pekerjaan loading test

Ini merupakan rangkaian cerita dari artikel saya terdahulu tentang “pekerjaan tiang bor”, hasil presentasi mahasiswa teknik sipil UPH (selama 15 menit) pada ujian sidang kerja praktek kemarin. Proyek yang diamati adalah pelaksanaan pondasi tiang bor di daerah Bogor. Dari penjelasan mahasiswa tersebut dan juga foto-foto dokumentasinya, saya coba merangkai menjadi artikel ini.

He, he, he,¬†“cerita mahasiswa yang 15 menit tersebut” seakan-akan berfungsi sebagai tombol untuk mengaktifkan memori di otak saya yang mungkin sudah sangat lama tidak terungkapkan. Seperti kakek yang dengan senang menceritakan pengalaman lama kepada cucunya. Begitu pula aku dengan adanya blog ini. Jadi kalau nanti ada yang sudah nggak sesuai, mohon maklum ya. Ngakunya aja kakek.¬† ūüôā

Lanjutkan membaca “pekerjaan loading test”

pekerjaan tiang bor

Tentang perencanaan pondasi tiang bor, saya yakin banyak yang tahu. Khususnya bagi para sarjana teknik sipil, karena telah diberikan pada mata kuliah teknik pondasi. Selain itu, cukup banyak buku-buku yang menggambarkan secara jelas illustrasi tentang pondasi tersebut.

Tetapi jika dikaitkan dengan pelaksanaan sesungguhnya di lapangan, saya juga yakin, nggak setiap yang punya gelar sarjana teknik sipil berkesempatan mengetahuinya secara detail. Bagi yang tahu, biasanya itu karena pernah terjun langsung di proyek dan melihat dengan mata kepala sendiri. Kenapa ? Karena literatur berkaitan dengan hal tersebut, tidak gampang diperoleh ! Apalagi yang berbahasa Indonesia. Kenapa itu bisa terjadi, padahal ahli-ahli pelaksana pondasi tiang bor di Indonesia sudah banyak ?

Lanjutkan membaca “pekerjaan tiang bor”

menulis Laporan KP

Salah satu mata kuliah yang menjadi tugas saya selama ini adalah melakukan pembimbingan bagi mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil UPH yang melakukan Kerja Praktek, yaitu suatu mata kuliah khusus berbobot 2 sks bagi mahasiswa yang telah lulus mata kuliah dengan jumlah kredit sks > 100.

Adapun silabus dari mata kuliah tersebut adalah

TS 13824 Practical Work (Internship)
In the third year of studying, it is compulsory to perform work off the campus, practicing the theory and knowledge obtained during the earlier study years in a consulting or contractor firm.
Prerequisites: The cumulative credits should total at least 100

Lanjutkan membaca “menulis Laporan KP”

precast hollow-core slab

Penggunaan produk precast concrete sebagai pelat lantai, relatif sudah banyak dijumpai disini. Dengan digunakan precast maka pemakaian bekisting dan perancah akan berkurang drastis sehingga dapat menghemat waktu pelaksanaan. Salah satu produk precast untuk lantai adalah adalah precast hollow core slab.

Sistem precast hollow core slab menggunakan sistem pre-tensioning dimana kabel prategang ditarik terlebih dahulu pada suatu dudukan khusus yang telah disiapkan dan kemudian dilakukan pengecoran. Oleh karena itu pembuatan produk precast ini harus ditempat fabrikasi khusus yang menyediakan dudukan yang dimaksud. Adanya lobang dibagian tengah pelat secara efektif mengurangi berat sendirinya tanpa mengurangi kapasitas lenturnya. Jadi precast ini relatif ringan dibanding solid slab bahkan karena digunakannya pre-stressing maka kapasitasnya dukungngya lebih besar.

Keberadaan lobang pada slab tersebut sangat berguna jika diaplikasikan pada bangunan tinggi karena mengurangi bobotnya lantai. Bayangkan saja, untuk solid slab, tebal 120 mm saja maka beratnya adalah sekitar 288 kg/m2 hampir sama dengan berat beban hidup rencana untuk kantor yaitu 300 kg/m2. Padahal kontribusi kekuatan pelat hanya untuk mendukung pembebanan tetap saja (DL + LL). Bahkan karena beratnya tersebut akan menjadi penyumbang utama besarnya gaya gempa. Jadi jika berat lantai berkurang maka beban gempa rencananya juga kurang.

