Selamat pagi teman-teman. Semoga sehat selalu.
Sudah lama saya tidak menengok wiryanto.blog. Maklum interface-nya tempo hari berubah drastis, dua tahun lalu nggak nyaman untuk menulis. Tetapi pagi ini, hasil dialog dengan Meta AI, jadi tertarik masuk ke sini. Ternyata editornya sudah jauh meningkat dari yang terakhir dulu. Sudah lebih enak.

Tulisan saya biasa hanya saya sampaikan via Facebook. Editornya sederhana, jadi hanya tulisan pendek-pendek. Tetapi ketika kembali ke WordPress ini, editornya memungkinkan untuk menulis sedikit panjang.

Apa yang selama ini aku kerjakan. Tentu saja masih mengulik tentang konstruksi baja. Ini adalah salah satu kompetensi keahlianku yang mendapat respons positip dari masyarakat. Beberapa keahlianku yang lain ternyata menjadi sia-sia, seperti misalnya:

Konstruksi Kayu. Dulu saya mempelajari konstruksi tersebut, dan pernah mendesain, meneliti dan menulis makalah tentang konstruksi kayu. Tetapi setelah UTM kampus kapasitas 5 ton rusak, dan mata kuliah tersebut tidak lagi menjadi kurikulum yang diajarkan, maka semakin lama semakin hilang ingatan tentang konstruksi kayu.

Bahasa Pemrograman Visual Basic. Dulu waktu muda saya hobby programming. Waktu tugas akhir saya membuat program dengan Turbo Basic, selanjutnya ketika pertama kali bekerja senang membuat program pakai Turbo Pascal. Sedikit familier dengan MS Fortran. Intinya, saya anak muda yang suka (hobby) programming.Sekitar tahun 1999-2000 ketika versi Windows muncul saya mempelajari MS Visual Basic 6.0. Saat itu saya merasa itu program hebat, sambil bekerja saya mempelajari program tersebut. Banyak program-program engineering yang saya buat untuk bekerja dengan VB 6.0. Bahkan buku saya pertama yang terbit adalah tentang VB 6.0 yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo, dari Gramedia Group. Jadi buku pertama saya adalah pemograman dan bukan struktur baja. Bahkan ketika pertama kali disuruh mengampu mata kuliah Bahasa Pemrograman di UPH, maka yang dulu pakai MS Fortran saya ganti paka MS VB 6.0 itu selama bertahun-tahun. Bisa dibayangkan khan ke ahlian yang saya kuasai terkait dengan bahasa pemrograman. Sayang sekali, di era sekarang VB 6.0 sudah tidak didukung oleh developer. Apalagi setelah ada akreditasi bahwa kurikulum harus diganti jadi mata kuliah dasar, sehingga bahasa pemgraman diganti menjadi mata kuliah metode numerik dasar. Akhirnya penggunaan MS VB 6.0 tereliminasi juga.

SAP2000 adalah salah satu program analisis struktur yang aku kuasai sejak muda. Ada satu buku yang kutulis tentang hal itu. Sayang sekali kampusku tidak mempunyai program tersebut yang versi terbaru. Aku hanya pakai versi student. Jadi bisa dipahami hal itu menyebabkan pendalamanku ke program tersebut tidak fokus. Jujur aku tidak mau pakai program bajakan. O ya penguasaanku dengan program SAP2000 tidak tanggung-tanggung. Waktu muda dulu, saya pakai SAP90 untuk membuat perencanaan atap baja silo PT. Semen Nusantara di Cibinong berdiameter 60 meter. Waktu itu kontraktor utama yang aku layani adalah PT. L&M. Atap baja bangunan silo itu tidak sederhana, karena di atas atap dipasang mesin conveyer yang cukup berat. Waktu itu ada konstruksi pembanding yaitu silo PT. Semen Nusantara yang di Cilacap yang didesain oleh perusahaan Australia. Jadi pemberi tugas menyepelekan masalah, waktu itu pesannya “Tiru saja detail baja yang di Cilacap, toh fungsinya sama.”

Waktu itu aku diberi segepok detail struktur baja bikinan konsultan Australia untuk ditiru. Maklum PT. L&M saat itu adalah kontraktor yang mengerjakan dinding silo pakai prestress, sehingga dianggapnya atap silo sekedar asesori saja. Untuk silo yang berdiameter 20 meter sih memang nggak ada yang istimewa, tetapi untuk silo pendek, tetapi berdiamater 60 meter mah berbeda. Waktu muda dulu, jelas keahlianku terhadap struktur baja masih sedikit, tidak seperti sekarang, katam sekali. Peristiwa itu sekitar tahun 1994, saat itu usiaku sekitar 30 tahun. Waktu itu aku sudah jadi senior engineer di PT. PSP salah satu perusahaan konsultan yang didirikan oleh Prof Harianto H. Nggak tahu kenapa, mungkin karena aku punya pengalaman struktur baja di PT. Wiratman, maka aku pede sekali megang konstruksi baja. Bisa dibayangkan pada usia muda dengan kepercayaan diri yang tinggi dikasih kasus perencanaan atap baja silo diameter 60 ton yang diatasnya bertengger silinder ruang mesin konveyor untuk mengangkut bahan clinker semen yang bobotnya puluhan ton. Nggak ada di literatur, yang ada hanya contoh desain serupa dari konsultan Australia.

