curhat mahasiswa

Lama sudah saya tidak menyentuh blog ini, tetapi itu tidak berarti saya tidak suka menulis. Bukan itu penyebabnya,  waktunya saja yang ternyata sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya tulisan lain yang harus dibuat, yang hasilnya dianggap lebih nyata atau realistis bagi seorang dosen.

Apa itu ?

Menulis di blog, apresiasinya adalah dari pembaca. Jika pembaca suka maka penulis juga suka, kalaupun ternyata tidak ada yang membaca. Anggap saja tulisan blog sekedar curhat penulisnya.

Hal berbeda jika menulis untuk jurnal ilmiah international. Ini dampaknya nyata, karena bisa membawa penulisnya ke jenjang Profesor dan diakui oleh komunitasnya. Juga menulis untuk presentasi atau workshop. Itu jelas ada pendengar (peserta), ada panggung dan sekaligus ada amplopnya. 😀

Tetapi jujur, karena banyak menulis di blog maka permintaan untuk menulis lain-lain, juga meningkat. Menulis itu seperti memberi, jadi ketika banyak memberi maka akan banyak menerima pula nantinya. Percaya nggak percaya, saya banyak bukti untuk mengukuhkannya. Kemampuan menulis bagi saya adalah anugrah khususnya karena profesi pekerjaan saya adalah dosen.

Pak Wir, adakah presentasi atau workshop dalam waktu dekat ini.

Itu yang saya bilang. Ada . . . saja. Ini misalnya, posternya juga lagi publish.

poster-5-Des-2018

Ini Batch II, adapun yang kemarin tanggal 1 November 2018 atau Batch I telah berjalan lancar, bahkan kata panitianya sampai nolak-nolak peserta. Itu luar biasa penyelenggaranya.

Nah menyiapkan materi-materi seperti di atas itulah yang membuat saya jarang menulis di blog ini. Meskipun demikian masih saja ada komentar di blog ini yang masuk, dan ingin ditanggapi. Jujur, setelah membaca komentar tersebut, saya koq jadi tertarik untuk menanggapinya. Maklum jiwa pendidik, secara nature ingin memberi masukan atau nasehat agar muridnya sukses. Sebagai guru, saya tentu punya banyak informasi tentang murid, bisa melihat dan mengamati bagaimana mereka berkembang menjadi “orang besar”. Tahu dulunya bukan apa-apa, eh setelah beberapa tahun lulus telah jadi pejabat. Mencoba melacak ketika dulu belum apa-apa dan melihat ternyata menjadi orang, maka tentu banyak melihat karakter-karakter positip apa yang melekat pada mereka. Jika karakter yang dimaksud dapat ditularkan kepada anak-anak muda lainnya, maka tentunya itu akan banyak membantu anak-anak muda lainnya untuk menemukan jalan menjadi orang besar.

Nah untuk itu saya coba muat curhat pembaca blog ini sebagai berikut :

Selamat malam pak Wir.

Saya mahasiswa teknik sipil yang sedang mengerjakan tugas akhir. Saya sangat tertarik dengan desain bagunan tahan gempa, dan saya penggemar blok bapak.

Masalahnya adalah : saya tinggal dan kuliah di Pontianak, dan gedung yang menjadi studi kasus TA saya dibangun di Pontianak, daerah dengan zona gempa paling rendah se Indonesia. Judul TA saya “Perhitungan Struktur Tahan Gempa Gedung Parkir di Pontianak”.

Adapun yang membuat saya kesal adalah judul saya jelas Struktur Tahan Gempa, tapi isinya tidak ada menyangkut analisa gempa, hanya sedikit mengenai input respons spektrum, dan cek periode bangunan. Iya, saya tahu itu karena di Pontianak pasti menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPBM) yang memang tidak ada persyaratan khusus untuk desainnya.

Saya kira itu yang membuat lulusan teknik sipil di Pontianak sangat terbatas pengetahuannya tentang desain bangunan tahan gempa. mungkin bagi mereka itu tidak masalah, toh di Pontianak tidak ada gempa. Jadi tidak perlu lah terlalu paham menggenai desain gempa.

Akhirnya saya simpulkan di sisi lain bahwa lulusan mahasiswa teknik sipil, di Pontianak, bidang struktur khususnya, belum bisa bersaing dengan lulusan sipil dari universitas lain di luar Kalimantan. karena menurut saya persaingan dan lapangan kerja tidak hanya di Kalimantan, bagi yang tinggal di Kalimantan. Bisa saja lulusan universitas di Kalimantan bekerja di daerah dengan zona gempa tinggi seperti di Sulawesi atau Sumatra. dan ketika itu terjadi mereka hanya memiliki bekal yang minim dalam hal desain bangunan tahan gempa. Ya itu karena selalu terikat dengan kondisi wilayah dengan zona gempa rendah.

Saya sering membaca dan mempelajari buku-buku desain tahan gempa, peraturan SNI gempa dan jurnal-jurnal mengenai desain bangunan tahan gempa. dan saya coba iseng-iseng menambahkan bebarapa pengecekan seperti analisa strong column weak beam dalam TA saya. Setelah dosen saya tahu, saya di ketawain. “Itu nggak perlu, lah orang itu loh SRPMB, untuk apa analisa seperti itu nggak perlu ,,, dlll”.

