New normal, dalam prespektif pribadi

Kehidupan manusia memang unik, tidak mudah diprediksi. Meskipun telah dilakukan banyak penelitian, ditemukan begitu banyak ilmu pengetahuan di berbagai jurnal ilmiah atau buku untuk bisa dipelajari, juga banyaknya teknologi baru yang muncul, tetapi menurutku : masa depan masih sesuatu yang belum bisa dipastikan dengan baik. Cuma bisa diduga, bisa ya tetapi bisa juga tidak.

Apa yang sekarang ini sedang kita hadapi, yaitu Covid-19, adalah salah satu bukti bahwa “masa depan adalah tidak terduga”. Mungkin saja ada satu atau dua orang yang bisa memberikan visioner tentang sesuatu di masa depan, misalnya Bill Gate dan prediksi terjadinya pandemi akibat virus di masa lalu (di sini dibahas), tetapi buktinya orang lain menganggapnya itu halusinasi sehingga tidak ada persiapan sedikitpun untuk menghadapinya. Saat ini saja di USA telah jatuh korban yang begitu besar, akibat Covid-19. Coba kalau mereka di sana percaya Bill Gate dan membuat antisipasi sebelumnya, tentu fakta akan berkata lain.

Era Covid-19 saat ini telah menjadi milestone dalam kehidupan umat manusia. Saya sebut umat manusia, karena dampaknya bersifat global, tidak hanya satu negara, tetapi mencakup banyak negara-negara di dunia dan itu telah terjadi di lima benua. Dampaknya bahkan lebih dahyat dari krisis di negara kita tahun 1998 lalu. Krisis tersebut yang sifatnya regional ternyata sanggup merubah kehidupan profesi saya dari semula sebagai engineer (praktisi) “terpaksa” berubah menjalani pekerjaan sebagai tukang mengajar atau bahasa kerennya adalah akademisi (teori). Sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya. Sejak itu meskipun latar belakang cara berpikir saya adalah ilmu pasti, tetapi akhirnya menganggap bahwa masa depan adalah sesuatu yang misterius, tidak bisa diduga oleh siapapun.

Oleh sebab itu ketika Covid-19 ini terjadi, dan harus berdiam di rumah lebih dari dua bulan, maka dihadapi saja dengan realistis. Toh tidak sendirian. Itu adalah bagian dari ketidak-tahuan kita akan masa depan. Oleh karena merasa banyak hal yang tidak tahu, maka yang bisa dilakukan adalah mengikuti dengan patuh petunjuk pemerintah. Harapannya tentu itu adalah pilihan yang terbaik dan jangan lupa terus berdoa berharap agar selalu dalam penyertaan Tuhan selama masa pandemi ini.

Photo by Binti Malu on Pexels.com

Apakah cara berpikir di atas terkesan pesimis. Tentu bukan itu maksudnya. Mindset di atas hanya menunjukkan bahwa ada sesuatu di dalam diri kita yang terbatas. Oleh sebab itu harus dipikirkan dengan sebaik-baiknya apa yang kita inginkan dan yang bisa dikerjakan. Jika asal, maka siap-siap saja untuk kecewa, jika tidak tercapai. Perasaan kecewa itu akan banyak menghabiskan enerji, bisa berdampak bagi kesehatan dan mindset yang kita miliki. Bisa-bisa itu akan menyebabkan ketakutan dan membuat kita tidak percaya diri. Dua hal yang sangat penting untuk dihindari dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Satu-satunya modal penting untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti adalah keberanian dan kepercayaan diri.

Oleh sebab itu, agar kedua hal itu terjadi (berani dan punya kepercayaan diri), maka fokuslah pada kekuatan yang dimiliki. Untuk bidang yang dianggap lemah (memahami kelemahan tentu tidak semua orang bisa), maka lebih baik diberikan saja ke orang lain. Hanya saja untuk anak muda tentu perlu dipikirkan dengan baik, apalagi untuk mengatakan itu bukan kekuatannya. Jika masih muda ada baiknya perlu mencoba, ini tentu suatu kesempatan. Adapun untuk orang tua seperti saya ini, tentu sudah bisa memilah, mana yang menjadi kekuatan dan mana yang sebaiknya dihindari karena merupakan kelemahan. Pada tahap tertentu, orang lain akan menyebutnya seorang profesional dan bukan amatir.

Dengan mengerjakan apa-apa yang menjadi keahliannya, maka hasilnya akan baik. Jika hasilnya baik, maka client dan kita sendiri juga puas. Akhirnya reputasi akan meningkat. Kita juga semakin percaya diri dan tidak takut menerima tanggung-jawab yang lebih besar lagi. Sedikit-sedikit dan lama-lama menjadi bukit.

