erection baja

Sorry, judulnya jangan di-complaint ya. Maklum bahasanya campur-campur, asing dan Indonesia sekaligus, terkesan tidak konsisten. Jadi yang merasa ahli bahasa pasti akan mencak-mencak. 😀

Sebagai orang yang awalnya adalah engineer, lalu baru sekarang menjadi pemakai bahasa aktif (penulis) maka menerjemahkan hanya berdasarkan kaidah yang biasa ada, koq nggak sreg begitu. Erection merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris dan sebenarnya sudah diserap menjadi kata baku bahasa Indonesia sebagai ereksi. Tetapi saya koq rasanya merasa nggak begitu pas untuk menyandingkannya dengan kata baja . Kata ereksi koq cocoknya jika dikaitkan dengan dokter Boyke. Tul nggak ?!

Tidak hanya itu saja, saya merasa bahwa kata ereksi merujuk pada suatu kondisi (statis). Adapun erection (dicetak miring) merujuk suatu proses (dinamis). Nah yang terakhir itu rasanya pas kalau yang memakai adalah seorang insinyur . He, he ini mungkin subyektifas pribadi ya.

Nah terlepas setuju atau tidak setuju, yang jelas kata erection (dicetak miring) sudah aku gunakan pada buku karanganku berjudul Struktur Baja (edisi awal) maupun untuk buku edisi ke-dua, dan kelihtannya sudah menjadi referensi banyak engineer.

Baca lebih lanjut

Kaleidoskop 2016

Selamat pagi semua, senang tentunya jika anda masih tetap membaca blog ini.

Pada penghujung tahun 2016 ini, ada baiknya saya melakukan refleksi peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi di seputaran kehidupan saya. Ini penting karena jika tidak dicermati dari tulisan-tulisan yang saya buat, rasa-rasanya tidak banyak yang tahu bahwa ada seorang yang bernama Wiryanto Dewobroto di dunia ini. Jujur saja, banyak orang yang lebih mengenal nama tersebut secara tertulis daripada dari orangnya langsung. 😀

Saya ini pendiam, tapi bukan berarti seperti patung. Saya ini ibarat gong, jika ada yang “memukul”, bisa nyaring suaranya. Untuk soal basa-basi memang saya ini bukan jagonya, ngalah deh. Juga soal berdoa, rasa-rasanya koq nggak pede-pede juga. Hanya saja kalau untuk ngomong atau khususnya nulis di bidang yang digeluti, wah demen sekali. Sudah pernah baca buku-buku yang saya tulis atau belum. Kata orang, saya ini cocok disebut novelis di bidang engineering. Itu kata pembaca lho. Kalau belum pernah membaca buku saya, pasti tertawa deh dengan sebutan tersebut. Ini buku karya saya yang terbaru dan tanggapan pembacanya. Jika anda berlatar belakang teknik sipil, kebangetan jika belum tahu soal buku tersebut, maklum ketebalan buku hampir 1000 halaman, adalah langka sekali di Indonesia. Bisa dihitung dengan jari lho. << serius mode on >>

Baca lebih lanjut

“deep beam” di struktur baja

Meskipun bekerja di lingkungan akademik, dan banyak bertemu teman-teman yang menggeluti bidang ilmu yang sama, structural engineering, tetapi ternyata kesempatan berdiskusi pada bidang ilmu tersebut, relatif jarang. Kalaupun bertemu, yang dibicarakan paling-paling tentang pernak-pernik kelakuan mahasiswa di kampus, bagaimana tentang mahasiswa yang aktif atau yang malas. Maklum, mahasiswa yang malas ujung-ujungnya jadi biang masalah menjelang ujian. Jadi mendengar pendapat dosen lain, menarik untuk dijadikan acuan menghadapinya. Topik pembicaraan umum yang lain, biasanya terkait dengan berita-berita yang lagi hangat, misalnya tentang gadget terbaru atau bahkan tentang berita politik juga, mulai dari bu Atut sampai pak Jokowi.

Kemarin kondisi di atas ternyata agak berbeda, maklum ada acara pra-sidang, yaitu acara evaluasi progres “tugas akhir” mahasiswa. Pada acara tersebut, hadir dosen pembimbing “tugas akhir” dan dua dosen senior di bidang ilmu yang sebidang (sesuai materi tugas akhir). Nah karena ada tiga dosen di bidang ilmu sama berkumpul dan dikondisikan secara formal, maka setiap komentar dan tanggapan dapat dijadikan pemicu untuk terjadinya diskusi ilmiah. Meskipun tujuan awal acara adalah untuk mengevaluasi kompetensi mahasiswa (peserta tugas akhir), tetapi adanya diskusi antar dosen maka antara sadar atau tidak sadar, acara tersebut juga merupakan sarana untuk mengevaluasi kompetensi dosen-dosennya. Itu tentu disadari benar oleh dosen-dosennya, sehingga setiap pertanyaan yang diajukan mereka ke mahasiswa, sebisa mungkin jangan sampai mempertanyakan atau meragukan suatu kompetensi dari dosen lain yang hadir. Kalau itu sampai terjadi, maka yang menjawab bukan mahasiswa tugas akhir tetapi dosen pembimbingnya. Jika tidak hati-hati, jadilah perdebatan, seru !

Situasi yang dimaksud, terjadi kemarin.

Baca lebih lanjut

etika

Membaca berita-berita politik dan semacamnya itu, mestinya sudah biasa-biasa saja. Maklum berita politik di negeri ini khan memang heboh dan aneh-aneh. Tetapi nggak tahu kenapa, membaca penggalan berita berikut koq rasanya ingin berkomentar.

Ini penggalan yang kumaksud :

Dahlan mengatakan kalau dia memiliki sepenuhnya mobil listrik ‘Ferrari’ Tucuxi dengan alasan yang jelas. Pasalnya segala kebutuhan mobil listrik itu datang dari Dahlan dan bukan dari pecipta Tucuxi, Danet Suryatama.

Kalau yang ini (Tucuxi -red) yang rancangan Pak Danet Suryatama ini sejak awal risetnya yang membiayai saya. Jadi mobil ini sudah menjadi milik saya.” ujar Dahlan di Solo, Sabtu (5/1/2013).

Dahlan menambahkan, selama ini Danet hanya sekedar merakit motor dan baterai mobil listrik tersebut.

Sementara Danet mengatakan kalau Dahlan tidak memiliki itikad baik dan mencoba mencontek teknologi yang sudah dia kembangkan dan patenkan.

Hal itu terjadi karena Danet sejak tanggal 20 Desember silam sudah tidak diperbolehkan lagi melihat mobilnya. Mobil pun sudah dibongkar sendiri oleh tim Dahlan Iskan.

Sumber Detik.com

Kenapa ya.

Baca lebih lanjut