memilih sistem pondasi

Dari artikel saya tentang sistem pondasi tiang bor, ada beberapa komentar yang bernada pertanyaan, intinya ingin tahu bagaimana memilih sistem pondasi. Saya sebenarnya tidak terlalu ingin menanggapi, bukan karena nggak mau memberi respons tetapi karena saya pikir itu sudah ada di buku-buku text tentang pondasi atau mekanika tanah, dan saya lihat buku-buku seperti itu sudah banyak beredar di toko-toko buku. Apalagi bidang keahlian saya adalah struktur (pondasi adalah daerah grey area). Tapi kalau melihat respon tentang hal tersebut yang cukup banyak, rasanya saya jadi tergelitik untuk sekedar urun rembug juga.

Terus terang, ilmu tentang pondasi yang saya miliki tidak terlalu dalam, tingkat amatir gitulah, tapi sebagai structural engineer yang bertanggung jawab pada bagian konstruksi atas, maka minimal bisalah jika sekedar mengevaluasi sistem pondasi apa yang cocok untuk dipasangkan dengan struktur atas.

Koq bisa begitu ?

Yah, ini ada untungnya dibesarkan dalam budaya jawa.

Emangnya ada hubungannya pak ?

Ya itu ngelmu titen. Jika anda dibesarkan dibawah budaya jawa, maka sejak awal kita sudah dibiasakan untuk mengenali kebiasaan-kebiasaan dan dampaknya. Ciri-ciri dari orang-orang atau alam dan kebiasaan yang dihasilkan, akhirnya kita mempunyai perbendaharaan tentang hubungan sebab-akibat dari suatu subyek (bisa alam atau manusia).

Ingat ada suatu pepatah yang sangat umum bagi orang jawa, yaitu “tak titeni lho”, atau juga “otak-atik gathuk”, “katuranggan”, dsb.

Itu pula yang saya gunakan untuk memahami strategi orang dalam memilih pondasi. Tentu saja tidak hanya mengandalkan ngelmu titen tersebut, tetapi selanjutnya dicarikan korelasinya dengan ilmu rekayasa yang kita pelajari. Jadilah itu.

Memang benar bahwa untuk memilih pondasi maka perlu melihat besarnya gaya-gaya reaksi dari strukturnya, tapi menurut saya itu tidak cukup. Seorang structural engineer harus melihat secara komprehensip dan dialah yang memutuskan sistem pondasi apa yang dipilih, bahkan menentukan spesifikasi dari sistem pondasi tersebut, bukan soil engineer atau foundation engineer

Si soil atau foundation engineer akan bekerja berdasarkan spesifikasi yang diminta oleh si structural engineer. Mereka akan mengajukan usulan-usulan sistem yang memenuhi persyaratan si structural engineer, khususnya kekuatan pondasi dalam menerima beban, resiko terjadinya displacement yang dapat mempengaruhi struktur, kelayakan pelaksanaan dan juga pengaruhnya terhadap lingkungan.  

Dalam menentukan spesifikasi sistem pondasi atau bahkan menentukan sistem struktur yang akan diadopsi maka ada baiknya si engineer memahami kondisi lingkungan dimana struktur tersebut akan dibangun. Ini penting, bagaimanapun yang namanya proyek adalah sangat spesifik. Pemahaman akan kondisi alam sejak awal akan sangat membantu memilih sistem struktur juga pondasi yang dapat dipilih.

Untuk struktur yang mencakup suatu lokasi yang relatif kecil (tidak luas) maka data penyelidikan tanah setempat dan lokasi mungkin sudah mencukupi sebagai gambaran awal memilih sistem yang dimaksud. Di Kalimantan misalnya, didaerah yang ternyata adalah tanah gambut, jika disitu akan dibangun gedung misalnya maka faktor berat struktur dan pondasi dalam tentunya sudah mewarnai strategi perencanaan yang harus dikerjakan. Sebaiknya dipilih struktur yang relatif ringan, tidak peka terhadap differential settlement dan tentu saja sistem pondasi dangkal tidak bisa digunakan karena beresiko tinggi terhadap penurunan tanah jangka panjang.

Jadi kecuali daya dukung pondasi (forces) maka penurunan pondasi (displacement) juga perlu menjadi patokan dalam memilih sistem pondasi. Pondasi yang masuk dalam kelompok pondasi dangkal (telapak, footing, cakar ayam, laba-laba, pondasi menerus) beresiko tinggi terhadap kemungkinan terjadinya penurunan jangka panjang, khususnya jika tanah dibawahnya mayoritas adalah lempung (clay), kalau pasir (tertentu) perhatikan bisa juga terjadi efek liquifaction bila ada gempa. Meskipun jelas, pondasi dangkal relatif pengerjaannya sederhana dan berbiaya ringan dibanding pondasi dalam (bor atau pancang).

