menjelang pembentukan ISSC

ISSC adalah singkatan dari Indonesia Society of Steel Constructions, suatu organisasi profesi yang didukung pemerintah (Kementrian PUPR) dan yang ingin mewadahi masyarakat profesional yang berkecipung dan ingin memajukan konstruksi baja di Indonesia.  Tujuan utama tentunya adalah bagaimana mewujudkan peribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh“, teguh untuk “menjadi tuan di negeri sendiri” tentunya dan jangan sampai pepatah “bak tikus mati di lumbung padi” akan terjadi.

Selaku penggiat mandiri di bidang konstruksi baja (dosen mata kuliah struktur baja di Universitas Pelita Harapan), dan hobby menulis, maka ketika mas Andias Mintoharjo, dari Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Dirjen Bina Konstruksi, Kementrian PUPR, mengkontak dan melayangkan surat undangan untuk menjadi nara sumber pada Workshop Pengembangan Kualitas Konstruksi baja di Indonesia, Kamis tanggal 19 Juli 2018, tentu saja disanggupi. Padahal esok harinya sudah ada komitmen lama dengan teman-teman di Medan untuk acara HAKI Komda Sumatera Utara. Itu tentunya tidak bisa disepelekan. Lihat saja, poster seminar untuk acara tanggal 20 Juli 2018 di Medan, sudah dibuat meriah berikut.

seminar-haki-medan
Gambar 1. Rencana Seminar tanggal 20 Juli 2018 di Medan

Materi seminar tanggal 20 Juli 2018 di di Medan mirip dengan materi permintaan menjadi narasumber di Workshop tanggal 19 Juli 2018 , yaitu tentang konstruksi baja. Ini tentu suatu kondisi yang perlu dipikirkan dan dirasakan berat di awalnya. Hanya untungnya kecintaan akan ilmu struktur baja kelihatannya mengalahkannya. Merasa bahwa materi yang di Medan sudah siap, juga itu adalah acara yang ke-3 kalinya di sana sehingga ketika panitia seminar di Medan diminta untuk mengatur jadwal acara agar bisa datang tanggal 20 Juli pagi, maka undangan dari Kementrian PUPR saya terima.

Selanjutnya saya berkesempatan untuk mengikuti rapat-rapat persiapan untuk persiapan workshop yang berjalan dengan baik. Ini acara rapat ke-2 yang saya ikuti.

rapat-kedua-persiapan-workshop
Gambar 2. Rapat persiapan workshop baja PUPR sekaligus pembentukan ISSC

Dari ikut sertanya dalam rapat, dapat diketahui bahwa materi workshop itu penting, karena disanalah akan dideklarasikan pembentukan ISSC (Indonesia Society of Steel Construction). Untunglah saya “berani” menerima tawaran untuk tanggal 19 Juli tersebut. Bisa berpartisipasi di awal pembentukan ISSC tentu saja sejalan dengan kegiatan saya selama ini, “bak sambil menyelam minum air” atau seperti ikan dengan  kolam air. Ini mungkin yang disebut dengan hukum ketertarikan, saya sudah sejak lama memikirkan terus tentang struktur baja dan yang terkait, ternyata dalam perkembangan waktu, orang-orang yang mempunyai ketertarikan sama bisa saling berdatangan. Tidak hanya dari unsur perguruan tinggi, tetapi juga industri dan pemerintahan. Luar biasa padahal dahulu ketika pertama kali masuk mendalami bidang konstruksi baja, sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.

Dari pertemuan yang ada, terlihat bahwa pembentukan ISSC ini sangat serius karena didukung oleh adanya hibah bantuan dari pemerintah Jepang, yang untuk acara workshop tersebut juga mengirim perwakilannya yang kompeten dari The Japan Iron and Steel Federation (JISF) dan The Japan Society of Steel Construction (JSSC), organisasi serupa ISSC di negara Jepang. Pembentukan ISSC ini juga hasil kulminasi kerja sama dari program sebelumnya yang telah lama dilakukan. Ini ada garis merah penghubung dengan kegiatan yang tempo hari sempat melakukan pengiriman insinyur Indonesia ke Jepang, dimana banyak teman-teman di HAKI dan AMBI mendapat kesempatan bagus tersebut. Sayang saat itu, saya punya kegiatan lain sehingga tidak mendapatkannya . 😦