Bagi banyak orang, untuk situasi seperti itu, ya udah pakai saja desain yang ada. Tetapi nggak tahu kenapa, saat itu ketika aku mempelajari desain yang dibuat konsultan Australia tersebut. Aku bingung.Nggak paham dengan logika struktur yang didesain. Tetapi karena aku saat itu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, tentu saja nggak mau disebut, nggak bisa. Pada saat itu aku merasa bahwa desain dari Australia itu tidak bagus (tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan saat itu yang aku kuasai). Karena ini proyek sesungguhnya, pihak kontraktor menyilahkan saja jika tidak mau memakai desain dari silo di Cilacap. Yang penting katanya: budgetnya nggak boleh lebih mahal dari yang di Cilacap. Syukurlah aku diberi kepercayaan. Akhirnya desain bisa aku selesaikan dengan program SAP90. Waktu mendesain struktur baja saat itu seru juga. Sistem yang aku usulkan dievaluasi oleh engineer owner, seorang engineer senior dari Jepang. Nggak tahu kenapa saat itu usulan desainku diterima. Bahkan saat erection di lapangan, kontraktornya menyetujui metode konstruksi yang aku usulkan, meskipun untuk itu harus sewa crane kapasitas besar khusus dari Singapore.

Dengan penguasaan akan software SAP90 dan ilmu struktur baja pada proyek silo clinker PT. Semen Nusantara di Cilegon itulah aku memulai karirku sebagai ahli baja. Proyek tersebut sukses, bahkan setelah selesai pihak kontraktor cerita. Untung saja pak Wir pakai desain bapak sendiri. Coba kalau pakai desain dari Australia untuk silo di Cilacap, ternyata di sana kolom sementara penyangga ruang mesin konveyor tidak berani dilepas. Sampai sekarang jadi kolom permanen. Itulah ternyata jawaban dari kebingunganku tentang desain struktur baja yang dari Australia tersebut. Untung saja saat itu aku lebih mempercayai logika pengetahuanku yang saat muda dulu. Meskipun saat itu aku masih S1 (saat itu sedang menempuh kuliah S2 di UI) tetapi logika keilmuan struktur bajaku sudah cukup matang untuk mandiri. Pengalamanku tentang konstruksi baja seperti itulah yang membuat aku percaya diri menulis buku tentang struktur baja tahun 2015 dan 2016. Buku itulah yang sampai hari ini mendapat respon positip, sehingga aku tetap menggeluti ilmu tersebut.

Saat ini selain tugasku sehari-hari di dunia pendidikan, mengajar dan membimbing mahasiswa di kampus UPH, aku sedang sibuk up-dated buku struktur baja tersebut. Tahun 2015 ketika edisi pertama terbit, berdasarkan AISC 360-2010, baru setelah itu SNI 1729-2015 (adopsi AISC 360-2010) baru terbit. Jadi aku lebih dahulu. Tahun 2016 terbit edisi ke dua, code masih sama. Lalu SNI 1729-2020 sudah terbit lagi mengacu AISC 360-2016. Buku saya masih 2010, sehingga saat ini yang aku kerjakan adalah up-dated lagi berdasarkan AISC 360-2022. Selangkah lebih dulu dari SNI. Kepercayaan diri untuk menulis lebih baru yang code SNI yang ada ini, seperti saat itu ketika aku memilih desain aku sendiri dan bukan desain dari Australia. Kepercayaan diri di saat muda dulu masih melekat sampai sekarang.

Jadi kompetensiku terkait Konstruksi Kayu, Visual Basic 6.0, SAP2000 dan Struktur Baja adalah bukan kaleng-kaleng. Aku bisa bangga dengan semua yang telah aku pelajari dan kuasai tersebut. Semuanya hampir otodidak, tidak ada yang secara langsung aku turunkan dari guruku. Guru-guruku lebih banyak mengkonfirmasi dengan ide-ide yang aku sampaikan. Itu pula yang menyebabkan aku lebih banyak bekerja dan meneliti secara mandiri. Kalaupun ada kolaborasi dari penelitianku adlaah karena proyek yang aku tangani melibatkan mereka-mereka saja.