Jika ternyata diperlukan sistem pondasi dalam, maka ada beberapa pilihan, untuk gedung umumnya dua macam saja yaitu pondasi tiang pancang dan tiang bor. Pondasi caisson umum dipakai untuk jembatan. Jika dari mekanisme pengalihan gaya yang ditinjau maka dari sistem pondasi dalam tersebut dapat dipisahkan menjadi dua yaitu gaya dari ujung pondasi ditransfer ke tanah melalui mekanisme friksi (dinding tiang pondasi) dan melalui mekanisme tumpu (ujung tiang pondasi).

Jika tiang pondasi di pasang (pancang atau bor) sampai tanah keras (SPT > 40) maka yang akan bekerja adalah mekanime tumpu. Ini merupakan mekanisme yang paling andal melawan resiko terjadinya penurunan. dengan asumsi bahwa daya dukung tanah OK.

Mekanisme tumpu sangat dipengaruhi oleh diameter ujung tiang yang bertemu dengan tanah, jadi semakin besar diameternya maka semakin besar daya dukung tumpu yang dihasilkan. Berkaitan dengan hal tersebut maka sistem pondasi tiang bor, yang memungkinkan mempunyai diameter yang besar maka lebih unggul dibanding  tiang pancang. Bahkan untuk sistem pondasi Franki yang mempunyai alat untuk memperbesar ujung pondasi jelas akan sangat menguntungkan. Itu pula yang menjawab mengapa jika diperlukan sistem pondasi dengan daya dukung besar, misal 300 ton atau lebih maka sistem pondasi tiang bor akan menjadi prioritas untuk dipertimbangkan. Untuk pondasi tiang pancang, karena ukurannya terbatas oleh alat angkut, maka kapasitasnya juga terbatas. Jika dipaksakan maka perlu jumlah tiang pancang yang lebih banyak. Perlu dipikirkan pile-cap dan ruangnya. 

Kalau begitu pakai aja pondasi tiang bor.

Ya, nggak bisa begitu dong, jika karena gaya-gayanya memungkinkan memakai tiang pancang, mengapa tidak. Jika digunakan pondasi tiang pancang maka jelas, tiangnya sudah dibuat terlebih dulu, bahkan dapat memakai baja atau beton prategang. Kalau pakai tiang bor khan nggak bisa. Kedua material tersebut mempunyai keunggulan, lebih reliable dibanding beton bertulang pada pondasi tiang bor yang harus dicor ditempat. Kualitasnya tergantung kontraktor yang mengerjakan.

Jadi ini masalah keyakinan sistem struktur yang tertanam di bawah tanah tersebut.

Jika pakai tiang pancang, maka karena daya dukung relatif kecil dibanding tiang bor maka perlu jumlah tiang pancang yang lebih banyak. Kalau dipakai tiang bor karena daya dukung bisa gede, tentunya pakai diameter tiang bor yang lebih gede dari tiang pancang lho, kalau pakai diameter sama maka daya dukung tiang bor kalah lho dengan tiang pancang. Ingat tentang fenomena paku, yang dipaku langsung dengan dibor dulu. Kaku mana hayo.

Tetapi keyakinan bahwa bagian bawah mutu tiangnya baik maka yang bisa diandalkan adalah tiang pancang, daerah lemah khan hanya pada sambungannya. Kalau ini bisa diatasi, pasti ok. Jadi resiko gagal untuk tiang pancang relatif kecil dibanding tiang bor dalam segi pelaksanaannya. Jadi katakanlah dalam suatu proyek jika dipakai tiang pancang perlu 100 tiang, maka jika gagal satu maka hanya 1% saja, tapi coba jika pakai tiang bor yang hanya perlu katakanlah 50 tiang, maka jika gagal satu maka prosentasi kegagalan 2%, lebih tinggi.

Dalam memilih tentu hal tersebut perlu dipertimbangkan.

Itu di atas baru dari sisi kekuatan dan kekakuan, bagaimana yang lain.

O ya perlu diperhatikan juga sistem struktur atas yang digunakan, misalnya untuk struktur ‘statis tertentu’ dan ‘struktur statis tak-tentu’ akan mempunyai ambang batas yang berbeda berkaitan dengan adanya penurunan (differential settlement).

Ingat pondasi yang nggak kuat itu dapat dilihat dari terjadinya penurunan gitu lho. Jadi kekuatan dan kekakuan itu adalah barangnya sebenarnya sama aja. Hanya cara memandang aja.

Tadi diatas, saya meminta untuk melihat kondisi proyek, ini penting karena pelaksanaan sistem pondasi dalam di atas mempengaruhi tanah disekitarnya. Tiang pancang, kecuali menghasilkan noise yang mengganggu (coba aja anda mancang di dekat rumah presiden, kena complaint dah 🙂 ). Juga tanah bisa terpengaruh, contohnya heave. Itu bisa diatasi dengan strategi pelaksanaan. Tapi kalau rumah tetangganya yang pakai pondasi dangkal terpengaruh heave tersebut, sehingga terangkat dan rumahnya retak-retak. Hayo gimana ayo. Sistem pondasi tiang bor kurang beresiko kalau soal itu.