Dengan demikian penggunaan lantai precast yang ringan juga mengurangi resiko bahaya gempa.

Lanjutkan membaca “precast hollow-core slab”

precast-wall

Industri konstruksi semakin bergairah dengan adanya produk precast concrete yang dapat dipasang cepat dan kualitasnya sangat baik. Tidak hanya dari sisi struktur, yaitu kekuatan dan kekakuannya saja, tetapi juga dari sisi arsitekturalnya yaitu penampakan luar (keindahan).  Oleh karena itu, arsitek yang berorientasi maju pasti akan memikirkan alternatif pemakaian produk precast untuk bangunan rancangannya. 

Bagaimana tidak, dengan digunakannya precast maka semua komponen yang seharusnya dikerjakan di atas bangunan sehingga susah dijangkau arsitek untuk diawasi maka dapat dilakukan di bawah sehingga si arsitek dengan leluasa mengawasi kualitas produk yang akan dipasangnya. Kecuali itu, umumnya produk precast adalah untuk komponen-komponen yang berulang (repetitif) sehingga prosesnya seperti halnya industri pada umumnya, dibuat satu dulu sebagai contoh, jika memuaskan akan dikerjakan lainnya dengan kualitas yang sama.

Untuk produk precast, yang sangat berperan adalah teknology yang digunakannya. Siapa yang membuatnya. Tidak hanya perencanaannya saja yang harus bagus tetapi juga perlu pelaksanaan yang baik. Precast for finishing, yang diperuntukkan untuk keindahan, yang terlihat dari luar untuk ditampilkan, jelas lebih sulit dibanding produk precast yang sekedar untuk komponen struktur saja. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan, misalnya : ketahanan terhadap cuaca (tidak retak, keramik lepas atau berubah warna), kebocoran terhadap air hujan (teknologi karet sealant, seperti yang terpasang pada pintu mobil), presisi yang tinggi, juga detail yang benar dari takikan-takikan yang dibuat agar air yang menimpanya selama bertahun-tahun tidak meninggalkan jejak yang terlihat dari luar, juga detail sambungan dengan bangunan utamanya, bagaimana mengantisipasi deformasi bangunan yang timbul ketika ada gempa dll-nya tanpa mengalami degradasi kinerja dan lainnya. Oleh karena itulah perusahaan precast untuk keperluan finishing yang sukses di Jakarta tidaklah banyak.

Mencari tahu informasi detail tentang precast yang dimaksud adalah tidaklah gampang. Coba cari literatur yang ada, di buku-buku beton, tidak mudah bukan. Kalaupun ada hanya sekedar introduction, tidak detail. Oleh karena itu, ketika mahasiswa UPH (sdr. Iwan dan sdr. Hendrik) telah melaksanakan kerja praktek, dan dapat melihat secara detail bagaimana suatu precast wall dapat dipasang maka rasanya itu suatu informasi yang berharga.

O ya, produk precast yang akan dipasang ini adalah produk Griyaton, perusahaan precast yang sudah terkenal malang melintang di Jakarta dan produknya sudah banyak terpasang di bangunan-bangunan tinggi. Sistem yang dipasang ini, yaitu di proyek Senayan Tower, Jakarta, adalah sama dengan yang dilaksanakan di gedung Thamrin Tower atau sekarang disebut ATD Plaza di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.

Wah, jadi ingat waktu awal-awal dulu di PT. Wiratman Consulting Engineers, yaitu sekitar tahun 1989-90 ketika itu baru pertama kerja setelah lulus jadi insinyur sipil. Kantor konsultan tersebut kebetulan sedang menangani proyek Thamrin Tower dengan lead-engineer-nya ibu Ir. Lanny Maruta (alumni UGM juga) dan engineer lainnya yaitu bapak Hanan Elkanan.

Proyek Thamrin Tower waktu itu adalah sama-sama dimiliki oleh Kajima, yang sekarang membangun Senayan Tower ini. Waktu itu ada dua sistem precast concrete yang dipasang, yaitu precast wall dan precast hollow-core-slab untuk lantainya. Jika sekarang keduanya juga diterapkan pada proyek ini. Berarti sistem tersebut dianggap sukses.

Mau tahu lebih lanjut ?

Lanjutkan membaca “precast-wall”