progress kemajuan iptek Indonesia

Kemajuan iptek suatu negara umumnya selaras dengan produktifitas masyarakat ilmiahnya dalam menulis jurnal atau paper ilmiah. Itu pula yang menjadi alasan, mengapa penilaian kenaikan pangkat dosen untuk guru besar (GB) adalah didasarkan dari jurnal ilmiah international bereputasi yang ditulisnya. Bereputasi adalah jurnal ilmiah yang terindeks oleh lembaga pengindeks yang diakui DIKTI. Salah satu lembaga pengindeks yang sangat terkenal di Indonesia adalah SCOPUS.

Lembaga pengindeks lain adalah Web of Science, bahkan banyak pakar bilang ini levelnya lebih tinggi (sulit) dari Scopus. Ada juga yang namanya DOAJ (Directory of Open Access Journals), ini banyak juga digunakan tetapi kesannya agak di bawah Scopus. Maklum, ini akan mengindeks jurnal berbahasa Indonesia juga, jadi terkesan tidak eksklusif. Nah kita juga tidak mau kalah, pemerintah mencoba membuat juga pengindeks khusus versi Indonesia yang dinamakan Sinta (Science and Technology Index), dibawah pengelolaan Dikti. Kehebatan Sinta adalah mengindeks dosen-dosen Indonesia yang ber-INDN, seberapa produktif dosen tersebut. Ini link indeks saya. Masih kalah produktif dibanding dosen-dosen lain.

Selanjutnya kita membahas data berdasarkan pengindeks SCOPUS ya.

Tahun-tahun sebelum adanya kebijakan memakai indeks SCOPUS tersebut, maka selain jurnal international, karya tulis buku juga dianggap sebagai alat ukur kedalaman ilmu seorang. Apakah pantas menjadi GB atau tidak. Saat ini yang dianggap valid untuk menjadi GB, hanya jurnal international bereputasi. Menurutku itu terjadi karena kualitas buku yang diterbitkan, bahkan oleh seorang profesor, sangat beragam. Buku bisa diterbitkan, tanpa harus melalui peer-reviewer, suka-suka sendiri penulisnya. Karena sangat subyektif isinya, maka akhirnya sekarang ini yang dipakai alat ukur adalah jurnal international bereputasi, yang proses peer reviewer-nya terjaga.

Baca lebih lanjut

berinovasi atau hilang

Istilah inovasi jika mengacu wikipedia, yaitu reka baru, ditujukan pada proses atau sistem baru yang bisa memberi nilai tambah. Pendapat saya, istilah tersebut juga cocok diaplikasikan pada cara kita bekerja. Tentu tidak semua pekerjaan, hanya cocok untuk pekerja profesional yang mandiri, yang bekerja mengandalkan otak (kompetensi keilmuan). Dosen pada batasan tertentu bisa juga disebut profesional mandiri, tentunya selama memenuhi kewajiban dari kampusnya.

Note : saya punya teman dosen yang sangat inovasi. Tetapi karena inovasinya tersebut yang bersangkutan sering meninggalkan kampus dan tidak mengajar. Akibatnya yang bersangkutan harus berhenti, tetapi karena tetap berinovasi maka tetaplah jadi pengusaha sukses. Itu artinya karena inovasi maka tetap eksis dan tidak hilang. Maklum, dosen pada titik tertentu masih juga seperti pegawai. Harus tunduk pada peraturan yang berlaku, termasuk juga para Profesor.

Dosen bisa disebut profesional mandiri jika apa-apa yang diajarkannya adalah buatannya sendiri, dan hanya mengajarkan hal-hal yang jadi kompetensinya. Maklum bisa saja seorang dosen mengajarkan ilmu yang bukan topik kompetensinya, hanya karena ketersediaan slot mengajar. Kalau kondisinya seperti itu, yang bersangkutan hanya dosen atau staff pengajar, yang dilakukan sekedar agar rutin dapat gaji bulanan.

Nah dalam era pasca covid-19, dimana proses mengajar-belajar akan lebih banyak tergantung pada teknologi, akibatnya kebutuhan tenaga pengajar akan berkurang. Media-media pembelajaran akan banyak digantikan oleh content-content pembelajaran digital, yang bisa dipilih dari yang terbaik dari berbagai content yang ada. Akibatnya dosen yang sekedar mengandalkan ketrampilan mengajar, maka sedikit demi sedikit tentunya akan tersisih (hilang).