Ketersediaan teknologi dan material. Ya ini lain soal, ini umumnya masalah kontraktor.

Banyak khan yang menjadi bahan pertimbangan untuk memilih pondasi tersebut. Jadi rasanya tidak ada formula pendek untuk menetapkan suatu pilihan. Inilah seninya engineer tersebut. Nggak bisa tuh, engineer ‘baru masuk’  langsung ‘cespleng’, perlu jam terbang. Gitu lho. 

Ada yang mau menambahin.

Eh pak, mana kaitannya dengan ngelmu titen yang bapak singgung di depan.

Eh kamu, itu. Saya bisa nulis banyak di atas, itu ya dari ngelmu itu, di textbook nggak ada itu, kalaupun ada, terpisah-terpisah. Lha dengan  ngelmu titen tadi saya bisa merangkainya menjadi sesuatu fenomena yang logis gitu.

Jadi itulah gunanya melihat ke lapangan. chek and richek gitu lho. :mrgreen:

101 respons untuk ‘memilih sistem pondasi

  1. pak wir,…
    saya sedang mencari artikel tentang konstruksi sarang laba2 yang katanya pondasi ramah gempa tapi bukankah termasuk pondasi dangkal yang cenderung memberikan penurunan lebih besar?..
    ditunggu jawabannya,….terimakasih,..

    Suka

    • Saya juga tidak tahu alasan mengapa dapat disebut ramah gempa.

      Tetapi jika dianggap sebagai jenis pondasi dangkal, saya sih setuju. Terkait dengan penurunan besar saya kira itu relatif sifatnya, tergantung jenis tanah dimana pondasi tersebut digunakan. Kalau membangunnya di atas tanah clay atau mud (rawa) maka jelas dalam jangka panjang akan mengalami konsolidasi, penurunan, meskipun pondasinya sendiri utuh. Lihat saja kasus jalan yang menghubungkan Jakarta dan Bandara Soekarno Hatta.

      Suka

  2. Salam hormat Pak Wir,

    Saya ingin bertanya bagaimana mendesign pondasi (baik shalow foundation atau deep foundation) menggunakan metoda LRFD. Saya menghitung struktur beton di SAP2000 menggunakan Load factor dan ingin mendesign pondasi berdasarkan reaksi perletakan yang didapat dari output SAP2000. Sedangkan untuk mendesign penampang pondasi itu sendiri menurut teks book yg saya baca menggunakan Safety Factor (metoda ASD). Tentunya jika saya tetap menggunakan output yang saya dapat dari SAP200 akan terjadi overdesign karena semua beban sudah dikalikan Load factor.
    Saya ingin bertanya bagaimana mendesign penampang pondasi (shalow foundation dan deep foundation) menggunakan metoda LRFD dan buku apa yang bisa saya jadikan referensi..

    Terimakasih Pak,

    Andri

    Suka

  3. Salam pak..
    mua shering ni pak.. ada kasus untuk tiang pancang yang masuk kurang dari 4 meter udah mentok diukur dari elevasi tanah asli, terus di tes udah masuk u daya dukungnya, tapi yang jadi permasalahan agak ragu untuk nahan geser atau gulingnya..

    mungkin bapak bisa ngasih solusi…
    catatan.. tinggi urugan untuk mencapai +- 0,000 bangunan = 1,5 m
    janis urugan tanah putih atau padas putih.
    trima kasih…

    Suka

    • Kata kuncinya adalah untuk fungsi apakah tiang pancang anda. Sebagai pondasi bangunan di atasnya, atau juga berfungsi sebagai penahan lateral, misalnya paku bumi untuk mencegah longsor. Jelas mekanisme kerja keduanya berbeda.

      Umumnya untuk pondasi bangunan atas yang dominan adalah untuk beban vertikal, kalaupun untuk beban lateral paling adalah untuk antisipasi gempa, itupun per tiang tidak lebih dari 10%-nya. Kenapa begitu, karena untuk lateral akan dapat ditahan oleh kelompok tiang pancang yang disatukan oleh lantai basement yang berfungsi sebagai diahpragma. So umumnya dayadukung lateral yang hanya 10% (max) dari daya dukung vertikal rasa-rasanya lebih dari cukup.

      Tapi kalau berbeda jika itu digunakan sebagai pondasi vertikal sekaligus lateral, seperti misalnya di lereng, di dekat dinding penahan tanah. Beban lateral langsung bekerja pada tiang pancang tersebut, sehingga di tiang terjadi lentur. Tergantung dari mekanisme kerjanya, umumnya memakai konsep kantilever dalam menahan gaya lateral, ini paling simple. Jika itu yang direncanakan maka tentu panjang tertanam pada elevasi tanah keras menjadi hal yang penting. Jika tidak, maka efek kantilever tidak akan bekerja, artinya tiang tersebut nantinya tidak akan mampu menahan gaya lateral yang terjadi.

