apa yang diharapkan dari ISSC ?

Kementrian PUPR melalui Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, pada hari Kamis 19 Juli 2018 di Ruang Elang, Hotel Ambhara, Blok M Kebayoran Baru, Jakarta, mengadakan acara berjudul “Workshop Pengembangan Kualitas Konstruksi Baja di Indonesia“.

Acara workshop hanya dihadiri sekitar 50 peserta undangan. Meskipun demikian yang diundang adalah pribadi-pribadi istimewa,  para ketua atau minimal perwakilan asosiasi atau organisasi perusahaan / profesional yang dianggap banyak terkait dengan konstruksi baja di Indonesia. Dari daftar undangan yang saya terima, dapat diketahui siapa-siapa yang akan hadir di acara tersebut, sebagai berikut :

  1. Sekretaris Dirjen Bina Konstruksi PUPR
  2. Kabiro Perencanaan Anggaran dan Kerjasama Luar Negeri PUPR
  3. Direktur Bina Investasi Infrastruktur PUPR
  4. Direktur Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi PUPR
  5. Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi PUPR
  6. Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan PUPR
  7. Direktur Jembatan PUPR
  8. Direktur Penataan Bangunan PUPR
  9. Direktur Rumah Susun PUPR
  10. Kepala Pusat Bendungan PUPR
  11. Ka. Puslitbang Jalan dan Jembatan, PUPR
  12. Ka. Puslitbang  Kebijakan dan Penerapan Teknologi, PUPR
  13. Direktur Industri Logam, Kementrian Perindustrian
  14. Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementrian Perindustrian
  15. Direktur Riset dan Pengembangan IPTEK, Ristek Dikti
  16. Kasubdir. Material dan Peralatan Konstruksi
  17. Kasubdir. Teknologi Konstruksi dan Produksi Dalam Negeri
  18. Kasubdir. Kelembagaan PUPR
  19. Kasubdir. Usaha Jasa Konstruksi, PUPR
  20. Ka. Balai Material dan Peralatan Konstruksi PUPR
  21. Ka. Balai Penerapan Teknologi Konstruksi PUPR
  22. Ka. Balai Jasa Konstruksi Wil. III Jakarta
  23. Direktur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, PUPR
  24. Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA)
  25. Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI)
  26. Asosiasi Pabrikator Baja Indonesia (APBINDO)
  27. Asosiasi Fabrikator Baja Indonesia (AFABI)
  28. Asosiasi Pabrikator Jembatan Baja Indonesia (APJEBI)
  29. Asosiasi Pabrikator Tower Indonesia (ASPANTINDO)
  30. Asosiasi Roll-Former Indonesia (ARFI)
  31. Indonesia Zinc-Alumunium Steel Industries (IZASI)
  32. Lembaga Pengembangangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional
  33. Lembaga Pengembangangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi DKI Jakarta
  34. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI)
  35. Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI)
  36. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Pusat
  37. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Daerah DKI Jakarta
  38. Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)
  39. Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI)
  40. Asosiasi Perusahaan Pracetak Prategang Indonesia (AP3I)
  41. Asosiasi Pengelasan Indonesia (API)

dan ada beberapa lagi yang belum saya tulis, total ada sekitar 47 undangan. Adapun dari kalangan akademisi yang hadir ada tiga orang, termasuk penulis, yaitu [1] Ir. R. Muslinang Moestopo MSEM,Ph.D. (ITB); [2] Akhmad Aminullah, ST., MT., Ph.D (UGM) dan yang ke [3], saya sendiri, yaitu Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (UPH).

Jadi meskipun jumlah pesertanya relatif sedikit, tetapi karena yang diundang mencakup hampir semua organisasi profesional terkait industri dan konstruksi baja Indonesia, maka harapannya tentu saja materi yang disampaikan pada event tersebut dapat bergaung luas dan berdampak besar bagi “Pengembangan Kualitas Konstruksi Baja di Indonesia” .

Untuk acara workshop, jika dicermati materi yang dibawakan ternyata hanya diisi oleh empat (4) narasumber berbeda, yaitu dari :

  1. perwakilan Jepang (JSSC),
  2. perwakilan pemerintah oleh personil kementrian PUPR (yaitu Direktur Jembatan, Sekjen Bina Konstruksi, Direktur Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi),
  3. perwakilan masyarakat via asosiasi baja (AMBI), dan
  4. perwakilan akademisi (saya yang mendapatkan amanat).

