untuk segala sesuatu ada waktunya

UNTUK segala sesuatu ada waktunya
(Pengkhotbah 3:1)

Saya kira nash di atas adalah salah satu ungkapan yang pas, untuk menggambarkan suatu peristiwa penting yang merupakan kulminasi dari serangkaian peristiwa yang meliputi berbagai segi kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Kehidupan yang dilakukan dengan melewati banyak suka-duka, tawa-tangis, kebanggaan-ketabahan, kerja-keras dan juga doa serta puasa, yang telah berlangsung tidak hanya berhari-hari, siang atau malam bahkan telah berlangsung selama lebih dari lima tahun ini. Riak-riak kehidupan yang mencakup berbagai lokasi yang perlu disinggahi, melalui perjalanan pulang balik Bekasi-Ciumbuleuit (kampus UNPAR)-Karawaci (kampus UPH) tiap minggunya, baik memakai kereta api, bis, travel maupun kendaraan pribadi.

Kehidupan yang menarik, karena telah berbaur menjadi satu, berbagai peran kehidupan selaku seorang suami, bapak dari dua anak yang menginjak dewasa, blogger, structural engineer, penulis dan sekaligus tanggung jawabnya sebagai seorang guru yang ingin menjadi teladan bagi murid-muridnya, maupun kewajibannya sebagai seorang murid (mahasiswa doktoral) yang harus berjuang dan berpikir keras dengan berkutat membaca jurnal-jurnal, buku-buku untuk menemukan sesuatu yang baru dan orisinil dalam kaca mata ilmiah untuk meraih gelar doktor.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
setya budya pangekesing dur angkara

Semuanya tersebut ingin dilaluinya sebagai laku, untuk berproses, bertransformasi dan bertumbuh untuk mencapai tidak sekedar gelar doktor, tetapi memang berharap menjadi manusia yang dapat diakui secara formal maupun informal untuk mampu mempertanggung-jawabkan diri dalam kapasitasnya sebagai doktor. Semuanya itu nantinya diharapkan dapat menjadi berkat bagi sesama dan bangsa, untuk kemuliaan nama-NYA.

Baca lebih lanjut

rencana menyampaikan makalah di UMS

Meskipun semua persyaratan untuk sidang terbuka sudah selesai, sehingga mestinya akhir tahun ini beres ! Tapi apa daya, jadwal acara di bulan November dan Desember di UNPAR sudah penuh. Oleh karena itu setelah dipilih waktu yang paling tidak beresiko, maka jadinya baru di awal bulan Januari tahun depan. Yah, bagaimanapun harus disyukuri, minimal ada bulan Desember, waktu untuk bagi-bagi undangan untuk ujian terbuka tersebut. ūüėČ

Baca lebih lanjut

karya promotorku, prof Sahari Besari

Baru saja saya tanyakan kemarin tentang kriteria “karya seorang profesor”. Berbagai pendapat telah diberikan, dan kelihatannya terlalu banyak yang diharapkan dari seorang yang bergelar profesor. Selanjutnya tentu anda-anda ingin tahu bagaimana pendapatku.

Terus terang sebagai orang yang mengenal cukup banyak profesor, berinteraksi dan juga merasa hidupnya dipengaruhi benar oleh kehadiran profesor-profesor tersebut tentunya ingin sedikit sharing mengenai apa yang disebut “karya seorang profesor”.

Baca lebih lanjut

kandidat dan promotornya

Pak Wir, ngambil S3-nya koq di UNPAR sih, kenapa nggak sekalian ke ITB ?

Pertanyaannya pendek, tapi ingat terus. Kenapa ? Karena sudah beberapa kali ketika nerangin bahwa S3-nya ambil di UNPAR maka pertanyaan yang selanjutnya adalah itu. Ketika anda membaca materi blog saya, ada jugakah pertanyaan seperti itu ?

Pertanyaan sederhana tetapi ‘menusuk’, yang menunjukkan bahwa ITB mempunyai posisi yang ‘lebih’ daripada UNPAR. Jika demikian, maka gelar doktornya (jika sudah dapat) juga berada¬†dibawahnya, begitu bukan maksudnya.

Baca lebih lanjut