keselamatan kerja konstruksi

Insinyur perencana struktur (structural engineer) dan pelaksana (site engineer) umumnya berfokus agar hasil kerjanya yaitu bangunan yang dikerjakannya dapat memenuhi persyaratan teknis yang berlaku, orang menyebutnya kuat (strength) dan kaku (stiff). Dengan demikian pada saat berfungsinya, bangunan tersebut dapat menjamin keselamatan pemakainya.

Sebagian besar, prosentasi pembelajaran di perguruan tinggi adalah untuk itu tadi, menghasilkan bangunan (struktur) yang dapat menjamin keselamatan pemakai dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Lalu bagaimana dengan proses pelaksanaan bangunan kostruksi itu sendiri. Bagaimana mendapatkan bahwa proyek berjalan dengan lancar tanpa ada atau timbul kecelakaan kerja, apalagi sampai jatuh korban jiwa.

Wah kalau itu, sesajinya harus kuat pak !

Apa betul seperti itu. Mau diakui atau tidak, yang terjadi adalah seperti itu. Harus ada sesajinya ! Ada saudara yang kebetulan terlibat pembangunan tol Cipularang, menangani satu segment pada proyek tersebut. Beliau mengatakan bahwa sesaji potong sapi kambing telah dilakukannya beberapa kali, bahkan tahlilan segala. Biayanya ? Itu sudah masuk anggaran kerjanya. Itu sudah biasa, tolak bala katanya. Hebat khan. Ini sungguh-sungguh terjadi. Tapi apa itu menjamin bebas kecelakaan ? Nggak juga, saya dengar ada juga yang meninggal, meskipun katanya itu terjadi di luar pagar proyek. :-

Jadi sebenarnya yang bertanggung jawab itu siapa sih kalau berkaitan dengan keselamatan kerja di proyek. Engineer-nya, kontraktornya atau owner-nya. Saya kira hal ini masih belum baku, khususnya di Indonesia. Benar tidak ?

Adanya safety belt merupakan tolok ukur bahwa mereka concern terhadap keselamatan, tapi kalau orang bodoh akan berkata “yang pakai itu, penakut !” 😦

Kalau ada kecelakaan, “Wah itu sudah nasibnya. Lagi apes !”. Itu khan yang sering kita dengar berkaitan dengan kejadian tersebut.

Sebenarnya berkaitan dengan ‘kejadian’ tentang kecelakaan kerja, banyak terjadi. Tidak hanya kemarin, saat inipun juga sering terjadi. Kecuali yang besar-besar, maka kalau hanya jatuh korban sedikit, maka dapat dianggap kelalaiannya sendiri, biasanya pihak kontraktor memberi santunan kepada keluarga, lalu diberi embel-embel dengan kata-kata di atas, ya sudah selesai.

Jadi keselamatan kerja bagi pelaksana konstruksi di lapangan masih menjadi sesuatu yang jarang. Oleh karena itulah ketika ada mahasiswa UPH yang kerja praktek, pada saat bimbingan kerja praktek menceritakan bahwa prosedur keselamatan kerja di kontraktor proyeknya cukup ketat, wah ini menjadi sesuatu yang menarik. Ini perlu disosialisasikan. Bahwa keselamatan kerja itu tidak hanya bagaimana menyiapkan sesaji, tahlilan, kenduri atau sebagainya itu, tetapi itu suatu disiplin kerja dan harus mengikuti prosedur yang ketat.

Yang bagus juga, bahwa untuk mendapatkan keselamatan kerja di proyek tersebut perlu dibikin sistem dan ada yang bertanggung jawab terhadap sistem tersebut yaitu safety manager. Bahkan bila ada yang tidak mentaati sistem tersebut ada sangsi, yang bertahap tergantung dari tingkat kesalahan yang ditimbulkannya, bahkan kalau perlu PHK. Hebat khan. Proyek yang dimaksud adalah proyek Senayan Tower di Jakarta dengan kontraktor utama, Kajima Indonesia. Berikut kami sampaikan gambaran yang didapat di proyek tersebut berkaitan dengan bagaimana mereka mengusahakan keselamatan kerja bagi pekerja-pekerja di proyeknya.

