hidup dan ilmu

Komentar seorang pembaca dalam salah satu artikelku

Tujuan hidup tertinggi adalah kembali (kepada sang Pencipta), selain dari itu adalah tujuan yang semu.

Kembalinya ruh kepada pencipta adalah diambilnya wahyu dari yang bersangkutan, karena memang itulah kehendaknya. Karena hidup itu sendiri adalah sebuah karomah / karunia yang seharusnya diisi dengan ilmu dari yang maha berilmu yaitu Tuhan sekalian alam.

Ilmu apapun yang dimiliki oleh manusia pada hakekatnya ilmu DIA, karena tidak mungkin akan ada ilmu didalam diri seseorang , jika tidak ada hidup. Oleh sebab itu sangatlah hina jika seorang berilmu bangga dengan ilmunya, karena sesungguhnya hidup itu adalah ilmu.

Sudah cukup lama komentar tersebut singgah, tidak aku tanggapi karena kesan awalnya memang demikian adanya. Tetapi setiap menjawab banyak komentar-komentar lain, sehingga terbaca lagi, aku selalu terantuk pada komentar di atas. Sudah ada beberapa kali ini terjadi. Ada apa, kenapa menggelitik dan bergejolak menjadi beberapa pertanyaan sesudahnya.

Lanjutkan membaca “hidup dan ilmu”

renungan pagi menyambut Natal #1

Belum jam 6.00, seperti biasa acaranya adalah membuka halaman blog. Saat ini sudah jadi satu artikel yang aku tulis sejak bangun pk 3.00 dini hari tadi, yaitu tentang “memberi dan meminta”.

Inginnya aku ingin membahas dari sisi alkitabiah, eh koq ketemu ayat lain, menarik, yang jarang aku temui. Agar tidak lupa akan akan menuliskannya terlebih dahulu untuk selanjutnya akan menjadi renungan pagiku.

Yaitu pesan nabi Nathan kepada raja Daud tentang anak Tuhan.

Wah apa itu ?

Sorry teman-teman, ini renungan kristiani, bagi yang nggak cocok mohon ganti artikel saya yang lain. OK !.  Ini cerita lain soal my faith.

Lanjutkan membaca “renungan pagi menyambut Natal #1”

wihhhh narsisnya rek !

wihhhh narsis-nya rek… )

Komentar pendek pada salah satu artikelku  oleh seseorang yang identitasnya jelas !  Dosen juga.

Oleh karena itu, aku merenunginya secara mendalam. Secara umum kita ketahui bahwa “pendapat dosen” mestinya tidak sembarangan. Sebelum menuliskan sesuatu, mestinya beliau punya argument yang kuat gitu ! Minimal karena ilmunya profesional, jadi dia “tahu apa yang dia tahu dan tahu apa yang dia tidak tahu”. Mumpuni gitu lho.

Narsis ! Apa itu ? 

Lanjutkan membaca “wihhhh narsisnya rek !”

nenepi di lereng sungai Progo

Bagi orang Jawa (apalagi yang dari Yogya dan sekitarnya), istilah nenepi tentunya tidak asing lagi. Istilah tersebut dimaksudkan pada ‘laku’ atau tindakan yang dikhususkan untuk memperkaya pengalaman batin, untuk memperoleh kesadaran bahwa begitu besarnya alam semesta dan begitu kecilnya manusia, oleh siapa itu semuanya ada dan untuk apa gerangan keberadaan tersebut. Untuk mendapat pemahaman itulah umumnya diperlukan kesendirian, keheningan dan dekat dengan alam, sehingga dapat tenang untuk merenungkan serta melantunkan doa kepada Nya. Karena keheningan itu umumnya adanya bukan ditengah-tengah (pusat) tetapi di pinggiran atau tepi maka timbulah istilah tersebut.

Mencari tempat nenepi di Yogyakarta adalah sarangnya. Kali ini saya akan melaporkan hasil kunjungan ke Sendang Jatiningsih di pinggiran lereng sungai Progo sebagai salah satu tempat nenepi bagi umat Katolik.

Lanjutkan membaca “nenepi di lereng sungai Progo”