proses review menuju GB

Profesi saya adalah structural engineer, yang mulai ditekuni sejak lulus sarjana teknik dari UGM (1989) dan bekerja pertama kali di kantor konsultan rekayasa, PT. Wiratman & Associates. Kantor konsultan rekayasa struktur yang didirikan Prof Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata (almarhum). Waktu saya bekerja saat itu, beliau belum meraih gelar Doktor dan Profesor, tetapi setahu saya saat itu sudah terkenal. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dan melamar bekerja kantor beliau. Saya ingat waktu itu saya menyampaikan amplop lamaran sendiri ke kantor PT W&A di tepian sungai di area Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang saat ini gedungnnya sudah digantikan oleh gedung bertingkat tinggi. Maklu, waktu masih kuliah dulu saya punya cita-cita seperti almarhum, yaitu pakar di bidang struktur dan dikenal banyak orang.

Saat ini 2018 atau hampir 30 tahun lamanya sejak menekuni profesi structural engineer. Cita-cita sebagai pimpinan perusahaan konsultan terkenal seperti PT W&A jelas tidak kesampaian, maklum pekerjaan utama yang digeluti adalah mengajar, sebagai dosen di perguruan tinggi dan bukan pimpinan perusahan atau direktur. Hanya saja yang masih bisa disyukuri adalah masih tetap berkecipung dipermasalahan structural engineering. Bahkan diberi kesempatan untuk lebih mendalami, mengajarkan, meneliti permasalahan dan menemukan solusi serta mampu mempublikasikannya  untuk dijadikan bahan pembelajaran dan perenungan lebih lanjut bagi para engineer lain. Saya bersyukur, apa yang saya bayangkan 30 tahun lalu, terlihat mendapatkan jalan. Hanya soal kesehatan dan waktu tentunya jika Tuhan berkenan tentu dapat diwujudkan. Semoga.

Baca lebih lanjut

curhat mahasiswa

Lama sudah saya tidak menyentuh blog ini, tetapi itu tidak berarti saya tidak suka menulis. Bukan itu penyebabnya,  waktunya saja yang ternyata sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya tulisan lain yang harus dibuat, yang hasilnya dianggap lebih nyata atau realistis bagi seorang dosen.

Apa itu ?

Menulis di blog, apresiasinya adalah dari pembaca. Jika pembaca suka maka penulis juga suka, kalaupun ternyata tidak ada yang membaca. Anggap saja tulisan blog sekedar curhat penulisnya.

Hal berbeda jika menulis untuk jurnal ilmiah international. Ini dampaknya nyata, karena bisa membawa penulisnya ke jenjang Profesor dan diakui oleh komunitasnya. Juga menulis untuk presentasi atau workshop. Itu jelas ada pendengar (peserta), ada panggung dan sekaligus ada amplopnya. 😀

Baca lebih lanjut

membimbing riset S2 tentang kayu

Di kampusku sendiri memang belum ada program S2 teknik sipil kekhususan ilmu struktur. Adanya baru S2 teknik sipil kekhususan manajemen konstruksi, itupun posisinya di tengah kota Jakarta, bukan di kampus Karawaci. Oleh sebab itu aku tidak mempunyai murid bimbingan di level S2 di kampusku sendiri. Hanya saja ada satu perguruan tinggi di Jakarta yang melihat potensi keilmuan yang kumiliki, dan memberiku kepercayaan melakukan bimbingan thesis S2, khususnya yang tertarik dengan bidang keilmuanku tersebut.

Baca lebih lanjut

Seminar Inovasi Baja di Pontianak

Jumlah perguruan tinggi yang memiliki Jurusan Teknik Sipil di P. Kalimantan ada sekitar 23 (Sumber banpt.or.id). Itu berarti komunitas pembelajaran teknik sipil relatif banyak. Bayangkan, jika setiap jurusan punya 50 orang murid (pukul rata) maka setiap tahun akan ada kurang lebih 1150 orang yang datang bergabung. Karena mata kuliah struktur baja adalah wajib diikuti untuk menyelesaikan pendidikan teknik sipil, maka tentunya penyelenggaraan seminar struktur baja akan banyak peminatnya. Anggap saja yang masih aktif belajar adalah 5 angkatan terakhir atau sekitar 5750 orang dan yang benar-benar mau meluangkan waktu ada sekitar 5% saja maka itu saja akan ada sekitar 200 orang. Sudah ramai itu.