      Tentang bagaimana dengan mesin pancang yang mentok, wah itu tidak ada hubungannya dengan fungsi tiang terhadap kekuatan lateral. Itu hanya energi pancang arah vertikal, yang dengan formula tertentu kadang bisa ditransformasikan ke daya dukung tiang. Itu tergantung dari tipe mesin yang digunakan. Kadang dengan mesin tertentu, meskipun lebih berat tetapi hanya mengandalkan gaya gravitasi maka tiang mentok, eh ketika pakai mesin diesel hammer, meskipun lebih kecil tetapi ternyata tiang bisa dipancang lebih dalam lagi.

      Gitu komentar saya. Moga-moga membantu.

      Suka

  4. salam pak..
    moho bantuannya pak, kalau perhitungan pondasi dengan data sondir metode apa yang paling refrensentatif? karena beberapa metode hanya menghitung pas kedalam ujung tanpa mempertimbangan lapisan sebelumnya..
    terima kasih

    Suka

    • metode yang anda sampaikan berarti hanya memperhitungkan bearing capacity.

      Nggak masalah, karena kapasitas bearing jika sudah masuk (memenuhi target) hasilnya konservatif. Dengan asumsi bahwa bagian atas kondisi tanah nilai sondirnya relatif kecil dibanding yang bagian ujung tersebut. Jika itu terjadi maka itu dianggap telah mencapai tanah keras.

      Masalah timbul jika data tanah dibagian ujung hampir sama dengan data tanah di atasnya, artinya belum mencapai tanah keras. Jika demikian maka yang menentukan kekuatan lekatan atau friksi pile. Tapi agar kuat biasanya perlu panjang yang mencukupi.

      Suka

  5. Pak Wir, numpang tanya.
    kalau kita tdk ada masalah bearing capacity, tanahnya sangat baik, kapan kita harus kuatir ttg masalah overturning dari sebuah bangunan? misalkan pondasi kita ada pondasi telapak, 2-3 meter dari permukaan tanah. apakah ada data empiris yang bisa di jadikan acuan antara fungsi ketinggian bangunan dan dalamnya pondasi? apakah ini setiap kali harus dihitung dari overturning demand dan di bandingkan dengan capacity system kita?
    Terima Kasih

    Suka

    • “kita harus kuatir ttg masalah overturning”

      Pondasi telapak, berarti pondasi dangkal. Jadi kita perlu kuatir jika di pondasi tersebut akibat beban rencana (working stress) sudah mengalami tegangan tarik. Berarti bidang kontak sudah ada yang hilang. Untuk yang desak maka jelas harus kurang dari tegangan izin.

      Karena dalam praktek, untuk terjadi tegangan juga sekaligus mengalami deformasi maka tentu harus ada s.f (safety factor) untuk antisipasi antara kapasitas dan perlu. Menurut saya gitu.

      Suka

  6. Sanny Khow: ” ……. misalkan pondasi kita ada pondasi telapak, 2-3 meter dari permukaan tanah.”

    Apakah posisi bangunan rencananya diletakkan di dekat ujung atas urugan ?? –> mungkin perlu check juga untuk kestabilan urugan.

    Suka

    • Pak Sanny: meneruskan respon dari pak Wir, memang benar utk fondasi dangkal yang utama jangan sampai terjadi tegangan tarik di tanah. Kmd thd fungsi ketinggian memang utk tinjauan 1 kolom perlu dicek thd overturning akan tetapi jika dihitung secara sistem fondasi bangunan tsb (3D atau semua kolom thd beban kerja) maka kemungkinan overturning akan berkurang atau tdk terjadi meski dalam cek 1 kolom kondisinya terjadi…

      Suka

  7. pak wir, salam kenal,
    mau nanya punya refensi PIP STE03020 “Guidelines for tank Foundation Design” engga? atau refferensi2 lain yang bisa digunakan untuk mendesain pondasi tangki diatas tanah. kali aja pak wir punya clue.
    thanks before..

    Suka

  8. Pak Wir mohon pencerahannya,
    Pengujian berdasarkan Sondir, di dapat kedalaman tanah keras berada di kedalaman antara 10-17.5m, tetapi ketika pemancangan dilapangan, menggunakan metode penekanan (jacking pile) hanya masuk 6-7m… Kira-kira kenapa ya pak ?
    Mohon penjelasannya..
    terima kasih

    salam

    Suka

    • Alasan yang masuk akal, adalah adanya lensa tanah atau lapisan batuan keras yang bersifat setempat. Untuk mengetahui bahwa argumetnasi itu betul, maka cobalah pancang pondasi pada titik dimana sondir dilakukan. Kalau ternyata kondisinya sama, maka pertanyaannya tentunya ke proses penyondiran atau memang alat pancangnya yang ada masalah.

      Suka

      • terimakasih pak wir atas jawabannya yg cepat.
        Mungkin kah jika ternyata lapisan di bawahnya adalah lapisan tanah pasir ? karena saya pernah baca artikel, jika tanah berpasir tidak cocok memakai metode jakcing pile (mohon koreksi jika keliru). Walaupun di beberapa titik tercapai kedalaman 11-12m, ada juga 1 tiang yang mencapai kedalaman 14m. oh ya jumlah sondir yg kami lakukan sebanyak 4 titik.

