Perkumpulan Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia

Terbiasa bekerja profesional secara mandiri, baik sebagai dosen, penulis buku, maupun praktisi rekayasa struktur (structural engineer), maka sendirian dan tidak punya kelompok adalah hal biasa. Tetap percaya diri meskipun tetangga sebelah bangga dengan kelompoknya yang terdiri dari banyak orang. Itu paling berlaku di bidang kepenulisan, yang mutu produk hasilnya sangat ditentukan oleh individu penulisnya, bukan dari jumlah atau banyaknya penulis yang dilibatkan. Kualitas hasil penulisan sangat tergantung kompetensi indivindu dari penulisnya sendiri.

Latar belakang karakter saya adalah introvet, oleh sebab itu saya tidak terlalu tertarik ikut berorganisasi.  Sisi lain, tuntutan segi profesi tidak mengharuskan karena yang penting adalah kemandirian. Maka keduanya, yaitu [1] profesi yang dipilih; dan [2] karakter pribadi, menjadi terkesan cocok (matching). Itu mungkin pula yang mengakibatkan saya bisa berkembang dengan baik. Kesendirian yang dinikmati bahkan menghasilkan dunia imajinasi yang begitu luas dan dalam, sebagaimana terlihat pada buku-buku karanganku, yang umumnya tebal-tebal. Berbobot  begitu katanya. Ini buku-buku yang aku maksud, klik saja jika ingin membacanya.

Oleh sebab itu terasa aneh juga jika threat in iakan membahas tentang PERKUMPULAN. Terkesan tidak nyambung dengan introduction yang aku sampaikan, yang membanggakan akan kemandirian. Koq bisa.  <>.

Baca lebih lanjut

curhat mahasiswa

Lama sudah saya tidak menyentuh blog ini, tetapi itu tidak berarti saya tidak suka menulis. Bukan itu penyebabnya,  waktunya saja yang ternyata sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya tulisan lain yang harus dibuat, yang hasilnya dianggap lebih nyata atau realistis bagi seorang dosen.

Apa itu ?

Menulis di blog, apresiasinya adalah dari pembaca. Jika pembaca suka maka penulis juga suka, kalaupun ternyata tidak ada yang membaca. Anggap saja tulisan blog sekedar curhat penulisnya.

Hal berbeda jika menulis untuk jurnal ilmiah international. Ini dampaknya nyata, karena bisa membawa penulisnya ke jenjang Profesor dan diakui oleh komunitasnya. Juga menulis untuk presentasi atau workshop. Itu jelas ada pendengar (peserta), ada panggung dan sekaligus ada amplopnya. 😀

Baca lebih lanjut

Ngajak berkelahi ?

Jokowi adalah trendsetter, sehingga setiap tindakan dan kata yang diucapkannya, jadi berita. Tidak itu saja, bahkan tanggapan yang muncul diberitakan oleh media. Ini misalnya, penggalan pidatonya di depan rapat umum barisan relawan di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8/2016) :

Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani.” kata Jokowi.
[Sumber : nasional.kompas.com]

Menurutku, itu kalimat biasa-biasa saja, tidak istimewa. Tetapi karena yang mengucapkannya adalah pak Jokowi, maka muncullah berita-berita heboh, dua diantaranya adalah sebagai berikut :

Coba kalau yang mengucapkan bukan pak Jokowi, maka tentunya akan hilang tidak berbekas. Karena itu adalah kata-kata pak Jokowi sebagai trendsetter makanya isi kalimat untuk setiap kata akan dicerna habis-habis. Karena ada kata “berantem” pula maka kata itu dijadikan objek oleh pihak yang suka nyinyir untuk diarti-negatifkan.

Berantem khan memang tidak baik pak Wir !

Berantem atau adu fisik adalah sesuatu yang tidak baik. Itu betul, kalau hanya ditinjau satu kata, tetapi tentu saja untuk mendapat makna yang tepat, maka tentu saja tidak bisa dilihat hanya sepotong-sepotong. Harus dibaca secara keseluruhan untuk mendapatkan konteks makna yang tepat. Itu tentu sudah diketahui oeh pak RG, yang katanya berlatar belakang akademisi.

Sebagai orang Jawa yang lahir di Yogyakarta, saya dapat memahami konteks ucapan pak Jokowi. Kesan saya, itu adalah kalimat standar sebagaimana orang tua umumnya memberi nasehat pada anak-anaknya, yaitu “berbuat baik bukan karena takut, tetapi karena ingin berbuat baik“. Tahu sendiri khan, di Jawa, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya maka sikap sopan-santun kepada anak-anak muda selalu diajarkan, misalnya kebiasaan berjalan merunduk di depan orang tua yang sedang duduk (jawa : jalan munduk-munduk). Itu adalah bentuk bagaimana anak muda menghormati orang tua atau orang asing. Sikap itu bagi sebagian orang, yang memang tidak biasa melihat budaya Jawa, akan membayangkan seperti sikap jongos berjalan di depan tuannya. Tampak fisik dari luarnya sama, tetapi maksud yang sesungguhnya keduanya berbeda.

