Hut RI ke-72 : makna kemerdekaan !

Besok adalah Kamis tanggal 17 Agustus 2017, kita bersama akan merayakan hari kemerdekaan NKRI yang ke-72.

Sebagai warga negara yang sangat mensyukuri akan arti kemerdekaan, maka besok pada Upacara Proklamasi Kemerdekaan di kampus, saya akan tulus dan hormat pada Sang Saka Merah Putih, yang melambangkan KEMERDEKAAN INDONESIA !

Kemerdekaan ini bagiku sangat bermakna, khususnya kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini di masyarakat yang kadangkala tidak bisa dinalar, khususnya jika dikaitkan dengan “keyakinan agama” . Kesannya, pokoknya kalau terkait agama, maka semuanya adalah benar adanya. Nggak perlu diperdebatkan. Persoalan itu tidak hanya terjadi di awam saja, bahkan telah  melibatkan orang-orang yang disebut awam sebagai tokoh agama. Adanya kondisi seperti itu tentu dapat dibayangkan jika negara ini tidak berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika itu terjadi, maka tentu golongan agama minoritas akan terdampak nyata dan bisa-bisa tidak bisa merasakan apa arti kemerdekaan ini.  Oleh sebab itu kalau masih ada teman-teman dari golongan agama minoritas yang tidak mensyukuri akan arti kemerdekaan ini, lalu apa lagi yang mau diharapkan.

Baca lebih lanjut

sudah mengacu pada SNI-kah anda ?

Pelan tetapi pasti, semua produk yang akan digunakan di Indonesia harus memenuhi kriteria mutu tertentu, yang disebut SNI atau Standard Nasional Indonesia. Maksudnya penting agar masyarakat Indonesia terhindar dari produk abal-abal yang tidak menjamin keselamatan. Contoh penerapan SNI yang mulai digalakkan adalah produk helm :

Kalau nggak berlogo SNI maka dianggap helm-nya tidak bermutu. Ini adalah logo resmi SNI yang dimaksud.

1
Logo SNI yang khas

Adapun logo tersebut nantinya akan ditampilkan pada helm, untuk menunjukkan bahwa produk tersebut bermutu sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

helmsni
Helm berlogo SNI yang dicetak embosh

Logo seperti pada helm tersebut penting, khususnya untuk membedakan helm-helm murah yang bertebaran dijual di pinggir jalan, yang bisa saja hanya indah untuk dilihat tetapi belum tentu berfungsi seperti yang diharapkan. Maklum, untuk mengetahui apakah bermutu, tentunya tidak mudah. Faktanya ada yang bagus dan ada pula yang jelek. Jadi adanya lambang SNI tersebut dapat menjadi tanda, bahwa mutunya sudah mengikuti standar minimum.

Memang sih, tidak adanya logo SNI tidak berarti bahwa produk helm yang dimaksud adalah abal-abal.  Misalnya saja, helm mahal yang dipakai para pembalap asing profesional. Belum tentu ada logo SNI di helm mereka. Meskipun lombanya ada di sini. Mereka tentu akan lebih percaya helm mereka sendiri, meskipun tidak ada logo dimaksud.

Terlepas dari logo pada kasus helm pembalap asing tersebut, maka pada umumnya di Indonesia ada kesan bahwa produk yang berlogo SNI, ada jaminannya.

besitulanganbetonsni
Tulangan baja dengan logo SNI

Jadilah logo SNI sebagai salah satu aspek pemasaran penting, khususnya bagi merk dagang yang belum terkenal. Kalau yang sudah terkenal seperti produk Krakatau Steel misalnya, maka ada atau tidaknya logo SNI tentunya nggak terlalu ngaruh. Hanya saja tentu pemerintah berkepentingan untuk memastikan bahwa logo SNI harus juga dicantumkan pada produk unggulan yang ada, karena kalau nggak ada, maka nanti yang lain tidak merasa bangga memakai logo tersebut.

Baca lebih lanjut

kelas 3 di SMA

Jangan protes ya dengan judul. Maklum mungkin saja ada yang merasa kalau judulnya salah atau tidak tepat. Pasti deh itu yang masih muda-muda, yang merasa bahwa judul di atas tidak pernah dijumpai di sekolahnya. Juga pasti ada yang merasa kalau kelas 3 itu khan untuk anak-anak kecil, Sekolah Dasar. Adapun SMA adalah untu yang sudah remaja.

Maklum aku menulis judul tersebut dengan cara pikir di jamanku dulu. Adapun yang kumaksud adalah pendidikan anak-anak yang setara dengan kelas XII di jaman sekarang. Tahapan pendidikan akhir untuk remaja menjelang masuk perguruan tinggi. Clear ?!

Baca lebih lanjut

karena nila setitik, rusak susu sebelanga

Hati-hati dengan pepatah di atas, itu benar-benar ada dan bahkan masih berlaku nyata sampai detik ini !

Pepatah itu ingin menunjukkan bahwa adanya satu tindakan tidak benar, yang mungkin bisa saja semula dianggap sepele dan tidak terpikirkan, ternyata bisa berdampak menghilangkan semua hasil pekerjaan baik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya. Jika hasilnya masih berupa barang material, tentunya tidak terlalu bermasalah karena bisa dicarikan gantinya, tetapi kalau yang hilang adalah immaterial. Woo, sangat susah untuk mendapatkannya.

