jadi orang planet

Iseng-iseng melihat statistik blog ini, eh ternyata sudah beberapa hari ini selalu dikunjungi yang mendekati 2000 hit per hari. Wah ramai juga ternyata blog ini, padahal dulu sewaktu di Tripod, untuk mendapat kunjungan sampai 3000 aja bisa nunggu sampai setahun. Memang hebat ini mesin WordPress. Pantaslah kalau sampai ada komentar seperti ini

Tahukah bapak bahwa . . . ini telah beredar luas di kalangan . . . ?
Semoga tahu !

Waktu itu disampaikan, konotasinya jelek, bahwa apa yang aku tulis (yang dianggap buruk) sudah sampai kemana-mana . Ha, ha, ha, maksudnya sih seperti nada ancaman. Padahal tahu sendiri, orang nulis blog khan memang ingin agar ide atau pikirannya diketahui siapa-siapa. Iya bukan.

Baca lebih lanjut

adakah yang (berani) peduli pendidikan di sini

Bagaimanakah pedulinya seseorang terhadap pendidikan, maka lihatlah kehidupannya.

Tanpa didikan yang baik maka orang tidak akan bisa hidup sejahtera, bahkan bisa binasa. Nasehat seperti itu sudah jelas tidak perlu diperdebatkan, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Jika anda merasa itu tidak benar, ya silahkan saja renungkan sendiri. Ini adalah suatu hikmat.

Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.
[Amsal 5:23]

Memang sih, didikan dalam hal ini tidak terbatas pada pendidikan formal sekolah, tetapi juga pendidikan dalam kehidupan itu sendiri. Itu pula yang menyebabkan ketika ada orang sukses tanpa pernah bersekolah maka disebutnya sebagai otodidak.

Padahal kenyataannya dia belajar keras terhadap didikan real yang diperoleh dalam kehidupannya. Tetapi orang-orang seperti itu relatif sedikit, sehingga disebutlah sebagai suatu keistimewaan. Tidak berlaku sama hasilnya jika diterapkan pada banyak orang. Bagaimanapun prosentasi keberhasilannya akan lebih banyak jika mendapat pendidikan formal. Tentu saja ini dengan asumsi bahwa pendidikan yang dimaksud adalah yang berorientasi pada mutu dan tidak sekedar mendapatkan ijazah.

Oleh karena itu, mayoritas berpendapat bahwa pendidikan umumnya berkorelasi langsung pada peningkatan kesejahteraan hidup, sehingga para guru yang bekerja pada sektor tersebut mendapat julukan ‘pekerja mulia’ atau ‘pahlawan tanpa tanda jasa’.

Note: kesejahteraan hidup kadang tidak terkait langsung dengan kekayaan materi. Ada aja manusia yang disebut orang sebagai konglomerat, tetapi ternyata mati bunuh diri. Orang seperti itu apa bisa disebut sejahtera.

Baca lebih lanjut

program LOB gratis for CM

Kata Pengantar Wiryanto Dewobroto

Sdri Rima Kiswanto, mahasiswi jurusan teknik sipil UPH, baru saja menyelesaikan skripsi di bawah bimbingan Ir. Minawaty Tanujaya, MT.  Hasilnya adalah sebuah program komputer yang dapat digunakan untuk manajemen proyek.

Catatan : Rima adalah mahasiswi anggota team UPH yang merebut juara 1 Lomba Jembatan ITB 2007, baca ini. Merupakan satu dari empat mahasiswa angkatan 2004 yang lulus semester ini, jadi masa studinya kurang dari 4 tahun.

Program tersebut menurutnya cukup berguna membantu me-manage proyek-proyek yang mempunyai item pekerjaan yang berulang (repetitif), seperti misalnya pekerjaan pemancangan tiang.

Adapun program ditulis dengan memakai program Visual Basic 6.0, hasil pembelajaran yang saya berikan selama ini di JTS UPH. Jika anda tertarik ingin melihat materi pembelajaran tersebut, jangan kuatir sudah aku tulis dalam bentuk buku, informasinya ada di sini.

Dengan maksud agar orang lain mendapat manfaat dari program tersebut, juga untuk menunjukkan hasil pembelajaran mata kuliah pemrograman yang aku beri, maka aku meminta sdri Rima membuat ringkasan skripsinya dan menyiapkan program dan petunjuk pemakaiannya untuk di down-load pada blog ini.

Semoga berguna.

Intro 

Untuk mendapat gelar ST dari teknik sipil UPH, tentunya dibutuhkan banyak hal. Setelah melalui berbagai macam rintangan yaitu mengambil 142 sks mata kuliah temasuk 2 sks untuk kerja praktek, mahasiswa diwajibkan membuat skripsi (6 sks) sebagai final project atau tugas akhir yang menentukan kelulusan.

Tugas akhir yang saya ambil berjudul “Pengembangan Program LOB untuk Proyek Perumahan Yang Repetitif“. Dalam tugas akhir yang saya buat ini ternyata mengatakan secara tidak langsung kepada saya, bahwa mata kuliah yang diajarkan oleh Pak Wir, yaitu “Bahasa Pemrograman Visual Basic” ternyata sangat berguna.  Dengan menggabungkan ilmu dari VB dan juga tentunya dari bidang manajemen konstruksi, maka skripsi yang menjadi dasar pembuatan program ini telah rampung dibuat.

