DISRUPTIF konstruksi kayu dan penelitiannya

Berbicara tentang penelitian di Indonesia memang gampang-gampang susah. Teorinya bisa saja segunung. Bayangkan saja, setiap dosen yang bergelar doktor kalau ditanya tentang penelitian pastilah bisa menjawab mantap dan panjang lebar. Hanya saja implementasinya di lapangan, kadang tidak sesuai seperti yang dibayangkan.

Topik dan hasil penelitian hanya ramai di ruang sidang kampus-kampus, menjadi bahan diskusi dan debat antara tim penguji dan mahasiswa. Ujung-ujungnya penelitian hanya sekedar prasyarat lulus untuk meraih gelar akademik. Maklum dari banyaknya laporan penelitian yang dibuat, hanya sedikit yang bisa dipublikasikan ke luar untuk terbit di jurnal ilmiah bermutu atau terimplementasi menjadi inovasi bisnis. Terkait dengan publikasi, bahkan ada bukti bahwa laporan penelitian berbentuk skripsi (persyaratan akademik), akhirnya hanya dibuang karena memakan tempat di ruang perpustakaan.

1499702381-skripsi-dibuang
Gambar 1. Skripsi-skripsi yang jadi sampah (www.rempong.net)

Kelihatannya sepele, tetapi adanya skripsi-skripsi dengan kondisi seperti di atas menunjukkan bahwa hasil pemikiran akademisi terbukti tidak bermanfaat, kecuali sekedar persyaratan kelulusan belaka.

Kalaupun akhirnya ada yang dipublikasikan, maka motivasinya bagi dosen bermacam-macam. Saya coba kelompokkan sebagai berikut :

Pertama, bagi dosen yang bersertifikasi profesional dari pemerintah maka menulis makalah ilmiah yang dipublikasikan adalah wajib agar tunjangan profesi masih berlanjut. Jujur, ini salah satu dampak pemerintah terdahulu (pak SBY) yang positip bagi pendidikan tinggi Indonesia. Sampai hari ini kebijakan pemerintah (pak JKW) masih berlanjut. Itu berarti publikasi hasil penelitian dosen tentunya masih akan bertambah.

Kedua, penelitian dan publikasi adalah salah satu strategi dosen untuk sejenak keluar dari rutinitas. Tentang hal ini saya tidak membayangkan kegiatan dosen yang hanya mengajar saja. Kesannya monoton.

Saya ketemu beberapa dosen, yang sehari-hari bahkan bertahun-tahun hanya hidup untuk mengajar. Jadi nggak ada bedanya menjadi dosen dan guru. Itu biasanya terjadi karena kampusnya mempunyai banyak murid, punya banyak kelas paralel. Jadi dengan mengajar saja, waktu seminggu sudah habis tersita. Orang luar melihatnya sebagai penuh dedikasi, adapun saya koq melihatnya, memelas. Kasihan, kapan up-dated materi kuliahnya.

Nah kebijakan pemerintah dengan adanya sertifikasi dosen, sedikit banyak merubah peta kegiatan dosen seperti di atas. Mereka terpaksa sadar untuk mulai meneliti dan menulis, karena jika tidak  maka tunjangan tambahan dari pemerintah akan di stop. Terkait ini, masih saja ada teman dosen yang berusaha nitip nama di makalah teman-temannya. Pokoknya namanya bisa tercantum di makalah, bisa urutan ke dua atau yang berikutnya. Maklum kalau namanya tercantum di makalah bisa menjadi bukti untuk disebut terlibat penelitian dan publikasi. Ini jangan ditiru, ini cara dosen malas dan mengakali prasyarat pemerintah untuk mendapatkan tunjangan profesi. Biasanya ini dosen yang sudah senior (tua), yang dari awal tidak punya ketrampilan meneliti dan menulis (sangat trampil mengajar). Dosen seperti itu biasanya juga malu bertanya pada dosen lainnya yang pintar meneliti-menulis tetapi umumnya lebih muda umurnya.