Untuk detail daftar acara lengkap dari workshop tersebut maka dipersilahkan untuk membaca threat saya sebelumnya, agar tidak terjadi duplikasi informasi. Untuk itu silahkan klik link berikut : https://wiryanto.blog/2018/07/14/menjelang-pembentukan-issc/

Acara dibuka oleh Dirjen Bina Konstruksi, Bapak Dr. Ir. Sjarif Baddarudin, M.Eng. yang memberikan sambutan agar acara ini dapat memicu perkembangan dunia konstruksi baja di Indonesia. Tentu saja kita semua, khususnya para penggiat baja di tanah air akan menyetujuinya. Sisi lain tentunya para peserta workhop harus bekerja keras untuk mengupayakan, dan saya kira tulisan ini adalah salah satunya, meskipun tentu saja apa yang saya sampaikan adalah dalam kaca mata subyektif penulis, yang bisa saja tidak tepat dalam menginterprestasikan apa yang dilihat dan dirasakannya.

Setelah pembukaan, ada juga pidato dari perwakilan duta besar Jepang. Kaget juga saya melihatnya, acara workshop teknik koq dibuka juga oleh perwakilan negara lain. Dalam perkembangan selanjutnya bisa dipahami, acara ini juga dalam rangka penerimaan hibah dari Jepang. Bantuan terkait pengembangan s.d.m khususnya terkait konstruksi baja. Sekaligus dukungan terbentuknya JSSC versi Indonesia, yaitu ISSC (Indonesia Society of Steel Construction). Oleh sebab itu, acara Workshop tanggal 19 Juli 2018 ini sangat strategis ke depannya.

Paparan pertama workshop diisi oleh Mr. Masahiro Nagata perwakilan JSSC (Japan Society of Steel Construction) yang membahas tentang perkembangan teknologi dan rekayasa konstruksi baja di Jepang. Juga sharing tentang JSSC, apa dan bagaimana sistem dan kegiatannya. Ini sebagai dukungan untuk terbentuknya ISSC (Indonesia Society of Steel Construction), organisasi serupa JSSC di Indonesia. Jadi langkah awal agar terjadi pengembangan s.d.m maka perlu disatukan dalam suatu wadah yang tepat. Wadah yang dimaksud adalah ISSC. Tujuannya tentu saja untuk menggalang terjadinya peningkatan mutu s.dm dan produsen baja Indonesia. Itu pula alasannya, mengapa yang diundang adalah ketua-ketua asosiasi dan masyarakat teknik sipil secara umum.

Pada sesi ke-2 bapak Kenji Pangestu selaku ketua umum AMBI (Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia), organisasi yang anggotanya terdiri dari para profesional dan produsen baja Indonesia. Anggota AMBI memang tidak terbatas pada baja konstruksi saja, tetapi baja secara umum. Adapun ISSC akan lebih fokus pada masyarakat konstruksi baja. Salah satu hal yang penulis ingat dari pemaparan pak Kenji adalah menyoroti adanya ketidak-sesuaian antara materi SNI perencanaan dan SNI produk baja. Seperti kita ketahui bersama, SNI perencanaan baja baru (SNI 1729-2015) adalah adopsi penuh AISC (2010). Karena berupa adopsi penuh, maka isinya tidak boleh dilakukan perubahan. Jadi wajar saja jika isinya masih mencakup material baja yang mengacu ASTM, dan bukan SNI (produk baja). Karena tidak adanya pernyataan SNI (produk baja) tersebut, maka pak Kenji kuatir bahwa nantinya proyek-proyek konstruksi di Indonesia, tidak memakai produk baja lokal, yang selama ini hanya mencantumkan SNI (produk baja). Untuk itu pak Kenji mengusulkan “perubahan standar.  Adanya wacana pembentukan ISSC, dapat dijadikan sarana untuk terjadinya perubahan standar tersebut. Itu yang aku lihat dari isi pemaparan pak Kenji.

Note : pada sesi itu juga, pak Kenji Pangestu selalu menegaskan bahwa produk baja Indonesia telah mampu mengikuti semua standar baja dunia. Oleh sebab itu saya sedikit bingung, jika bisa, mengapa tidak dicantumkannya SNI (produk baja) di SNI perencanaan menjadi masalah besar. Apakah produk berlabel SNI lebih rendah mutunya dari produk berlabel ASTM.

