video pengukuhan Prof WD di UPH

Kemarin menerima WA dari seorang anak muda yang sedang studi doktoral. Untuk menambah inspirasi ingin membaca disertasiku. Terkesan oleh semangat dan pertemanan yang lama, aku tanggapi dengan mengirim softcopynya via cloud. Semoga bisa bermanfaat. Jika banyak anak muda seperti itu, tentunya bangsa ini akan semakin maju. Semoga.

Lanjutkan membaca “video pengukuhan Prof WD di UPH”

Jembatan dan Kesejahteraan

Pendahuluan

Kondisi geografi wilayah yang dipisah sungai atau jurang yang dalam dan lebar menyebabkan penduduk jadi terisolasi. Padahal kesejahteraan masyarakat tergantung interaksi diantara mereka, di sekolah, di rumah peribadatan, di pasar di pusat perputaran ekonomi setempat, di lapangan olahraga atau tempat perkumpulan sosial lainnya dan tempat kerja tentunya.

Untuk wilayah dengan kondisi geografi seperti itu, maka pembangunan jembatan penghubung menjadi solusi efektif untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat penduduknya.

Lanjutkan membaca “Jembatan dan Kesejahteraan”

keberpihakan

Kata “keberpihakan” menurut kamus kbbi termasuk kata benda (noun) yang berarti “hal berpihak“. Itu maksud dari tulisan saya kali ini.

Dengan menyatakan keberpihakan, ada kesan bahwa kita sependapat, sepemikiran, atau minimal setuju dengan tindakan-tindakan pihak yang kita pilih. Pihak yang dimaksud bisa berupa tokoh (orang), sekelompok, segolongan, sepemahaman, atau sesuatu apapun yang bisa dijadikan rujukan. Menyatakan keberpihakan untuk saat ini sangat mudah dilakukan. Meskipun mudah tetapi dampak dengan menyatakan keberpihakan tersebut tidaklah dapat dianggap sepele. Kasus ini misalnya :

Lanjutkan membaca “keberpihakan”

progress kemajuan iptek Indonesia

Kemajuan iptek suatu negara umumnya selaras dengan produktifitas masyarakat ilmiahnya dalam menulis jurnal atau paper ilmiah. Itu pula yang menjadi alasan, mengapa penilaian kenaikan pangkat dosen untuk guru besar (GB) adalah didasarkan dari jurnal ilmiah international bereputasi yang ditulisnya. Bereputasi adalah jurnal ilmiah yang terindeks oleh lembaga pengindeks yang diakui DIKTI. Salah satu lembaga pengindeks yang sangat terkenal di Indonesia adalah SCOPUS.

Lembaga pengindeks lain adalah Web of Science, bahkan banyak pakar bilang ini levelnya lebih tinggi (sulit) dari Scopus. Ada juga yang namanya DOAJ (Directory of Open Access Journals), ini banyak juga digunakan tetapi kesannya agak di bawah Scopus. Maklum, ini akan mengindeks jurnal berbahasa Indonesia juga, jadi terkesan tidak eksklusif. Nah kita juga tidak mau kalah, pemerintah mencoba membuat juga pengindeks khusus versi Indonesia yang dinamakan Sinta (Science and Technology Index), dibawah pengelolaan Dikti. Kehebatan Sinta adalah mengindeks dosen-dosen Indonesia yang ber-INDN, seberapa produktif dosen tersebut. Ini link indeks saya. Masih kalah produktif dibanding dosen-dosen lain.

Selanjutnya kita membahas data berdasarkan pengindeks SCOPUS ya.

Tahun-tahun sebelum adanya kebijakan memakai indeks SCOPUS tersebut, maka selain jurnal international, karya tulis buku juga dianggap sebagai alat ukur kedalaman ilmu seorang. Apakah pantas menjadi GB atau tidak. Saat ini yang dianggap valid untuk menjadi GB, hanya jurnal international bereputasi. Menurutku itu terjadi karena kualitas buku yang diterbitkan, bahkan oleh seorang profesor, sangat beragam. Buku bisa diterbitkan, tanpa harus melalui peer-reviewer, suka-suka sendiri penulisnya. Karena sangat subyektif isinya, maka akhirnya sekarang ini yang dipakai alat ukur adalah jurnal international bereputasi, yang proses peer reviewer-nya terjaga.