Dengan menulis makalah maka dosen mendapat kesempatan (surat tugas) pergi ke luar kampus mempresentasikan makalah. Jika tempat seminarnya juga tempat wisata, misal di Bali, maka dosennya bisa sekaligus melancong. Itulah mengapa banyak konferensi ilmiah diadakan di kota wisata (Bali dll) yang laris manis untuk dijadikan tempat pertemuan international.

Hal di atas tentu hanya berlaku bagi dosen. Ada kebijakan kampus untuk memberi dukungan finansial bagi dosen yang ingin mempresentasikan hasil penelitiannya. Syaratnya harus jadi pemakalah atau pembicara. Kampus mendukung karena menjadi pembicara adalah cara elegan mengangkat citra diri dan kampus tempatnya bekerja. Ini cara promosi diri dan lembaga.  O ya, surat tugas dinas dengan dukungan finansial tentu hanya berlaku pada kampus yang sudah established (mapan). Untuk kampus tertentu, boro-boro mau membantu finansial, untuk menjalankan proses pendidikan dan pengajaran saja masih kembang kempis.

Ketiga, memenuhi persyaratan wajib publikasi bagi dosen penerima hibah penelitian. Dalam hal ini publikasi di prosiding atau jurnal ilmiah adalah bentuk pertanggung-jawaban akhir yang menunjukkan jika penelitiannya telah selesai dan berhasil. Publikasi yang paling laris adalah konferensi ilmiah yang prosidingnya berindeks Scopus. Konferensi menjadi pilihan karena dianggap relatif lebih mudah dan cepat daripada jurnal ilmiah international bereputasi.

Keempat, jika publikasinya terindeks Scopus atau memenuhi kriteria dari DIKIT maka itu sangat penting untuk KUM kenaikan pangkat akademik. Siapa tahu dengan banyak meneliti dan menuliskannya di jurnal maka nantinya bisa naik ke jenjang Profesor. Ini tentu salah satu motivasi utama dosen untuk meneliti dan membuat publikasi. Tanpa ada motivasi ini atau nggak berani masuk pada jenjang tersebut, maka akan banyak alasan untuk tidak menulis.

Kelima, menulis dan mempublikasikan agar mendapatkan pengaruh atau dukungan masyarakat. Targetnya adalah masyarakat yang tertentu, untuk itu perlu dipilih topik dan materi apa yang dapat dipublikasikan. Nggak sembarang tulisan atau opini. Jika yang ditulis adalah paper ilmiah tertentu maka tentunya yang disasar adalah masyarakat profesional tertentu. Ini semacam PR (public relation) yang merupakan strategi marketing untuk produk jasa. Hanya saja untuk dapat masuk pada level mempengaruh, perlu kompetensi menulis yang baik dan mudah dipahami. Ini tentu hanya segelintir orang yang bisa melakukannya. Untuk yang seperti ini maka media publikasi tidak hanya jurnal ilmiah, atau prosiding, yang hanya didatangi sedikit orang, tetapi perlu juga memanfaatkan media sosial yang ada, murah dan mudah dijangku masyarakat. Hanya saja untuk jenis ini tidak ada nilai KUM untuk kenaikan pangkat. Energi yang memotivasi menulis hanya karena passion dan suka-cita jika mendapatkan respon positip pembaca.

Itulah tadi pendapat saya, mewakili pendapat umum dosen Indonesia. Penelitian dan publikasi saat ini populer di kalangan dosen, sejak adanya tunjangan dosen profesional dari pemerintah. Itu berarti seorang dosen tidak hanya dituntut kompeten untuk mengajar saja, tetapi juga harus kompeten meneliti dan publikasi. Itu tentu kalau karirnya ingin cemerlang sebagai dosen.