Sesi ke-3 dilaksanakan setelah makan siang. Pada sesi tersebut sekaligus dua pembicara, yang pertama adalah bapak Ir. Iwan Zarkasi, M.Eng.Sc. (Direktur Jembatan, PUPR), dan yang ke-2 adalah saya, adapun moderatornya adalah bapak Ir. R. Muslinang Moestopo MSEM,Ph.D. (ITB).

Paparan Pak Iwan Zarkasi mewakili pemerintah yang bertanggung-jawab merencanakan dan mengelola jembatan-jembatan di Indonesia. Ini tentu penting karena semua proyek jembatan  di Indonesia adalah milik pemerintah, hal yang berbeda pada proyek gedung, yang bisa milik pribadi. Oleh sebab itu, semua yang terlibat pada proyek jembatan, maka pastilah akan mengenal beliau. Kalaupun belum, dapat dipastikan yang bersangkutan masih berada di hirarki junior. O ya, ini ada foto beliau ketika mendampingi bapak Presiden ketika mengunjungi jembatan Holtekamp, Papua. Ini foto saya dapat di wa-grups anggota Komite Keselamatan Konstruksi. Maklum, karena saya di panggung bersama beliau, maka saat presentasinya, saya tidak mendapat gambar foto yang tepat. Foto berikut tentunya mewakili posisi beliau saat ini di komunitas jembatan Indonesia.

IMG-20180412-WA0011
Gambar 1. Bapak Ir. Iwan Zarkasi M.Eng.Sc., duduk nomer tiga dari sebelah kiri (di sebelah pak Jokowi), selaku Direktur Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementrian PUPR

Sebagai pemegang otoritas jembatan-jembatan di Indonesia, maka tentunya informasi dari pak Iwan Zarkasi sangat ditunggu-tunggu. Minimal dapat mengetahui prospek ke depan, jembatan di mana lagi yang akan dibangun dengan konstruksi baja. Cukup banyak pemaparan beliau yang menarik tentang jembatan-jembatan di Indonesia. Dari sekian pemaparan beliau, yang saya ingat sekali adalah informasi bahwa konsumsi baja untuk proyek konstruksi di Indonesia ternyata masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, atau Vietnam sekalipun. Itu menjadi alasan jika dapat dibentuk ISSC atau semacamnya tentu akan membantu mendorong perkembangan konstruksi baja Indonesia.

Setelah giliran pak Iwan, tiba saatnya giliran saya, mewakili komunitas akademi. Tentu menjadi pertanyaan, akademisi yang menguasai baja di Indonesia tentunya banyak. Mengapa saya dipilih, terus terang saya tidak tahu. Hanya memang, sebelumnya saya telah mengenal secara baik para narasumber yang lain. Dalam hal ini, saya dikontak oleh pak Andias, dari Kementrian PUPR. Adapun alasan beliau mengkontak saya, tentu saja berdasarkan T.O.R , tidak boleh sembarang orang. Kriteria yang mendasari, mengapa saya menjadi narasumber pada acara workshop ini adalah (saya kutip dari t.o.r-nya) sbb:

kriteria-narasumber-peserta-workshop

Jadi ternyata bukan masalah akademisi, tetapi dalam hal ini saya mewakili tenaga profesional yang dianggap memenuhi kriteria di atas. Syukurlah, padahal kalau jujur, saya ini tidak mempunyai SKA atau SKK terkait konstruksi baja. Gimana tuh, berarti dalam acara tersebut, saya bisa saja mengkuliahi para profesional yang secara formal lebih t.o.p. 😀

Meskipun sudah dianggap memenuhi kriteria di atas, tetapi apa yang saya presentasikan juga tidak boleh sembarangan, suka-suka saya, tetapi harus memenuhi kriteria yang panitia syaratkan. Ada T.O.R – nya lagi tentang isi materi presentasi, yaitu :

tor-presentasi

Informasi tentang diundangnya saya untuk memberikan presentasi di workshop juga tiba-tiba, nggak lebih dari sebulan. Oleh sebab itu untuk bisa membuat presentasi tersebut, maka ternyata tidak sekedar profesional di bidang konstruksi baja saja, tetapi juga kemampuan menulis. He, he, ini penting karena terlihat dari semua presenter di workshop tersebut, yang bikin makalah lengkap hanya dari saya saja, yang lain sekedar materi dalam bentuk MS Power Point saja.