        Suka

  9. salam
    Artikelnya sangat bermanfaat. Saya mau tanya nih, saya baru beli tanah lmasalahnya tanah tersebut sebelahnya kebon orang dan posisi tanah saya berada diatasnya sekitar 3m lebih tinggi dari tanah orang tersebut, sekarang dinding tanah saya (dari tembokan batu kali) sudaah retak lebar dinding 10m, mungkin tembok dindingnya tidak kuat menahan tanah saya. sya kwahatir jadi longsor ke tanah orang.
    1.Solusi untuk menembok kembali bagaimana? perlu pakai besi behel?
    2.Setengah tanah tersebut bekas timbunan sampah, tidak padat(banyak plastik). Bila membangun rumah di atasnya gimana untuk pondasinya?
    saya tunggu jawabannya lewat email juga gpp.
    Terima kasih

    Suka

    • Sukma: mungkin bisa dijelaskan dimensi dinding penahan tanahnya, apa benar lebar dinding penahan tanah 10 meter? (bukan panjang?). tetapi pada dasarnya keretakan itu berarti telah terjadi pergerakan arah lateral yg apabila deformasi ijinnya terlampaui akan bisa menimbulkan kelongsoran.
      Saran:
      1. Lakukan penyelidikan tanah
      2. Hitung ulang kekuatan dinding penahan tanah
      3. Untuk desain fondasi dangkal, buang lapisan sampah tsb
      4. Semua desain baik fondasi atau cek kekuatan dinding penahan tanah sangat bergantung dari hasil penyelidikan tanahnya…
      semoga bermanfaat…

      Suka

  10. Terimakasih atas respon yang cepat dari Pak Wir, semakin sering nih di buka blognya. banyak manffaatnya
    oh..iya pa maksudnya panjang tembokan 10m.
    Lebar tanah 8m panjang 15m ( panjang 10m di tembok batu, 5m tidak karena tanah orang sejajar).
    Saya orang awam pak jadi kurang tahu istilah’ lateral’dan penyelidikan tanah.
    Saya mohon saran penembokan dinding tersebut, dimensi yang cocok berapa? perbandingan pasir dan semen juga?

    terima kasih atas atas saran dan jawabannya

    Suka

  11. Pak wir, kalo tremi untuk pondasi tiang bor panjangnya sampe 17m apa ada jaminan bahwa aggregat kasarnya gak jatuh duluan tuh pak, sehingga aggregat kasarnya pada numpuk di bawah. Kekuatannya gmana pak, lah wong kalo ngecor kolom pake ember buat ruko aja yg tinggi 3-4m aja sya perhatiin kbanyakan kerikilnya di bawah. mohon pencerahannya pak, soalnya saya blon pernah liat ngecor pondasi tiang bor pak.. Hehehe..

    Suka

    • Itulah gunanya pipa tremi dik. Dengan memakainya maka jelas beton tidak dapat langsung jatuh tetapi akan mengalir. Maklum beton khan ada faktor kohesif dengan dinding tremi, jadi dalam hal in perlu workability yang tertentu untuk menggunakannya. Posisi tremi juga vertikal agar berat sendiri campuran beton yang mendorong beton kebawah mengalahkan gaya kohesif terebut. Gabungan antara berat sendiri campuran beton, dan gaya yang menahan akibat siaft kohesif campuran dengan dinding tremi mengakibat aliran yang smoth. Gitu dik.

      Suka

      • Ternyata masih ada satu lâ9ι, diskusi tentang pondasi. Biar ga ketinggalan ikut comment & tambah wawasan. Satu lagi jenis pondasi sarang laba2, αđªα yang pernah mengaplikasikan?

        Suka

  12. Pak wir .mohon solusinya pak
    saya mau bangun rumah dua lantai. didaerah tanah rawa. pondasi yang dipilih kontraktornya sumuran buis beton (polongan) diameter 100 pak. setelah turun 2 buah pak sampai kelapisan tanah keras _kontraktornya katakan. (dan ketemu pasir kerikil pak) namun masih berair pak)”. saya minta tambah satu lagi pak dan dijawab kalau 3 sampai empat polongan lewat tanah kerasnya pak.
    mohon petunjuk pak wir. trimasih pak…

    Suka

    • sdr ayang,
      Prinsip semakin dalam adalah semakin baik untuk suatu pondasi pada dasarnya masih berlaku secara umum. Jadi kalau kontraktornya berkilah bahwa jika 3 atau 4 polongan lagi maka tanah kerasnya lewat (habis) maka tentu dipikirkan secara matang. Anda meragukan itu sudah benar.

      Pertama-tama tentu saya perlu bertanya dulu, bagaimana kontraktor dapat mengetahui bahwa jika 3 atau 4 polongan lagi maka tanah kerasnya telah lewat. Pernyataan ini tentu perlu ditelusuri dengan baik. Jika yang bersangkutan memang berpengalaman membangun di daerah itu, misalnya anda membangun di daerah perumahan yang kebetulan kontraktor itu juga. Maka bisa saja pernyataan itu benar. Strategi yang digunakan adalah ngelmu titen dan coba-coba (trial and error).