Saat ini kinerja dosen profesional dievaluasi setiap semesternya berdasarkan kriteria : [A] pendidikan & pengajaran; [B] penelitian dan publikasi; serta [C] pengabdian masyarakat. Butir A pasti ada, inilah yang menyebabkan dosen dibayar tiap bulan (honorarium) oleh institusi kampusnya. Adapun butir B dan C diperlukan agar tunjangan sertifikasi atau disebutnya BKD dapat diterima terus dari pemerintah. Jika butir B dan C tidak ada, bisa-bisa tunjangan dari pemerintah di stop. Besarnya lumayan itu. Akhirya dari berbagai motivasi terkait publikasi oleh dosen. Kelihatannya yang menjadi motivasi utama adalah untuk memenuhi persyaratan BKD agar tunjangan dosen dapat diterima terus.

Orang Indonesia yang menjadi dosen di luar negeri, pendapatnya bisa berbeda. Seperti misalnya pak Dion (Dionysius M. Siringoringo, Ph.D) Associate Professor dari Institute of Advanced Science, Universitas Yokohama, Jepang. Beliau S1-nya dari ITB, menyebutkan bahwa motivasi melakukan riset itu bisa dilihat dari dua sudut : yaitu sebagai cara untuk menjawab permasalahan yang ada (by demand); dan riset untuk menciptakan teknologi baru (supply). Keduanya menurut pak Dion, pada akhirnya harus mempunyai nilai ekonomi (tujuan bisnis), masuk ke industri. Adapun publikasi terindeks scopus, hanyalah sekedar bonus. Adapun ini di Indonesia adalah yang utama. 😀

Ide pak Dion di atas, tentunya bisa terjadi jika telah terbentuk jaringan kerja yang baik antara industri dan perguruan tinggi. Adanya sponsor dari industri ke perguruan tinggi tentunya dengan motivasi seperti itu. Jadi ketika dapat ditemukan hal baru dari suatu permasalahan yang dipahami bersama antara industri dan peneliti, maka langsung temuan yang dihasilkan dari penelitian tadi dapat diimplementasikan di lapangan. Karena temuan itu bisa memberikan solusi baru atau alternatif maka tentunya memberi harapan. Bisa diteruskan tentunya akan bisa mengarah pada profit. Industri dan bisnisnya terbantu. Itu tentu akan memicu industri untuk memberikan sponsor untuk penelitian lagi.

Jadi kalau hanya meminta industri untuk sponsor penelitian tanpa memberi harapan ke depannya apa benefitnya, maka mana mau industrinya. Kalaupun mau tentu hanya perusahaan tertentu yang memang punya jiwa sosial tinggi. Dengan cara pikir seperti di atas maka akan terjadi link-and-match antara industri dan peneliti (akademisi atau litbang) yang membuat negara tersebut menjadi semakin maju.

Kondisi di Indonesia, sebagian besar para akademisi mendapatkan sponsor dari pemerintah (HIBAH DIKTI) bukan industri. Oleh sebab itu permasalahan yang diteliti belum tentu match dengan kebutuhan industri. Proposal untuk mendapatkan hibah tersebut dievaluasi oleh para reviewer yang diangkat dari kalangan akademisi itu sendiri (yang dianggap berpengalaman di bidang penelitian dan publikasi, misalnya dosen di level profesor). Jadi proposal yang diterima, adalah yang memenuhi kriteria reviewer tersebut.

Karena bukan dari unsur industri, maka kriteria penilaiannya bersifat universal, seperti melihat daftar pustaka apa yang dijadikan rujukan penelitian. Saya pernah mendengar, bahwa penelitian yang baik jika mengacu jurnal international bereputasi terkini (terbitan lima tahun terakhir). Dari kaca mata akademisi, maka isi jurnal tersebut adalah yang state of the art saat ini. Itu yang didunia, dan belum tentu yang terjadi di negeri sendiri. Itu berarti materi penelitian yang diajukan tidak relevan dengan permasalahan dalam negeri. Apa yang dikerjakan peneliti tersebut hasilnya pastilah tidak akan menjawab permasalahan di sekitarnya. Itu terjadi karena masalah lokal tidak terdeteksi dalam publikasi di jurnal international. Itu juga bisa diartikan bahwa penelitian sekelas Hibah Dikti bisa-bisa tidak memenuhi kriteria penelitian menurut pak Dr. Dion, yaitu sebagai jawaban masalah yang ada. Sedangkan kalau menurut cara pandang akademisi Indonesia maka selama bisa di Scopus-kan, maka hasil penelitian itu sudah sangat OK. Apalagi biayanya dari bantuan pemerintah (Hibah).