Di pintu masuk kantor proyek, terpampang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan safety. Karena setiap pekerja kalau gajian atau nagih uang ke kantor tersebut maka tidak ada alasan bahwa mereka tidak tahu itu. Benar-benar di sosialisasikan. Serius ! Bravo PT. Kajima Indonesia.

Ini peraturan yang harus ditaati! Baca !

Lalu ditunjukkan juga, apa-apa yang harus ada pada setiap pekerja. Ini kondisi idealnya.

Perhatikan, diatasnya gambar pekerjanya ramah (senyum, tampangnya kayak orang jepang ya 🙂 ) tapi lihat bawahnya, kalau nggak ngikuti dan melakukan pelanggaran bisa dipecat. Siapa berani ?

Ini formulir sanksi yang akan diberlakukan bila ada yang melanggar.

Perhatikan itu, ada yang bertanggung jawab lho. Mereka menyebutnya Safety Manager. Jadi tidak hanya sekedar berdoa aja, memohon aja, tetapi memang ada yang bekerja keras untuk memastikan keselamatan tersebut.

Ada proses pembelajaran bagi pekerjanya, hal-hal yang berpotensi menjadi penyebab kecelakaan pekerja. Waspadalah ! Itu maksudnya.

Selain mengingatkan, maka pengelola proyek juga memberi petunjuk praktis bergambar bagi pekerjanya. Jadi bagi pekerja yang sehat, dan patuh, mestinya paham yang sebaiknya dilakukan.

Jika sudah dilakukan upaya-upaya seperti tadi, maka yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa itu harus diingatkan setiap hari, harus ada yang ‘berkoar-koar’ , yah minimal ke supervisornya. Itu lah mengapa sampai perlu ada ‘manager’-nya.

Reward : Artikel ini dapat ditulis karena disiapkan datanya oleh sdr. Iwan dan sdr. Hendrik, mahasiswa jurusan teknik sipil UPH yang telah melaksanakan kerja prakteknya di proyek Senayan Tower, waktunya telah mereka pergunakan dengan baik dan dapat menyerap wawasan-wawasan di lapangan yang up-to-dated. Bravo juga anda berdua.

Itu helm Kajima, o itu tho engineer Kajima yang dari Jepang ?!

Eh sorry, itu tadi khan Iwan, muridku. Belum lulus, tapi koq udah pantes sekali ya, kayak engineer ekspat lagi. Cepet-cepet lulus ya ! 😀

132 respons untuk ‘keselamatan kerja konstruksi

  1. pengalaman saya sebagai safety konstruksi kebanyakan tingkat kedisiplinan pekerja sangat kurang sehingga kami terapkan denda yang bervariasi dari tdk menggunakan helm, sepatu , safety body hardness, kaca mata , sarung tangan bahkan kebersihan diarea kerja masing-masing mandor kami terapkan 5R harus selalu dijaga kalau tidak kita akan beri sangsi dan denda, sampai2 mandor pusing kalau denda terhadap pekerja sangat banyak , ya itulah yang harus kami terapkan ….bahkan kami rutin setiap seminggu sekali kami lakukan safety induction kesemua pekerja dan safety talk 1 bulan satu kali. disitu kami beri penjelasan bagaimana pentingnya suatu kelengkapan dari APD , metode kerja , alat yang digunakan serta dampak resiko apabila kesemua itu tidak terpenuhi akibatnya akan fatal….bahkan kami menunjukan foto kecelakaan yang terjadi , dengan itu kesadaran kedisiplinan semua pekerja mulai lebih maximal lg…walaupun ada beberapa orang masih kurang mematuhi..

