kelas 3 di SMA

Jangan protes ya dengan judul. Maklum mungkin saja ada yang merasa kalau judulnya salah atau tidak tepat. Pasti deh itu yang masih muda-muda, yang merasa bahwa judul di atas tidak pernah dijumpai di sekolahnya. Juga pasti ada yang merasa kalau kelas 3 itu khan untuk anak-anak kecil, Sekolah Dasar. Adapun SMA adalah untu yang sudah remaja.

Maklum aku menulis judul tersebut dengan cara pikir di jamanku dulu. Adapun yang kumaksud adalah pendidikan anak-anak yang setara dengan kelas XII di jaman sekarang. Tahapan pendidikan akhir untuk remaja menjelang masuk perguruan tinggi. Clear ?!

Istilah pendidikan akhir untuk remaja menjelang masuk perguruan tinggi adalah tepat sekali. Ini sama kondisinya dengan kelas 3 SMA di jamanku. Hanya agak berbeda, jika di jaman dahulu, tingkatan-tingkatan pendidikan SD (6 tahun), lalu SMP (3 tahun) dan SMA (3 tahun) terkesan saling berdiri sendiri. Lalu ada wacana bahwa orang Indonesia itu tidak maju karena banyak yang pendidikannya adalah SD saja. Lalu ada orang pintar bicara, bahwa itu bisa terjadi karena banyak orang tua yang merasa nggak perlu nglanjutin di tahap berikut yang lebih tinggi. Maka dibuatlah kebijakan, bahwa pendidikan wajib di negara kita itu adalah dari SD, SMP dan SMA sekaligus. Nggak boleh kurang. Jadi istilah kelas XII juga berarti bahwa itu bagian dari suatu pendidikan pra perguruan tinggi yang terdiri dari 12 tingkatan.

Dengan kebijakan tersebut, maka diharapkan semua orang tua wajib untuk menyekolahkan anaknya selama 12 tahun sesuai tingkatan kelas tersebut. Harapannya orang Indonesia akan jadi pintar semua !

Betul nggak ?

Harapan sih boleh-boleh saja. Hanya saja perlu diingat bahwa lama pendidikan tidak mesti akan semakin piawai atau semakin pintar. Itu harus dihubungkan dengan mutu. Jika tidak semakin baik, maka ya nggak ngaruh. Yang jelas dengan semakin lama, maka kelulusannya akan semakin tua.

Lho pak Wir, bukankah pendidikan kita menjadi semakin bermutu ?

Suatu pertanyaan yang sederhana, tetapi nggak gampang untuk menjawab apakah hasil pendidikan kita semakin bermutu. Kalau untuk menjawab bahwa pendidikan kita semakin merata. Ok, saya setuju. Juga pendidikan kita semakin mahal, benar saya juga setuju.

Lho pak Wir, itu sekolah negeri khan tidak boleh memungut SPP ?

Bersyukurlah jika demikian. Anakku dulu sekolah SMA-nya di Jakarta, tiap bulan hanya bayar SPP Rp 450 ribu. Memang murah. Hanya saja persaingnya untuk masuk ke situ, susah sekali. Juga tiap SMA, kualifikasinya tidak sama dengan yang diharapkan orang tua.

Ya itu sih adil pak. Mau murah koq milih !?

Yah memang itu saya akui, ada betulnya juga. Hanya saja banyak juga yang merasa bahwa pendidikan itu sangat penting dan tidak bisa disepelekan. Itu bekal di masa tua. Hal itulah yang ditangkap oleh banyak sekolah saat ini sebagai bisnis. Mau mutu, ya duitnya dong !

Oleh sebab itu wajar saja jika banyak praktisi bisnis atau tepatnya konglomerat yang membuka sekolah atau perguruan tinggi. Maklum bisa bersosial tetapi juga sekaligus mendatangkan profit.

Jadi kalau begitu pendidikan Indonesia semakin maju ya pak dibanding tahun 50-an dahulu ?

Kalau itu sih bisa berbeda-beda lho. Jaman sekarang ini, anak yang disebut sukses di bidang pendidikannya adalah yang telah lulus perguruan tinggi. Jika bukan lulusan perguruan tinggi, maka rasa-rasanya tidak ada lagi orang tua yang bangga dengan anaknya tersebut. Dirasanya masih kurang. Betul nggak ?

Tahun 50-an, rasa-rasanya nggak seperti itu. Orang tuaku dulu mulai kerja ketika lulus STM. Posisi pekerjaan masih banyak yang membuka. Kalau sekarang selepas kelas XII mau kerja jadi apa ?

Kalaupun terpaksa, posisi yang memungkinkan saat ini adalah office boy, satpam dan semacamnya. Pilihan semakin terbatas.

Yang penting halal pak ?

Kalau itu alasannya sih maka lebih baik nggak perlu sekolah. Biayanya bisa dipakai modal, dagang gitu lho. Khan yang penting antara beli dan jual ada selisihnya. Harus untung. I ya khan.