Adanya hasil penelitian yang tidak menjawab masalah lokal itulah yang mungkin akhirnya membuat laporan hasil penelitian atau skripsi, akhirnya hanya dibuat jika mahasiswa telah lulus (lihat Gambar 1).

Pak Wir, bagaimana dengan penelitian konstruksi kayu di Indonesia, bukankah Bapak juga dosen struktur kayu. Apakah penelitian kayu masih relevan, toh tidak ada demand ?

Pertanyaan yang baik. Ini sangat relevan dengan uraian di atas. Ini menarik, beberapa perguruan tinggi di Indonesia masih banyak yang aktif melakukan penelitian tentang konstruksi kayu. Program S3-nya bahkan menghasilkan banyak lulusan bergelar doktor di bidang kayu.

Jika dievaluasi dari sudut pandang dosen Indonesia maka tentunya ok-ok saja. Maklum penelitian di level doktor adalah bukti materi penelitiannya telah teruji secara akademis untuk menunjukkan adanya hal baru yang orisinil. Tidak ada lagi yang diragukan dari segi akademisi. Padahal kalau dilihat dari segi praktis di lapangan, baik di dunia konstruksi maupun dunia pengajaran terlihat bahwa konstruksi kayu di Indonesia semakin mundur. Indikasinya mata kuliah kayu saat ini hanya sebagai mata kuliah pilihan, bukan mata kuliah wajib untuk dipelajari di level S1 teknik sipil. Adanya ketentuan tersebut maka jurusan bisa saja tidak membuka mata kuliah konstruksi kayu sehingga bisa terjadi lulus jadi sarjana teknik sipil tanpa tahu apa itu konstruksi kayu. Praktek di lapangan, saat ini sangat jarang dijumpai konstruksi kayu, kecuali rumah sederhana non-permanen. Kalaupun ada, maka harganya relatif mahal, khususnya untuk mendapatkan kayu yang baik dan dikerjakan dengan baik.

Khan aneh, banyak doktor baru di bidang kayu di Indonesia, tetapi perkembangan konstruksi kayu di Indonesia semakin mundur. Apakah ini menunjukkan tidak adanya link-and-match pendidikan tinggi dan industri. Doktor-doktor tersebut lalu harus kerja apa, bisa mengajar jika jurusan membuka mata kuliah tersebut, maka ke lapangan juga kalah bersaing dengan level tukang. Kalaupun eksis maka mereka perlu menulis, hanya saja masalah-masalahnya nggak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Nah jika kemunduran perkembangan konstruksi kayu di Indonesia dapat dianggap sebagai masalah yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian konstruksi kayu di Indonesia selama ini tidaklah menjawab masalah tersebut. Tidak ada link-and-match antara penelitian yang dilakukan dengan strategi mengatasi permasalahan yang mengakibatkan terjadinya kemunduran konstruksi kayu di Indonesia. Ini juga berarti penelitian sebagai usaha by demand (menjawab kebutuhan) seperti yang disampaikan pak Dr. Dion, belum terjadi pada penelitian kayu di Indonesia.

Lho bukankah konstruksi kayu sekarang memang sudah tergantikan oleh konstruksi baja atau konstruksi beton. Jadi untuk apa masih peduli dengan konstruksi kayu pak Wir.

Pemikiran seperti inilah yang menyebabkan konstruksi kayu di Indonesia menjadi tidak berkembang. Pemikiran pesimis. Persis seperti pemikiran calon pemimpin yang melihat negara kita ini akan bangkrut. Orang-orang seperti itu jelas harus kita hindari. Kita harus menghindari orang-orang seperti itu. Kita harus optimis.

