Belum baca buku saya ya ?

Kehidupan mengajar bagi saya adalah suatu kehormatan, apalagi ditambah karunia menulis. Lengkap sudah modal untuk mengisi kehidupan ini secara warna-warni. Akibatnya profesi dosenpun dapat menjadi sesuatu yang dibanggakan, tanpa perlu melengkapi diri dengan Rubicon.  😀

Salah satu ciri atau tanda jika proses mengajar / menulis mendapatkan respon yang baik dari murid / pembaca adalah adanya pertanyaan, baik itu secara lesan (mengajar) atau tertulis (dibaca tulisannya). Pertanyaan dapat menjadi menjadi petunjuk apakah materi yang diajarkan mendapat respon atau tidak. Semakin banyak pertanyaan, berarti para murid tertarik untuk mendengarkan bahkan bisa terjadi diskusi tambahan untuk menjelaskan hal-hal lain yang mungkin terlewatkan. Proses pengajaran menjadi hidup.

Baca lebih lanjut

lulus cepat atau ntar, belajar lagi dulu

Dapat kiriman pertanyaan via Facebook messenger, ini isinya :

Selamat malam Pak Wir

Saya mahasiswa Teknik Sipil 2014.
Saya kagum dengan pengetahuan bapak dalam bidang sipil terutama bidang struktur, bidang yang juga saya senangi.

Jika dibandingkan dengan teman-teman angkatan sipil saya sendiri khususnya yang mengambil struktur, saya termasuk yang di atas rata-rata. Namun setelah membaca tulisan-tulisan Bapak dan diskusi yang terjadi dengan pembaca blog Bapak, saya merasa ilmu struktur saya belum ada apa-apanya. Oleh karena itu saya berencana memperpanjang studi saya yang awalnya target lulus 4 tahun, saya perpanjang menjadi 4,5 tahun. Dengan tujuan setengah (0,5) tahun terakhir saya gunakan untuk banyak-banyak membaca buku atau artikel, ikut lomba, konsultasi gratis dengan dosen, dan ikut proyek dosen. Karena kalau sudah lulus tentunya akan sulit untuk menjalani tujuan-tujuan di atas.

Namun orang tua saya berkata lain, orang tua ingin saya lulus 4 tahun. Tapi saya agak keberatan, karena saya sadar ilmu struktur saya masih cetek, saya benar-benar ingin memperdalam ilmu struktur setidaknya dalam waktu 6 bulan (karena saya agak keberatan kalau disuruh lanjut S2, hehe).

Yang ingin saya tanyakan, menurut bapak sebaiknya saya lulus tepat waktu 4 tahun atau 4,5 tahun ? Terima kasih

 

Seorang mahasiswa dengan kepercayaan diri tinggi akan kemampuannya dibanding teman-teman seangkatan, tetapi jadi ragu ketika membaca diskusi di lain tempat. Merasa bahwa penyebabnya adalah ilmunya yang kurang.

Baca lebih lanjut

Hut RI ke-72 : makna kemerdekaan !

Besok adalah Kamis tanggal 17 Agustus 2017, kita bersama akan merayakan hari kemerdekaan NKRI yang ke-72.

Sebagai warga negara yang sangat mensyukuri akan arti kemerdekaan, maka besok pada Upacara Proklamasi Kemerdekaan di kampus, saya akan tulus dan hormat pada Sang Saka Merah Putih, yang melambangkan KEMERDEKAAN INDONESIA !

Kemerdekaan ini bagiku sangat bermakna, khususnya kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini di masyarakat yang kadangkala tidak bisa dinalar, khususnya jika dikaitkan dengan “keyakinan agama” . Kesannya, pokoknya kalau terkait agama, maka semuanya adalah benar adanya. Nggak perlu diperdebatkan. Persoalan itu tidak hanya terjadi di awam saja, bahkan telah  melibatkan orang-orang yang disebut awam sebagai tokoh agama. Adanya kondisi seperti itu tentu dapat dibayangkan jika negara ini tidak berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika itu terjadi, maka tentu golongan agama minoritas akan terdampak nyata dan bisa-bisa tidak bisa merasakan apa arti kemerdekaan ini.  Oleh sebab itu kalau masih ada teman-teman dari golongan agama minoritas yang tidak mensyukuri akan arti kemerdekaan ini, lalu apa lagi yang mau diharapkan.

Baca lebih lanjut

sudah mengacu pada SNI-kah anda ?

Pelan tetapi pasti, semua produk yang akan digunakan di Indonesia harus memenuhi kriteria mutu tertentu, yang disebut SNI atau Standard Nasional Indonesia. Maksudnya penting agar masyarakat Indonesia terhindar dari produk abal-abal yang tidak menjamin keselamatan. Contoh penerapan SNI yang mulai digalakkan adalah produk helm :

Kalau nggak berlogo SNI maka dianggap helm-nya tidak bermutu. Ini adalah logo resmi SNI yang dimaksud.