      Apa yang disebut tanah kerasnya akan lewat adalah yang disebut lapisan lensa tanah, yaitu suatu lapisan tanah keras yang relatif tipis yang berada di antara lapisan tanah lunak. Tapi hati-hati, lapisan lensa tanah ini bisa setempat (lokal) tetapi bisa juga luas. Bagaimana mengetahui kondisinya, ya dengan penyelidikan tanah. Jika ternyata kontraktornya belum pernah melalukan penyelidikan tanah, maka kebenarannya tidak bisa dipastikan. Itu artinya tetap mengandalkan coba-coba.

      Yang namanya coba-coba itu adalah beresiko. Apakah itu berarti bangunan duduk di atas lensa tanah adalah tidak baik. Wah, ini tentu tergantung dari ketebalan lensa atau lapisan tanah keras tersebut. Jika berat bangunan masih di bawah kekuatan lensa maka tentu tidak apa-apa. Ini tentunya perlu dihitung. Jika tidak ada hitungannya, maka yang bisa dilakukan adalah lihatlah bangunan disekitarnya, bagaimana kondisinya.

      Katakanlah pondasi cukup kuat, tidak jeblos. Maka resiko yang mungkin terjadi adalah adanya penurunan. Problem yang timbul pada bangunan pada prinsipnya bukannya besarnya penurunan yang terjadi, tetapi adakah penurunan yang berbeda antara satu dengan lain atau disebut differential settlemen. Ini yang jadi masalah. Nah untuk mengatasi hal itu, maka dapat dihindari misalnya dengan membuat denah yang regular, dan tiap pondasi diikat dengan tie-beam yang cukup kaku. Mestinya bangunan dua lantai tidak terlalu banyak resiko dibanding bangunan lain yang lebih tinggi.

      Moga-moga bisa membantu mengambil keputusan.

      Suka

  13. Terima kasih atas pencerahanya Pak. Kami mengalami masalah,konstruksi baja kita setelah 5 tahun miring bagian atasnya 8cm. Ini terjadi karena penurunan pondasinya. Bagaimana solusi untuk memperbaiki konstruksi bajanya ya pak. Terima kasih atas responya.

    Suka

  14. Pak Wir bagaimana pasang pondasi pada tanah berair, saya mau pasang pondasi untuk tower transmisi, mohon pencerahannya?

    Suka

    • Pak Wir, salam hari minggu.
      1. Saya mengikuti terus perkembangan desain gedung menggunakan Sap dan Etabs. Saya sering pakai Sap 2000 untuk Analisis Struktur Gedung bila di bandingkan Etabs. Tapi kok sebaliknya, knpa lebih banyak user pakai Etabs untuk Gedung bertingkat tinggi? Apakah Kelebihan KHUSUS+ Etabs untuk desain gedung bertingkat bila dibandingkan Sap 2000? Kan sama2 punya kemampuan menganalisis?
      2. Di mana sy bisa dapat materi yang membahas Analisis dan Desain Kolom Komposit untuk Super Tall Building (materi dalam bahasa Indonesia dan Inggris)?

      Mohon bantuannya pak.

      Suka

      • ETABS lebih banyak digunakan untuk gedung, karena memang program tersebut didesain untuk memanfaatkan kekhususan dari sebuah gedung, spesifik. Seperti misalnya, elemen 1D yang vertikal disebut kolom, menerima beban aksial dan momen, elemen 1D yang horizonta disebut balok, hanya menerima momen dan aksial (relatif kecil) dan yang lebih penting lagi LTB (lateral torsional buckling) terjaga maklum dianggap ada lantai yang bekerja sebagai bracing. Adapun yang diagonal disebut bracing, yang biasanya ditentukan oleh gempa, dan sebagainya.

        Hal-hal seperti itu jelas sudah dipikirkan secara otomatis oleh program, adapun SAP2000 karena merupakan program spesifik maka hal-hal itu perlu dimasukkan secara manual.

        Itulah alasannya, jika kedua program dipakai engineer yunior yang kadang abai terhadap kondisi-kondisi tersebut maka hasilnya bisa berbeda. Penelitian yang saya lakukan, maka program SAP2000 akan menghasilkan kondisi yang boros, meskipun pada sisi lain kadang bisa membahayakan.

        Ingat itu semua terjadi karena analisis tidak mesti sama dengan desain. Itu dua pekerjaan yang tidak mesti harus konsisten hasilnya. Makalah-makalah yang saya sampaikan, meskipun contohnya kecil-kecil ingin mengungkapkan hal itu. Silahkan di down-load jika tertarik. Ada beberapa yang membandingkan antara hasil program SAP2000 dan ETABS.

