video pengukuhan Prof WD di UPH

video pengukuhan Prof WD di UPH

Kemarin menerima WA dari seorang anak muda yang sedang studi doktoral. Untuk menambah inspirasi ingin membaca disertasiku. Terkesan oleh semangat dan pertemanan yang lama, aku tanggapi dengan mengirim softcopynya via cloud. Semoga bisa bermanfaat. Jika banyak anak muda seperti itu, tentunya bangsa ini akan semakin maju. Semoga.

Lanjutkan membaca “video pengukuhan Prof WD di UPH”
Jembatan dan Kesejahteraan

Jembatan dan Kesejahteraan

Pendahuluan

Kondisi geografi wilayah yang dipisah sungai atau jurang yang dalam dan lebar menyebabkan penduduk jadi terisolasi. Padahal kesejahteraan masyarakat tergantung interaksi diantara mereka, di sekolah, di rumah peribadatan, di pasar di pusat perputaran ekonomi setempat, di lapangan olahraga atau tempat perkumpulan sosial lainnya dan tempat kerja tentunya.

Untuk wilayah dengan kondisi geografi seperti itu, maka pembangunan jembatan penghubung menjadi solusi efektif untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat penduduknya.

Lanjutkan membaca “Jembatan dan Kesejahteraan”
ada apa dengan SNI 1729:2019

ada apa dengan SNI 1729:2019

Tidak terasa, code struktur baja kita telah berubah lagi. Saat ini SNI 1729:2015 sudah digantikan oleh SNI 1729:2019. Rasanya saya sudah pernah mendapatkan file-nya, hanya sayang ketika menulis ini, file yang saya maksud tersebut tidak ketemu. Jika ada yang punya silahkan di share ya. Thank you.

SNI 1729:2019 pada dasarnya adalah terjemahan dari ANSI/AISC 360-16 yang bisa di down-load secara gratis di sini. Bagaimana, apakah sudah pada membaca isinya. He, he, kalau belum nggak apa-apa. Bagi yang sudah membaca dan memahaminya, wah hebat itu. Anda pasti penggemar ilmu struktur baja.

Jujur, setelah berkecipung beberapa tahun membantu PUPR sebagai anggota Komite Keselamatan Konstruksi, dan mendapat kesempatan untuk memeriksa beberapa kerja kontraktor, khususnya ketika mempersiapkan sistem perancah bajanya. Dapat diketahui bahwa sangat jarang mereka mempersiapkan perencanaannya memakai SNI 1729. Sebagian besar sekedar memakai hasil program komputer, apakah itu SAP2000 atau MIDAS. Kesannya, yang penting hasil program komputer menunjukkan ratio < 1.0. Dianggapnya itu ok.

Pada suatu kasus, ketika ada kegagalan perancah. Maka saya mencoba bertanya kepada engineer yang mempersiapkan perancah tersebut. Berapa panjang tekuk kolom perancah anda ?

Apa jawabannya, coba terka ?

Lanjutkan membaca “ada apa dengan SNI 1729:2019”
saya ini programmer lho !

saya ini programmer lho !

Jika anda memperhatikan, saya suka memperkenalkan diri sebagai engineer, guru besar, penulis dan programmer atau pemrogram. Untuk engineer mudah diidentifikasi, yaitu gelar yang terpasang di depan nama saya, yaitu Ir. Hanya saja pemakaian gelar itu sekarang lagi jadi permasalahan dengan adanya undang-undang insinyur yang baru. Padahal saya sudah pakai itu sejak tahun 1989. Kalau saya menyebut diri saya, guru besar atau profesor maka tentu tidak ada yang meragukan, ada acara pengukuhannya yang meriah. Juga untuk sebutan penulis, tidak perlu diragukan karena sudah ada buku yang diterbitkan dan sampai sekarang masih bisa dibeli di Bukalapak atau di Tokopedia atau sumber langsung di http://lumina-press.com.

Untuk profesi saya sebagai programmer, maka bagi yang baru-baru kenal saya, tentu akan banyak bertanya-tanya. Apa betul saya ini seorang programmer. Jawaban tentang hal itu hanya bisa diketahui jika telah membaca buku saya, yang terbitan PT. Elexmedia tahun 2002 atau 18 tahun yang lalu. Tentu saja buku tersebut sudah susah dicari dan sudah banyak yang melupakannya. Sejak buku itu terbit, rasanya produktifitas saya sebagai programmer hanya diaplikasikan pada struktur beton, dan belum struktur baja. Padahal setelah itu, saya lebih banyak fokus mendalami struktur baja, yang akhirnya terkulminasi dengan terbitnya buku struktur baja di tahun 2015 dan 2016 yang lalu. Akibatnya di kalangan profesional, saya ini dikenal sebagai ahli struktur baja. Nggak salah deh.

