membuat tulisan ilmiah

Bagi pembaca  yang berlatar belakang mahasiswa di perguruan tinggi,  maka threat berjudul  “membuat tulisan ilmiah”  dapat dipastikan akan mengarah pada cara pembuatan skripsi. Meskipun kadang kala dapat dikaitkan juga dengan pembuatan makalah ilmiah untuk jurnal atau seminar. Tapi saya kira hanya sedikit yang membayangkan bahwa itu juga menyangkut pada cara pembuatan buku-buku teks ilmiah.

Ketidak-percayaan diri untuk sampai pada pembuatan buku didasarkan pada pengalamanku dulu saat masih menjadi mahasiswa. Bayangkan saja, itu tidak hanya saat S1 maupun S2. Pada masa itu, saya berpikir bahwa hanya para pakar senior yang mampu membuat (menulis) buku teks, yang kadar ilmiahnya tidak diragukan para pembacanya.

Cara pikir seperti itu bisa dimaklumi, karena faktanya sewaktu menyelesaikan thesis S2-nya saja dulu memerlukan waktu lama. Bahkan merasakan bahwa membuat tulisan ilmiah merupakan beban berat (bikin stress).

Bayangkan saja, kala itu aku mempunyai sesi khusus untuk secara rutin datang ke kampus UI di Depok. Itu di sela-sela hariku bekerja, maklum waktu itu aku bukanlah seorang dosen, tetapi praktisi yang bekerja untuk membiayai sekolah dan sekaligus  keluarganya. Sekolah lanjut bagiku waktu itu merupakan  alternatif paling logis agar tetap dapat berkarir di bidangnya dan memberi harapan akan ada  peningkatan atau perbaikan dikemudian hari.

Catatan : kondisiku saat ini, tidak akan ada tanpa adanya pemikiran tersebut.

Kalau mengingat masa-masa sekolahku tersebut, aku pernah merasakan bahwa membuat tulisan ilmiah itu suatu momok yang menakutkan. Ini memang dapat dimaklumi karena kalau tulisan ilmiahnya yang berupa thesis,  tidak selesai, maka ijazahnya juga tidak keluar. Alias tidak lulus.  😦

Jika sekarang aku berani membuat tulisan seperti ini, petunjuk bagaimana membuat tulisan ilmiah, padahal dahulu itu sesuatu hal yang menakutkan, maka tentu ada sesuatu yang dapat diandalkan, sehingga membuat tulisan ilmiah menjadi sesuatu yang tidak menakutkan lagi.

Apa itu ?

Lanjutkan membaca “membuat tulisan ilmiah”

hallo konstruktor jembatan indonesia

Dead line hampir tiba. Tanggal 15 Mei ini diminta untuk menyampaikan T.O.C, itu lho Table of Content dari materi yang akan disampaikan.

Apa itu ?

Itu lho yang tempo hari pernah saya sampaikan, yaitu tulisan yang akan menyajikan jembatan-jembatan di Indonesia. Tulisan itu nanti jika berhasil maka akan dijadikan salah satu bab dari buku yang akan diedarkan kenalan saya di luar sana. Karena ini menyangkut nama Indonesia, maka jelas informasi yang saya dapat dari Ibu Lanny Hidayat dan juga dari internet perlu dicheck lagi. Semakin banyak yang mengcheck dan memberi masukan maka tentunya akan semakin baik. Oleh karena itu maka jaringan internet di blog ini akan dimanfaatkan.

Lanjutkan membaca “hallo konstruktor jembatan indonesia”

tulisan anonim dan sikapku !

Mungkin apa karena di blog saat ini banyak yang membahas tentang anonymous, maka ada mahasiswaku yang menanyakan sikapku terhadap anonymous tadi, atau secara spesifik ditujukan kepada “tulisan anonim“. Intinya bagaimana harus bersikap jika tulisan anonim tadi membuatnya terinspirasi untuk menanggapinya.

Lanjutkan membaca “tulisan anonim dan sikapku !”

menulis pak ?

Pertanyaan anda itu aneh, itu koq ditanyakan ke saya. Jelas dong ! Sehari saja kalau tidak pegang tuts keyboard rasanya gatal. Apapun yang kelewat mata, lalu ke otak untuk dipikir sejenak, lalu maunya lari ke tangan, untuk dituangkan ke keyboard. 