Lanjutkan membaca “progress kemajuan iptek Indonesia”

bangunan berlogo SNI

Mungkin agak bingung dengan judul di atas, tetapi jika kata “bangunan” diganti dengan “helm” tentunya bisa dipahami  apa maksudnya. Istilah tersebut timbul tentunya dilatar-belakangi adanya produk-produk “helm” yang tampilannya bagus dan mentereng tetapi ketika ada yang memakai dan ketika kecelakaan ternyata jatuh korban juga. Helm-nya pecah. Itu berarti ada helm yang tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

Oleh sebab itulah maka pemerintah mengambil tindakan dengan cara memfilter helm-helm yang beredar. Helm yang produknya dianggap memenuhi kriteria minimum, diberi label atau logo SNI. Harapannya masyarakat dapat mengenal mana helm yang sebaiknya diberli, tidak hanya dari segi keindahan atau murahnya saja tetapi juga mutu kekuatannya sehingga jika dipakai nanti dapat terhindar dari kecelakaan akibat helm yang pecah.

Adanya logo (SNI = Standar Nasional Indonesia) memudahkan masyarakat awam menentukan pilihan produk yang akan digunakan. Ada logo berarti telah memenuhi mutu tertentu (kekuatan) yang hanya orang berpengalaman yang memahaminya. Lanjutkan membaca “bangunan berlogo SNI”

Prosentasi Guru Besar di Indonesia

Panggilan Jendral adalah sesuatu yang istimewa. Maklum, semua orang tahu bahwa itu adalah gelar kepangkatan tertinggi di dunia militer. Pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi ada juga yang mirip, kepangkatan tertinggi disebut Guru Besar atau jaman dulu disebut juga Maha Guru (sekarang tidak lagi digunakan).  Hanya saja istilah kepangkatan tersebut tidak digunakan sekaligus sebagai gelar panggilan di depan nama seseorang. Adapun gelar panggilannya adalah Profesor.

Dunia militer dikenal masyarakat karena keberadaannya dijumpai di setiap pelosok tanah air, bahkan daerah terpencilpun. Adapun dunia perguruan tinggi tidak demikian, mayoritas masih berkumpul di pulau Jawa. Info grafis dari PDDikti berikut sangat membantu.

Oleh sebab itu, masyarakat di pulau Jawa lebih mengenal istilah Guru Besar atau Profesor dibanding masyarakat pulau-pulau lain di Indonesia. Maklum mayoritas kampus-kampus perguruan tinggi berada di pulau Jawa. Selain di perguruan tinggi, maka gelar profesor juga dipakai pada lembaga riset non-perguruan tinggi. Untuk itu sebutannya adalah profesor riset atau Prof (R)  diikuti huruf R dalam tanda kurung untuk membedakannya.   Untuk selanjutnya akan dibahas guru besar berbasis perguruan tinggi saja.

Lanjutkan membaca “Prosentasi Guru Besar di Indonesia”

beban hidup atap “konstruksi pabrik”

Meskipun nama Wiryanto Dewobroto tidak disertai gelar akademik lengkap, juga tidak dikaitkan dengan adanya SKA profesi tertentu, tetapi ketika nama tersebut terbaca pada tumpukan buku seperti foto di bawah ini, khususnya buku yang paling tebal.