Adanya harapan seperti itu, dan juga karena adanya dukungan Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) sekaligus untuk usaha menangkap peluang akan ramainya dunia konstruksi saat di Indonesia. Oleh sebab itu Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Pontianak mengambil inisiatip menyelenggarakan Seminar Nasional Rancang Bangun Konstruksi Baja, di kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Seminar sehari tersebut akan berlangsung pada hari Rabu, tanggal 18 Oktober 2017 yang akan diadakan di Hotel Mercure Pontianak, Kalbar.

Y993738023_
Hotel Mercure Pontianak, Jl. Jendral Ahmad Yani No.91, Pontianak, Indonesia

Penyelenggaraan seminar di hotel seperti di atas, tentunya tidak sekedar untuk mengakomodasi keperluan akademis semata (kapita selekta perkuliahan), tetapi juga ditujukan sebagai sarana pengembangan profesional di P. Kalimatan dan sekitarnya, khususnya di bidang rekayasa konstruksi baja.

Baca lebih lanjut

Israel mindset !

Sabtu pagi ini ada kegiatan di kampus UPH, yaitu acara retreat tahunan. Retreat yang diselenggarakan oleh UPH bekerja sama dengan The Mission yang anggotanya adalah pengusaha-pengusaha Kristen di Indonesia.  Itu sebabnya pada retreat tersebut bisa diundang pembicara dari mancanegara.

Retreat adalah semacam kegiatan penyegaran rohani, dengan cara menyisihkan waktu sejenak merenung, introspeksi diri dan mendengarkan siraman rohani dari seseorang yang dianggap mumpuni. Harapannya agar pikiran kita bisa lebih jernih lagi (segar) dan mendapatkan kembali makna kehidupan ini. Tahun-tahun awal ketika bekerja di UPH, maka retreat karyawan dilakukan di luar kota, beberapa kali di daerah Puncak, dengan membawa anak dan istri. Mengingat hal ini, tentu sangat menyenangkan sekali. Hanya saja sekarang anggota keluarga di kampus UPH bertambah banyak, sehingga jika itu dilakukan maka tentu biayanya akan sangat besar. Oleh sebab itu, sekarang ini retreatnya berupa seminar mendengarkan semacam kotbah, dengan mendatangkan para motivator rohani dari manca negara. Untuk tahun ini pembicaranya adalah Hugh Whelchel, Executive Director of Institute Faith, Work & Economic, dari Amerika.

Seperti biasa karena ini juga kegiatan wajib di UPH maka aku mempersiapkan diri dengan baik. Lokasi acara adalah di Grand Chapel di Gedung C Kampus UPH, suatu ruang pertemuan tertutup terbesar yang dimiliki UPH. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini pula aku membawa juga camera baruku, Canon G9X Mark II. Adapun kamera lamaku Canon G11 yang ukurannya relatif lebih besar dan kalah teknologi, maka siap-siap untuk dipensiunkan. Jujur saja, aku pernah punya sebentar Sony Cyber-SHOT DSC-HX90V, Compact Camera dengan zoom 30x. Harganya kira-kira sama dengan Canon G9X. Hanya saja camera Sony itu tidak memuaskan jika digunakan pada ruang tertutup. Fokusnya lama, dan hasilnya kadang kalah oleh kamera handphone yang makainya berkesan asal jepret. Jadilah kamera Sony itu kujual lagi (rugi deh) dan gantinya adalah Canon yang akan aku uji coba di acara retreat hari ini.

Maklum mengambil foto di ruang tertutup, tanpa blitz adalah cukup menantang. Kamera pocket murah kelihatannya kalah kemampuannya dengan kamera handphone yang ada saat ini. Untuk kamera handphone biasanya aku memakai Xiomi. Hanya saja untuk detail, untuk cahaya kurang maka hasilnya kadang juga tidak terlalu memuaskan. Oleh sebab itu setelah membaca berbagai review di internet, kamera Canon G9X ini mempunyai spek yang lebih baik dari camera handphone atau kamera poket semacam Sony tersebut. Jadi event retreat ini adalah saat yang tepat untuk mencobanya.

Baca lebih lanjut

menulis skripsi – mengenai adanya persamaan . . .

Berbicara tentang menulis skripsi tentunya sesuatu yang menarik, khususnya bagi seorang mahasiswa. Maklum pengalaman tersebut perlu dilalui jika ingin lulus, baik di level S1, S2 bahkan S3. Jadi kalau yang ingin banyak sekolah tinggi maka menulis skripsi atau thesis atau disertasi adalah wajib adanya. Oleh sebab itu artikelku

tip-tip menulis SKRIPSI

24 Februari 2007

yang sudah berusia lebih dari 10 tahun ini, masih ada yang mengunjungi. Jadi ketika kemarin beres-beres menghidupkan lagi blog “The Work of Wiryanto Dewobroto” berpindah dari alamat lama, http://wiryanto.net yang kena suspend ke alamat baru http://wiryanto.blog maka sambil mengup-dated lagi link-link yang ada dan tentu saja perlu membaca lagi maka ketahuan isinya masih relevan. Oleh sebab itu bahkan saya tambah lagi dengan beberapa temuan yang sering aku jumpai dalam jeda 10 tahun tersebut.

