Jawaban UAS – Komputer Rekayasa Struktur 2013

Setiap mata kuliah yang aku berikan, aku evaluasi berdasarkan dua kriteria [1] kriteria kompetensi, disini hasil ujian aku cocokkan dengan jawaban yang aku buat, jika tidak ada keselarasan maka bisa-bisa nilainya dikasih nol, tetapi jika aku anggap selaras nilainya seratus. Kriteria tersebut kadang ada yang menganggap mengerikan, oleh karena itu ada lagi kriteria yang lain, yaitu [2] kriteria kerajinan. Jadi nilai itu dibuat berdasarkan kerajian mahasiswa membuat PR atau tugas yang diberikan.

Lanjutkan membaca “Jawaban UAS – Komputer Rekayasa Struktur 2013”

seminar Konteks 7 di Solo

poster0

Baru dapat email dari teman sejawat, Bapak Dr. Sholihin Asad, dosen senior di UNS Solo, yang meminta untuk menginformasikan rencana akan adanya Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7), pada hari Kamis tanggal 24 – 25 Oktober 2013 di Kampus UNS, Solo. Ini alasannya : “Setahu saya, blog pak Wir sangat populer di pembelajar struktur, mahasiswa dan dosen“. Nggak tahu kenapa, mungkin karena sepotong komentar pak Asad tersebut maka langsung tidak jadi tidur (siang), ngantuknya hilang, dan jadi semangat untuk menulis.

Lanjutkan membaca “seminar Konteks 7 di Solo”

otorisasi mengajar

Diskusi soal ini (otorisasi mengajar) tentunya dapat dianggap penting, maklum dalam era demokrasi yang didukung oleh otoritas hukum kadang-kadang setiap topik yang terkait kepentingan seseorang atau sekelompok, dapat saja diperdebatkan. Bayangkan saja, jika ada suatu hal yang tidak tegas, atau hanya tersirat tetapi telah  disepakati bersama, lalu kemudian ada yang berhasil menyuratkan (meskipun belum semuanya menyepakati) dan dapat membawanya ke ranah hukum untuk dibuatkan undang-undang, maka bisa jadi : tujuannya menjadi menyimpang dari semula (menjadi ada yang tidak sepakat).

Lihat saja, tempo hari ada sekolompok mahasiswa bidang pendidikan melek hukum yang dapat membawa kasus bahwa “hanya sarjana lulusan pendidikan saja yang berhak jadi guru, sedangkan sarjana yang lain tidak boleh“. Untunglah MK dapat memutuskan kasus tersebut secara bijak, yaitu tidak disetujui untuk dibahas lebih lanjut. Coba kalau MK kurang smart sehingga dapat diyakinkan penggugat dan meloloskannya dalam bentuk undang-undang. Bisa-bisa ada kekacauan di bidang kependidikan. Kenapa, jika belum paham silahkan saja baca opini saya tentang hal itu di sini.

Lanjutkan membaca “otorisasi mengajar”

resensi buku baja

Punya hobby membaca dan kemudian bekerja sebagai dosen. Wah itu seperti pepatah jawa: “tumbu oleh tutup”, kebetulan sekali. Maklum orang lain melihatnya seperti bekerja padahal memang hobby-nya.

Kadangkala membedakan antara orang yang membaca dan yang belajar, ternyata berbeda sangat tipis. Lihat saja, kalau ada seorang anak yang terlihat memegang buku-buku fisika atau matematik, orang akan mengatakannya bahwa anak tersebut sedang belajar. Adapun yang dipegang adalah buku komik, atau majalah game, maka disebutlah membaca. Jarang yang menyebutnya sebagai sedang belajar. 😀

Lanjutkan membaca “resensi buku baja”

Struktur Kayu dan Dampak Lingkungan

Umum

Telah diungkapkan opini dan argumentasi prospek, pemakaian serta perkembangan konstruksi kayu di Indonesia. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan mendasar, adakah motivasi positip lain untuk dijadikan alasan: “mengapa kita (calon insinyur) tetap perlu belajar dan bahkan mengembangkan ilmu struktur kayu itu sendiri”.

Lanjutkan membaca “Struktur Kayu dan Dampak Lingkungan”

mengajar di Batam

Bagi yang memperhatikan statusku di BB, dapat dibaca tulisan : “Guru di bidang teknik sipil”. Tentang hal itu, sudah lama sekali itu terpasang. Hampir seumur BB itu sendiri. Selama ini rasanya belum pernah ada yang memberi tanggapan, atau bisa-bisa memang tidak ada yang memperhatikannya. Maklum profesi guru adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Seperti profesi-profesi lainnya, pilot, tukang, tentara dan semacamnya.

Lanjutkan membaca “mengajar di Batam”

struktur kayu, inikah kondisimu ?

Pelan tapi pasti, mata kuliah struktur kayu tidak lagi menjadi mata kuliah favorit di fakultas teknik, khususnya di jurusan-jurusan teknik sipil di Indonesia. Jika di era tahun 90-an saat itu penulis masih menjadi mahasiswa S1, maka mata kuliah struktur kayu diberikan dalam dua tahapan, yaitu Struktur Kayu I dan Struktur Kayu II. Kondisi tersebut tentu dapat dimaklumi karena mata kuliah yang sejenis, yaitu struktur baja dan struktur beton juga diberikan dalam beberapa tahapan yang lebih banyak. Bahkan masyarakat umumnya pada waktu itu punya pendapat bahwa yang disebut material konstruksi untuk struktur adalah material baja, beton dan juga material kayu. Jadi bagi seseorang yang berkeinginan disebut sebagai ahli struktur bangunan maka penguasaan ilmu ke tiga material tersebut adalah suatu kewajiban.

Lanjutkan membaca “struktur kayu, inikah kondisimu ?”

jawaban UAS Struktur Baja I – 2012

Saya teringat salah satu pengalaman ketika bertemu dengan teman dosen yang kebetulan baru saja menyelesaikan program S3-nya. Kalimat pembukanya begini: “Pak Wir, bisa nggak saya mengajar di program S2 UPH yang baru dibuka“. Seperti biasa, kalau ada pertanyaan seperti itu maka  jawabannya kira-kira begini : “Mau mengajar di program S2 ya pak, kalau begitu pada mata kuliah apa yang merupakan kompetensinya. Ini daftar mata kuliahnya“. Maklum, alasannya bahwa yang namanya program S2 adalah spesifik (misal peminatan manajemen konstruksi atau struktur atau transportasi), jadi untuk dapat mengajar mestinya dosen yang benar-benar menguasai bidangnya, ahlinya. Begitu khan.

Lanjutkan membaca “jawaban UAS Struktur Baja I – 2012”

memilih karir dan jurusan di perguruan tinggi

Menjadi orang tua yang anaknya sudah kelas 3 SMA seperti saya saat ini, tentu akan merasakan bagaimana dapat menjawab secara bijak pertanyaan anak, tentang rencana setelah lulus sekolah.  Jika SMK tentu sudah jelas, yaitu mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang ditekuninya selama ini. Adapun SMA, yang masih umum sifatnya sebagian besar tentu akan bertanya, perguruan tinggi dan jurusan apa yang harus dimasukinya.

Lanjutkan membaca “memilih karir dan jurusan di perguruan tinggi”