Meskipun judulnya adalah terkait tren, tetapi sebagai profesional dengan latar belakang akademisi tentu tidak pas untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Pastilah paparan dari pak Iwan atau pak Kenji akan lebih relevan karena memang sehari-harinya di sana. Sebagai orang yang mendalami secara teoritis, tentunya akan meninjau secara lebih banyak ke segi teoritis juga.

Nah terkait hal itu, maka tinjauan materi saya langsung dikaitkan juga dengan pentingnya asosiasi masyarakat konstruksi baja atau istilah asingnya ISSC (Indonesia Society of Steel Construction) dalam mempertahankan atau meningkatkan tren konstruksi baja Indonesia.

Ini adalah dokumentasi foto ketika saya sedang mempresentasikan makalah sesuai judul yang diminta panitia.

sesi-presentasi-wir
Gambar 2. Sesi pk 13.00-14.30 bersama dengan pak Iwan Zarkazi (Direktur Jembatan PUPR) judul makalah yang disampaikan adalah “Tren Konstruksi Baja dalam Mendukung Pekerjaan Infrastruktur di Indonesia”.

 

Jadi kalau dipikir-pikir, materi yang saya sampaikan di acara tersebut lebih kepada harapan-harapan apa yang sebaiknya dapat dihasilkan dari terbentuknya ISSC.  Ini penting karena orang Indonesia itu sangat pintar untuk membuat organisasi masyarakat, tetapi kenyataannya tidak setiap organisasi yang dibentuk dapat memberikan dampak nyata bagi anggotanya. Kenapa begitu, karena semangatnya kadang sekedar seperti membuat partai, yaitu berkumpul agar punya posisi tawar yang besar untuk menuntut sesuatu. Padahal yang namanya organisasi profesi seperti ISSC tentunya harus mengeluarkan produk seperti organisasi serupa di manca-negara, yaitu JSSC, atau AISC dan lain sebagainya.

Ini sedikit rangkuman dari materi presentasi saya, yang juga saya sampaikan ke pak Andias (Kementerian PUPR) yang katanya akan diteruskan ke atas dalam usaha pembentukan ISSC tersebut. Semoga apa yang saya sampaikan juga merepresentasikan keinginan dari masyarakat konstruksi baja pembaca setia blog ini.  Semoga.

 

Pokok-pokok penting pembentukan ISSC

Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto

Anggota Komite Keselamatan Konstruksi – Kementrian PUPR
Dosen Jurusan Teknik Sipil, UPH

 

Latar belakang

Saat ini terlihat adanya TREN pemakaian konstruksi baja pada pembangunan infrastruktur yang masif di seluruh negeri. Itu terjadi karena motivasi baru pemerintah yang pertimbangannya tidak hanya sekedar faktor ekonomi semata, tetapi mengkaitkannya dengan usaha mempersatukannya 714 suku di Nusantara, memajukan kebudayaan dan kesenian di masyarakat, dan meningkatkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat.

Sisi lainnya, pemerintah mempunyai kebijakan baru memilih sektor pariwisata sebagai andalan untuk meraup devisa negara. Akibatnya pembangunan infrastruktur yang masif tersebut kalau bisa juga dibuat atraktif (besar, megah dan khas sebagai ikon daerah) untuk mendukungnya.

Faktor lain yang tidak diduga adalah adanya tawaran bantuan hibah Jepang terkait peningkatan mutu konstruksi baja. Hal-hal itulah yang mendasari mengapa saat ini dianggap waktu yang tepat untuk dimulainya konsolidasi pengembangan kompetensi profesi masyarakat baja Indonesia.

Masalah dan usulan solusinya

Selama ini konstruksi baja dianggap kurang populer dibandingkan konstruksi beton di Indonesia. Konstruksi baja hanya akan dipilih jika pemakaian konstruksi beton sudah tidak ekonomis lagi. Oleh karena baja kurang populer dibanding beton, maka tidak banyak insinyur Indonesia yang menggeluti ilmunya (kekurangan s.d.m ahli konstruksi baja). Akibatnya ketika harus dipilih konstruksi baja, maka bangunannya relatif lebih mahal, bahkan kualitasnya menurun, yang menyebabkan pada akhirnya konstruksi baja menjadi dihindari.