Lanjutkan membaca “saya ini programmer lho !”

keberpihakan

Kata “keberpihakan” menurut kamus kbbi termasuk kata benda (noun) yang berarti “hal berpihak“. Itu maksud dari tulisan saya kali ini.

Dengan menyatakan keberpihakan, ada kesan bahwa kita sependapat, sepemikiran, atau minimal setuju dengan tindakan-tindakan pihak yang kita pilih. Pihak yang dimaksud bisa berupa tokoh (orang), sekelompok, segolongan, sepemahaman, atau sesuatu apapun yang bisa dijadikan rujukan. Menyatakan keberpihakan untuk saat ini sangat mudah dilakukan. Meskipun mudah tetapi dampak dengan menyatakan keberpihakan tersebut tidaklah dapat dianggap sepele. Kasus ini misalnya :

Lanjutkan membaca “keberpihakan”

UTS Str Baja II – Okt. 2020

Hari ini periksa jawaban murid yang ambil mata kuliah Struktur Baja 2, Semester Ganjil 2020/2021 di Progdi Teknik Sipil UPH. Ini sudah UTS ke dua kalinya yang benar-benar pakai sistem on-line. Nggak pernah ketemu langsung, dan sudah tidak ada lagi kertas yang bertumpuk-tumpuk seperti dulu. Hasil pembelajaran sekarang semua tersimpan di data Cloud. Aksesnya dari Ipad dan corat-coretnya pakai digital Pencil. Sudah benar-benar paperless.

Lanjutkan membaca “UTS Str Baja II – Okt. 2020”

bangunan berlogo SNI

Mungkin agak bingung dengan judul di atas, tetapi jika kata “bangunan” diganti dengan “helm” tentunya bisa dipahami  apa maksudnya. Istilah tersebut timbul tentunya dilatar-belakangi adanya produk-produk “helm” yang tampilannya bagus dan mentereng tetapi ketika ada yang memakai dan ketika kecelakaan ternyata jatuh korban juga. Helm-nya pecah. Itu berarti ada helm yang tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

Oleh sebab itulah maka pemerintah mengambil tindakan dengan cara memfilter helm-helm yang beredar. Helm yang produknya dianggap memenuhi kriteria minimum, diberi label atau logo SNI. Harapannya masyarakat dapat mengenal mana helm yang sebaiknya diberli, tidak hanya dari segi keindahan atau murahnya saja tetapi juga mutu kekuatannya sehingga jika dipakai nanti dapat terhindar dari kecelakaan akibat helm yang pecah.

Adanya logo (SNI = Standar Nasional Indonesia) memudahkan masyarakat awam menentukan pilihan produk yang akan digunakan. Ada logo berarti telah memenuhi mutu tertentu (kekuatan) yang hanya orang berpengalaman yang memahaminya. Lanjutkan membaca “bangunan berlogo SNI”

beban hidup atap “konstruksi pabrik”

Meskipun nama Wiryanto Dewobroto tidak disertai gelar akademik lengkap, juga tidak dikaitkan dengan adanya SKA profesi tertentu, tetapi ketika nama tersebut terbaca pada tumpukan buku seperti foto di bawah ini, khususnya buku yang paling tebal.

Gambar 1. Tumpukan buku-buku di meja kerjaku

maka tentunya banyak orang yang percaya bahwa nama penulis buku tebal tersebut adalah ahli / pakar. Beberapa senior menyandingkan nama saya tersebut dengan keahlian struktur baja (steel structure). Padahal sejatinya, yang punya nama tersebut hanyalah seorang penulis, yang memang secara spesifik memilih genre khusus engineering. Kebetulan buku yang diterbitkan tahun 2015 dan tahun 2016 yang laris manis adalah struktur baja. Itu bisa terjadi karena kehidupan sehari-harinya adalah guru atau dosen di bidang rekayasa atau engineering , khususnya mata kuliah struktur baja. Jadi yang ditulisnya adalah keseharian yang dijumpainya.

