video pengukuhan Prof WD di UPH

video pengukuhan Prof WD di UPH

Kemarin menerima WA dari seorang anak muda yang sedang studi doktoral. Untuk menambah inspirasi ingin membaca disertasiku. Terkesan oleh semangat dan pertemanan yang lama, aku tanggapi dengan mengirim softcopynya via cloud. Semoga bisa bermanfaat. Jika banyak anak muda seperti itu, tentunya bangsa ini akan semakin maju. Semoga.

Lanjutkan membaca “video pengukuhan Prof WD di UPH”
berkah di tahun 2020

berkah di tahun 2020

Ini tahun istimewa bagiku, juga keluarga besarku. Bagaimana tidak, menjelang masuk di tahun 2020 ini, yaitu di akhir tahun 2019, tepatnya hari Senin tanggal 4 November 2019. Saya diberikan anugrah untuk dikukuhkan menjadi Guru Besar (GB) Teknik Sipil di Universitas Pelita Harapan (UPH).

Acara pengukuhan Guru Besar Teknik Sipil UPH begitu megah, dihadiri banyak tamu undangan. Hadir juga para Guru Besar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tercatat ada tiga belas (13) perguruan tinggi, yaitu : UGM, ITB, UI, Universitas Bakrie, UNDIP, UNPAR, UNTAR, UII, Universitas Mercubuana, Universitas Matana, Pradita University, UKRIDA, dan dari UPH sendiri tentunya. Semua profesor yang hadir sebenarnya diundang ikut prosesi ke atas panggung, pakai toga kebesaran. Hanya Prof Rizal Z. Tamin (ITB) yang lebih memilih duduk bersama para hadirin. Jika berkenan, tentu akan ada dua Profesor dari ITB yang di atas panggung, bersama Prof I Wayan Sengara. Bagaimanapun juga kehadiran beliau membuat meriah acara.

Lanjutkan membaca “berkah di tahun 2020”
ada apa dengan SNI 1729:2019

ada apa dengan SNI 1729:2019

Tidak terasa, code struktur baja kita telah berubah lagi. Saat ini SNI 1729:2015 sudah digantikan oleh SNI 1729:2019. Rasanya saya sudah pernah mendapatkan file-nya, hanya sayang ketika menulis ini, file yang saya maksud tersebut tidak ketemu. Jika ada yang punya silahkan di share ya. Thank you.

SNI 1729:2019 pada dasarnya adalah terjemahan dari ANSI/AISC 360-16 yang bisa di down-load secara gratis di sini. Bagaimana, apakah sudah pada membaca isinya. He, he, kalau belum nggak apa-apa. Bagi yang sudah membaca dan memahaminya, wah hebat itu. Anda pasti penggemar ilmu struktur baja.

Jujur, setelah berkecipung beberapa tahun membantu PUPR sebagai anggota Komite Keselamatan Konstruksi, dan mendapat kesempatan untuk memeriksa beberapa kerja kontraktor, khususnya ketika mempersiapkan sistem perancah bajanya. Dapat diketahui bahwa sangat jarang mereka mempersiapkan perencanaannya memakai SNI 1729. Sebagian besar sekedar memakai hasil program komputer, apakah itu SAP2000 atau MIDAS. Kesannya, yang penting hasil program komputer menunjukkan ratio < 1.0. Dianggapnya itu ok.

Pada suatu kasus, ketika ada kegagalan perancah. Maka saya mencoba bertanya kepada engineer yang mempersiapkan perancah tersebut. Berapa panjang tekuk kolom perancah anda ?

Apa jawabannya, coba terka ?

Lanjutkan membaca “ada apa dengan SNI 1729:2019”
saya ini programmer lho !

saya ini programmer lho !

Jika anda memperhatikan, saya suka memperkenalkan diri sebagai engineer, guru besar, penulis dan programmer atau pemrogram. Untuk engineer mudah diidentifikasi, yaitu gelar yang terpasang di depan nama saya, yaitu Ir. Hanya saja pemakaian gelar itu sekarang lagi jadi permasalahan dengan adanya undang-undang insinyur yang baru. Padahal saya sudah pakai itu sejak tahun 1989. Kalau saya menyebut diri saya, guru besar atau profesor maka tentu tidak ada yang meragukan, ada acara pengukuhannya yang meriah. Juga untuk sebutan penulis, tidak perlu diragukan karena sudah ada buku yang diterbitkan dan sampai sekarang masih bisa dibeli di Bukalapak atau di Tokopedia atau sumber langsung di http://lumina-press.com.