Hal immaterial yang dapat hilang adalah reputasi atau nama baik atau kehormatan. Tahu sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang akan reputasi atau nama baik atau kehormatan, itu perlu waktu dan kesempatan. Jadi tentunya untuk mendapatkannya lagi tidak mudah, apalagi usia orang yang kehilangan tersebut sudah berbeda, bertambah tua (semangat dan tenaga sudah berbeda).

Baca lebih lanjut

Inovasinya meragukan ya pak. He, he, . . .

Artikel tentang inovasi proyek tempo hari, yaitu :

https://wiryanto.blog/2016/09/28/ini-inovasi-di-dunia-konstruksikah/

yang merupakan up-load ulang dari http://wiryanto.net ke http://wiryanto.blog ternyata masih eksis. Lihat saja komentar-komentar di Facebook. Hanya saja karena ada komentar terlalu pede, yang menyebutkan bahwa sistem hybrid-pier di LRT Palembang yang sedang aku pertanyakan tingkat inovasinya, disebut sebagai yang pertama. Apalagi disebutkan dunia persilatan konstruksi. Maka jadilah gempar. Maklum pembaca blog ini khan memang dedengkot-dedengkot praktisi maupun ahli di bidang konstruksi. Pernyataan tadi seperti melempar pemantik api di atas rumput kering. Langsung hot dan terbakar deh. 😀

Inovasinya meragukan ya pak. He, he, . . . .

Baca lebih lanjut

UAS Struktur Baja 1 – April 2017

Bekerja sebagai dosen di kampus sebenarnya tidak senang jika disebut dosen killer. Nggak ada untungnya di era jaman sekarang ini, yang jika tidak puas sedikit mahasiswanya bisa saja langsung demo (tapi nggak sampai teriak-teriak di jalan). Apalagi mengajarnya di kampus swasta, yang sumber pendapatan utamanya adalah SPP mahasiswa.

Itu makanya saya harus bekerja keras membuat materi-materi lengkap untuk mengajar. Karena lengkapnya maka sampai-sampai laku ketika dibuat menjadi buku. Itu salah satu alasan mengapa saya rajin menulis buku (buku yang aku maksud di distribusikan LUMINA Press). Karena materi yang saya ajarkan relatif banyak, itu lho yang mata kuliah Struktur Baja. Semua materi yang kutulis di buku, yaitu sekitar 900 halaman adalah materi untuk mata kuliah Struktur Baja I, II dan III di Universitas Pelita Harapan. Oleh sebab itu saya sadar, kalau mereka harus menghapal rumus-rumus di buku, pasti banyak yang fail. Oleh sebab itu dalam ujian-ujiannya maka mereka boleh membuat dan membuka catatan tangan yang mereka buat (bukan open books lho).

Baca lebih lanjut

kunjungan ke LRT Palembang

Bagi banyak orang di masyarakat teknik sipil, tentu tidak banyak yang tersinggung jika aku menyatakan diri unggul di bidang teoritis rekayasa struktur, dibandingkan jika kata teoritisnya dihilangkan. Apalagi ada dukungan dari produk teoritis yang kubuat (buku struktur baja), yang sudah banyak tersebar di kampus-kampus maupun kantor konsultan rekayasa yang ada. Bahkan bagi seorang structural engineer yang menggeluti ilmu struktur baja, bisa dikatakan tidak up-dated jika belum membaca buku-buku tersebut. Jujur, bukuku tentang struktur baja, adalah buku pertama berbahasa Indonesia yang membahas secara detail SNI baja terbaru (2015). Bahkan bisa dijadikan buku pembanding untuk menguasai SNI tersebut (maklum buku tersebut dibuat mengacu langsung AISC 2010 yang merupakan rujukan utama dari SNI baja kita yang terbaru).

Kata teoritis perlu ditekankan, karena aku lebih banyak duduk di meja atau di depan kelas mengajar di kampus, dibanding lapangan (site project). Dalam hal ini, cocoknya aku disebut golongan engineer teoritis, adapun di sisi lain adalah golongan engineer praktisi, yang sehari-hari terlibat pelaksanaan di project.

Di sini, di Indonesia ada kesan bahwa engineer yang sesungguhnya itu adalah golongan engineer praktisi. Tentang itu, aku sering memperhatikan orang-orang proyek memberi kesan sinis pada golongan engineer teoritis, khususnya ketika petunjuk-petunjuk darinya terkesan bertele-tele.

Seperti diketahui, banyak golongan engineer teoritis mempunyai gelar akademik yang berderet-deret (mungkin termasuk aku juga 😀 ). Bagi awam pemilik uang (owner), adanya banyak gelar dapat menjadi petunjuk bahwa mereka layak disebut ahli dan punya idealisme tinggi terhadap mutu. Oleh sebab itu wajar jika di antara mereka (engineer teoritis) banyak yang diangkat menjadi reviewer (pengawas) oleh owner, untuk mempertahankan mutu pekerjaan konstruksi yang dikerjakannya. Karena jadi reviewer atau pengawas itulah maka petunjuk atau nasehatnya harus didengar. Jika tidak, bisa-bisa approval pembayaran tidak keluar. 😀

Dalam konteks itulah, maka ada anggapan bahwa engineer teoritis yang terlibat di proyek adalah sekedar pelengkap birokratis (administrasi), adapun pelaksana rekayasa yang sejati adalah engineer praktisi. Itu berarti kalau mengaku unggul di bidang teoritis, bukanlah sesuatu yang prestise, sehingga bukan sesuatu yang perlu diperebutkan. 😀

Baca lebih lanjut