Dengan begitu masifnya pembangunan infrastruktur di tanah air ini, maka kedepannya mau tidak mau dan terpaksa akhirnya akan memilih konstruksi baja, karena keunggulan-keunggulan yang tidak bisa digantikan oleh konstruksi beton. Pada situasi seperti itu, jika faktor biaya dan kualitas yang diutamakan, sedangkan ahli konstruksi baja dalam negeri kekurangan, maka bisa terjadi akan mengimpor ahli-ahli atau barang luar negeri. Itu tentu bisa menjadi bencana bagi para pelaku konstruksi baja (insinyur atau pengusaha) dalam negeri, kondisinya seperti pepatah “bak tikus mati di lumbung mati”. Itu berarti meskipun terdapat pembangunan infrastruktur masif, tetapi para penggiat konstruksi di dalam negeri tidak mendapatkan manfaatnya.

Agar masyarakat konstruksi baja Indonesia mendapatkan manfaat atas kebijakan pembangunan infrastruktur yang masif, maka satu-satunya cara yang bermartabat adalah peningkatan mutu terhadap s.d.m dan produk barang yang terkait konstruksi baja tersebut.

Pentingnya ISSC (Indonesia Society of Steel Construction)

Usaha untuk peningkatan mutu (s.d.m dan produk barang) hanya bisa berhasil jika telah ada kesepakatan berpikir yang sama, komunikasi yang baik dan akhirnya kerja sama yang erat satu dengan yang lain dari antara para penggiat konstruksi baja di tanah air untuk mencari solusinya. Itulah makanya langkah awal perlu dipikirkan suatu organisasi khusus, yang dalam hal ini telah diusulkan bersama ISSC (Indonesian Society of Steel Construction). Suatu organisasi yang dibentuknya mencontoh organisasi serupa mancanegara, seperti JSSC (Japan Society of Steel Construction) atau AISC (American Institute of Steel Construction) dan lain-lainnya.

Organisasi tersebut akan terdiri dari unsur industri / konstraktor, akademisi dan pemerintah yang berkepentingan untuk peningkatan mutu atau kualitas pekerjaan yang terkait konstruksi baja.

Terbentuknya organisasi ISSC yang belum ada sebelumnya adalah sangat penting karena dapat menjadi menjadi bersatunya para penggiat konstruksi baja di tanah air. Dengan bersatunya pada satu organisasi yang baru tersebut maka tentunya dapat dilakukan konsolidasi, saling komunikasi sekaligus koordinasi satu sama lain untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.

Target kerja ISSC

Tentu saja yang utama adalah usaha-usaha untuk terjadinya peningkatan mutu s.d.m dan produk hasil industri atau jasa konstruksi terkait konstruksi baja di Indonesia.

Adapun langkah nyata untuk terjadinya peningkatan mutu yang dimaksud tentu perlu dijabarkan secara jelas agar terukur. Mengacu pada organisasi serupa di mancanegara, maka kesuksesan dibentuknya ISSC dapat dilihat dari kesuksesan melaksanakan program berikut, yaitu :

  1. Penyelenggaraan pendidikan, pengajaran dan pelatihan. Ini diperlukan untuk usaha peningkatan kompetensi s.d.m secara massal dan terarah.
  2. Kegiatan riset dan publikasi ilmiah (penyelenggaraan seminar, buku-buku paduan dan jurnal ilmiah). Ini diperlukan untuk mengatasi permasalahan yang belum ada sebelumnya dan perlu keputusan yang dapat dipertanggung-jawabkan.
  3. Standardisasi mutu, untuk level s.d.m dan produk atau jasa konstruksi. Ini diperlukan untuk mengevaluasi mutu dan menggolongkan tingkat mutu s.d.m dan produk atau jasa konstruksi yang ada.

Tantangan dan Permasalahan ISSC

Dari ketiga rencana program, maka bidang standardisasi mutu perlu pemikiran yang bijak dalam hal pemilihan tolok ukur yang akan digunakan. Dari pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan dapat diidentifikasi adanya berbagai motivasi pembentukan ISSC yang mungkin berbeda-beda karena unsur yang bergambung adalah bermacam-macam, ada yang dari industri, konstraktor, konsultan, akademisi dan pemerintah. Masing-masing tentu berusaha agar apa yang telah jadi kebiasaannya maka tetap digunakan, jangan ada suatu perubahan yang bersifat ekstrim. Maklum untuk mencapai mutu yang tertentu, perlu kerja keras dan pengorbanan baik waktu dan biaya yang tidak bisa disepelekan.