Dengan semua kompetensi yang aku miliki tersebut, setelah bertahun-tahun ini: apakah itu berarti tinggal memetik hasilnya saja dan sekarang tinggal ongkang-ongkang saja.

Ternyata nggak seperti itu. Nggak semua kompetensi itu bisa tetap produktif sampai sekarang. Akibat kondisi luar berubah, maka apa yang aku investasikan selama ini jadi nggak bermanfaat. Ilmu konstruksi kayu tidak ada lagi peminatnya, bahasa pemrograman VB 6.0 sudah tidak didukung oleh develooper. Kalaupun bikin buku, pasti nggak akan ada baca. Penggunaan SAP2000 tidak didukung software orisinil. Menulis dengan software kuno tentu tidak menarik orang untuk membaca. Jadi hanya kompetensi struktur baja yang masih dilirik orang. Itulah alasan utama aku updated buku tersebut, yang kemungkinan menjadi karya tulis terbesar dari hidupku tentang struktur baja.

Dengan adanya kompetensi dalam diriku yang tidak lagi menarik, maka tentu perlu up-dated lagi keilmuannya agar berbobot. Ini persis penyanyi, dimana keahlian menyanyikan lagu tentu tidak diragukan lagi. Tetapi tidak semua orang suka dengan lagu tersebut. Agar masih bisa diminta nyanyi lagi, tentu penyanyi tadi harus belajar lagu-lagu baru. Tanpa itu, pasti akan tereliminasi. Jadi sebagai dosen atau ahli, maka belajar hal-hal baru adalah wajib agar tepat eksis.

Hal baru apa yang wajib aku pelajari pada usia tidak muda lagi.

Ini tentu pertanyaan tidak mudah. Hal baru kalau masih sekitar struktur baja. Ayuk, gampang itu. Tetapi hal baru di luar itu tentunya tidak mudah bagi orang setuaku. Saat ini aku sudah berusia lebih dari 1/2 abad. kemampuan belajar hal baru, ternyata tidak semudah ketika jaman muda dulu. Tetapi keinginan untuk tetap belajar hal baru tetap ada dipikiran. Ini menjadi suatu harapan. Oleh sebab itu aku sampaikan kepada anak-anaku. Usia muda adalah modal tidak terbatas, maka investasikan ilmu sebanyak-banyaknya karena ingat, tidak semua ilmu itu akan bisa eksis di hari tua. Kalau ternyat masih bisapun bersyukurlah, nggak semua bisa seperti itu. Saya yang dari dulupun pasti mencoba hal yang terbaik, ternyata situasi luar berubah sehingga tidak semua yang sudah diinvestasi tadi tetap eksis.

Karena sadar belajar hal baru itu tidak mudah dengan berjalannya waktu, maka aku cenderung yang dekat-dekat dengan pengalaman yang aku miliki. Lebih dari tiga tahun lalu, aku sudah berpikir untuk updated ilmu bahasa pemrograman. Akhirnya setelah bergulat dengan banyak membaca tulisan orang, buku dan lain-lain, aku akhirnya memutuskan untuk berpindah ke bahasa pemgraman Python.

Puji Tuhan mungkin karena aku sudah familier dengan bahasa pemrogrmana, dan juga bahasa Python itu lebih mudah, maka kepindahanku ke sana dapat berjalan lancar. Bahkan bahasa Python itu aku jadikan nilai plus pada buku struktur baja yang aku up-dated. Banyak langkah-langkah perhitungan perencanaan struktur baja yang dapat aku buatkan programnya versi Python. Jadi nanti ketika membaca buku struktur bajaku yang terbaru tersebut maka hitungannya dapat dibantu dengan program Python yang aku buat. Setiap contoh perencanaan di buku aku hitung ulang dengan Python. Tentang hal ini kelihatannya belum ada buku struktur baja yang mengambil opsi serupa.

Kemampuan program Python itu sangat hebat. Kenapa, karena telah tersedia modul-modul buatan orang yang bermanfaat. Jadi grafik hasilnya dapat langsung dalam bentuk PDF. Kalau pakai VB maka perlu buat subroutine terlebih dahulu. Ribet. Untuk ada masalah dengan VB akhirnya bisa belajar program yang lebih baik, yaitu Python.

