• Sudah lama tidak membuat tulisan populer terkait bidang teknik sipil. Kebetulan saja ada pertanyaan saudara Deddy yang cukup menggelitik, siapa tahu dari situ dapat dibuat tulisan yang menarik. Ini pertanyaannya :

    deddy commented on jalan beton dan tulangannya

    Sekarang ini banyak galangan kapal yang menggunakan perkerasan rigid seperti jalan raya… kalau di jalan raya menentukan tebal perkerasan berdasarkan data lalu lintas dan di plotkan ke tabel / diagram /// kalau untuk galangan kapal bagaimana pak … mohon pencerahannya.

    Jika membaca pertanyaan di atas, pihak penanya tentunya bukan orang awam di bidang teknik sipil, minimal paham perencanaan konstruksi jalan raya. Karena paham itulah, maka ketika melihat adanya kesamaan fisik, yaitu digunakannya pelat beton di jalan raya dan juga lantai galangan kapal, maka timbullah pertanyaan di atas.

    Meskipun demikian, saya menduga bahwa pengamatan yang dilakukan relatif terbatas, tidak terlalu detail. Hanya dilihat dari pelat betonnya saja. Maklum, konstruksi jalan raya dan konstruksi galangan kapal adalah berbeda, seperti misalnya dari sisi panjang. Dapat dipastikan bahwa ukuran jalan pastilah lebih panjang dari galangan, juga posisinya dimana jalan raya cenderung di atas permukaan tanah, tidak direncanakan tergenangi oleh air. Adapun galangan kapal, agar nantinya kapalnya dapat dengan mudah “lepas” ke sungai atau laut maka posisinya umumnya dibangun di lobang galian, di bawah permukaan tanah. Bahkan mestinya akan lebih baik jika sampai bawah permukaan air.

    Jadi disinilah sebenarnya kerumitan dari suatu perencanaan, meskipun yang digunakan adalah sama-sama pelat beton, tetapi karena fungsi dan cara pemakaianya berbeda, maka strategi perencanaannya juga akan berbeda.

    Cerita tentang pelat beton pada konstruksi jalan raya, saya telah bercerita banyak, yaitu di artikel “jalan beton dan tulangannya”.  Kalau di jalan intinya adalah, material beton lebih murah daripada material baja, karena jalan biasanya volumenya besar (panjangnya itu lho) maka jika material baja-nya minimal tentu akan murah. Strateginya adalah membuat beton berfungsi sebagai topping atau penutup, itulah maka disebut pavement. Adapun yang memikul beban pada dasarnya adalah tanah itu sendiri. Jadi pelat beton untuk jalan raya jelas berbeda sekali dengan pelat beton untuk gedung bertingkat. Tetapi karena panjangnya, maka untuk menghindari kembang susut dan semacamnya maka pelat beton yang digunakan cenderung tidak menerus dengan cara diberi siar dilatasi. Adanya tulangan baja di sekitar siar dilatasi agar di bagian pinggir tidak rusak bila dilalui kendaraan di atasnya. Itu prinsip dasar dari konstruksi jalan raya.

    Untuk konstruksi galangan kapal, tentu tidak seperti itu ceritanya. Karena posisinya dibawah permukaan air (umumnya) maka pada saat perakitan kapal tentunya diusahakan agar permukaannya kering. Itu berarti pelatnya harus menerus, tidak boleh ada siar dilatasi untuk menghindari kebocoran.  Nah adanya harus menerus menyebabkan strategi perencanaan jelas akan berbeda. Konstruksi menerus adalah konstruksi statis tak tentu, sangat dipengaruhi oleh deformasi atau penurunan tanah.

    Kondisi di atas menyebabkan sangat riskan menempatkan konstruksi pelat beton untuk galangan kapal, langsung di atas tanah, kecuali memang dapat dibuktikan bahwa kondisi tanahnya sangat baik. Jadi kalau kondisi tanahnya jelek, maka strategi perencanaannya bisa seperti perencanaan pelat gedung bertingkat atau suspended slab.

    Itu tadi terhadap pembebanan vertikal gravitasi (arah ke bawah), yaitu dengan asumsi bahwa kondisi permukaan airnya di bawah permukaan pelat. Bagaimana jika kondisi permukaan airnya berada di atas pelat, dan lantai galangan harus kering. Jika bisa, maka berarti ada perbedaan tinggi permukaan air, dan itu menyebabkan ada tekanan hidrostatis ke atas atau gaya apung . Bisa-bisa ini bahkan lebih besar dari beban vertikal gravitasinya lho. Bayangkan saja, beban hidup 1.5 ton/m2 saja sudah dirasa sangat besar, jika kemudian permukaannya saja ada perbedaan 2 m, maka akan ada tekanan ke atas (hidrostatis) sebesar 2 ton/m2. Lebih besar bukan.