Banyaknya orang yang mempercayai bahwa saya adalah seorang ahli dibanding sekedar dosen di perguruan tinggi, ternyata menghasilkan persepsi positip, yang kadang tidak terduga dampaknya. Sering kujumpa kenalan baru, yang mengenal nama tersebut tetapi belum pernah bertemu langsung dengan diriku. Jadi tulisan-tulisan yang aku buat  bekerja membantuku mengembangkan jejaring pertemanan dalam kehidupanku. Sering aku mendapatkan undangan dari orang-orang yang tertarik untuk untuk hadir di acara yang mereka selenggarakan. Padahal mereka mengenalku hanya berdasarkan nama yang tertulis di tulisan-tulisan yang kubuat. Ini bukti adanya dampak positip dari hobby menulis. Jujur, kondisi seperti ini, aku nikmati saja. Aku menganggapnya sebagai rejeki dan kehormatan bagi seorang penulis.

Bagiku kompetensi menulis lebih tinggi dari seorang yang disebut pakar atau tenaga ahli. Seorang pakar memang bisa memberikan solusi bagi suatu masalah rekayasa, tetapi seorang penulis yang juga seorang ahli atau pakar bahkan bisa menginspirasi orang-orang lain yang biasa-biasa untuk nantinya menjadi pakar. Itulah mengapa aku bangga menyebut diriku seorang penulis dan menampilkan karya-karyanya. Maklum SKA atau sertifikasi profesi seorang penulis adalah karya-karyanya. Masyarakat pembaca sendirilah yang menilai.

Gambar 2. IASTAR Short Talk 2018, Ballroom D’Cost VIP, Jakarta Pusat (Sabtu, 8 Des.2018)

Oleh sebab itu jangan kaget jika kemudian aku bisa berfoto bersama-sama dengan para pakar yang sesungguhnya, misalnya foto di atas dalam acara IASTAR Short Talk 2018 yang hadir sebagai invited speaker adalah bapak Hadi J. Yap, Ph.d, PE, GE (Vice President / Senior Consultant  – Langan Engineering & Enviromental Services USA) dan Ir. Y. P. Chandra M.Eng. (General Manager / Senior Technical Advisor –  PT. Pondasi Kisocon Raya), pakar dan praktisi geoteknik yang terlibat pada perencanaan pondasi pada gedung tertinggi nantinya di Indonesia, yaitu Jakarta Signature Tower.

Lanjutkan membaca “beban hidup atap “konstruksi pabrik””

Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia

Terbiasa bekerja profesional secara mandiri, baik sebagai dosen, penulis buku, maupun praktisi rekayasa struktur (structural engineer), maka sendirian dan tidak punya kelompok adalah hal biasa. Tetap percaya diri meskipun tetangga sebelah bangga dengan kelompoknya yang terdiri dari banyak orang. Itu paling berlaku di bidang kepenulisan, yang mutu produk hasilnya sangat ditentukan oleh individu penulisnya, bukan dari jumlah atau banyaknya penulis yang dilibatkan. Kualitas hasil penulisan sangat tergantung kompetensi indivindu dari penulisnya sendiri.

Latar belakang karakter saya adalah introvet, oleh sebab itu saya tidak terlalu tertarik ikut berorganisasi.  Sisi lain, tuntutan segi profesi tidak mengharuskan karena yang penting adalah kemandirian. Maka keduanya, yaitu [1] profesi yang dipilih; dan [2] karakter pribadi, menjadi terkesan cocok (matching). Itu mungkin pula yang mengakibatkan saya bisa berkembang dengan baik. Kesendirian yang dinikmati bahkan menghasilkan dunia imajinasi yang begitu luas dan dalam, sebagaimana terlihat pada buku-buku karanganku, yang umumnya tebal-tebal. Berbobot  begitu katanya. Ini buku-buku yang aku maksud, klik saja jika ingin membacanya.

Oleh sebab itu terasa aneh juga jika threat in iakan membahas tentang PERKUMPULAN. Terkesan tidak nyambung dengan introduction yang aku sampaikan, yang membanggakan akan kemandirian. Koq bisa.  <>.

Lanjutkan membaca “Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia”

apa yang diharapkan dari ISSC ?

Kementrian PUPR melalui Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, pada hari Kamis 19 Juli 2018 di Ruang Elang, Hotel Ambhara, Blok M Kebayoran Baru, Jakarta, mengadakan acara berjudul “Workshop Pengembangan Kualitas Konstruksi Baja di Indonesia“.