Cara sederhana untuk melihat bahwa hal itu akan terjadi adalah sangat gampang. Lihat saja sekarang ini, adanya peralihan media pembelajaran dari off-line ke on-line maka banyak dosen-dosen senior (tua) yang “kesulitan”. Padahal dosen-dosen seperti itu di hirarki administrasi pendidikan mempunyai gaji lebih tinggi dari dosen-dosen yunior (maklum karena lama pengabdian di institusi). Akibat adanya kesulitan beralih ke on-line, kedepannya tentu pihak kampus akan lebih mudah mengangkat dosen muda saja, yang tentunya gajinya juga bisa lebih “murah”. Ini khan keputusan yang rasional dari pengurus kampus.

Dosen-dosen senior akan tetap eksis jika yang bersangkutan tidak sekedar mengandalkan segi pengajaran saja. Dosen-dosen senior harus unggul dalam memproduksi content-content khusus, yang dalam era on-line ini tetap diperlukan. Apalagi dengan semakin kuatnya undang-undang hak-cipta bahwa karya-karya unik orang tidak boleh diambil sembarangan.

Agar mampu menghasilkan content-content khusus maka inovasi adalah faktor yang sangat penting. Jika tidak maka siap-siap saja untuk hilang. Kalau tidak percaya maka lihat saja video berikut, tentang perlunya inovasi agar perusahaan-perusahan tetap bertahan. Jika tidak, maka betapapun besar dan terkenalnya perusahaan maka akhirnya bisa hilang dan digantikan yang lain.

Jika perusahaan yang begitu besar dan terkenal di seluruh dunia saja bisa hilang, maka tentunya pribadi-pribadi yang lemah seperti kita akan lebih mudah terjadi untuk hilang tak berbekas.

Baca lebih lanjut

New normal, dalam prespektif pribadi

Kehidupan manusia memang unik, tidak mudah diprediksi. Meskipun telah dilakukan banyak penelitian, ditemukan begitu banyak ilmu pengetahuan di berbagai jurnal ilmiah atau buku untuk bisa dipelajari, juga banyaknya teknologi baru yang muncul, tetapi menurutku : masa depan masih sesuatu yang belum bisa dipastikan dengan baik. Cuma bisa diduga, bisa ya tetapi bisa juga tidak.

Baca lebih lanjut

bangunan berlogo SNI

Mungkin agak bingung dengan judul di atas, tetapi jika kata “bangunan” diganti dengan “helm” tentunya bisa dipahami  apa maksudnya. Istilah tersebut timbul tentunya dilatar-belakangi adanya produk-produk “helm” yang tampilannya bagus dan mentereng tetapi ketika ada yang memakai dan ketika kecelakaan ternyata jatuh korban juga. Helm-nya pecah. Itu berarti ada helm yang tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.

Oleh sebab itulah maka pemerintah mengambil tindakan dengan cara memfilter helm-helm yang beredar. Helm yang produknya dianggap memenuhi kriteria minimum, diberi label atau logo SNI. Harapannya masyarakat dapat mengenal mana helm yang sebaiknya diberli, tidak hanya dari segi keindahan atau murahnya saja tetapi juga mutu kekuatannya sehingga jika dipakai nanti dapat terhindar dari kecelakaan akibat helm yang pecah.

Adanya logo (SNI = Standar Nasional Indonesia) memudahkan masyarakat awam menentukan pilihan produk yang akan digunakan. Ada logo berarti telah memenuhi mutu tertentu (kekuatan) yang hanya orang berpengalaman yang memahaminya. Baca lebih lanjut

penelitian di Indonesia

CEO Bukalapak kemarin posting di medsos tentang anggaran riset Indonesia. Dia membuat perbandingan besaran dana riset (bidang terkait bisnis si CEO) negara kita dengan negara lain yang lebih maju. Perbandingan seperti itu mestinya sesuatu yang biasa-biasa. Maklum, tidak ada yang wah dengan kondisi riset di negeri ini, apalagi kalau dibandingkan dengan negara maju. Masalah terjadi karena adanya kelemahan tersebut dikaitkan dengan Presiden. Padahal di medsos juga, ada bukti foto bahwa pak Presiden yang dimaksud sangat mendukung kegiatan bisnis CEO tersebut. Jadi kesan yang ditangkap pembaca, CEO yang “nggak tahu diri”. Jadi, kebetulan hp saya lemot, maka sekalian saja ikutan uninstall Bukalapak.  😀

Baca lebih lanjut

karir profesional insinyur vs dokter

Bagaimana Bapak dulu memilih dan menentukan karir pekerjaan sehingga bisa menjadi dosen seperti sekarang ini ?“. Demikian awal mula percakapanku dengan anak muda yang baru saja lulus dari uji kompetensi profesi dokter.  Simpel, tetapi ternyata bisa membuka mata bahwa jalan karir pekerjaan seseorang itu berbeda-beda, tergantung profesinya.