Baca lebih lanjut

Pake moderasi beneran!

Jangan kaget, judul tersebut saya ambil dari salah satu komentar di blog ini.

Bagi orang yang memberi komentar tersebut, tentunya beranggapan bahwa blog yang ‘baik‘ adalah jika selalu menerbitkan komentar yang masuk, tidak hanya yang bersifat pujian saja bahkan yang bersifat kritik, atau bahkan ejekan sekalipun. Itulah yang dinamakan demokrasi sejati yang memegang teguh pendapat “The freedom to speak”.

Baca lebih lanjut

mengintip visi-misi seorang pendiri UPH

Pengantar oleh Wiryanto Dewobroto

Mencermati beberapa diskusi dari teman-teman di blog ini ketika menanggapi berita PTS yang ‘seakan-akan bermimpi dengan keadaannya‘, sehingga banyak orang yang merasa tahu lalu berusaha ‘meluruskannya‘ agar sesuai dengan ‘kenyataannya.

Karena kebetulan PTS yang dimaksud adalah UPH, tempat hidup saya dalam tumbuh dan berkembang, maka tentulah sedikit banyak tahu, beberapa data atau informasi yang perlu disuguhkan untuk dapat melengkapi wacana pemikiran bagi teman-teman sekalian.

Artikel di bawah ini memuat wawancara eksklusif Pitan Daslani dari Campus Asia terhadap bapak Johannes Oentoro, salah satu pendiri yayasan pendidikan Pelita Harapan, yang juga rektor pertama UPH Lippo Karawaci. Dalam wawancara tersebut dapat diketahui bahwa waktulah yang paling tepat untuk memberi jawabannya, karena jika apa-apa yang diungkapkan beliau 10-15 tahun yang lalu pastilah hanya dianggap sebagai mimpi atau omong kosong belaka. Bahkan jika terlalu PD dan terlalu terekspose pada saat itu, bisa dianggap bahwa itu semua adalah pembohongan publik belaka. Tapi ternyata sekarang sudah ada fakta-fakta bahwa sebagian mimpi beliau telah terbukti dan telah dapat ditangkap indera wadag biasa.

Hanya sayang, wawancaranya dalam bahasa Inggris.


The language of a sincere heart


In the beginning was a dream, and the dream was in Johannes Oentoro’s heart, and the dream has come true.

By Pitan Daslani
Campus Asia Volume 2 Number 1 – March 2008

Baca lebih lanjut

anak-anak muda yang luar biasa

Jadi dosen itu saya kira merupakan suatu profesi yang menarik, suatu profesi yang dapat dijalani tanpa beban, apalagi jika dirasakan dengan rasa syukur. Kurang apa lagi.

Maksudnya tanpa beban adalah dalam arti begini, jika memberi kata-kata pujian (dengan tulus tentunya) tidak serta merta dicurigai bahwa ada udang dibalik batu. Coba bayangkan aja, jika seorang marketer sedang memuji client, itu khan lebih banyak merupakan strateginya agar dagangannya sukses, yakin deh. Selain itu, nggak mungkin dia berani memuji marketer lainnya dihadapan client. Pasti banyak ruginya. Juga kalau dikritik “kurang”, pasti deh itu juga mempengaruhi harapannya. Iya khan. Jadi gampang-gampang susah menerapkan konsep win-win.

Beda dengan dosen, memberi sanjungan maka hati sendiri bertambah senang dan tidak merasa menjadi lebih rendah dari yang disanjungnya. Iya khan. Itulah dosen dan tentu para guru pula. Semakin hebat itu murid atau yang mengaku murid, semakin bangga yang jadi guru atau dosennya.

Ingat, pak SBY aja masih ingat dan memberi apresiasi ke gurunya di kota masa kecilnya. Saya bisa membayangkan bagaimana bangganya seorang guru yang masih diakui oleh muridnya yang telah jadi.

Saya kira itu merupakan salah satu bentuk kepuasan yang tidak haram dan tidak memerlukan duit banyak. Kadang-kadang seorang konglomerat perlu mengeluarkan duit berjuta-juta hanya untuk mendapatkan pengakuan seperti itu. Ini benar lho, coba renungkan sendiri.

Jadi wajarlah, jika anda sering melihat guru, meskipun secara materi tidak bisa dibandingkan dengan pejabat publik lainnya, tetapi ketika dilihat tahun-tahun mendatang masih banyak yang terlihat berbahagia di hari tuanya, panjang umur, masih bisa melihat cucu-cucunya berbahagia. Bandingkan dengan pejabat publik, yang punya duit banyak, tetapi dari hasil korupsi, jika jabatannya mundur, pensiun, maka banyak diantara mereka meninggal tidak lama setelah itu.

Tuhan memang begitu adil dengan setiap profesi jika dapat dijalani dengan rasa syukur.

Baca lebih lanjut