1
Logo SNI yang khas

Adapun logo tersebut nantinya akan ditampilkan pada helm, untuk menunjukkan bahwa produk tersebut bermutu sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

helmsni
Helm berlogo SNI yang dicetak embosh

Logo seperti pada helm tersebut penting, khususnya untuk membedakan helm-helm murah yang bertebaran dijual di pinggir jalan, yang bisa saja hanya indah untuk dilihat tetapi belum tentu berfungsi seperti yang diharapkan. Maklum, untuk mengetahui apakah bermutu, tentunya tidak mudah. Faktanya ada yang bagus dan ada pula yang jelek. Jadi adanya lambang SNI tersebut dapat menjadi tanda, bahwa mutunya sudah mengikuti standar minimum.

Memang sih, tidak adanya logo SNI tidak berarti bahwa produk helm yang dimaksud adalah abal-abal.  Misalnya saja, helm mahal yang dipakai para pembalap asing profesional. Belum tentu ada logo SNI di helm mereka. Meskipun lombanya ada di sini. Mereka tentu akan lebih percaya helm mereka sendiri, meskipun tidak ada logo dimaksud.

Terlepas dari logo pada kasus helm pembalap asing tersebut, maka pada umumnya di Indonesia ada kesan bahwa produk yang berlogo SNI, ada jaminannya.

besitulanganbetonsni
Tulangan baja dengan logo SNI

Jadilah logo SNI sebagai salah satu aspek pemasaran penting, khususnya bagi merk dagang yang belum terkenal. Kalau yang sudah terkenal seperti produk Krakatau Steel misalnya, maka ada atau tidaknya logo SNI tentunya nggak terlalu ngaruh. Hanya saja tentu pemerintah berkepentingan untuk memastikan bahwa logo SNI harus juga dicantumkan pada produk unggulan yang ada, karena kalau nggak ada, maka nanti yang lain tidak merasa bangga memakai logo tersebut.

Baca lebih lanjut

kelas 3 di SMA

Jangan protes ya dengan judul. Maklum mungkin saja ada yang merasa kalau judulnya salah atau tidak tepat. Pasti deh itu yang masih muda-muda, yang merasa bahwa judul di atas tidak pernah dijumpai di sekolahnya. Juga pasti ada yang merasa kalau kelas 3 itu khan untuk anak-anak kecil, Sekolah Dasar. Adapun SMA adalah untu yang sudah remaja.

Maklum aku menulis judul tersebut dengan cara pikir di jamanku dulu. Adapun yang kumaksud adalah pendidikan anak-anak yang setara dengan kelas XII di jaman sekarang. Tahapan pendidikan akhir untuk remaja menjelang masuk perguruan tinggi. Clear ?!

Baca lebih lanjut

karena nila setitik, rusak susu sebelanga

Hati-hati dengan pepatah di atas, itu benar-benar ada dan bahkan masih berlaku nyata sampai detik ini !

Pepatah itu ingin menunjukkan bahwa adanya satu tindakan tidak benar, yang mungkin bisa saja semula dianggap sepele dan tidak terpikirkan, ternyata bisa berdampak menghilangkan semua hasil pekerjaan baik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya. Jika hasilnya masih berupa barang material, tentunya tidak terlalu bermasalah karena bisa dicarikan gantinya, tetapi kalau yang hilang adalah immaterial. Woo, sangat susah untuk mendapatkannya.

Hal immaterial yang dapat hilang adalah reputasi atau nama baik atau kehormatan. Tahu sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang akan reputasi atau nama baik atau kehormatan, itu perlu waktu dan kesempatan. Jadi tentunya untuk mendapatkannya lagi tidak mudah, apalagi usia orang yang kehilangan tersebut sudah berbeda, bertambah tua (semangat dan tenaga sudah berbeda).

Baca lebih lanjut

Inovasinya meragukan ya pak. He, he, . . .

Artikel tentang inovasi proyek tempo hari, yaitu :

https://wiryanto.blog/2016/09/28/ini-inovasi-di-dunia-konstruksikah/

yang merupakan up-load ulang dari http://wiryanto.net ke http://wiryanto.blog ternyata masih eksis. Lihat saja komentar-komentar di Facebook. Hanya saja karena ada komentar terlalu pede, yang menyebutkan bahwa sistem hybrid-pier di LRT Palembang yang sedang aku pertanyakan tingkat inovasinya, disebut sebagai yang pertama. Apalagi disebutkan dunia persilatan konstruksi. Maka jadilah gempar. Maklum pembaca blog ini khan memang dedengkot-dedengkot praktisi maupun ahli di bidang konstruksi. Pernyataan tadi seperti melempar pemantik api di atas rumput kering. Langsung hot dan terbakar deh. 😀

Inovasinya meragukan ya pak. He, he, . . . .

Baca lebih lanjut