Untuk profesi saya sebagai programmer, maka bagi yang baru-baru kenal saya, tentu akan banyak bertanya-tanya. Apa betul saya ini seorang programmer. Jawaban tentang hal itu hanya bisa diketahui jika telah membaca buku saya, yang terbitan PT. Elexmedia tahun 2002 atau 18 tahun yang lalu. Tentu saja buku tersebut sudah susah dicari dan sudah banyak yang melupakannya. Sejak buku itu terbit, rasanya produktifitas saya sebagai programmer hanya diaplikasikan pada struktur beton, dan belum struktur baja. Padahal setelah itu, saya lebih banyak fokus mendalami struktur baja, yang akhirnya terkulminasi dengan terbitnya buku struktur baja di tahun 2015 dan 2016 yang lalu. Akibatnya di kalangan profesional, saya ini dikenal sebagai ahli struktur baja. Nggak salah deh.

Lanjutkan membaca “saya ini programmer lho !”

Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia

Terbiasa bekerja profesional secara mandiri, baik sebagai dosen, penulis buku, maupun praktisi rekayasa struktur (structural engineer), maka sendirian dan tidak punya kelompok adalah hal biasa. Tetap percaya diri meskipun tetangga sebelah bangga dengan kelompoknya yang terdiri dari banyak orang. Itu paling berlaku di bidang kepenulisan, yang mutu produk hasilnya sangat ditentukan oleh individu penulisnya, bukan dari jumlah atau banyaknya penulis yang dilibatkan. Kualitas hasil penulisan sangat tergantung kompetensi indivindu dari penulisnya sendiri.

Latar belakang karakter saya adalah introvet, oleh sebab itu saya tidak terlalu tertarik ikut berorganisasi.  Sisi lain, tuntutan segi profesi tidak mengharuskan karena yang penting adalah kemandirian. Maka keduanya, yaitu [1] profesi yang dipilih; dan [2] karakter pribadi, menjadi terkesan cocok (matching). Itu mungkin pula yang mengakibatkan saya bisa berkembang dengan baik. Kesendirian yang dinikmati bahkan menghasilkan dunia imajinasi yang begitu luas dan dalam, sebagaimana terlihat pada buku-buku karanganku, yang umumnya tebal-tebal. Berbobot  begitu katanya. Ini buku-buku yang aku maksud, klik saja jika ingin membacanya.

Oleh sebab itu terasa aneh juga jika threat in iakan membahas tentang PERKUMPULAN. Terkesan tidak nyambung dengan introduction yang aku sampaikan, yang membanggakan akan kemandirian. Koq bisa.  <>.

Lanjutkan membaca “Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia”

apa yang diharapkan dari ISSC ?

Kementrian PUPR melalui Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, pada hari Kamis 19 Juli 2018 di Ruang Elang, Hotel Ambhara, Blok M Kebayoran Baru, Jakarta, mengadakan acara berjudul “Workshop Pengembangan Kualitas Konstruksi Baja di Indonesia“.

Acara workshop hanya dihadiri sekitar 50 peserta undangan. Meskipun demikian yang diundang adalah pribadi-pribadi istimewa,  para ketua atau minimal perwakilan asosiasi atau organisasi perusahaan / profesional yang dianggap banyak terkait dengan konstruksi baja di Indonesia. Dari daftar undangan yang saya terima, dapat diketahui siapa-siapa yang akan hadir di acara tersebut, sebagai berikut :

