kompeten dan profesional

Lama tidak bertemu, untuk itu perkenankan saya mengucapkan “Selamat Tahun Baru 2020”. Semoga tahun ini membawa berkah, dan semoga kita semua diberi kesempatan oleh Tuhan untuk tetap berkarya di sepanjang tahun tersebut. GBU

Ini tulisan pertama di tahun 2020. Ada yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perbedaannya adalah sekarang dan selanjutnya, tulisan-tulisan di blog ini adalah mencerminkan pemikiran seorang guru besar Indonesia.

Suka tidak suka, formal maupun informal, setiap tulisan: sedikit atau banyak, adalah mencerminkan isi pikiran seseorang. SK guru besar bagi saya telah keluar sejak 1 Agustus 2019 dan telah dikukuhkan resmi pada tanggal 4 November 2019 lalu. Jadi apapun yang saya lakukan tentunya akan mencerminkan perilaku seorang guru besar Indonesia. Bisa mengangkat atau menjatuhkan derajat guru besar Indonesia. Tentang hal itu maka tentunya anda pernah dengar pepatah “diam adalah emas” atau “tong kosong bunyinya nyaring”. Pada kondisi seperti itu, maka menulis sesuatu adalah tentu berisiko tinggi.

Bagi saya, pengangkatan menjadi guru besar adalah anugrah dan sekaligus tanggung-jawab. Keduanya harus dipikul secara seimbang, agar tidak menjatuhkan. Di sisi lain, saya sudah terbiasa untuk menulis hal-hal yang bukan hoax, tetapi adalah berdasarkan kebenaran dan dapat dipertanggung-jawabkan secara akademik. Oleh sebab itu bagiku, apakah aku ini guru besar atau awam, adalah sama saja. Tulisan adalah sumbang sih pemikiran untuk kebaikan bersama.

Baca lebih lanjut

erection baja

Sorry, judulnya jangan di-complaint ya. Maklum bahasanya campur-campur, asing dan Indonesia sekaligus, terkesan tidak konsisten. Jadi yang merasa ahli bahasa pasti akan mencak-mencak. 😀

Sebagai orang yang awalnya adalah engineer, lalu baru sekarang menjadi pemakai bahasa aktif (penulis) maka menerjemahkan hanya berdasarkan kaidah yang biasa ada, koq nggak sreg begitu. Erection merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris dan sebenarnya sudah diserap menjadi kata baku bahasa Indonesia sebagai ereksi. Tetapi saya koq rasanya merasa nggak begitu pas untuk menyandingkannya dengan kata baja . Kata ereksi koq cocoknya jika dikaitkan dengan dokter Boyke. Tul nggak ?!

Tidak hanya itu saja, saya merasa bahwa kata ereksi merujuk pada suatu kondisi (statis). Adapun erection (dicetak miring) merujuk suatu proses (dinamis). Nah yang terakhir itu rasanya pas kalau yang memakai adalah seorang insinyur . He, he ini mungkin subyektifas pribadi ya.

Nah terlepas setuju atau tidak setuju, yang jelas kata erection (dicetak miring) sudah aku gunakan pada buku karanganku berjudul Struktur Baja (edisi awal) maupun untuk buku edisi ke-dua, dan kelihtannya sudah menjadi referensi banyak engineer.

Baca lebih lanjut

Kaleidoskop 2016

Selamat pagi semua, senang tentunya jika anda masih tetap membaca blog ini.

Pada penghujung tahun 2016 ini, ada baiknya saya melakukan refleksi peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi di seputaran kehidupan saya. Ini penting karena jika tidak dicermati dari tulisan-tulisan yang saya buat, rasa-rasanya tidak banyak yang tahu bahwa ada seorang yang bernama Wiryanto Dewobroto di dunia ini. Jujur saja, banyak orang yang lebih mengenal nama tersebut secara tertulis daripada dari orangnya langsung. 😀

Saya ini pendiam, tapi bukan berarti seperti patung. Saya ini ibarat gong, jika ada yang “memukul”, bisa nyaring suaranya. Untuk soal basa-basi memang saya ini bukan jagonya, ngalah deh. Juga soal berdoa, rasa-rasanya koq nggak pede-pede juga. Hanya saja kalau untuk ngomong atau khususnya nulis di bidang yang digeluti, wah demen sekali. Sudah pernah baca buku-buku yang saya tulis atau belum. Kata orang, saya ini cocok disebut novelis di bidang engineering. Itu kata pembaca lho. Kalau belum pernah membaca buku saya, pasti tertawa deh dengan sebutan tersebut. Ini buku karya saya yang terbaru dan tanggapan pembacanya. Jika anda berlatar belakang teknik sipil, kebangetan jika belum tahu soal buku tersebut, maklum ketebalan buku hampir 1000 halaman, adalah langka sekali di Indonesia. Bisa dihitung dengan jari lho. << serius mode on >>

Baca lebih lanjut

“deep beam” di struktur baja

Meskipun bekerja di lingkungan akademik, dan banyak bertemu teman-teman yang menggeluti bidang ilmu yang sama, structural engineering, tetapi ternyata kesempatan berdiskusi pada bidang ilmu tersebut, relatif jarang. Kalaupun bertemu, yang dibicarakan paling-paling tentang pernak-pernik kelakuan mahasiswa di kampus, bagaimana tentang mahasiswa yang aktif atau yang malas. Maklum, mahasiswa yang malas ujung-ujungnya jadi biang masalah menjelang ujian. Jadi mendengar pendapat dosen lain, menarik untuk dijadikan acuan menghadapinya. Topik pembicaraan umum yang lain, biasanya terkait dengan berita-berita yang lagi hangat, misalnya tentang gadget terbaru atau bahkan tentang berita politik juga, mulai dari bu Atut sampai pak Jokowi.

Kemarin kondisi di atas ternyata agak berbeda, maklum ada acara pra-sidang, yaitu acara evaluasi progres “tugas akhir” mahasiswa. Pada acara tersebut, hadir dosen pembimbing “tugas akhir” dan dua dosen senior di bidang ilmu yang sebidang (sesuai materi tugas akhir). Nah karena ada tiga dosen di bidang ilmu sama berkumpul dan dikondisikan secara formal, maka setiap komentar dan tanggapan dapat dijadikan pemicu untuk terjadinya diskusi ilmiah. Meskipun tujuan awal acara adalah untuk mengevaluasi kompetensi mahasiswa (peserta tugas akhir), tetapi adanya diskusi antar dosen maka antara sadar atau tidak sadar, acara tersebut juga merupakan sarana untuk mengevaluasi kompetensi dosen-dosennya. Itu tentu disadari benar oleh dosen-dosennya, sehingga setiap pertanyaan yang diajukan mereka ke mahasiswa, sebisa mungkin jangan sampai mempertanyakan atau meragukan suatu kompetensi dari dosen lain yang hadir. Kalau itu sampai terjadi, maka yang menjawab bukan mahasiswa tugas akhir tetapi dosen pembimbingnya. Jika tidak hati-hati, jadilah perdebatan, seru !

Situasi yang dimaksud, terjadi kemarin.

Baca lebih lanjut