    Nah, umumnya untuk mengatasi gaya apung, maka berat sendiri struktur ditingkatkan, misalnya dengan menambah ketebalan. Jika tidak, maka pelatnya bisa-bisa terangkat.

    Jadi di sini, dalam perencanaan galangan kapal, perlu dipikirkan juga kondisi kering (tanpa kapal), kondisi kering dengan kapal, dan juga kemampuan pondasi untuk tidak mengalami penurunan. Maklum, jika terjadi penurunan, dan pelatnya tidak didesain untuk itu, maka itu artinya membolehkan pelat mengalami retak, akibatnya bocor. Jika bocor tentu susah mengeringkan, bisa tergenang. Dan jika tergenang fungsinya tidak bisa lagi sebagai galangan kapal, paling-paling kolam renang.

    Begitu dulu ya.  Salam.

  • Diskusi soal ini (otorisasi mengajar) tentunya dapat dianggap penting, maklum dalam era demokrasi yang didukung oleh otoritas hukum kadang-kadang setiap topik yang terkait kepentingan seseorang atau sekelompok, dapat saja diperdebatkan. Bayangkan saja, jika ada suatu hal yang tidak tegas, atau hanya tersirat tetapi telah  disepakati bersama, lalu kemudian ada yang berhasil menyuratkan (meskipun belum semuanya menyepakati) dan dapat membawanya ke ranah hukum untuk dibuatkan undang-undang, maka bisa jadi : tujuannya menjadi menyimpang dari semula (menjadi ada yang tidak sepakat).

    Lihat saja, tempo hari ada sekolompok mahasiswa bidang pendidikan melek hukum yang dapat membawa kasus bahwa “hanya sarjana lulusan pendidikan saja yang berhak jadi guru, sedangkan sarjana yang lain tidak boleh“. Untunglah MK dapat memutuskan kasus tersebut secara bijak, yaitu tidak disetujui untuk dibahas lebih lanjut. Coba kalau MK kurang smart sehingga dapat diyakinkan penggugat dan meloloskannya dalam bentuk undang-undang. Bisa-bisa ada kekacauan di bidang kependidikan. Kenapa, jika belum paham silahkan saja baca opini saya tentang hal itu di sini.

    (lebih…)

  • Bulan April telah tiba. Rencana pihak penerbit untuk me-release buku “Komputer Rekayasa Struktur dengan SAP2000” dipastikan sesuai jadwal. Bagaimana tidak, saat ini setelah proses proof check selesai, dilanjutkan penanda-tanganan kontrak antara penerbit dan percetakan. Itu berarti produksi buku sebanyak 2000 eks telah dimulai. Proses pencetakan sesuai kontraknya adalah 12 hari kerja. Moga-moga tidak ada halangan yang ditemui.

    Langkah selanjutnya dari bisnis tersebut adalah melakukan promosi. Tahap pertama dari proses promosi atau distribusi buku tersebut adalah membuat website untuk pemesanan on-line, yaitu http://lumina-press.com. Sudahkan anda melihatnya.

    Saya mengusulkan website tersebut mempunyai mekanisme kerja seperti yang dipunyai amazon.com , yang telah saya buktikan keunggulannya dalam pembelian buku-buku literatur dari luar negeri. Hanya saja memang  belum bisa ter-connect langsung dengan credit-card. Ini tentu berbeda dengan yang dimiliki Amazon, yang mana dapat melakukan verifikasi secara otomatis dengan credit-card yang kita punyai, minimal jika nomer credit-card-nya kita tuliskan, maka Amazon dapat menampilkan alamat dari pemilik credit-card tersebut secara otomatis. Kondisi seperti itu akan membuat pemesan merasa yakin bahwa kirimannya akan dikirim secara tepat. Faktanya, selama ini hampir semua kiriman dari Amazon dapat datang tepat waktu.

    Adapun fasilitas yang ada di lumina-press.com masih bersifat manual, belum pakai credit-card. Jadi langkahnya bikin log-in pemesanan melalui website tersebut, ditambah informasi kota atau alamat pengiriman buku maka website akan menampilkan harga buku plus ongkos kirim yang diperlukan kepada pemesan. Jadi ada variabel ongkos pengiriman yang akan ditambahkan. Maklum, tiap kota bisa berbeda-beda besarannya.  Selanjutnya dengan besaran yang disampaikan tersebut, pemesan wajib melakukan transfer biaya pembelian buku. Bukti transfer perlu dikirimkan atau diinformasikan kembali ke website. Informasi “bukti transfer” akan digunakan sebagai perintah kerja pada penerbit untuk mengirimkan buku sesuai alamat yang didaftarkan oleh pemesan.