Gambar 1. Tumpukan buku-buku di meja kerjaku

maka tentunya banyak orang yang percaya bahwa nama penulis buku tebal tersebut adalah ahli / pakar. Beberapa senior menyandingkan nama saya tersebut dengan keahlian struktur baja (steel structure). Padahal sejatinya, yang punya nama tersebut hanyalah seorang penulis, yang memang secara spesifik memilih genre khusus engineering. Kebetulan buku yang diterbitkan tahun 2015 dan tahun 2016 yang laris manis adalah struktur baja. Itu bisa terjadi karena kehidupan sehari-harinya adalah guru atau dosen di bidang rekayasa atau engineering , khususnya mata kuliah struktur baja. Jadi yang ditulisnya adalah keseharian yang dijumpainya.

Banyaknya orang yang mempercayai bahwa saya adalah seorang ahli dibanding sekedar dosen di perguruan tinggi, ternyata menghasilkan persepsi positip, yang kadang tidak terduga dampaknya. Sering kujumpa kenalan baru, yang mengenal nama tersebut tetapi belum pernah bertemu langsung dengan diriku. Jadi tulisan-tulisan yang aku buat  bekerja membantuku mengembangkan jejaring pertemanan dalam kehidupanku. Sering aku mendapatkan undangan dari orang-orang yang tertarik untuk untuk hadir di acara yang mereka selenggarakan. Padahal mereka mengenalku hanya berdasarkan nama yang tertulis di tulisan-tulisan yang kubuat. Ini bukti adanya dampak positip dari hobby menulis. Jujur, kondisi seperti ini, aku nikmati saja. Aku menganggapnya sebagai rejeki dan kehormatan bagi seorang penulis.

Bagiku kompetensi menulis lebih tinggi dari seorang yang disebut pakar atau tenaga ahli. Seorang pakar memang bisa memberikan solusi bagi suatu masalah rekayasa, tetapi seorang penulis yang juga seorang ahli atau pakar bahkan bisa menginspirasi orang-orang lain yang biasa-biasa untuk nantinya menjadi pakar. Itulah mengapa aku bangga menyebut diriku seorang penulis dan menampilkan karya-karyanya. Maklum SKA atau sertifikasi profesi seorang penulis adalah karya-karyanya. Masyarakat pembaca sendirilah yang menilai.

Gambar 2. IASTAR Short Talk 2018, Ballroom D’Cost VIP, Jakarta Pusat (Sabtu, 8 Des.2018)

Oleh sebab itu jangan kaget jika kemudian aku bisa berfoto bersama-sama dengan para pakar yang sesungguhnya, misalnya foto di atas dalam acara IASTAR Short Talk 2018 yang hadir sebagai invited speaker adalah bapak Hadi J. Yap, Ph.d, PE, GE (Vice President / Senior Consultant  – Langan Engineering & Enviromental Services USA) dan Ir. Y. P. Chandra M.Eng. (General Manager / Senior Technical Advisor –  PT. Pondasi Kisocon Raya), pakar dan praktisi geoteknik yang terlibat pada perencanaan pondasi pada gedung tertinggi nantinya di Indonesia, yaitu Jakarta Signature Tower.

Lanjutkan membaca “beban hidup atap “konstruksi pabrik””

karir profesional insinyur vs dokter

Bagaimana Bapak dulu memilih dan menentukan karir pekerjaan sehingga bisa menjadi dosen seperti sekarang ini ?“. Demikian awal mula percakapanku dengan anak muda yang baru saja lulus dari uji kompetensi profesi dokter.  Simpel, tetapi ternyata bisa membuka mata bahwa jalan karir pekerjaan seseorang itu berbeda-beda, tergantung profesinya.