Dengan melihat perbandingan jaman orang tuaku dulu, dan jamanku. Jelas sekali terlihat bahwa kualitas pendidikan di jaman sekarang ini adalah berbeda. Jaman dulu karena mungkin juga karena masih sedikit, maka terlihat bahwa yang berpendidikan adalah orang-orang istimewa. Kalau sekarang karena pendidikan sudah merata dan sudah ada kewajiban, semua orang jadi berpendidikan. Jadi nggak kelihatan lagi seorang istimewa dari label pendidikan yang dia punyai. Apalagi hanya level lulus kelas XII atau lulus SMA gitu.

Jadi anak yang lulus dari kelas XII atau lulus SMA itu anak normal. Biasa-biasa, bahkan abnormal dan patut dikasihani jika tidak lulus. Kasihan deh.

Pendidikan seorang anak, baru dapat dibanggakan ketika yang bersangkutan setelah lulus kelas XII atau kelas 3 SMA masih dapat melanjutkan terus ke jenjang pendidikan tinggi. Apalagi sesuai dengan cita-citanya. Ini perlu diberitahukan ke anak-anak tersebut secara dini. Oleh sebab itu heran jika ada anak baru lulus SMA saja sudah pawai keliling kota dengan baju disemprot cat.

un
Illustrasi bersumber pada http://goesthree.blogspot.co.id/

Jika seorang anak sadar bahwa perjalanannya masih panjang, maka tentu untuk melakukan tindakan seperti di atas akan mikir dua kali.

Masa di kelas XII adalah masa persiapan dan sekaligus mulainya untuk berani mengambil sikap dan keputusan untuk selanjutnya berani mempertanggung-jawabkannya. Itu bagian dari kedewasaan.

Maksudnya pak ?

Jaman sekarang ini dengan adanya pembagian kelas dari kelas i sampai xii. Anak-anak cukup hanya belajar, lalu naik kelas. Pokoknya menyelesaikan tahapan tersebut. Bisa berprestasi, syukurlah. Tetapi ketika sudah selesai, si anak harus mengambil sikap, mau kemana setelah itu. Kawin, kerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi.

Koq kawin sih pak ?

Lho ini suatu kemungkinan. Usia setelah lulus SMA adalah usia yang secara formal sudah diperbolehkan untuk menikah. Jadi untuk orang tua yang merasa ekonomi pas-pasan, punya anak perempuan yang ternyata telah dilamar oleh orang dewasa yang mandiri. Maka daripada menganggur, ini bisa menjadi jalan keluar yang baik. Ini tentunya hanya cocok untuk putri, karena kalau putra lalu kawin. Makan apa dianya nanti. Solusinya adalah kerja (office boy, satpam, dagang dsb).

Kalau orang tuanya mampu. Ini penting lho di jaman sekarang ini. Masuk universitas itu sekarang mahal, nggak hanya swasta, negeri juga demikian. Sudah mahal.

Cari sekolah yang murah dong pak. Itu adakoq perguruan tinggi yang di ruko itu.

Kalau hanya sekedar sekolah bisa aja sih. Tetapi kalau sekolah adalah suatu investasi maka tentu perlu dipikirkan dengan sebaik-baiknya. Hanya saja memang, sekolah yang baik atau bahkan terbaik maka untuk masuk adalah tidak gampang. Uji test berat, banyak peminatnya, tetapi yang diterima sangat sedikit. Maklum yang daftar khan banyak. Ini juga akibat dampak sekolah 12 tahun tersebut, seakan-akan semuanya harus melanjutkan ke perguruan tinggi.

Lalu gimana pak Wir ?

Nah ini memang masalah dan tantangan bagi si anak yang baru lulus SMA. Jika belum ada kepastian untuk diterima, dan perguruan tinggi mana dia nanti diterima akan sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya, maka pastilah semangat seperti foto di atas jadi pudar.

Jadi untuk yang bercita-cita menerukan ke universitas, maka untuk anak-anak kelas 3 SMA yang dapat dilakukan adalah menentukan perguruan tinggi apa dan jurusan apa yang akan dimasukinya serta dan mempersiapkan diri untuk mengikuti test masuk. Ketiganya harus ada pada benak anak-anak tersebut sebelum kelulusan.

Maksudnya apa pak, koq keburu-buru ?

Ya agar mereka dapat mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya. Semakin banyak kita memikirkan dan mempersiapkannya maka tentunya akan semakin besar peluang untuk mendapatkannya. Betul khan.

Koq hanya dipikirkan pak ?

Lho memang semuanya itu khan dari situ. Apalagi memilih bidang apa yang akan digelutinya nanti. Itu khan hanya dari bocah itu sendiri. Memang sih sekarang ini ada test psikologi yang dapat membantu bocah untuk menentukan pilihannya tersebut. Saya bilang membantu, tetapi khan yang bisa memutuskan si bocah.

Jadi sebaiknya milih apa pak ?