Dengan demikian, kata “Tapi, kalau diajak berantem juga berani“, ibarat nasehat orang tua ke anaknya agar cara menghormat dalam budaya Jawa itu (berjalan merunduk) tidak diartikan sebagai suatu bentuk ketakutan, sebagaimana jongos kepada tuannya.

Emangnya berani berantem betulan pak ?

Pertanyaan di atas timbul tentunya karena menemukan kesan bahwa orang Jawa (Jogja / Solo dan sekitarnya) itu klemak-klemek, dan halus tata bahasanya. Berbeda sekali dengan preman yang nampak di film-film bioskop, bahwa yang jago berkelahi adalah orang yang berwajah garang dan kasar. Itu artinya, orang yang berani berantem identik dengan wajah garang. I ya khan ?

Jangan salah, berani berantem atau tidak kadang tidak ada hubungannya dengan wajah garang atau lembut. Lihat saja dengan jago silat film mandarin, banyak jago silat yang ahli berantem berwajah klimis (tanpa kumis) dan nampak lembut. Mereka berani berantem karena terlatih, atau tepatnya punya ilmu beladiri.

Ngomong-ngomong tentang ilmu beladiri, maka kota-kota di selatan Jawa tengah (Jogja dan Solo serta sekitarnya) adalah gudangnya. Saya termasuk yang tidak terlalu mendalami ilmu ini, tetapi waktu kecil atau masa sekolah dulu, sering sekali mendengar kabar tentang aktifitas organisasi beladiri di Yogyakarta, baik yang resmi (seperti perguruan Tapak Suci atau Merpati Putih) dan yang nggak resmi, yang hanya dikenal berdasarkan alur guru silat pembimbingnya. Kalau nggak percaya, coba saja sekali-kali bermain di kota Jogja menjelang malam 1 Suro. Jika keluar malam hari, khususnya di jalan-jalan menuju pantai selatan, maka akan banyak bertemu dengan barisan anak-anak muda yang berjalan kaki malam hari ke arah selatan (pantai).  Mereka sedang menjalankan ritual tradisionil yang banyak dilakukan oleh para pelibat ilmu beladiri di kota tersebut.

Oleh sebab itu, bagi warga kota Jogja – Solo dan sekitarnya, adalah wajar menjumpai banyak anak-anak mudanya belajar ilmu bela diri. Tahu khan, yang namanya ilmu bela diri adalah belajar bagaimana agar tidak kalah dan terluka ketika harus berantem.  Nah pada konteks seperti itulah, orang tua yang mempunyai anak yang perlu belajar tata krama budaya Jawa dan di sisi lainnya adalah pelajar seni bela-diri, maka nasehat sebagaimana yang diungkapkan oleh pak Jokowi adalah sangat relevan. Itu nasehat yang biasa yang dijumpai di daerah tersebut.

Jadi komentar-komentar dari pak Fahri dan Rocky itu nggak perlu ditanggapi ya pak ?

Ya gimana lagi, kalau sudah dari sononya apriori, maka ya begitulah nggak perlu ditanggapi, karena semakin mendapat tanggapan mereka akan senang, dianggapnya selevel dengan pak Jokowi. Btw, adanya tanggapan-tanggapan yang heboh sebenarnya hanya menunjukkan bahwa pak Jokowi saat ini adalah trendsetter dan mempunyai pengaruh kuat di masyarakat.  Wajar saja jika beliau perlu diberi kesempatan dua periode jabatan. Buat siapa, buat kita semua agar NKRI jaya.

 

 

robohnya selasar BEI

Berita tentang robohnya struktur lantai selasar gedung BEI, menjalar cepat via WA tadi siang. Ada yang melalui grup profesional, maupun grup awam, berita dari ibu-ibu perumahan yang dishare istri saya. Jadi berita ini mestinya sudah menjadi rahasia umum. Ini ada sedikit foto yang aku dapat via internet.

korban-reruntuhan-bei-di-evakuasi-ke-rs-mintoharjo-hqgsnMqUAi
Reruntuhan selasar di gedung BEI (sumber gambar : Oke Zone)

Berita-berita tentang musibah tersebut langsung bertebaran. Ini saya coba tampilkan beberapa link hasil om Google, siapa tahu anda tertarik :

Menarik sekali bahwa ini terjadi pada bangunan gedung di Jakarta, yang notabene adalah ibukota negara kita, Indonesia. Pantas saja tadi siang sudah ada komentar khusus dari pakar kita yang hidup di negeri seberang.

