papan petunjuk K3

Berbicara tentang keselamatan atau kesehatan maka adalah relevan untuk mengatakan “mencegah itu lebih baik dari pada mengobati“. Jadi agar dapat tetap selamat dan sehat baik dalam pekerjaan atau segalanya maka hindarilah hal-hal yang menyebabkan terjadi sebaliknya (kecelakaan atau sakit). Karena bagaimanapun jika telah terjadi kecelakaan dan sakit, maka satu-satunya cara agar dapat tetap hidup adalah dengan mengobatinya (internal atau eksternal).

Pada proyek-proyek konstruksi yang telah sadar akan perlunya K3 maka salah satu cara yang cukup efektif agar dapat terhindar dari terjadinya kecelakaan kerja adalah dengan memberikan peringatan, baik secara lesan (oleh pengawas) atau oleh kesadaran sendiri dari pekerjanya. Untuk yang terakhir ini, maka keberadaan papan-papan peringatan atau petunjuk K3 adalah sangat membantu sekali.

Baca lebih lanjut

Burj Dubai selagi telanjang

Judul di atas adalah benar, tidak menipu ! Ada beberapa foto yang mendukungnya, tapi ingat ini blog-nya engineer, sehingga foto-foto yang didukung oleh kata-kata di atas adalah dari kaca mata engineer. Jadi bukan salah saya, jika anda menemukan bahwa ternyata tidak seperti yang anda duga. 

Apakah anda ingin tahu interprestasi engineer terhadap judul di atas ?

Baca lebih lanjut

pekerja sadar K3 dibanding profesional !?

Mencoba memberi masukan yang profesional (maunya).

Sekedar perkenalan, saya Taru, kerja jadi “buruh” safety di kontraktor Surabaya, jebolan UNS jurusan Hiperkes & KK (sekalian promosi, he.. he..), baru buka google ngetik accident of contruction, eh keluar nich page, baca artikel-artikelnya,  bagus banget, communicative, santai, tapi tetep informative n mengena.

Ada sedikit pertanyaan tentang “cara membangun kesadaran K3 di pekerjaan konstruksi”, kalo pekerja lapangan kaya carpenter, rebarman, dll sich lumayan gampang, tapi aneh, orang-orang yang ngakunya lebih profesional seperti project manager, site manager, dan orang-orang kantoran malah sulit memahami arti pentingnya K3, beliau-beliau sering melanggar sendiri peraturan K3 yang dalam tanda kutip mereka tandatangani sendiri.

Tolong pak, beri masukan yang “profesional” untuk orang-orang yang “profesional” juga kalo ada minta foto-foto accident di pekerjaan kontruksi. Budaya orang Indonesia, “belajar dari pengalaman”, kalo gak ada pengalaman dulu katanya sulit belajar, semoga dengan gambar-gambar ‘ngeri’ dari orang-orang yang udah mengalami accident menjadi pembelajaran visual, dan tentunya kecelakaan dapat dihindari.

Hallo Taru yang ahli safety, salam kenal. Omong-omong atas dasar apa bahwa anda yakin kalau saya bisa memberi masukan profesional ?

Padahal kalau anda baca statement saya di pojok kanan atas, sama sekali tidak mencantumkan tentang bidang tersebut. Sebagai structural engineer maka jelas yang dimaksud dengan safety adalah keamanan struktur ketika dipakai, jadi tidak pernah itu mempelajari aspek manusia pekerjanya. Nggak ada itu di mata kuliah S1, S2 maupun S3 jika bidang yang ditekuni yaitu structural engineering. He, he, mohon masukan dari para structural engineer yang lain. Betul nggak ? Kalaupun ada yang membahas hal tersebut di level S1 pasti itu di mata kuliah manajemen konstruksi atau semacamnya gitu.

Kalau begitu pak Wir nggak bisa ngasih masukan dong ?

Emangnya saya ngomong begitu ! Saya hanya mau mengatakan bahwa untuk menjawab pertanyaan anda, jelas, saya tidak bisa mengandalkan ilmu structural engineering yang menjadi core kompetensi formal saya selama ini.

Jadi pakai ilmu kompetensi apa pak Wir ?

Baca lebih lanjut

K3 dan kontribusi ENGINEER

Mas Wir,
Saya bermaksud mengirim tulisan berkenaan dengan keselamatan kerja konstruksi, seperti yang pernah saya janjikan di blog, silakan mas Wir edit agar lebih mudah difahami.
Salam
Badar

Tulisan ini dimaksudkan untuk melanjutkan apa yang telah dipaparkan oleh mas Wir berkenaan dengan keselamatan kerja konstruksi, yang mana telah menarik antusias rekan-rekan lain untuk mendiskusikan untuk mengenal lebih jauh tentang keselamatan kerja konstruksi (K3).

Baca lebih lanjut

keselamatan kerja konstruksi

Insinyur perencana struktur (structural engineer) dan pelaksana (site engineer) umumnya berfokus agar hasil kerjanya yaitu bangunan yang dikerjakannya dapat memenuhi persyaratan teknis yang berlaku, orang menyebutnya kuat (strength) dan kaku (stiff). Dengan demikian pada saat berfungsinya, bangunan tersebut dapat menjamin keselamatan pemakainya.

Sebagian besar, prosentasi pembelajaran di perguruan tinggi adalah untuk itu tadi, menghasilkan bangunan (struktur) yang dapat menjamin keselamatan pemakai dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Lalu bagaimana dengan proses pelaksanaan bangunan kostruksi itu sendiri. Bagaimana mendapatkan bahwa proyek berjalan dengan lancar tanpa ada atau timbul kecelakaan kerja, apalagi sampai jatuh korban jiwa.

Wah kalau itu, sesajinya harus kuat pak !

Apa betul seperti itu. Mau diakui atau tidak, yang terjadi adalah seperti itu. Harus ada sesajinya ! Ada saudara yang kebetulan terlibat pembangunan tol Cipularang, menangani satu segment pada proyek tersebut. Beliau mengatakan bahwa sesaji potong sapi kambing telah dilakukannya beberapa kali, bahkan tahlilan segala. Biayanya ? Itu sudah masuk anggaran kerjanya. Itu sudah biasa, tolak bala katanya. Hebat khan. Ini sungguh-sungguh terjadi. Tapi apa itu menjamin bebas kecelakaan ? Nggak juga, saya dengar ada juga yang meninggal, meskipun katanya itu terjadi di luar pagar proyek. :-

Baca lebih lanjut