Agar optimis, maka tidak harus tutup mata dan mempercayai saja kata orang lain. Kita harus aktif mencari bukti, apakah memang harus seperti itu, atau ternyata ada hal yang lain. Memang betul, saat ini konstruksi kayu memang jarang digunakan lagi pada konstruksi bangunan besar di Indonesia, karena untuk bentang besar maka konstruksi baja menjadi pilihan utama. Adapun untuk jumlah tingkat yang banyak, maka konstruksi beton bisa jadi pilihan. Konstruksi kayu hanya dipilih jika diminta arsitek, atau untuk konstruksi bangunan sementara. Jadi adalah fakta bahwa konstruksi kayu di Indonesia telah redup. Orang-orang yang menginvestasikan hidupnya untuk mendalami ilmu konstruksi kayu, harus berusaha dan bertindak, jika tidak maka masa depannya bisa-bisa seperti tukang pos atau tukang ketik manual. Hilang tidak berbekas. Hati-hati.

Note : jujur saya bisa menulis ini dengan santai karena ilmu yang saya geluti adalah structural engineer, dan kebetulan yang didalami adalah ilmu baja dan ilmu kayu. Jadi masih ada serep. 😀

Jika mau melihat dengan pikiran terbuka, kondisi konstruksi kayu di dunia ternyata berbeda. Konstruksi kayu terus berkembang karena unggul dari segi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Itu tentunya bisa terjadi jika didukung oleh hutan tanaman industri, hutan buatan yang memang didesain untuk mendukung ketersediaan material kayu konstruksi.

Jadi saat ini konstruksi kayu telah mengalami DISRUPTION. Kita tidak bisa lagi menangani konstruksi kayu hanya berdasarkan cara pikir yang melatar-belakangi dibuatnya peraturan kayu Indonesia masala lalu, yaitu PKKI 1961. Kata kuncinya adalah ketersediaan kayu log utuh yang digunakan, yang saat ini semakin terbatas dan mutunya tidak bisa diharapkan.

Oleh sebab itu kalau masih berpikir bahwa konstruksi kayu yang baik adalah jika tersedia kayu log yang bagus dan utuh. Maka itu adalah konstruksi kayu era lama. Adapun masa depan konstruksi kayu Indonesia agar cerah adalah jika dapat mengadopsi cara-cara modern, seperti yang saat ini terjadi di luar Indonesia. Malaysia dan Singapore sudah mencapai hal itu, apalagi yang di Eropa, Jepang dan Amerika.

Untuk konstruksi kayu modern, yang saat ini menjadi standar industri di luar negeri, khususnya (Eropa, Jepang dan Amerika), maka kondisinya berbeda. Konstruksi kayu tidak kalah dengan konstruksi baja atau beton, bahwa pada kondisi tertentu bisa lebih unggul. Ini ada berita dari pak Dr Dion, di Jepang baru saja dibangun konstruksi kayu modern bentang besar untuk stadion. Fotonya saya ambil dari FB pak Dr. Dion.

45579948_10155960806938310_93155078986268672_n

Gambar 2. Two of five sections of the Ariake Gymnastics Center roof for 2020 Tokyo Olympic (each section spans 70 m and weighs 200 tons and one of the world’s largest timber roofs) was put in place (Sumber Dr. Dion)

Informasi lain dapat dilihat pada link berikut :

Raising the roof on 2020 Tokyo Olympics gymnastics venue
Associated Press, Wednesday, 7 November 2018, 13:0

Dari link berita di atas, dapat diketahui bahwa konstruksi kayu modern tersebut dipilih karena dianggap lebih ringan hasilnya dibanding jika memakai konstruksi baja. Pemakaian konstruksi beton jelas tidak memungkinkan karena akan lebih berat lagi. Ini fakta baru bahwa konstruksi kayu modern menjadi alternatif yang seimbang untuk konstruksi bentang lebar, bisa bersaing dengan baja dan beton. Tetapi itu adanya di luar negeri, bukan di Indonesia lho.