    Distribusi buku melalui on-line dipilih karena penerbit mempunyai keyakinan bahwa pembaca atau tepatnya peminat buku sebagian besar adalah para pembaca blog ini. Memang sih, nanti akan dipertimbangkan juga untuk mengirimkannya pada toko buku. Tetapi tentunya perlu dilihat dari perkembangan yang ada. Jika ternyata strategi via on-line efektif maka tentunya distribusi ke toko buku akan menjadi sekunder (prioritas terakhir).

    O ya, dalam menerbitkan buku tersebut ada dua jenis sampul, yang sebanyak 2000 eksemplar tersebut adalah tipe soft-cover. Ini tipe yang umum dijumpai, harganya sudah fixed yaitu Rp 180.000,- + ongkos kirim (bervariasi tergantung lokasi). Pihak penerbit juga mencoba edisi lux, yaitu hard-cover. Tidak banyak memang yang diproduksi, yaitu hanya sebanyak 100 eksemplar. Maklum meskipun hanya beda pada proses penjilidannya, tetapi harga produksinya dua kali lipat dari biaya soft-cover. Memang sih, maksudnya bukan untuk dijual, tetapi lebih kepada bentuk hadiah. Nah kayaknya ini strategi penerbit dalam mewujudkan keyakinan bisninya : “banyak memberi banyak menerima“. Bagi kolektor yang ingin memiliki versi tersebut (hard-cover) silahkan saja mengkontak penerbit di lumina-press.

    Usaha mempromosikan buku, tidak terbatas pada blog ini tetapi langsung kepada orang-orang yang berpotensi. Seperti misalnya tadi pagi, ada tamu yang kebetulan pejabat institusi pendidikan di PT lain. Maksud kedatangannya sih untuk meminta tanda-tangan BKD, kebetulan saya mempunyai sertifikat asesor jadi pada masa-masa seperti sekarang ini banyak yang nyari. 😀

    Omong-omong tentang BKD maka pembicaraan tentu tidak lepas dari apa itu Tridharma Perguruan Tinggi, yang mana yang paling seru adalah publikasi dari seorang pengajar. Nah saat seru-serunya berdiskusi tentang publikasi ini maka masuklah cerita akan diterbitkannya buku SAP2000 tersebut. Ini perlu aku ungkapkan karena terkait proses tulis menulis saya bilang, bahwa menulis itu nggak mudah, tidak banyak dosen yang menikmatinya. Maklum, sekarang ini memang banyak dosen yang menulis, tetapi itu umumnya sekedar untuk memenuhi persyaratan BKD. Tidak dinikmati bahkan ada yang melihatnya sebagai paksaan. 😦

    Itu tadi aku maksudkan tulisan dalam bentuk prosiding atau jurnal. Kalau dalam bentuk buku, lebih jarang lagi. Maklum, karena kalau menulis dalam bentuk buku maka pertanyaannya adalah siapa yang mau menerbitkannya. Kalau ada yang mau sih nggak ada masalah. Maklum dalam penulisan buku, yang susah tidak hanya bagaimana menulisnya saja, tetapi juga bagaimana menjual buku tersebut. Nggak gampang itu. Apalagi kalau penerbit mematok harga yang di atas rata-rata. Mahasiswa khan umumnya lebih rela untuk membeli pulsa daripada membeli buku. Betul nggak.

    Pendapat di atas ternyata diamini oleh ke dua tamuku, yang notabene pejabat-pejabat institusi pendidikan. Ini menurut beliau: “Gimana lagi pak Wir, dari buku-buku yang ada, tidak semua mudah dipahami. Itu bukunya (sambil merujuk nama pakar dengan gelar segudang) meskipun tebal, tetapi sulit dicerna. Lebih enak membaca buku luar. Nggak tahu, kenapa ?“.

    Padahal kalau mau jujur, buku-buku teknik sipil di rak-rak toko buku, seperti Gramedia, adalah sangat jarang keberadaannya. Bahkan tamuku tadi bilang, kondisi tersebut  sebenarnya bisa menjadi “laut biru” kesempatan bisnis untuk menyediakan buku-buku teknik. Aneh juga khan, apalagi seperti saat ini, dimana pembangunan sudah mulai hidup lagi. Itu berarti kehidupan dengan profesi teknik sipil dijamin, bahkan mulai dicari-cari. Tentu saja untuk itu perlu belajar ilmu teknik sipil agar bisa eksis di profesi tersebut.