Jadi bagi mahasiswa yang ingin skripsi atau thesis atau disertasi ada baiknya mereview lagi pengetahuannya dan membandingkannya dengan tip-tip menulis yang kubuat di atas. Jika sudah senada, yakin penulisan anda pasti akan lancar, tetapi yang ternyata bertolak belakang atau menemukan hal-hal baru maka anda perlu merenungkan lagi tentang rencana anda. Jangan grusa-grusu, bisa-bisa kecewa nantinya. Apalagi jika ketemu dosen yang kritis.

Oke. Aku tidak membahas threat-ku lebih lanjut, tetapi mencoba menjawab beberapa pertanyaan pembaca yang belum sempat aku tanggapi. Ini masalah yang memang sering terjadi diseputar penulisan. Mari kita baca komentar yang kupilih tersebut.

Dari saya pribadi khususnya sangat mengapresiasi adanya artikel ini karena sifat nya yang membangun dan memotivasi pelajar agar tetap fokus pada tujuan utamanya yang wajib diselesaikan pada tahap akhir bidang study.

Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan kepada bapak, tetapi kali ini saya ingin menanyakan beberapa poin saja sekira nya bapak dapat berikan penjelasan ataupun selebihnya masukan.

Kali ini yang mau saya tanyakan mengenai : adanya persamaan TANPA DISENGAJA. Adanya referensi jurnal tentu akan sangat mempermudah bagi pemula yang ingin menentukan sebuah topik atau tema yang akan diajukan ketika menentukan sebuah judul skripsi.

Pertanyaannya, saya menemukan kasus adanya persamaan di sebuah judul skripsi dengan objek yang sama, hanya subjek yang berbeda dan permasalahan yang diteliti hampir sama pengumpulan data berupa data primer maupun sekunder. setelah saya telusuri dan saya cermati hanya yang membedakannya TANPA DISENGAJA hanya di wilayah kecamatan yang berbeda

sekian dan terima kasih

Jujur saja ketika membaca ini, saya agak bingung. Itu alasannya saya tidak menjawabnya langsung, dan baru setelah beberapa bulan kemudian ketika membaca lagi maka saya mencoba melakukan analisis. Mengapa sampai ada pertanyaan di atas.

Baca lebih lanjut

Sesi 1 (Struktur Kayu)

Selain mengajar mata kuliah Struktur Baja (2 sks x 3 = 6 sks) di Jurusan Teknik Sipil UPH, saya juga mengajar mata kuliah Struktur Kayu (2 sks). Dua mata kuliah yang menurut Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI) dianggap tidak penting dibanding mata kuliah Struktur Beton. Ini dikarenakan ada info bahwa jumlah sks keduanya didiskusikan untuk dikurangi. Adapun yang Struktur Beton tidak diotak-atik. Nggak tahu kelanjutannya saat ini (up-dated tulisan 19 Juli 2017).

Pernyataan diatas bisa dianggap subyektif dan relatif sifatnya. Mungkin karena kebetulan saya mengajar keduanya dan bukan Struktur Beton. Padahal kalau dari latar belakang saya dulunya khan seorang praktisi struktur, sehingga akan melihat bahwa ilmu struktur baja sama pentingnya dengan ilmu struktur beton. Maunya sih menguasai kedua-duanya, hanya saja saya ingat sekali ketika baru lulus dulu, dan kemudian bekerja di kantor konsultan rekayasa struktur, merasakan sekali bahwa ilmu struktur baja waktu itu relatif lebih sukar dibanding mempelajari  ilmu struktur beton. Permasalahan stabilitas pada struktur baja sangat mendominasi dalam perencanaan, dibanding jika untuk struktur beton. Jujur saja, sejak awal saya ini lebih menguasai ilmu struktur beton dibandingkan ilmu struktur baja (maksudnya lebih pede mengerjakan pekerjaan perencanaan struktur beton dibanding struktur baja). Menariknya pada kasus-kasus tertentu, karena dianggap sebagai ahli struktur, maka mempelajari juga ilmu struktur kayu. Jadi saya membayangkan, bahwa seorang ahli struktur tentunya harus mengusai ketiga ilmu struktur tadi.

Baca lebih lanjut