Sarjana teknik sipil (saya tentunya) dan sarjana kedokteran (anak muda yang bertanya) ternyata berbeda dalam menempuh perjalanan karirnya. Bagaimana tidak, sarjana teknik sipil tidak dipaksa untuk menempuh ujian kompetensi sebelum masuk ke dunia kerja. Setelah wisuda, mereka bisa langsung melamar kerja kemana-mana, bahkan bukan di bidang teknik sekalipun (di bank misalnya). Adapun sarjana kedokteran (gelar S. Ked) meskipun sudah diwisuda, tetapi merasa belum selesai kuliah, masih masuk program kelas praktik dan belum merasa tuntas jika belum lulus uji kompetensi dokter-nya.  Perjuangan mereka memang lebih lama dibanding sarjana yang lain. Menurut cerita anak muda tersebut, teman-teman SMA-nya yang sekelas yang bukan mengambil jurusan kedokteran bahkan sudah ada yang terjun politik (jadi anggota partai) dan telah mencantumkan gelar S2-nya. Maklum di luar negeri khan ada program S2 yang hanya setahun tanpa thesis. Intinya, anak muda itu merasa karirnya untuk menjadi dokter terkesan lama sekali.

engineer-doctor

Lanjutkan membaca “karir profesional insinyur vs dokter”

curhat mahasiswa

Lama sudah saya tidak menyentuh blog ini, tetapi itu tidak berarti saya tidak suka menulis. Bukan itu penyebabnya,  waktunya saja yang ternyata sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya tulisan lain yang harus dibuat, yang hasilnya dianggap lebih nyata atau realistis bagi seorang dosen.

Apa itu ?

Menulis di blog, apresiasinya adalah dari pembaca. Jika pembaca suka maka penulis juga suka, kalaupun ternyata tidak ada yang membaca. Anggap saja tulisan blog sekedar curhat penulisnya.

Hal berbeda jika menulis untuk jurnal ilmiah international. Ini dampaknya nyata, karena bisa membawa penulisnya ke jenjang Profesor dan diakui oleh komunitasnya. Juga menulis untuk presentasi atau workshop. Itu jelas ada pendengar (peserta), ada panggung dan sekaligus ada amplopnya. 😀

Lanjutkan membaca “curhat mahasiswa”

jadwal Seminar HAKI 2018

Kira-kira dua minggu lagi dari sekarang, tepatnya besok pada hari Selasa tanggal 28 Agustus 2018 selama dua hari berturut-turut akan diadakan Pameran dan Seminar HAKI 2018 bertempat di Hotel Borobodur, Jakarta.  Informasi lebih lengkap, langsung baca saja di website HAKI di http://haki.or.id/.

HAKI atau Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia adalah asosiasi profesi ahli konstruksi, umumnya terdiri dari para insinyur teknik sipil di bidang kontruksi bangunan gedung dan yang terkait. Anggotanya banyak yang bekerja di perusahaan developer, kontraktor, konsultan rekayasa, akademisi dan supplier bahan bangunan atau yang semacamnya.

Keistimewaan dari acara ini adalah biasa dihadiri oleh sekitar 500 – 600 peserta, dan semuanya adalah profesional karena untuk ikut acara ini relatif mahal, yaitu sekitar 1.5 – 1.75 juta rupiah. Itu menyebabkan akan sedikit dihadiri oleh mahasiswa S1. Adapun mahasiswa S2 karena biasanya telah bekerja, maka sering-sering juga dijumpai. Karena HAKI juga mengeluarkan SKA atau sertifikasi keahlian untuk bekerja profesional, maka hanya orang-orang yang bekerja secara profesional di bidang konstruksi saja yang menyempatkan diri untuk hadir. Jadi yang hadir sangat selektif, yaitu para penggiat konstruksi yang aktif. Itulah makanya para usahawan di bidang bahan dan alat-alat konstruksi, melihat acara itu sebagai kesempatan berharga untuk berpartisipasi, mengenalkan produk-produk mereka ke para peserta acara. Itulah makanya, ada acara pameran di sana.

Adanya para profesional yang akan berkumpul, juga pameran yang meriah, menyebabkan acara tanggal 28 dan 29 Agustus 2018 besok pastilah telah ditunggu-tunggu oleh kita semua, para penggiat di bidang konstruksi. Maklum, selain menjadi acara temu ilmiah, event tersebut juga adalah ajang reuni tahunan, bertemu teman-teman lama untuk berbagi informasi terbaru. Network gitu lho.

Lanjutkan membaca “jadwal Seminar HAKI 2018”