  1. Sekretaris Dirjen Bina Konstruksi PUPR
  2. Kabiro Perencanaan Anggaran dan Kerjasama Luar Negeri PUPR
  3. Direktur Bina Investasi Infrastruktur PUPR
  4. Direktur Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi PUPR
  5. Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi PUPR
  6. Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan PUPR
  7. Direktur Jembatan PUPR
  8. Direktur Penataan Bangunan PUPR
  9. Direktur Rumah Susun PUPR
  10. Kepala Pusat Bendungan PUPR
  11. Ka. Puslitbang Jalan dan Jembatan, PUPR
  12. Ka. Puslitbang  Kebijakan dan Penerapan Teknologi, PUPR
  13. Direktur Industri Logam, Kementrian Perindustrian
  14. Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementrian Perindustrian
  15. Direktur Riset dan Pengembangan IPTEK, Ristek Dikti
  16. Kasubdir. Material dan Peralatan Konstruksi
  17. Kasubdir. Teknologi Konstruksi dan Produksi Dalam Negeri
  18. Kasubdir. Kelembagaan PUPR
  19. Kasubdir. Usaha Jasa Konstruksi, PUPR
  20. Ka. Balai Material dan Peralatan Konstruksi PUPR
  21. Ka. Balai Penerapan Teknologi Konstruksi PUPR
  22. Ka. Balai Jasa Konstruksi Wil. III Jakarta
  23. Direktur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, PUPR
  24. Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA)
  25. Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI)
  26. Asosiasi Pabrikator Baja Indonesia (APBINDO)
  27. Asosiasi Fabrikator Baja Indonesia (AFABI)
  28. Asosiasi Pabrikator Jembatan Baja Indonesia (APJEBI)
  29. Asosiasi Pabrikator Tower Indonesia (ASPANTINDO)
  30. Asosiasi Roll-Former Indonesia (ARFI)
  31. Indonesia Zinc-Alumunium Steel Industries (IZASI)
  32. Lembaga Pengembangangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional
  33. Lembaga Pengembangangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi DKI Jakarta
  34. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI)
  35. Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI)
  36. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Pusat
  37. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Daerah DKI Jakarta
  38. Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)
  39. Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI)
  40. Asosiasi Perusahaan Pracetak Prategang Indonesia (AP3I)
  41. Asosiasi Pengelasan Indonesia (API)

dan ada beberapa lagi yang belum saya tulis, total ada sekitar 47 undangan. Adapun dari kalangan akademisi yang hadir ada tiga orang, termasuk penulis, yaitu [1] Ir. R. Muslinang Moestopo MSEM,Ph.D. (ITB); [2] Akhmad Aminullah, ST., MT., Ph.D (UGM) dan yang ke [3], saya sendiri, yaitu Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (UPH).

Jadi meskipun jumlah pesertanya relatif sedikit, tetapi karena yang diundang mencakup hampir semua organisasi profesional terkait industri dan konstruksi baja Indonesia, maka harapannya tentu saja materi yang disampaikan pada event tersebut dapat bergaung luas dan berdampak besar bagi “Pengembangan Kualitas Konstruksi Baja di Indonesia” .

Untuk acara workshop, jika dicermati materi yang dibawakan ternyata hanya diisi oleh empat (4) narasumber berbeda, yaitu dari :

  1. perwakilan Jepang (JSSC),
  2. perwakilan pemerintah oleh personil kementrian PUPR (yaitu Direktur Jembatan, Sekjen Bina Konstruksi, Direktur Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi),
  3. perwakilan masyarakat via asosiasi baja (AMBI), dan
  4. perwakilan akademisi (saya yang mendapatkan amanat).

Untuk detail daftar acara lengkap dari workshop tersebut maka dipersilahkan untuk membaca threat saya sebelumnya, agar tidak terjadi duplikasi informasi. Untuk itu silahkan klik link berikut : https://wiryanto.blog/2018/07/14/menjelang-pembentukan-issc/

Lanjutkan membaca “apa yang diharapkan dari ISSC ?”

menjelang pembentukan ISSC

ISSC adalah singkatan dari Indonesia Society of Steel Constructions, suatu organisasi profesi yang didukung pemerintah (Kementrian PUPR) dan yang ingin mewadahi masyarakat profesional yang berkecipung dan ingin memajukan konstruksi baja di Indonesia.  Tujuan utama tentunya adalah bagaimana mewujudkan peribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh“, teguh untuk “menjadi tuan di negeri sendiri” tentunya dan jangan sampai pepatah “bak tikus mati di lumbung padi” akan terjadi.

Lanjutkan membaca “menjelang pembentukan ISSC”

masukan dari sdr Ridwan DA

Lama saya tidak menulis di blog ini. Maklum ada pencapaian lain yang perlu konsentrasi dan fokus. Hanya saja dari berbagai komentar yang masuk ada tanggapan dari sdr Ridwan DA terhadap buku Struktur Baja Edisi ke-2. Karena ini merupakan bukti bahwa ada orang yang membaca buku saya, maka tentu penting untuk ditanggapi.

Ini masukan yang diberikan melalui blogi ini.