Jadi bagaimana menurut bapak ? Iya mungkin saya salah karena saya melebih-lebihkan. Bagaimana menjelaskan kepada dosen saya, kalau saya ingin lebih paham desain gempa walaupun menggunakan SRPMB.

Itulah anak muda, selalu merasa benar, dan ketika yang senior (dosen) “menertawakan”. Langsung tersinggung.

Saya kasih tanda petik pada kata menertawakan, karena bisa saya tidak ada maksud seperti itu dari dosennya. Tetapi karena sang murid, sedari awal sudah punya persepsi yang negatif (baca tulisan mahasiswa tersebut di awal), maka ketika dosennya memberi komentar seperti di atas, langsung ditanggapi negatif pula, yaitu merasa ditertawain.

Mengapa begitu. Karena sang dosen mencoba menanggapi berdasarkan prosedur yang ada pada ketentuan SNI tahan gempa. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa atau SRPMB adalah memang sistem rangka yang mana dalam aplikasinya tidak memerlukan detail khusus. Ini tentu berbeda dengan sistem rangka pemikul momen khusus.

Mengapa bisa begitu, karena SRPMB di desain ketika menerima beban gempa (yang relatif kecil tentunya) maka akan berperilaku secara elastis. Adapun detail khusus, seperti yang digunakan pada SRPMK adalah didesain bisa berperilaku inelastis. Karena analisis strukturnya mengandalkan analisis elatis, yang tidak dapat menangkap respon inelastis dari struktur, maka perlu detailing khusus.

Intinya, apa yang menjadi komentar dosen anda tentang apa yang anda lakukan, adalah sudah benar. Jika gempa dapat diatasi oleh struktur dengan berperilaku elastis, maka persyaratan-persyaratan terkait dengan perilaku inelastis, nggak perlu diterapkan. Jadi persyaratan strong column weak beam, itu hanya diperlukan jika ada kondisi inelastis yang terjadi. Harapannya agar sendi plastis terbentuk pada balok semua, dan bukan di kolom.

Jadi intinya, jika ketentuan SRPMB sesuai SNI gempa sudah dituruti maka tentunya dapat dianggap bangunan sudah tahan gempa.

Adapun yang saya tangkap, sdr mahasiswa ini merasa kalau yang namanya bangunan tahan gempa adalah yang harus memenuhi kriteria strong column weak beam dan lain-lain. Itu tidak salah, karena dipikiran kita bahwa kalau terjadi gempa besar, maka diharapkan tidak terjadi keruntuhan soft-storey. Ini tentu adanya di benak enginer-engineer Indonesia pada umumnya. Adapun kalau bangunan di daerah yang secara historis tidak pernah terekam adanya gempa besar (Kalimantan barat misalnya), maka tentunya pemikiran di atas tidak tepat.

Kalaupun ada pendapat pribadi yang meragukan itu, jadi harapannya di Kalimatan juga harus mengikuti ketentuan umum seperti bangunan lain di Indonesia (yang harus tahan gempa dan berperilaku inelastis secara aman) maka sah-sah saja. Itu itu pendapat pribadi. Tetapi secara formal tidak dapat dipertanggung-jawabkan karena code SNI pun tidak menyatakan itu. Ingat, setiap pilihan akan berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan. Kecuali memang sang owner mau menginvestasikan duit lebih untuk menjawab keraguan tersebut.

Jadi bagaimana pak solusinya, agar mahasiswa dapat belajar banyak tentang bangunan tahan gempa dengan tugas TA-nya tersebut.

Itu mah gampang. Kalau mau seperti yang dia harapkan, maka modifikasi sedikit judul TA yang dibuat. Menjadi seperti misalnya :

Judul TA dirubah jadi  “Perhitungan Struktur Tahan Gempa Gedung Parkir di Nabire, Papua ”.

Jadi bayangkan saja, anda (mahasiswa yang curhat) adalah insinyur dari perusahaan konsultan struktur yang berkantor di Pontianak dan sedang mengerjakan pekerjaan dari owner di Papua. Kondisi serupa banyak dikerjakan oleh insinyur perencana di Singapore (yang dianggap gempanya kecil) mendapatkan job perencanaan bangunan di Padang.

Beres khan. TA beres, dan keinginan untuk menguasai perencanaan bangunan tahan gempa juga dipenuhi. Hanya saja agar bisa menerapkan konsep strong column weak beam, maka tentunya jangan pakai SPRMB tetapi pilihlah SPRMK. Bahkan kalau lebih asyik bisa saja judul TA anda ditambahi, misalnya jadi sbb :

Pengaruh penggunaan sistem SPRMB dan SPRMK pada Bangunan Gedung Parkir Tahan Gempa di Nabire, Papua“.

Itu bisa sip, bahkan hasilnya bisa dipresentasikan di seminar bangunan tahan gempa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s