Perlu diingat, bahwa meskipun telah diusahakan dengan sebaik-baiknya bisa saja hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ibarat pepatah, “manusia berusaha tetapi Tuhan juga yang menentukan”. Rasionalnya adalah, meskipun kita telah menyiapkan segala sesuatu dengan baik, punya kompetensi, tetapi kalau tidak diberi “kesempatan” menunjukkannya, maka hasilnya sia-sia. “Kesempatan” itu karakternya seperti “masa depan”, tidak bisa diduga. “Kesempatan” merupakan fungsi “waktu”, oleh sebab itu dalam segala hal, jangan sia-siakan “waktu”.

Jadi siapkanlah apapun yang bisa kamu siapkan, siapa tahu itu menjadi rejeki dan keberuntungan kamu. Termasuk juga dalam masa pandemi ini. Jika bisanya hanya bertahan, maka manfaatkanlah dengan baik. Semoga masih bisa sehat setelah pandemi ini berakhir. Tetapi bisa lebih dari sekedar bisa hidup, maka saat ini adalah saat terbaik untuk memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan setelahnya. Ingat pandemi saat ini adalah milestone bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu tentunya akan ada perubahan dari yang dahulu.

Cara terbaik untuk menghadapi perubahan seperti itu, adalah ikut juga berubah. Siapkan kita menghadapinya. Ini tidak sekedar tentang protokol kesehatan, yang umumnya telah dipikirkan bersama, tetapi ini adalah kelangsungan hidup kita nantinya, setelah pasca pandemi. New normal begitu sebutan banyak orang. Ini tantangan dan juga peluang bagi kita untuk bertahan dan bertumbuh, atau tergilas dan hilang tidak berbekas.

Langkah awal tentunya mengevaluasi hal-hal yang berguna dan tidak berguna. Agar ke depan akan semakin baik lagi. Hal-hal yang dimaksud lebih kepada mindset yang kita miliki. Mindset yang tidak berguna harus dibuang, karena sifatnya membebani dan menghambat.

Untuk tahu apakah mindsetnya berguna atau tidak, kadang bersifat subyektif. Oleh sebab itu apa yang saya ungkapkan ini juga subyektif sifatnya. Bisa saja cocok dengan saya, tetapi ternyata tidak bagi orang lain. Misalnya saya bilang bahwa menjadi dosen di perguruan tinggi swasta itu enak daripada menjadi pns. Ini persis seperti konglomerat non-sarjana, yang mengatakan kalau masuk perguruan tinggi itu tidak penting, lebih baik dagang saja. Yang lain tentu akan banyak lagi, apalagi kalau yang bicara adalah yang punya pengalaman tentang yang dibicarakan. Tidak banyak orang yang akan mendebatnya, karena dia punya fakta yang mendukung apa yang dia omongkan.

Terlepas dari hal yang bersifat subyektif seperti diatas. Ada juga cara berpikir yang bersifat umum, misalnya : selagi muda berpikirlah bahwa karir dan keluarga itu sesuatu yang tidak perlu dipertentangkan. Keduanya pada dasarnya paralel. Ini tentunya dengan mindset bahwa “berkeluargalah jika sudah ketemu jodohmu“, bukan karena mindset berikut “kawinlah agar terhindar dari zinah“.

Mungkin bagi sebagian orang, mindset yang belakang tersebut lebih menonjol karena dikaitkan dengan ajaran agama. Jujur saja, saya baru tahu ada mindset seperti itu setelah tua. Untung pada masa dulu, hal tersebut belum ada. Itu pula alasan yang perlu saya ungkapkan, yaitu untuk memberi pandangan kepada anak muda. Mindset terkait dengan zinah, jelas bukan mindset saya. Meskipun ada basis ajaran agamanya, tetapi itu mindset yang sempit, hanya melihat lembaga perkawinan sekedar untuk menyalurkan hawa nafsu saja. Sayang sekali yang punya pikiran seperti itu.

Berkeluarga itu tidak sekedar “kawin” secara fisik, lebih dari itu. Oleh sebab itu keluarga dapat disebut sebagai kelompok satuan terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Tingkatannya bahkan lebih tinggi dari karir. Dalam karir, bisa saja berganti profesi, nggak masalah itu, tetapi kalau berganti istri dan anak, pastilah akan memakan enerji dan saya tidak membayangkan akan hal itu. Jujur, saya telah berpindah pekerjaan dan profesi, semua berjalan dengan baik. Pada masa transisi, maka keluarga berfungsi sebagai penyangga dan penghibur. Jaring-jaring pengaman. Karena keluarga itulah maka kita mengenal istilah “pulang kampung” dan “mudik”. Iya khan.