Baca lebih lanjut

Belum baca buku saya ya ?

Kehidupan mengajar bagi saya adalah suatu kehormatan, apalagi ditambah karunia menulis. Lengkap sudah modal untuk mengisi kehidupan ini secara warna-warni. Akibatnya profesi dosenpun dapat menjadi sesuatu yang dibanggakan, tanpa perlu melengkapi diri dengan Rubicon.  😀

Salah satu ciri atau tanda jika proses mengajar / menulis mendapatkan respon yang baik dari murid / pembaca adalah adanya pertanyaan, baik itu secara lesan (mengajar) atau tertulis (dibaca tulisannya). Pertanyaan dapat menjadi menjadi petunjuk apakah materi yang diajarkan mendapat respon atau tidak. Semakin banyak pertanyaan, berarti para murid tertarik untuk mendengarkan bahkan bisa terjadi diskusi tambahan untuk menjelaskan hal-hal lain yang mungkin terlewatkan. Proses pengajaran menjadi hidup.

Baca lebih lanjut

lulus cepat atau ntar, belajar lagi dulu

Dapat kiriman pertanyaan via Facebook messenger, ini isinya :

Selamat malam Pak Wir

Saya mahasiswa Teknik Sipil 2014.
Saya kagum dengan pengetahuan bapak dalam bidang sipil terutama bidang struktur, bidang yang juga saya senangi.

Jika dibandingkan dengan teman-teman angkatan sipil saya sendiri khususnya yang mengambil struktur, saya termasuk yang di atas rata-rata. Namun setelah membaca tulisan-tulisan Bapak dan diskusi yang terjadi dengan pembaca blog Bapak, saya merasa ilmu struktur saya belum ada apa-apanya. Oleh karena itu saya berencana memperpanjang studi saya yang awalnya target lulus 4 tahun, saya perpanjang menjadi 4,5 tahun. Dengan tujuan setengah (0,5) tahun terakhir saya gunakan untuk banyak-banyak membaca buku atau artikel, ikut lomba, konsultasi gratis dengan dosen, dan ikut proyek dosen. Karena kalau sudah lulus tentunya akan sulit untuk menjalani tujuan-tujuan di atas.

Namun orang tua saya berkata lain, orang tua ingin saya lulus 4 tahun. Tapi saya agak keberatan, karena saya sadar ilmu struktur saya masih cetek, saya benar-benar ingin memperdalam ilmu struktur setidaknya dalam waktu 6 bulan (karena saya agak keberatan kalau disuruh lanjut S2, hehe).

Yang ingin saya tanyakan, menurut bapak sebaiknya saya lulus tepat waktu 4 tahun atau 4,5 tahun ? Terima kasih

 

Seorang mahasiswa dengan kepercayaan diri tinggi akan kemampuannya dibanding teman-teman seangkatan, tetapi jadi ragu ketika membaca diskusi di lain tempat. Merasa bahwa penyebabnya adalah ilmunya yang kurang.

Baca lebih lanjut

Hut RI ke-72 : makna kemerdekaan !

Besok adalah Kamis tanggal 17 Agustus 2017, kita bersama akan merayakan hari kemerdekaan NKRI yang ke-72.

Sebagai warga negara yang sangat mensyukuri akan arti kemerdekaan, maka besok pada Upacara Proklamasi Kemerdekaan di kampus, saya akan tulus dan hormat pada Sang Saka Merah Putih, yang melambangkan KEMERDEKAAN INDONESIA !

Kemerdekaan ini bagiku sangat bermakna, khususnya kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini di masyarakat yang kadangkala tidak bisa dinalar, khususnya jika dikaitkan dengan “keyakinan agama” . Kesannya, pokoknya kalau terkait agama, maka semuanya adalah benar adanya. Nggak perlu diperdebatkan. Persoalan itu tidak hanya terjadi di awam saja, bahkan telah  melibatkan orang-orang yang disebut awam sebagai tokoh agama. Adanya kondisi seperti itu tentu dapat dibayangkan jika negara ini tidak berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika itu terjadi, maka tentu golongan agama minoritas akan terdampak nyata dan bisa-bisa tidak bisa merasakan apa arti kemerdekaan ini.  Oleh sebab itu kalau masih ada teman-teman dari golongan agama minoritas yang tidak mensyukuri akan arti kemerdekaan ini, lalu apa lagi yang mau diharapkan.

Baca lebih lanjut