Apapun pilihannya, setelah tentunya mempertimbangkan segala aspek yang ada, seperti apakah itu bidang yang menjadi peminatannya selama ini, apakah biaya yang diperlukan (ada baiknya survey disesuaikan dengan tempat perguruan tinggi yang dituju), juga hal-hal lain yang dapat dipertimbangkan (termasuk jauh dari orang tua atau pacar atau lainnya). Setelah banyak hal dipertimbangkan dan paling mantap (saat itu), maka yang penting lagi adalah bertanggung-jawab terhadap pilihannya tersebut.

Adapun pilihannya apa. Itu relatif sifatnya. Jika kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yang kita tekuni, maka rasanya nggak perlu dikuatirkan lagi. Ibarat pepatah, setiap orang punya jalannya masing-masing, atau bisa tiap orang punya rejekinya sendiri-sendiri.

Menjadi yang terbaik. Ini memang ngomongnya gampang, tetapi menjalankannya adalah tidak mudah. Juga apa yang harus dikerjakan atau dipilih atau dilakukan, adalah tidak gampang. Tiap orang punya strategi sendiri-sendiri. Aku juga tentunya. Saat ini anakku yang ke-2 juga kelas xii. Maka pertama-tama yang aku tanamkan pada dirinya adalah bahwa ini adalah tahun-tahun penting yang menentukan hidupnya nanti. Sekali kamu pilih dan kamu merasa salah, itulah awal beban kamu. Oleh sebab itu kamu harus mulai memikirkan apa yang akan kamu kerjakan selepas lulus ini. Pilihannya adalah masuk perguruan tinggi.

Ok, kalau begitu bidang apa atau perguruan tinggi apa yang jadi pilihan. Jawabannya adalah perguruan tinggi favorit. Ini pasti semuanya juga begitu. Iya khan. Adapun yang mungkin berbeda adalah bagaimana mempersiapkannya. Jadi tahun-tahun kelas xii ternyata lebih sibuk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan ekstrakurikuler seperti photography maupun gitar mulai dinomer-duakan. Ini bukan karena aku minta, tetapi karena kesadarannya sendiri.

Kesadaran sendiri itu sangat penting, bahkan itu yang paling utama. Bagaimana cara menumbuhkan kesadar diri itu tentunya tiap-tiap orang tua punya strategi sendiri. Kalau aku caranya adalah dengan berdialog. Setiap pagi ketika aku mengantarnya ke sekolah selalu aku usahakan untuk cerita. Ini mungkin yang pernah diusulkan oleh menteri kita tempo hari, yaitu kegiatan mengantar anak sekolah. Kalau hanya sekedar mengantar saja, tanpa dapat dilakukan dialog, rasa-rasanya ini nggak efektif. Dialog anak-orang tua adalah penting. Bersyukurlah anak-anak yang punya orang tua selalu punya waktu untuk dialog.

bimbingan-belajar-sbmptn-2016-3
Ini hanya illustrasi saya ambil acak dari internet

Adanya kesadaran diri dan wawasan yang cukup akan menyebabkan tahu posisinya dimana dan mau kemana. Untuk bisa kemana, tentu perlu usaha. Nah ini orang tua dapat membantu. Kebetulan saudaranya ada yang sekolah di luar, anak ini terinspirasi. Juga karena kakaknya telah masuk perguruan tinggi sesuai cita-cita, maka banyak hal yang dapat ditirunya. Oleh sebab itu persiapan yang dipilihnya ada dua, yaitu mempersiapkan TOEFL dan mengikuti BIMBEL. Itu dilakukannya di luar jam sekolah.

Wah capai sekali dong pak ?

Benar. Saya pikir juga demikian. Hanya saja si anak merasa bahwa itu adalah bagian kesuksesannya di masa mendatang, maka itu dapat dilakukannya dengan suka cita. Aku pilih lembaga-lembaga kursus yang paling baik. Itu ditandai dengan adanya reputasi selama bertahun-tahun.

Untuk tahu reputasi tersebut, gimana caranya ?

Yah itu seni. Tapi paling gampang bisa dilihat jika masuknya saja pada rebutan. Itu bisa indikasi. Seperti sekolah favorit, itu khan biasanya sudah jadi rahasia umum. Ternyata dengan ikut di lembaga favorit, maka ketemunya juga dengan anak-anak yang mirip, yaitu yang punya cita-cita tinggi. Tambah semangat deh.

Jadi bapak dan ibu, apakah anak-anak anda yang sudah kelas xii atau 3 SMA telah mempersipkan diri nantinya setelah lulus tingkatan tersebut. Sekarang memang baru awal-awal masuk kelas tersebut. Tetapi bukan berarti ini terlalu awal untuk melakukan persiapan. Sudah banyak anak-anak yang aku jumpai ketika minggu pagi-pagi benar, bukannya pakai pakaian olahraga tetapi pakaian kasual dan tas, persiapan untuk mengikuti kelas intensif bimbel.

556c4f770423bd36688b4567

Mari persiapkan anak untuk meraih cita-citanya. GBU

Tulisanku lain yang terkait :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s