Dari identifikasi sepintas dapat diketahui bahwa ada dua standar yang berbeda, yang selama ini berlaku pada para penggiat konstruksi baja. Sebagian besar praktisi dan juga produsen baja lebih terbiasa dengan standar Jepang, sedang pada sisi lain para konsultan dan akademisi lebih terbiasa dengan standar Amerika. Untuk mencampur keduanya adalah tidak mudah. Ini tentu perlu dipikir secara masak dalam penentuan keputusan soal standardisasi.

Usulan yang dapat diberikan, bahwa karena SNI perencanaan Struktur Baja sudah diterbitkan dan mengadopsi lengkap standar Amerika, maka diusulkan untuk tetap memakai standar tersebut untuk standar perencanaan. Maklum ini sudah menjadi rujukan dari pada pendidikan insinyur di Indonesia dan juga telah disepakati oleh para insinyur perencana. Adapun yang terkait dengan praktisi dan pelaksanaan di lapangan, yang memang tidak diajarkan di perguruan tinggi, maka bisa dipertimbangkan sesuai yang mayoritas digunakan, misalnya standar Jepang.

Dalam diskusi dari para anggota selama rapat penyusunan pembentukan ISSC, ada kebimbangan dalam memilih istilah “Penelitian dan Pengembangan”  karena terbiasa mendengarkan istilah asingnya yaitu “Research and Development” atau R & D. Ini adalah istilah yang umum di dunia industri. Adapun istilah yang diusulkan penulis adalah “Penelitian dan Publikasi” atau “Research and Publication”, suatu istilah yang populer di dunia akademisi. R & D adalah cocok untuk dunia industri karena hasil riset terwujudkan dalam bentuk hasil produk, dan formulasi untuk mengha-silkan produk tersebut disembunyikan atau tidak dipublikasikan. Ini jelas tidak bisa diterapkan pada organisasi seperti ISSC yang harus menyampaikan publikasi untuk peningkatan mutu para anggotanya. Bagi ISSC maka seberapa hebatnya suatu penelitian tidak akan bermakna jika tidak ada publikasinya, karena tanpa publikasi maka tentu para anggotanya tidak akan mendapatkan manfaat. Agar tujuan ISSC tercapai maka produk hasil berupa “Penelitian dan Publikasi” adalah sangat penting. Itulah alasannya mengapat ISSC harus dapat berkerja sama erat dengan pihak universitas agar dapat memberdayakan kompetensinya dibidang riset dan penelitian.

Usulan jangka pendek ISSC

ISSC adalah suatu program jangka panjang, menyangkut keberadaan manusia profesional terkait konstruksi baja. Agar dapat berjalan dengan baik, maka tentunya harus diisi oleh orang-orang profesional yang idealis, yang mau menerima kepercayaan dan dapat bekerja serta menjadi teladan untuk mencapai suatu kondisi mutu tertentu. Dapat mengidentifikasi orang-orang yang dimaksud, dapat mengajaknya bergabung untuk memikirkan dan bekerja keras membangun ISSC adalah sesuatu hal yang pertama kali harus dikerjakan. Bila secara finansial dari ISSC belum mencukupi maka tentunya harus dapat diperoleh suatu kebanggaan untuk bisa bergabung. Hal apa yang bisa dianggap membanggakan itu tentu juga perlu dipikirkan untuk menjadi daya tarik orang-orang profesional (bermutu) mau bergaung.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan ISSC

Saat ini ada kecenderungan bahwa organisasi profesi di Indonesia, lebih mirip disebut organisasi politik, yaitu sekedar tameng atau tenaga pemaksa kehendak. Ini tentu tidak diharapkan terjadi. Ada juga ditengarai bahwa organisasi seperti itu tidak berfokus pada peningkatan mutu, tetapi hanya sekedar menjual surat sertifikasi keahlian semata. Kedua hal ini jelas akan menjatuhkan reputasi ISSC jika nantinya hanya itu yang dilakukannya.

Penutup

Telah disampaikan berbagai hal tentang motivasi pentingnya ISSC, hal-hal apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan. Semoga ini dapat menjadi bahan pemikiran kedepan agar dapat mewujudkan ISSC sehingga trend pemakaian konstruksi baja di Indonesia oleh rakyat sendiri dapat berhasil dilakukan. Amin.

Versi lengkap makalah yang saya sampaikan di acara tanggal 19 Juli 2018 dapat diunduh di  Wiryanto-19-Juli-2018@Ambhara-Jakarta.pdf (3.8 Mb)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s