        Untuk kolom komposit secara umum saya telah membahas secara detail, bahkan telah saya siapkan pula programnya, selain juga ada hitungan manual untuk penjelasannya. Itu ada di dalam buku saya ke-3 yang berjudul :

        http://wiryanto.wordpress.com/2005/12/31/karya-ilmiah-utama-ke-3-2005/

        Hanya sayang, buku tersebut telah lama habis, dan belum ada rencana untuk diterbitkan. Maklum, penerbit masih melihat topik tersebut jarang pembelinya.

        Adapun kolom komposit untuk gedung super tinggi, terus terang saya belum ketemu. Tapi prinsip kerjanya mestinya tidak berbeda.

        Suka

      • Saya pernah membandingkan kedua software yaitu Sap 2000 dan Etabs untuk hasil analisis struktur 3D Gedung 8 tingkat Tahan gempa (dengan metode response spektrum)-Untuk nilai momennya tidak sampai 100% sama, tapi ada selisih kurang lebih 1%.

        Suka

  15. @Zeth : untuk analisis dan dengan batasan yang sama, maka tentu hasilnya harus sama. Maklum, keduanya memakai engine yang sama, bukankah keduanya adalah produk satu perusahaan yang sama.

    Suka

    • Pak Wir, jika perbedaan hanya terdapat selisih nilai (momen) secara desimal, Sap 2000 =278,465 Knm, Etabs =278,346 Knm?Apa mungkin di settingan material dan pembebanan pak?

      Suka

    • Saya sedang mengasah kemampuan analisis dan desain struktur gedung menggunakan Sap 2000 & Etabs. Bagi saya ini penting untuk meningkatkan kapasitas sebagai engineer civil structural muda, yang baru lulus beberapa tahun meskipun saya sendiri bekerja di ladang kerja yang 180 derajat bukan jurusan saya sebelumnya (Kelistrikan di PT. Freeport), tapi kecintaan saya terhadap ilmu sipil terutama struktur gedung & jembatan tetap saya pelajari dari hari ke hari meskipun dengan jumlah jam belajar yang sedikit.

      Waktu kuliah, jumlah jam belajar di rumah sangat banyak, waktu di habiskan hanya untuk hitung-hitung struktur portal 2D pakai Metode Cross, Slope Deflection, Matrix, Unit Load, Superposisi, Muto dan terakhir Takabeya. 2 Metode yang terakhir ini menjadi pilihan saya untuk menghitung struktur gedung 8 tingkat tahan gempa sebagai Tugas Akhir Saya tahun 2008. Sangat melelahkan jika hitung manual, tulis sana-tulis sini, pakai kertas yang ukurannya 3X melebihi A3 untuk mencari nilai siklus yang sama dengan sebelumnnya sampai beberapa kali, baru ketemu deh.

      Waktu di bandingkan dengan Sap 2000 V 9, Nilainya untuk portal-portal tengah dengan pembebanan simetris hasilnya 99,99, manual Takabeya dengan Sap 2000, mungkin soal pembulatan. Tapi,waktu soal o/s di manual tidak akan terlihat secara otomatis, hanya di software untuk rekayasa struktur yang bisa di lihat. Kasus di atas saya temui waktu menganalisis struktur gedung 30 tingkat. Sistem struktur terdiri dari Portal Beton yang di kombinasikan dengan dinding geser di beberapa lokasi. Saya juga menambah Core untuk meningkatkan kekakuan gedung agar waktu getar alami fundamental tidak melampaui waktu getar alami yang di syaratkan di SNI 03-1726-2002, berhubung waktu penempatan dinding geser di beberapa tempat, nilai waktu getar alami fundamental melampaui waktu getar alami yang di syaratkan di SNI 03-1726-2002. Hasil analisis waktu di check ada beberapa balok di lantai tertentu yang o/s. Kembali Check pebebanan mungkin ada yang overload- ternyata tidak, mutu beton di naikan khusus balok dari 30 Mpa jadi 35 Mpa. Dimensi balok dari 500 mm/750 mm (bentangan 6,5 m) untuk lantai 1-15 dan 450 mm/700 mm untuk lantai 16-30 (bentangan 6.5 m) tidak berubah. Mutu baja fy tetap pakai 400 untuk longitudinal dan geser. Dimensi Kolom 6 type, 3 tipe untuk kolom dalam (L1=900mm, L2=800mm, L3=700mm) yang dianggap memikul luas lantai penuh. 3 tipe untuk sisi luar gedung (L1=800mm, L2=700mm, L3=650mm).
      Running dan check hasilnya masih ada beberapa balok juga yang o/s. Mau perbesar dimensi, nanti boros nih, apalagi untuk gedung 30 lantai, hanya beberapa balok saja yang o/s karena geser masa mau di ganti ukuran balok secara keseluruhan? ini masalah terhadap geser di mana balok tidak mampu menahan beban geser.

      Salam sejahtera pak Wir,
      dari cerita saya di atas, saya membutuhkan masukan atas kasus yang saya alami dengan pertanyaan ini.

