sih seperti ada kesan sebagai seorang penasehat lihai, yaitu memberi petunjuk sana-sini.  Padahal jika dipikir-pikir, dulu saja saat menjabat tidak banyak yang dapat dibanggakan.  Eh akhir-akhir ini, pak mantan koq komentarnya menjadi beda. Mungkin apa karena nasehat-nasehat yang disampaikan tidak dianggap ya . . . . . . koq jadi seperti kritik gitu lho.   😀

Iya betul pak, “tidak dianggap” itu masalahnya !

Wooo, segitunya ya. Tapi memang betul juga sih. Tidak dianggap itu adalah masalah besar bagi orang yang suka ngasih nasehat. Jujur saja, orang yang memberi nasehat umumnya berpikir dianya itu lebih baik (unggul) lho dari orang yang diberi nasehat. Selanjutnya jika yang diberi nasehat itu mendengarkan dan melaksanakan, apalagi bisa membuktikan bahwa yang nasehatnya manjur, misalnya masalahnya jadi selesai. Maka itu akan memberikan kepuasan bagi sang penasehat. Puas karena apa yang diberikannya dalam bentuk nasehat itu terbukti “kebenarannya” dan yang tak kalah pentingnya bahwa itu adalah pengakuan bahwa sang pemberi nasehat memang oye. Jika karena merasa “dianggap” dapat memberikan kepuasan, kelegaan maka jika “tidak dianggap” tentunya adalah kebalikannya. Bisa kecewa gitu lho . . . .

Itu juga alasannya mengapa aku pilih-pilih jika akan memberikan nasehat. Kebanyakan adalah kepada muridku, maklum aku kerja di kampus dan mendapat sebutan guru atau kerennya dosen, yang secara formal menunjukkan bahwa yang bersangkutan berhak atau bahkan wajib memberikan atau mengajarkan nasehat-nasehat yang baik, khususnya di bidang yang dikuasainya atau ada kaitannya dengan pendidikan si murid. Jadi kalau para murid itu tidak mau mendengarkan, maka bisa-bisa tidak lulus risikonya. 😀

Nah karena murid-muridku banyak yang ingin lulus dari perkuliahan yang aku ajarkan, maka mereka banyak mendengar dan mengikuti nasehat-nasehat yang aku berikan. Itu makanya, aku nggak koar-koar di berita untuk memberikan nasehat, seperti pak mantan. Maklum di kampusku sendiri banyak yang ingin mendengarkan nasehatku. He, he, << ge er mode ON>>

Baca lebih lanjut