Masih perlukah kayu untuk pekerjaan konstruksi di Indonesia pak Wir.

Contoh konstruksi kayu di Jepang baru bisa terjadi jika industri konstruksi kayunya telah siap. Itu perlu waktu. Untuk memulai tentunya permasalahan lokal harus dipecahkan terlebih dahulu. Ini misalnya, material kayu Indonesia saat ini hanya populer untuk mebel atau finishing interior, atau elemen-elemen non-struktur. Itu tidak berarti bahan material kayu di Indonesia semakin langka, bukan itu masalahnya. Untuk itu ada baiknya merunut berita terkait stock kayu yang menumpuk sehingga ada rencana dari pemerintah untuk ekspor kayu log (tanpa diolah). Ini beritanya  :

Informasi akan adanya ekspor kayu log, menunjukkan bahwa produksi kayu Indonesia melimpah, atau tidak ada pembeli dari pasar dalam negeri. Juga petunjuk bahwa usaha pengolohan pasca panen dan memberi nilai tambah pada bahan material kayu di Indonesia, relatif sedikit. Akibatnya terjadi tumpukan stock bahan material kayu yang tidak terserap pasar dalam negeri. Jika stock ditumpuk lama, maka bisa berisiko lapuk. Itulah alasannya mengapa ide ekspor menguat.

Nah terkait hal itu, sektor industri konstruksi adalah yang dapat menyerap bahan baku material kayu cukup signifikan. Hanya saja saat ini sudah tidak ada lagi yang berminat dengan bangunan konstruksi kayu sehingga permintaan bahan kayu relatif kecil. Maklum saja, kalau yang meminta bahan kayu adalah arsitek, maka biasanya dapat diatasi dengan membungkus struktur dengan material kayu. Dari luar atau finishing adalah kayu, padahal di dalamnya adalah konstruksi baja atau beton. Jika aplikasi kayu di lapangan relatif sedikit, maka informasi akan adanya permasalahan kayu menjadi tidak terdengar. Jika tidak ada permasalahan yang diungkapkan, maka apakah perlunya penelitian terkait kayu.

Sampai di sini bisa dipahami, apakah kita perlu penelitian kayu atau tidak. Untuk kepentingan proyek umum, maka jelas tidak diperlukan penelitian. Kalaupun ada yang bilang perlu, lalu siapakah yang mau memberi modal untuk melakukan penelitian tersebut. Motivasinya harus jelas.

Adapun di kalangan perguruan tinggi, tentunya agak berbeda. Permintaan pasar untuk melakukan penelitian tentang kayu memang tidak ada, tetapi untuk belajar melakukan penelitian atau pengujian maka kayu dapat dianggap sebagai sampel uji yang relatif murah dibanding baja atau beton untuk penelitian empiris. Bagi akademisi yang penting bisa disusun suatu masalah yang relevan dengan jurnal ilmiah terbaru dan kebaharuan. Nggak penting apakah ada link and match dengan kondisi real di lapangan. Itulah makanya dapat dijumpai banyak ahli atau tepatnya doktor di bidang konstruksi kayu yang diluluskan, tetapi di sisi lain perkembangan konstruksi kayu di Indonesia mengalami penurunan.

Jadi saudara-saudara, apakah kondisi konstruksi kayu kita saat ini tetap dibiarkan saja tanpa adanya perubahan mindset dalam soal mengatasinya. DISRUPTIF  telah terjadi. Hanya inovasi dan kreatifitas sajalah maka itu dapat diatasi. Jika tidak, maka keilmuan tentang struktur kayu di Indonesia tidak akan bermakna. Persis seperti ilmu gambar manual dengan penggaris, yang telah tergantikan oleh AutoCAD. Mau ?

Tulisanku tentang kayu yang lain, monggo dibaca :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s