    Suka

  2. masalah k3 adalah budaya sehingga marilah kita ubah paradigma pekerja yg mengangap k3 adalah suatu peraturan menjadi sebuah budaya sehingga pekerja mengangap k3 sebuah hak bukan sebuahkewajiban dengan begitu k3 akan berjalan lancar di sebuah proyek

    Suka

  3. berarti yang menentukan berangkat tidaknya adalah pihak Bnp2tki ya gan
    usia max berapa jika ingin seleksi ke korea
    soalnya untuk para kenshusei tidak bisa kembali ke jepang jadi rencana ikut seleksi yang ke korea
    Salam,,
    mohon bantuannya

    Suka

  4. apa yang di terapkan di lakukian di lapangan jauh berbeda boooosss, rugi mas broo, kalau ada kontraktor yg menjalakan k3 pada rugi bro. saya setuju denagn mas badaruddin. mas wiir jangn bicara metode penelitian kalau anda belum terjun lapangan. apa pernah mengindentifikasikan kepatuhan kontraktor terhadap penerapan peraturan” K3 pada bangunan kontrukasi dan lain”.

    Suka

    • mas wiir jangn bicara metode penelitian kalau anda belum terjun lapangan.

      Mas Nugi, mas Nugi . . . ., wong jelas saya ini dosen bukan orang lapangan koq nanyanya begitu. Jika merasa punya banyak pengalaman di lapangan dan merasa bahwa yang saya tulis tidak benar atau kurang baik, ya silahkan dilawan dan ajukan saja apa yang menurut anda itu lebih baik secara tertulis.

      Kondisi seperti itu maka pertama dapat menunjukkan bahwa pengalaman anda di lapangan dapat memberikan informasi atau pengetahuan yang lebih baik lagi dari informasi yang sudah ada. Itu khan memang esensi ilmu pengetahuan. Kedua, jika kondisi adanya engineer lapangan yang tidak mau kalah dengan engineer kantoran seperti saya ini dalam berbagi ilmu, maka tentunya kondisi atau suasana keilmuan tentu akan lebih baik lagi. Ada perbandingan ilmu yang dapat dibaca oleh banyak orang. Mana yang lebih baik, silahkan para pembaca yang akan mengevaluasi.

      Terus terang, fakta menunjukkan bahwa “lamanya seseorang bekerja di lapangan” kadang kala tidak dapat dijadika indikasi akan tinggi ilmunya seseorang. Maklum, mereka bisa menggunakan analogi “bisa karena biasa”. hal itu tentu tidak terkait dengan faktor innovasi dan kreatifitas.

      Nah sekarang silahkan sdr Nugi Haryanto, tunjukkan hal itu. Jangan hanya sekedar “tong kosong berbunyi nyaring”. Tunjukkan bahwa “tuanya anda di lapangan” adalah sepadan dengan “tuanya ilmu” yang saudara miliki.

      Suka

  5. Bersama ini saya sangat berminat mengabdikan diri saya dengan sedikit pengalaman di bidang safety pada management construksi .selama ini dgn komitmen yg tegas dari apa yg saya lakukan terhdap kinerja kerja kontraktor yg saya awasi, dapat menyelesaikan proyek dgn zerro accident. Harapan jika ada peluang buat saya tolong di infokan ke saya
    Ahmad sofyan
    02180345752
    Email :sofyanman674@esia.blackberry.com. Atau di sofyan_prosys@yahoo.com

    Suka

  6. baru ketemu ini sharing2 tentang K3, memang K3 sangat di perlukan pak wir. penting sekali. cm di negara ini memang belum membudaya K3 itu. salam kenal saya praktisi HSE di berbagai project EPC

    Suka

  7. Menarik sekali dalam menyimak berbagai komentar dari Bapak / Ibu sekalian yang concern dg masalah safety, khususnya safety di bidang konstruksi. Jika ingin menulis secara komprehensif mungkin butuh banyak waktu, tapi secara singkat saya ingin menekankan peran/aspek manusia dalam implementasi program safety, atau di dunia barat sering disebut Human factor. Berbagai literatur internasional atau nasional sering mengungkapkan fakta dan data bahwa penyebab utama accident/ incident adalah faktor manusia. Itulah sebabnya kalau di dunia penerbangan misalnya, training Human factor menjadi wajib (mandatory training) bagi seluruh karyawannya. Tidak hanya untuk engineer, personil safety/ quality saja, melainkan juga bersifat wajib bagi fungsi yang lainnya, baik purchasing, keuangan, HRD, dan lain – lain. Kenapa ?