Sarjana teknik sipil (saya tentunya) dan sarjana kedokteran (anak muda yang bertanya) ternyata berbeda dalam menempuh perjalanan karirnya. Bagaimana tidak, sarjana teknik sipil tidak dipaksa untuk menempuh ujian kompetensi sebelum masuk ke dunia kerja. Setelah wisuda, mereka bisa langsung melamar kerja kemana-mana, bahkan bukan di bidang teknik sekalipun (di bank misalnya). Adapun sarjana kedokteran (gelar S. Ked) meskipun sudah diwisuda, tetapi merasa belum selesai kuliah, masih masuk program kelas praktik dan belum merasa tuntas jika belum lulus uji kompetensi dokter-nya.  Perjuangan mereka memang lebih lama dibanding sarjana yang lain. Menurut cerita anak muda tersebut, teman-teman SMA-nya yang sekelas yang bukan mengambil jurusan kedokteran bahkan sudah ada yang terjun politik (jadi anggota partai) dan telah mencantumkan gelar S2-nya. Maklum di luar negeri khan ada program S2 yang hanya setahun tanpa thesis. Intinya, anak muda itu merasa karirnya untuk menjadi dokter terkesan lama sekali.

engineer-doctor

Baca lebih lanjut

membimbing riset S2 tentang kayu

Di kampusku sendiri memang belum ada program S2 teknik sipil kekhususan ilmu struktur. Adanya baru S2 teknik sipil kekhususan manajemen konstruksi, itupun posisinya di tengah kota Jakarta, bukan di kampus Karawaci. Oleh sebab itu aku tidak mempunyai murid bimbingan di level S2 di kampusku sendiri. Hanya saja ada satu perguruan tinggi di Jakarta yang melihat potensi keilmuan yang kumiliki, dan memberiku kepercayaan melakukan bimbingan thesis S2, khususnya yang tertarik dengan bidang keilmuanku tersebut.

Baca lebih lanjut

lulus cepat atau ntar, belajar lagi dulu

Dapat kiriman pertanyaan via Facebook messenger, ini isinya :

Selamat malam Pak Wir

Saya mahasiswa Teknik Sipil 2014.
Saya kagum dengan pengetahuan bapak dalam bidang sipil terutama bidang struktur, bidang yang juga saya senangi.

Jika dibandingkan dengan teman-teman angkatan sipil saya sendiri khususnya yang mengambil struktur, saya termasuk yang di atas rata-rata. Namun setelah membaca tulisan-tulisan Bapak dan diskusi yang terjadi dengan pembaca blog Bapak, saya merasa ilmu struktur saya belum ada apa-apanya. Oleh karena itu saya berencana memperpanjang studi saya yang awalnya target lulus 4 tahun, saya perpanjang menjadi 4,5 tahun. Dengan tujuan setengah (0,5) tahun terakhir saya gunakan untuk banyak-banyak membaca buku atau artikel, ikut lomba, konsultasi gratis dengan dosen, dan ikut proyek dosen. Karena kalau sudah lulus tentunya akan sulit untuk menjalani tujuan-tujuan di atas.

Namun orang tua saya berkata lain, orang tua ingin saya lulus 4 tahun. Tapi saya agak keberatan, karena saya sadar ilmu struktur saya masih cetek, saya benar-benar ingin memperdalam ilmu struktur setidaknya dalam waktu 6 bulan (karena saya agak keberatan kalau disuruh lanjut S2, hehe).

Yang ingin saya tanyakan, menurut bapak sebaiknya saya lulus tepat waktu 4 tahun atau 4,5 tahun ? Terima kasih

 

Seorang mahasiswa dengan kepercayaan diri tinggi akan kemampuannya dibanding teman-teman seangkatan, tetapi jadi ragu ketika membaca diskusi di lain tempat. Merasa bahwa penyebabnya adalah ilmunya yang kurang.