Acara workshop hanya dihadiri sekitar 50 peserta undangan. Meskipun demikian yang diundang adalah pribadi-pribadi istimewa,  para ketua atau minimal perwakilan asosiasi atau organisasi perusahaan / profesional yang dianggap banyak terkait dengan konstruksi baja di Indonesia. Dari daftar undangan yang saya terima, dapat diketahui siapa-siapa yang akan hadir di acara tersebut, sebagai berikut :

  1. Sekretaris Dirjen Bina Konstruksi PUPR
  2. Kabiro Perencanaan Anggaran dan Kerjasama Luar Negeri PUPR
  3. Direktur Bina Investasi Infrastruktur PUPR
  4. Direktur Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi PUPR
  5. Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi PUPR
  6. Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan PUPR
  7. Direktur Jembatan PUPR
  8. Direktur Penataan Bangunan PUPR
  9. Direktur Rumah Susun PUPR
  10. Kepala Pusat Bendungan PUPR
  11. Ka. Puslitbang Jalan dan Jembatan, PUPR
  12. Ka. Puslitbang  Kebijakan dan Penerapan Teknologi, PUPR
  13. Direktur Industri Logam, Kementrian Perindustrian
  14. Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementrian Perindustrian
  15. Direktur Riset dan Pengembangan IPTEK, Ristek Dikti
  16. Kasubdir. Material dan Peralatan Konstruksi
  17. Kasubdir. Teknologi Konstruksi dan Produksi Dalam Negeri
  18. Kasubdir. Kelembagaan PUPR
  19. Kasubdir. Usaha Jasa Konstruksi, PUPR
  20. Ka. Balai Material dan Peralatan Konstruksi PUPR
  21. Ka. Balai Penerapan Teknologi Konstruksi PUPR
  22. Ka. Balai Jasa Konstruksi Wil. III Jakarta
  23. Direktur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, PUPR
  24. Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA)
  25. Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI)
  26. Asosiasi Pabrikator Baja Indonesia (APBINDO)
  27. Asosiasi Fabrikator Baja Indonesia (AFABI)
  28. Asosiasi Pabrikator Jembatan Baja Indonesia (APJEBI)
  29. Asosiasi Pabrikator Tower Indonesia (ASPANTINDO)
  30. Asosiasi Roll-Former Indonesia (ARFI)
  31. Indonesia Zinc-Alumunium Steel Industries (IZASI)
  32. Lembaga Pengembangangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional
  33. Lembaga Pengembangangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi DKI Jakarta
  34. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI)
  35. Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI)
  36. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Pusat
  37. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Daerah DKI Jakarta
  38. Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)
  39. Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI)
  40. Asosiasi Perusahaan Pracetak Prategang Indonesia (AP3I)
  41. Asosiasi Pengelasan Indonesia (API)

dan ada beberapa lagi yang belum saya tulis, total ada sekitar 47 undangan. Adapun dari kalangan akademisi yang hadir ada tiga orang, termasuk penulis, yaitu [1] Ir. R. Muslinang Moestopo MSEM,Ph.D. (ITB); [2] Akhmad Aminullah, ST., MT., Ph.D (UGM) dan yang ke [3], saya sendiri, yaitu Dr. Ir. Wiryanto Dewobroto (UPH).

Jadi meskipun jumlah pesertanya relatif sedikit, tetapi karena yang diundang mencakup hampir semua organisasi profesional terkait industri dan konstruksi baja Indonesia, maka harapannya tentu saja materi yang disampaikan pada event tersebut dapat bergaung luas dan berdampak besar bagi “Pengembangan Kualitas Konstruksi Baja di Indonesia” .

Untuk acara workshop, jika dicermati materi yang dibawakan ternyata hanya diisi oleh empat (4) narasumber berbeda, yaitu dari :

  1. perwakilan Jepang (JSSC),
  2. perwakilan pemerintah oleh personil kementrian PUPR (yaitu Direktur Jembatan, Sekjen Bina Konstruksi, Direktur Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi),
  3. perwakilan masyarakat via asosiasi baja (AMBI), dan
  4. perwakilan akademisi (saya yang mendapatkan amanat).

Untuk detail daftar acara lengkap dari workshop tersebut maka dipersilahkan untuk membaca threat saya sebelumnya, agar tidak terjadi duplikasi informasi. Untuk itu silahkan klik link berikut : https://wiryanto.blog/2018/07/14/menjelang-pembentukan-issc/

Lanjutkan membaca “apa yang diharapkan dari ISSC ?”