Dear Pak Wir,

Saya menemukan hal yang menarik, di halaman 714 dan 715 (Bab sambungan momen end plate), saya lihat kedua rumus flush end plate 4 baut dengan flush end plate 4 baut + pengaku bawah itu sama ya pak mungkin harusnya beda ya. kemudian sy search google, lalu saya temukan literatur dg website

“https://www.aisc.org/globalassets/aisc/research-library/unification-of-flush-end-plate-design-procedures.pdf”

d web itu ada pembahasan ttg end plate, lalu sy cari ternyata untuk kedua rumus di atas bebeda pak. mohon penjelasannya pak Wir, mohon dijawab y pa secepatnya ^^.

Terima kasih pak.

Ridwan DA

Link yang diberikan pak Ridwan aktif, sehingga referensi yang diberikan dapat diakses.

Alasan yang mendasari sdr Ridwan DA dalam mempertanyakan materi flush end-plate di buku saya memang logis. Ini yang namanya kritis, yaitu rumus yang digunakan untuk menghitung kapasitas Flush-end-plate empat baut (tanpa pengaku tengah) dengan yang memakai pengaku tengah, ternyata sama. Aneh khan.

Lanjutkan membaca “masukan dari sdr Ridwan DA”

Seminar Inovasi Baja di Pontianak

Jumlah perguruan tinggi yang memiliki Jurusan Teknik Sipil di P. Kalimantan ada sekitar 23 (Sumber banpt.or.id). Itu berarti komunitas pembelajaran teknik sipil relatif banyak. Bayangkan, jika setiap jurusan punya 50 orang murid (pukul rata) maka setiap tahun akan ada kurang lebih 1150 orang yang datang bergabung. Karena mata kuliah struktur baja adalah wajib diikuti untuk menyelesaikan pendidikan teknik sipil, maka tentunya penyelenggaraan seminar struktur baja akan banyak peminatnya. Anggap saja yang masih aktif belajar adalah 5 angkatan terakhir atau sekitar 5750 orang dan yang benar-benar mau meluangkan waktu ada sekitar 5% saja maka itu saja akan ada sekitar 200 orang. Sudah ramai itu.

Adanya harapan seperti itu, dan juga karena adanya dukungan Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) sekaligus untuk usaha menangkap peluang akan ramainya dunia konstruksi saat di Indonesia. Oleh sebab itu Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Pontianak mengambil inisiatip menyelenggarakan Seminar Nasional Rancang Bangun Konstruksi Baja, di kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Seminar sehari tersebut akan berlangsung pada hari Rabu, tanggal 18 Oktober 2017 yang akan diadakan di Hotel Mercure Pontianak, Kalbar.

Y993738023_
Hotel Mercure Pontianak, Jl. Jendral Ahmad Yani No.91, Pontianak, Indonesia

Penyelenggaraan seminar di hotel seperti di atas, tentunya tidak sekedar untuk mengakomodasi keperluan akademis semata (kapita selekta perkuliahan), tetapi juga ditujukan sebagai sarana pengembangan profesional di P. Kalimatan dan sekitarnya, khususnya di bidang rekayasa konstruksi baja.

Lanjutkan membaca “Seminar Inovasi Baja di Pontianak”

Mahal itu indikasi mutu ?!

Pernyataan bahwa “barang mahal itu indikasi mutu“, tentu akan lebih banyak yang setuju dibanding jika pernyataannya adalah “barang mahal itu indikasi indah” atau bisa juga “makanan mahal itu enak“.

Setuju atau tidak ?

Mestinya iya khan. Bahwa ada yang tidak setuju karena faktanya ada juga yang bermutu tetapi relatif murah : Itu tentu ada. Tetapi untuk mendapatkannya tentu tidak segampang kalau harga tidak dibatasi. Itulah alasannya mengapa dalam menyatakan hal di atas, saya memilih kata akan lebih banyak. Jadi kalaupun ada yang tidak setuju, maka itu adalah sah-sah saja, hanya saja saya yakin jumlahnya relatif sedikit.

Juga dari kalimat yang saya bandingkan di atas dapat diketahui bahwa kriteria mutu lebih bersifat objektif dibanding kriteria indah atau enak. Adapun yang terakhir bersifat subyektif, sangat tergantung person atau manusia yang menjalankan atau menggevaluasinya.

Karena mutu tidak banyak tergantung dari person atau manusia, maka sebenarnya kriteria mutu lebih banyak bisa dibuat daripada kriteria indah atau enak. Padahal sebenarnya dalam kriteria mutu itu kadang kriteria enak atau indah bisa masuk di dalamnya, yaitu selama hal itu bisa didefinisikan.

Lanjutkan membaca “Mahal itu indikasi mutu ?!”