Syukurlah waktu muda dulu sempat belajar ‘cara mengetik sepuluh jari buta’ dari tante Niek (alm.) Jadi itu membantu sekali. Jari-jari tangan nggak perlu bantuan mata untuk mencari tuts yang cocok. Semuanya langsung ada hasilnya di screen. Oleh karena itu, tema yang aku tulis sangat beragam. Kebanyakan ya disekitar kehidupanku aja. Apa yang aku tulis, tentunya nggak perlu diceritakan lagi. Silahkan ngulik aja blog ini, saya yakin, sampai sorepun mbacanya pasti belum kelar. :mrgreen:

Lanjutkan membaca “menulis pak ?”

(kemampuan) menulis modal penting ambil S3

Semakin hari semakin terasa, bahwa pendidikan level S1 adalah tidak mencukupi, khususnya yang mempunyai rencana hidup menjadi guru atau dosen. Semakin tinggi level pendidikan yang anda raih, semakin menguntungkan posisi anda yang bekerja di sektor pendidikan. Itu jelas sudah terbukti ! Beberapa rekan yang saya kenal, setelah lulus S3 maka dengan santainya, jabatan eksklusif, yang dicari-cari banyak orang, ternyata sudah menunggu dengan sabar. Ada yang jadi dekan, jadi ketua program magister, jadi ketua jurusan, dan bahkan ada yang bisa meraih kursi jabatan rektor.

Lanjutkan membaca “(kemampuan) menulis modal penting ambil S3”

pelajaran bahasa Indonesia

Tadi pagi baru saja selesai rapat dosen di Jurusan Teknik Sipil UPH. Ada informasi dari Kajur bahwa berkaitan dengan kurikulum baru maka muatan wajib, mata kuliah Bahasa Indonesia dinaikkan, dari 2 sks menjadi 3 sks, perintah DIKTI katanya.

Bagi pecinta negeri ini pasti bersyukur: “Hiduplah Indonesia Raya !”.  Sebagian besar pasti setuju mendukung hal tersebut, meskipun untuk itu maka ada mata kuliah rekayasa tertentu yang harus menjadi korban. Kenapa ? Ya untuk mempertahankan jumlah SKS yang totalnya 144 atau 146 sks itu. Yah, namanya aja cinta negeri, jadi harus berkorbanlah !

Pak Wir setuju khan ? Demikian seorang teman dosen bertanya.

Lanjutkan membaca “pelajaran bahasa Indonesia”

mempersiapkan presentasi

Bagi siswa, dosen, ataupun pembicara maka mempersiapkan suatu presentasi adalah sangat-sangat penting sekali. Ini tentunya dengan asumsi bahwa bidang yang akan disampaikan adalah eksak (science and engineering).

Rasanya sangat jarang atau hampir belum pernah melihat ada pembicara di bidang rekayasa misalnya, yang berbicara di depan hanya mengandalkan materi lesan saja. Memang ada sih, misalnya karena listrik mati atau file-nya hilang padahal acara sudah berjalan, dan kalau harus mengambil kembali waktunya tidak mencukupi. Pada kondisi tersebut maka pembicara yang berhasil akan berganti topik yang dibicarakan , tidak detail tapi lebih umum sifatnya sehingga materi lesan yang diberikan hanya terbatas yang orang lain (pendengar) juga memahami konteksnya (dapat membayangkannya). Hal tersebut misalnya, ketika menceritakan pengalaman pribadinya dulu ketika belajar di LN, atau pengalamannya di suatu tempat tertentu, yang mungkin lebih mudah menceritakannya dalam bentuk kata-kata dibanding jika harus menggambarkan atau memilih illustrasi yang mewakili perasaannya itu.

Lanjutkan membaca “mempersiapkan presentasi”

penulis umumnya introvet ?

Makan siang ketemu teman dosen non-eksata. Omong-omong banyak, mulai dari studi S3-nya yang sedang berjalan (sama-sama kandidat doktor), suka-dukanya, bahkan sampai pemahaman dia tentang konsep pendidikan bagi anak (anak sendiri maksudnya). Saya kira cukup menarik. Maklum dosennya cukup senior dan banyak pengalamannya, kira-kira sepuluh tahun di atas ku.

Saya bertanya untuk basa-basi :”Wah kalau sudah lulus doktornya, pasti ngejar kum untuk profesor ya pak ?“.

Lanjutkan membaca “penulis umumnya introvet ?”