Bersamaan dengan kegiatanku dalam meng-up-dated buku Struktur Baja edisi ke-3 tersebut, aku mau tidak mau terpaksa berinteraksi dengan AI (Artificial Intelligence). Aku mulai mendengar AI yaitu ketika teman dosen menceritakan produk itu untuk membantu tugasnya. Aku sih saat itu antara tertarik atau cuek. Ah menurutku AI tidak lebih dari pemrograman canggih saja. Mulai tertarik ketika menengok si bungsu di kampusnya di Taiwan. Ada pameran penelitian yang diadakan kampus, yang menyajikan peran AI dalam kehidupan real, seperti mengolah big data dan menyajikan peneltian terkait trend sosial yang terjadi. Nah disitu saya mulai sadar, o data-data yang dibuat social media, dapat diakses sebagai big data, dan dapat dibaca trend orang-orang. Ini tentu penting bagi marketing suatu produk. Wah menarik ini, tetapi tidak berpikir bahwa AI juga berperan bagi ilmu kompetensi yang kita miliki. Maklum ilmu marketing tentu tidak terkait langsung dengan ilmu struktur baja. AI itu penting, tetapi belum terkait dengan kepentingan saya.

Dengan berubahnya waktu, ketemu juga kasus sehingga perlu memikirkan lebih datail tentang AI bagi kehidupan ahli atau dosen sepertikut. Peristiwa yang mengagetkanku adalah ketika suatu saat dipanggil client. Levelnya owner dari suatu proyek. Owner ini tertarik untuk minta penjelasanku terkait konstruksi baja di proyeknya. Ini khan memang pekerjaanku. Ok-ok saja.

Aku dipanggil di proyek di daerah luar jakarta, proyek besar. Eh ternyata konstraktor yang mengerjakan proyek tersebut aku kenal dari jaringan pertemananku selama ini. Ini tentu memudahkan aku dalam menyelesaikan masalah. Menariknya, ketika aku berdiskusi dengan mereka (kontraktor dan owner). Pihak owner bisa menyajikan pertanyaan-pertanyaan kritis, baik kepadaku maupun ke kontraktor. Jawaban dari pertanyaan kritis itu akan berdampak, karena bisa menetapkan bahwa kejadian yang dibahas itu kesalahan atau sekedar toleransi pelaksanaan. Kalau sampai disebut kesalahan, bisa dilakukan retur, atau pekerjaan ulang. Ini tentu harus dijawab hati-hati. Agar kedua belah pihak puas (owner dan kontraktor). Jadi tugasku adalah sebagai penengah, atau juri dalam memutuskan perkara. Ini kalau dalam berita seperti hakim MK. Nggak gampang nih, membela owner (kenalan baru pemberi kerja) atau kontraktor (kenalan lama yang penanggung jawab pekerjaan). Maju kena dan mundur kena.

Menjadi ahli untuk kasus di atas tentu perlu kebijaksanaan khusus. Kalau sudah seperti itu, maka aku akhirnya berpijak pada pengetahuan universal berbasis code. Tugasku adalah memberikan kuliah atau tepatnya penjelasan kepada kedua belah pihak terhadap masalah yang ditemukan di lapangan, dan konsekuensi yang harus dihadap jika tidak dilakukan perbaikan (jika dianggap itu suatu kesalahan). Akhirnya ketemu jalan tengahnya. Ada beberapa kasus yang dianggap sebagai toleransi pelaksanaan dan ada beberapa kasus yang dianggap suatu kelalaian sehingga harus diperbaiki. Kasus closed dan semua happy. Kita salaman semua.

Setelah rapat penyelesaian masalah tuntas. Ketika mau pulang, saya iseng-iseng bertanya kepada pihak owner. Anda latar belakang pendidikannya apa, koq bisa nyambung di diskusi ini. Saya pikir ini sarjana teknik sipil. Eh ternyata bukan, ada yang lulusan Matematik ada yang lulusan Statistik dan semacamnya. Aneh juga, berarti dia tahu dari mana, pasti bukan dari media sosial atau blog ini. Dia jawab: “Saya tahu Bapak karena disarankan AI”. Ini tentu mengangetkan saya. Wah AI kenal saja juga ya. Lalu saya tanya lagi. Jadi ketika anda tadi dalam diskusi memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada saya, bukan dari pengalaman anda ya. Dia jawab dengan santai : “Tentu saja pak. Saya khan tidak punya pengalaman dengan kontruksi baja, sebelumnya. Jadi pertanyaan-pertanyaan tadi adalah hasil respond dari AI ketika penjelasan Bapak saya terima“.

Wah ternyata AI sudah masuk wilayah kerja yang saya tangani, yaitu rekayasa struktur. Maka sejak itu saya mulai masuk mencoba memakai dan mendalami AI untuk membantu permasalahan yang saya hadapi. Saya sudah mencoba Cluade, ChatGPT, Gemini dan terakhir Meta AI.

Itulah hal-hal baru yang sedang saya pelajari hari ini. Belajar terus dan semangat terus. Termasuk menulis blog ini setelah dua tahun lebih ditnggalkan. Yuk belajar lagi. GBU

Posted in

Tinggalkan Balasan