Mencari jodoh yang tepat, adalah isi nasehat yang gampang diomongkan, tetapi tidak mudah dilakukan. Juga subyektif sifatnya. Itu adalah bagian dari masa depan, yang kita sendiri kadang tidak tahu. Baru setelah perjalanan waktu, kita tengok masa lalu, akhirnya bisa mengetahui bahwa memang itu jodohku. Oleh sebab banyak hal yang tidak jelas tersebut, maka cara orang jawa, yaitu pertimbangan bibit, bobot dan bebet menjadi sangat berguna. Pertimbangan rasional menjadi sangat penting, untuk mengimbangi pertimbangan emosional. Keseimbangan rasional dan emosional adalah sangat penting. Emosional penting karena itu yang menimbulkan “greng” atau “klik”. Jadi tidak boleh ditinggalkan.

Dengan cara berpikir seperti itu maka saya mendidik anak-anak saya. Apalagi dalam keyakinan agama saya, yang namanya perkawinan adalah abadi. Sekali seumur hidup dan tidak mengenal istilah perceraian, kecuali tentunya jika salah satu telah dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Pada waktu menjelaskan tentang jodoh ke anak-anak adalah tidak mudah. Meskipun demikian saya berpatokan dengan nats, bahwa manusia wajib berusaha, meskipun Tuhan yang menentukan akhirnya. Oleh sebab itu jodoh itu harus dicari, harus diusahakan. Bagaimana caranya, nah itu seninya. Cerita tentang itu tentu akan sangat panjang. He, he setelah berkeluarga lebih dari 1/4 abad, dan telah berhasil mantu kemarin, maka saya punya pede untuk menjabarkan mindset saya terkait keluarga. Ilmu ini jelas bukan dari bangku sekolah tetapi dari kehidupan nyata. Mungkin kalau diberi tingkatan bisa juga masuk ke level profesor, seperti karirku sebagai dosen.

Kesiapan keluarga sangat penting untuk mengantisipasi new normal, yang merupakan dampak Covid-19. Maklum new normal itu tidak sekedar menjaga jarak, atau memakai masker, tetapi perubahan cara kita bekerja atau bahkan berkehidupan. Sebagai dosen misalnya, sebelumnya cukup mengajar di depan kelas, karena Covid-19 maka sudah dua bulan ini harus berpindah mengajar di depan komputer sendirian, dengan Zoom. Tanpa ada tatap muka langsung. Ini tentu suatu yang berbeda dari sebelumnya.

Jadi di new normal, sudah ada perubahan bahwa mengajar itu tidak perlu harus bertatap-muka langsung, toh selama ini bisa juga jalan. Padahal sebelumnya kalau mendengar yang namanya universitas terbuka, kesannya hanya untuk dapat ijazah saja. Ini fakta sederhana tentang perubahan cara kerja.

Selanjutnya juga sudah ada wacana, bahwa perkuliahan via zoom, ada baiknya dibuatkan video rekaman. Dosen akhirnya nggak perlu bersusah payah untuk mengajar lagi. Toh sudah ada rekaman dan materi yang diajarkan khan berulang. Ini kesannya bagus, padahal jika itu terjadi, maka dosen-dosen itu akhirnya akan menjadi anonim. Materi kuliah yang diberikan dosen akan sekedar menjadi content digital, seperti materi di Youtube. Bedanya content video yang di up-load di Youtube, semakin banyak pengunjung maka royaltinya semakin besar. Kalau video dosen untuk perkuliahan bagaimana hayo.

Kalau sudah terbiasa bahwa mata kuliah dijadikan content video rekaman, dan tentunya semua perguruan tinggi akan melakukannya. Pihak otoritas bisa mereview video-video perkuliahan yang ada, dan memilihnya yang terbaik, selanjutnya diusulkan ke perguruan tinggi agar memakainya. Kalau dari otoritas membuat rekomendari, maka tentunya akan diterima dengan cepat. Dosen internal kampus hanya sekedar menjalankan video, dan menampung pertanyaan terkait. Siapapun dosen tersebut, orang akhirnya menjadi tidak perduli.

Jika demikian, mengapa pula perguruan tinggi harus membayar mahal dosen senior. Cari saja dosen muda dengan persyaratan akademik yang cukup (minimum S2), tentunya bisa digaji lebih murah. Kalau dosen senior, yang setiap tahun harus disesuaikan gajinya, pengeluaran universitas tentunya akan besar. Nah yang berprofesi dosen, suatu saat itu akan terjadi. Anda-anda yang merasa senior dari segi lama mengajar, tetapi tidak senior dari segi isi. Siap-siap saja menerima dampak buruknya.