    Karena sehebat apapun program safety yg direncanakan oleh fungsi safety, tapi kalau tanpa dukungan fungsi lain (karena mungkin tidak ngerti), maka program safety tidak akan terlaksana dg baik.

    Suka

  8. Salam kenal, Pak Wir.

    Perkenalkan saia pelaksana K3 kontrakor sipil di Surabaya. Ini sedang mencari reference untuk menentukan SOP / Tahapan untuk pekerjaan struktur baja bangunan gudang yang benar seperti apa, tapi malah ikutan baca-baca commentnya. Saya coba menyimpulkan bahwa banyak yang belum mengerti bahwa sebenarnya sudah ada UU No. 1 sejak tahun 1970 Tentang K3 dan banyak PP dan PerMen yang banyak sekali terhadap perlindungan K3 tapi karena memang belum membudaya akhirnya banyak masyarakat yg belum tahu. Ditambah lagi faktor kebiasaan, ini yang paling susah saya rubah dari mindset para pekerja dan rekan kerja pelaksana.

    “Saya sudah biasa kerja 25 tahun kerja di atap ngga pake sabuk (maksudnya Safety Body Harness), Pak!” teriak pekerja yang 2 jam kemudian beliau terjatuh dan akhirnya meninggal.

    Disamping permasalah itu, standard keselamatan yang di pakai di setiap project seringnya berbeda-beda. Dari pengalaman saya, biasanya tergantung client`nya dari mana. Kadang ada yang minta ISO, OHSAS, SNI atau bahkan tidak memakai K3. Ini yang menjadi bumerang, karena penyelenggaraan K3 juga butuh dana yang tidak sedikit, akhirnya kalo client ngga minta K3 masa iya kita paksakan pakai K3?? dan kalau nekat pakai K3 kan pasti kalah tender. Karena memang t

    Nah, dari kebiasaan client2 inilah yang akhirnya juga membuat rancu di pelaksanaan K3 di lapangan. Dari tukang2 yang biasanya ngga pakai helmet, trus dapet tender yg ada K3 nya disuruh pake, trus dapet yg ngga pake K3 lagi kan bikin susah juga.

    Oh, ya. Kalau mungkin ada yang bisa sharing2 SOP Keselamatan Pemasangan Sturktur Baja saya tunggu reply`nya.
    Terima kasih.

    Suka

    • betul pak, terkadang pada pekerjaan bidang konstruksi kita sering dijumpai dengan pekerja yang tidak peduli dengan keselamatan.

      jangankan disuruh pakai safety helmet, untuk melihat kehadiran kami (pelaksana k3) saja, mereka enggan.

      miris memang, tetapi dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi dalam menghadapinya.

      terimakasih

      Suka

  9. ,kepada rekan-rekan mahasiswa, sesuai dengan peraturan pemerintah Permendikbud No. 73/2013, Permendikbud No. 49/2014,
    Permendikbud No. 81/2014 mengenai sertifikat pendamping ijazah, maka disarankan para mahasiswa yang sudah lulus atau yang akan lulus memiliki sertifikat tersebut yang nantinya akan berguna untuk melamar pekerjaan.
    Salah satu sertifikatnya adalah Sertifikat Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3) Umum yang dikeluarkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI.
    Untuk info pelatihannya kunjungi https://www.facebook.com/Training.K3

    Suka

  10. mohon ijin buat bahan tesis saya tentang keselamatan kerja membandingkan project safety construction yang ada sekarang perbandingannya dengan KAJIMA. Apakah apa yang harus diperbaiki dan bagaimana solusi untuk mengatasinya,,.. terimakasih pak..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s