Baca lebih lanjut

kopi & gaya hidup

Kopi sebagai gaya hidup atau life style, tidaklah semua orang akan memahami. Akupun sebelumnya juga demikian, dan mulai paham karena adanya gerai kopi Starbucks yang sering penuh dengan pengunjung. Saya sebut itu gaya hidup karena harganya yang mahal itu. Lihat saja, harga kopi satu gelas setara dengan 5 – 10 bungkus kopi bubuk yang biasa kuminum.  Tapi heran juga, meskpun harga mahal tetapi gerai kopi yang menjualnya, menjamur di mana-mana.

Jadi ketika hari minggu kemarin, aku diajak jalan-jalan istriku untuk melihat pameran orang penjual kopi semacam Starbuck, aku tertarik melihatnya. Ini laporan visualku dari sana sekaligus menguji Canon G9X Mark II yang baru.

gambar-1a
Untuk masuk pameran diharuskan membayar Rp 15.000,-/orang . Ini pagi ketika baru dibuka, jadi masih sepi.

Aku heran, mau masuk ke pameran kopi saja harus membayar. Apanya yang menarik pikirku, kopi khan hanya begitu-begitu saja. Waktu itu saya membayangkan akan istirahat di dalam, suasananya pastilah seperti interior gerai kopi Starbuck. Memang sih, mirip-mirip. Hanya saja di dalamnya tidak ada gerai kopi Starbuck itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Israel mindset !

Sabtu pagi ini ada kegiatan di kampus UPH, yaitu acara retreat tahunan. Retreat yang diselenggarakan oleh UPH bekerja sama dengan The Mission yang anggotanya adalah pengusaha-pengusaha Kristen di Indonesia.  Itu sebabnya pada retreat tersebut bisa diundang pembicara dari mancanegara.

Retreat adalah semacam kegiatan penyegaran rohani, dengan cara menyisihkan waktu sejenak merenung, introspeksi diri dan mendengarkan siraman rohani dari seseorang yang dianggap mumpuni. Harapannya agar pikiran kita bisa lebih jernih lagi (segar) dan mendapatkan kembali makna kehidupan ini. Tahun-tahun awal ketika bekerja di UPH, maka retreat karyawan dilakukan di luar kota, beberapa kali di daerah Puncak, dengan membawa anak dan istri. Mengingat hal ini, tentu sangat menyenangkan sekali. Hanya saja sekarang anggota keluarga di kampus UPH bertambah banyak, sehingga jika itu dilakukan maka tentu biayanya akan sangat besar. Oleh sebab itu, sekarang ini retreatnya berupa seminar mendengarkan semacam kotbah, dengan mendatangkan para motivator rohani dari manca negara. Untuk tahun ini pembicaranya adalah Hugh Whelchel, Executive Director of Institute Faith, Work & Economic, dari Amerika.

Seperti biasa karena ini juga kegiatan wajib di UPH maka aku mempersiapkan diri dengan baik. Lokasi acara adalah di Grand Chapel di Gedung C Kampus UPH, suatu ruang pertemuan tertutup terbesar yang dimiliki UPH. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini pula aku membawa juga camera baruku, Canon G9X Mark II. Adapun kamera lamaku Canon G11 yang ukurannya relatif lebih besar dan kalah teknologi, maka siap-siap untuk dipensiunkan. Jujur saja, aku pernah punya sebentar Sony Cyber-SHOT DSC-HX90V, Compact Camera dengan zoom 30x. Harganya kira-kira sama dengan Canon G9X. Hanya saja camera Sony itu tidak memuaskan jika digunakan pada ruang tertutup. Fokusnya lama, dan hasilnya kadang kalah oleh kamera handphone yang makainya berkesan asal jepret. Jadilah kamera Sony itu kujual lagi (rugi deh) dan gantinya adalah Canon yang akan aku uji coba di acara retreat hari ini.

Maklum mengambil foto di ruang tertutup, tanpa blitz adalah cukup menantang. Kamera pocket murah kelihatannya kalah kemampuannya dengan kamera handphone yang ada saat ini. Untuk kamera handphone biasanya aku memakai Xiomi. Hanya saja untuk detail, untuk cahaya kurang maka hasilnya kadang juga tidak terlalu memuaskan. Oleh sebab itu setelah membaca berbagai review di internet, kamera Canon G9X ini mempunyai spek yang lebih baik dari camera handphone atau kamera poket semacam Sony tersebut. Jadi event retreat ini adalah saat yang tepat untuk mencobanya.

Baca lebih lanjut