Dukungan dari pihak Indonesia yang kuat adalah dari AMBI (Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia) yang ketuanya Bapak Ken Pangestu, beliau terlihat duduk di samping saya pada Gambar 2 di atas. Beliaulah yang bersemangat sekali mendukung program PUPR ini untuk membentuk ISSC. Beliau berlatar belakang industri konstruksi baja (PT. Gunung Garuda, Bekasi). Latar belakang beliau berbeda dari saya yang berlatar belakang akademisi (pengajar, penulis dan peneliti). Unsur akademisi yang diundang untuk pembentukan ISSC itu yang saya tahu adalah bapak Dr. Muslinang Moestopo dari ITB, kebetulan pada acara rapat ke-2 tidak bisa hadir karena waktunya bersifat dadakan. Beliau selain mewakili unsur akademisi (ITB) juga mewakili HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia) tentu secara pribadi.

Adanya organisasi semacam ISSC ini kedepannya tentu akan sangat penting, mereka nantinya yang akan membuat standar atau code yang terkait konstruksi baja, bisa juga menerbitkan surat kelayakan mutu atau semacam sertifikasi keahlian (SKA atau SKT). Jadi keberadaannya sangat strategi. Jadi saya bisa memaklumi mengapa teman-teman tersebut bersemangat sekali. Semangat itu tentu ada hubungannya dengan harapan yang akan diperoleh dengan terbentuknya ISSC tersebut.

Harapan tersebut tentu bermacam-macam, bagi seorang dosen seperti saya ini maka pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” tentu sudah relevan, tetapi dari teman-teman dari unsur praktisi atau produsen baja maka tentu bisa dikembangkan lagi agar pepatah “menjadi tuan di negeri sendiri” dapat terwujud dan jangan sampai terjadi kondisi “bak tikus mati di lumbung padi“. He, he, he . . . . 😀

Memahami kondisi seperti di atas, makalah yang akan saya sampaikan pada workshop tanggal 19 Juli 2018 adalah sangat strategis, yaitu bagaimana kita dapat menjadi tuan di negeri sendiri untuk “baja”. Usulan yang saya sampaikan tentunya akan menjadi tantangan bagi kita bersama, bisa disetujui dan bisa juga tidak karena bisa saja itu tidak menjadi fokus kepentingan peserta yang lain. Maklum bisa saja terjadi perbedaan kepentingan. Terlepas dari usulan yang saya sampaikan, maka saya memakai prinsip utama yang akan saya kedepankan terkait usulan yang disampaikan nanti, intinya kita harus bekerja keras dan tujuan dicapai dengan cara yang bermartabat. Visi dan misi utamanya adalah melalui strategi peningkatan kualitas mutu s.d.m dan produk yang dihasilkan oleh anggota ISSC.

Bantuan luar boleh saja diterima, tetapi tentu tidak boleh mengurangi martabat. Harapannya, bantuan itu adalah untuk peningkatan mutu atau kualitas sehingga kita nantinya bisa menjadi partner yang saling menguntungkan bagi pemberi hibah. Hal sederhana yang akan saya perjuangkan tentu saja dilatar belakangi oleh peran saya sebagai dosen. Untuk itu usulan pertama adalah mempertahankan code atau standardisasi perencanaan struktur baja yang telah disusun (SNI 1729:2015), yang selama ini mengacu Amerika dan bukan Jepang. Standardisasi lain silahkan.

Ini rencana acara untuk Workshop tanggal 19 Juli 2018.

Agenda-dan-JADWAL-Workshop_17-Juli-2018

Melihat jumlah undangan yang relatif sedikit, tentu akan banyak pembaca yang kecewa. Jujur, siapa-siapa yang diundang, saya sendiri tidak tahu. Itu hak panitia di Kementrian PUPR. Jadi hanya ini yang bisa saya sampaikan. Materi presentasi nantinya akan saya berikan setelah dipresentasikan . Mohon doa restu agar dapat mewakili teman-teman penggiat konstruksi baja yang belum diundang.

Salam hormat #2 PERIODE.

 

 

 

Tentang Penulis

Microsoft Word - Wiryanto-19-Juli-2018@Ambhara-Jakarta.doc

http://lumina-press.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s