Di sisi pengajaran, memang seperti itu yang akan terjadi. Materi kuliah yang terbaik kadang tidak datang dari kelas, tetapi dari channel Youtube. Mungkin sekarang ini belum banyak yang bagus, tetapi kalau era new normal berlangsung, maka akan ada ratusan materi yang dibuat, tentunya hasilnya akan semakin baik. Pengajaran di depan kelas akan menjadi jauh tertinggal. Kondisi ini tentunya sangat menguntungkan untuk teman-teman yang tinggal jauh di daerah pedalaman, yang penting ada internetnya.

Isue tentang pembuatan video oleh dosen kelihatannya sudah menjadi isue kreatif di grup FB dosen. Hanya saja motivasinya adalah untuk mendapatkan royalti, terinpirasi Atta Halilintar, yang kaya karena banyak membuat content Youtube. Apakah content Youtube yang dibuat dosen bisa mendukung proses perkuliahannya, tentu sesuatu hal yang berbeda. Maklum tidak semua tertarik mengikuti mata kuliah yang dimaksud. Itu tentu berbeda dari youtuber yang kaya, biasanya content-contentnya populer bukan spesifik seperti kalau dosen itu mengajar.

Mencoba itu boleh saja, saya yakin pembuatan content youtube itu kasusnya sama seperti pembuatan buku. Boleh saja menerbitkan buku, tetapi apakah ada yang membaca atau tidak, itu persoalan lain. Termasuk juga menulis blog ini. Boleh-boleh saja menulis, tetapi apakah ada yang membaca atau tidak, itu hal yang berbeda. Itulah makanya, kalau ada yang menanggapi tulisan saya, tentu saya senang sekali. Persis seperti menyanyi di atas panggung, kalau nggak ada yang datang mendengarkan tentunya akan merasa kecewa.

Pada New Normal, proses belajar dan mengajar di kampus akan mengalami perubahan signifikan. Content berbasis digital, internet dan komputer akan menjadi sentral kegiatan. Itu juga berarti dosen harus melengkapi diri dengan komputer atau gadget yang mendukung. Pihak kampus kadang tidak peduli (atau tidak tahu), sebagai contoh saya bekerja di kampus yang katanya elite, tetapi komputer di kantor masih saja sistem Window XP. Itu berarti memakai Zoom tentunya nggak bisa. Kalau soal itu tentu saya nggak mau ribut, karena bisa mencari sendiri maka nggak ada masalah. Hal-hal seperti ini tentu tidak setiap dosen mau atau bisa.

Jika dalam hal belajar mengajar, maka dosennya bisa berisiko untuk dianggap anonim, yang penting harus ada dukungan content-content digital pilihan yang terbaik. Jika demikian, tentunya tidak akan ada perbedaan antara kampus satu dengan yang lainnya. Hal yang bisa membuat berbeda adalah dalam hal karya dosen dan juga jenjang kepangkatan dosen yang diakui negara. Kedua hal itu hanya bisa jika ada dosen tetap yang bekerja di kampus, bukan oleh dosen tidak tetap. Oleh sebab itu siapapun yang mengandalkan periuk nasinya dari mengajar sebagai dosen tidak tetap, maka siap-siaplah untuk tersingkir. Dosen tidak tetap masih berguna jika status dosen dicari sekedar melengkapi pekerjaan utama lainnya. Itu nilai tambah, tetapi kalau mengandalkan hidup sebagai dosen tidak tetap, maka ke depan pastilah stagnan atau kalau tidak mau disebut tidak ada perubahan yang berarti.

Untuk dosen yang sudah jadi, misalnya sudah menjadi guru besar, tentunya perlu meningkatkan kapasitasnya dalam menyediakan “content”, dalam hal ini yang penting adalah mutu dan bukannya sekedar kuantitas tulisan. Ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa saya harus mulai lagi menulis blog, yaitu bisa mendapatkan langsung masukan dari masyarakat. Karena hanya dengan menulislah maka orang memahami siapa kita.

Dengan memahami maka orang tentunya akan mengenal penulisnya, juga kompetensi yang dipunyai. Banyak orang yang punya permasalahan yang terkait dengan kompetensi penulis, yang datang untuk mencari penyelesaian. Adanya banyak permasalahan sehingga dipaksa harus memikirkan penyelesaian yang perlu dibuat, maka dapat dipertajam kompetensinya. Ibarat pisau, semakin sering diasah, maka akan semakin baik. Dengan pikiran yang semakin tajam, dan banyaknya ketemu orang, maka tentunya content yang dibuat akan semakin baik. Itu tentunya sangat mendukung untuk meningkatkan karya dosen dan juga jenjang akademik.

Itu era new normal bagi seorang dosen, bagi profesi lain tentu bisa saja berbeda. Tetapi yang jelas ketergantungan terhadap teknologi digital semakin besar. Semoga Indonesia sukses menghadapi new normal tersebut. Semoga. GBU

2 respons untuk ‘New normal, dalam prespektif pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s