      1. Pembebanan sudah di check, tidak ada masalah, di check massa source sudah sesuai juga, yaitu berat sendiri (D1), Superimposed (D2) (keramik, mekanikal & Elektrikal, spesi), karena saya pisahkan maka pilihan massa source yaitu From Load, Massa and Additional Load (3) Mutu beton sudah di naikan, apa harus balok juga pak?apalagi hanya beberapa balok saja.

      2. Jika di katakan karena lebar balok yang menumpu dinding geser lebih besar sehingga membuat balok tidak aman (kasus jika balok lebih besar dari kolom maka tentu balok dan kolom tidak aman) tidak demikian, malahan beberapa balok yang o/s terhadap geser berada tegak lurus dinding geser. Apa perlu lebar dinding juga di samakan dengan lebar balok? lebar dinding 400 mm yang menumpu balok dengan lebar 500 mm untuk Lantai 1-15, serta 350 mm menumpu balok 450 mm lantai 16-30.

      3. Haruskan saya pakai Kolom sebagai komponen batas untuk menjawab masalah ini?
      padahal syarat untuk memakai boundary element harus memenuhi SNI 03-2847-2002.

      Maaf pak Wir, gedung ini bukan sedang mengerjakan proyek si konglomerat tapi sedang mengasah kemampuan analisis pakai Sap 2000.

      Suka

  16. Salam Pak Wir dan rekan2 sipil sekalian,

    Adakah yang tahu kuat tekan pondasi batu kali (dalam MPa atau satuan yg lain)? Saya sudah coba googling tp blm ketemu juga. Mohon kalau ada yang tahu share ilmunya. Saya perlu kuat tekan tersebut untuk merencanakan pondasi bor pile. Maksudnya sih untuk mengirit anggaran, karena kalo pakai mix concrete semua, rasanya relatif lebih mahal.

    Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

    Salam,
    Welly

    Suka

  17. gimana klo seandainya gedung dgn ketinggian 50 m dngan lebar bangunan 10 m. Letak tanah kerasnya pada kedalaman 6 m. apakah pondasi pada kedalaman tersebut sdah mampu menahan stabilitas bangunan???

    Suka

  18. Kepada pak Wir,

    Saya mau tanya pak mengenai pondasi kombinasi Raft dengan bore pile. pada perhitungan bearing capacity total apakah penambahan antara bearing capacity pada raft dengan bore pile? jika benar apakah penambahan tersebut juga berlaku pada perhitungan overturning, dan sliding?

    Terimakasih
    Salam kenal,
    Ahmad Rifqi

    Suka

  19. Pak wir, sy mau observasi mengenai pondasi di pulau tidung, yang mau sy tanyakan : apakah bisa menentukan pondasi yang cocok untuk tmpt tersebut dengan hanya dtang dan melihat kondisi tanah secara langsung tanpa melakukan tes lab tanah ? Mohon pendapatnya pak Wir, terimakasih

    Suka

    • Bisa, jika bangunan yang dibangun adalah sama atau mirip dengan bangunan-bangunan yang sudah ada didekatnya. Ini adalah ilmu titen, dan sedikit trial-and-error, suatu ilmu awal di bidang rekayasa. Jika disana tidak ada bangunan yang mirip atau ternyata bangunan yang dibangun lebih “besar” dan tidak mau mengambil risiko terkait dengan kegagalan bangunan yang akan kita dirikan, maka ilmu teknik sipil khususnya geoteknik harus diterapkan. Itulah perlunya belajar mekanika tanah dan percobaan-percobaan yang perlu dilakukan. Intinya, biaya untuk penyelidikan tanah tentunya lebih kecil relatif dengan risiko biaya yang akan dikeluarkan jika terjadi kegagalan bangunan yang mungkin terjadi nanti. Nah silahkan bapak ambil keputusan sendiri.

      Suka

  20. dalam suatu bangunan memiliki perbedaan tanah,ada yang keras dan juga ada yang lembab,,,
    naaah saya mau bertanya pak,,,bisakah pondasi di tanah keras itu di pindahkan ke pondasi tanah gambut/lembab itu?
    mohon konstruksi nya pak?

    Suka

  21. salam kenal dariku (yang masih awam di dunia engineer), pak Wir.
    perihal mengenai pondasi dalam, untuk mendesain pondasi tangki timbun (stronge tank oil) model vertical. bagaimanakah mendesain pile cap yang struktur bentuknya adalah bulat seperti pada umumnya. saya tidak menemukan cara bagaimana mendesain pile cap tiang pancang yang berbentuk bulat atau pile cap tiang pancang yang hanya memikul beban diatasnya dengan tidak ada struktur tiang kolom di atas pilecap tersebut, dan hanya beban yang duduk di atasnya (misal tangki timbun). saya sedang menyelesaikan tugas akhir saya pak mengenai perencanaan pondasi tangki berbahan minyak solar berkapasitas 80.000 barrel dengan menggunakan data tanah Standard penetration test (SPT).
    terima kasih sebelumnya pak WIr, jika ada waktu untuk membalas pesan singkat saya ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s