Pemahaman tentang pikiran bawah sadar kadang-kadang tidak sama antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang menganggap bahwa itu hanyalah suatu tindakan reflek semata, yang tidak bisa dikendalikan. Benar juga, karena jika bisa dikendalikan pasti itu kondisinya sadar. Betul bukan.
Saya pribadi berpendapat lain, pikiran bawah sadar adalah sesuatu yang lebih besar dibanding itu. Bahkan itu ada kaitannya dengan suatu gerakan rohani kalau tidak mau dikatakan sebagai agama atau sesuatu yang berkaitan dengan supranatural di dalam diri kita yang sifatnya luar biasa.
Tetapi tentang hal itu, rasanya saya belum pede mengungkapkan secara tertulis di dalam blog ini, agak sungkan. Merasa, jika berbicara tentang pikiran bawah sadar rasanya tidak pantas. Blog saya ini khan dikenal dengan tulisan-tulisannya yang rasional dan logis, maklum bidang utama yang digelutinya adalah structural engineering dan computer programming atau hal -hal yang terkait. Suatu hal yang sangat sadar dan terukur. Jadi jika saya berbicara banyak tentang pikiran bawah sadar maka bisa saja ada orang yang bingung bagaimana hubungan antara engineering yang eksak dan pikiran bawah sadar yang non-eksak, yang keberadaannya ada di wilayah ilmu psikologi dan semacamnya itu. Jika demikian maka jelaslah bila kompetensi formal yang saya miliki tidak mendukung hal tersebut. Bisa-bisa nanti diragukan. 🙂
Kesadaran bahwa pikiran bawah sadar lebih luas dibanding suatu reflek semata, ternyata didukung oleh fakta keberhasilan polri menangkap teroris, dari berita-berita yang disampaikan dapat terungkap bahwa proses penyelidikannya melibatkan seorang pakar pikiran bawah sadar, yaitu bapak Mardigu WP (Sumber : Tim Liputan 6 SCTV) . Sangat menarik bukan.
Karena merasa ada pakar di bidang yang menarik bagiku, yaitu pikiran bawah sadar, maka aku mencari tahu lebih banyak tentang bapak Mardigu WP . Dengan bantuan om Google, ternyata diketahui bahwa beliau memang cukup banyak terlibat penyelidikan tentang teroris, bahkan dari beliau juga dapat ditunjukkan ciri-ciri teroris perekrut bom bunuh diri dan menjelaskan mengapa terkesan ada sebagian masyarakat yang mendukungnya. Ini salah satu kutipan uraiannya :
. . . Polisi tidak bisa menyentuhnya, tentara tidak bisa, pemerintah tidak bisa karena ia dilindungi oleh masyarakat. Seperti halnya teroris sekarang. Ia dilindungi entah itu sadar atau tidak sadar. Dilindungi karena sifat permisif bangsa kita. Dilindungi karena SOP nomor satu dari handbook of Al Qaeda adalah bersikap santun, tertib, iman. Dimana–mana kalau kita ketemu dengan orang yang santun dan tertib iman maka kita anggap dia orang yang baik.
Saya sering dengar bahwa para perekrut tersebut adalah orang yang charming dan baik. Bagaimana cara membedakan recruiter dengan orang yang betul – betul baik dan charming?
Jadi benar-benar baik dan charming memang betul karena itulah entry point untuk recruiter, tapi di ujung-ujungnya entah tiga atau dua jam atau sejam kemudian ia gampang mengeluarkan kata-kata kafir. Jadi ada kata-kata pengkafiran, ini kafir. Nah, itu sudah indikasi.…
( Ikuti lebih lanjut wawancara bapak Mardigu WP oleh bapak Wimar Witoelar )
Luar biasa, ternyata pikiran bawah sadar itu ada ilmunya dan tidak sekedar fenomena reflek semata, bahkan dari situ dapat diungkapkan suatu petunjuk sedemikian sehingga dapat terbukti teroris, yang juga mampu menanamkan pikiran pada orang untuk mati bunuh diripun, ternyata dapat dilawannya.
Coba kalau orang-orang itu hanya dilawan dengan cara-cara yang biasa, tradisionil, maka diyakini korban dipihak polisi akan banyak yang berjatuhan. Wong mereka itu berani mati, nggak kenal rasa takut, betul bukan.







Tinggalkan komentar