    Nah, salah satu cara untuk belajar ilmu teknik sipil khan dengan membaca buku-buku yang terkait teknik sipil.

    Sebenarnya itu khan potensi untuk menerbitkan buku-buku teknik sipil. Hanya saja, yang punya pengalaman menulis tentu akan merasakan bahwa mencari penerbit yang mau menerbitkan buku-buku teknik sipil adalah tidak gampang. Termasuk saya juga yang mengalaminya. Buku SAP2000 yang akan terbit inipun, sebelum ketemu dengan penerbit Lumina Press telah coba saya tawarkan kepada penerbit-penerbit lain yang ada. Tawaran yang mereka berikan tidak menarik, cenderung meragukan. Padahal tahu sendiri, permintaan yang datang akan buku tersebut, tidak sedikit. Tapi mereka masih cenderung ragu-ragu.

    Kalau diperhatikan, itu disebabkan mereka, para penerbit, umumnya tidak berlatar belakang teknik. Jadi wajar saja jika mereka tidak bisa  melihat potensi tersebut. Ini tentunya berbeda dengan pengelola penerbit Lumina Press ini, beliaunya punya latar belakang pendidikan, baik S1 maupun S2 adalah teknik sipil, juga bisnis sehari-harinya adalah di bidang konstruksi. Karena itulah beliaunya bisa melihat potensi pasar yang ada dan yang lebih penting meyakini bahwa author-nya punya potensi. Jadilah penerbitan ini.

    Terkait dengan penerbitan buku SAP2000 ini, penerbit juga mengusulkan untuk membuat seminar atau semacamnya. Saya sebagai penulis tentu saja mendukung. Tetapi agar sukses maka seminar tersebut sebaiknya bekerja sama dengan institusi pendidikan, yang tentunya bisa mempersiapkan tempat dan sekaligus hadirin yang berminat. Nah bagi institusi atau organisasi yang berminat untuk acara seperti itu, bisa menghubungi penerbit untuk membicarakan detailnya. Penulis dan penerbit melihat peluang itu sebagai sarana promosi, sedangkan penyelenggara dapat memanfaatkan sebagai kegiatan ilmiah di luar jam perkuliahan.

  • Jangan kaget dan heran, jika penulis yang biasa hidup di dunia rasional, maklum berlatar belakang teknik, ternyata tertarik juga menuliskan sesuatu yang kelihatannya irrasional. Apakah itu berarti yang bersifat irrasional tidak menarik untuk diungkapkan ?

    Suatu pertanyaan menarik. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu yang bertepatan dengan minggu Paskah. Satu rangkaian terkait perayaan besar umat kristiani, yang dimulai dari hari Kamis Putih (Perjamuan terakhir), Jumat Agung (Penyaliban dan Kematian Yesus) dan Paskah (Kebangkitan Yesus). Suatu peristiwa yang bagi sebagian orang, dapat disebut  irrasional sehingga tidak perlu dipercaya. Tetapi saya, sebagai bagian dari umat kristiani, mempercayai betul peristiwa tersebut dan maknanya. Nah, bagi umat kristiani pembaca blog ini, sekaligus diucapkan “Selamat Paskah, Tuhan Yesus telah mengalahkan maut dan menebus doa kita, umat manusia. Bawalah sukacita dan damai sejahtera bagi kita semua.“.

    Ucapan selamat di atas merupakan petunjuk bahwa rasional dan irrasional, bisa berbeda antara manusia satu dengan lainnya. Kita yang hidup di negara berdasarkan Pancasila tentu tidak perlu mempermasalahkan hal itu. O ya, saya memakai istilah rasional dan irrasional, dan bukan ilmiah atau non-ilmiah. Jika istilah yang terakhir itu yang dipilih, berarti harus ditunjukkan bahwa hal itu dapat dibuktikan ulang. Adapun istilah rasional atau irrasional hanya merujuk pada kondisi dapat diterima rasio (pikiran) dan dipercayainya, serta tidak perlu dibuktikan ulang.

    Tulisan ini perlu diungkapkan karena prihatin dengan kondisi masyarakat sekarang ini. Bayangkan saja, di level lembaga resmi sudah digulirkan wacana tentang UU tentang santet. Itu menunjukkan bahwa santet sesuatu yang resmi diakui oleh negara, padahal di sisi lain sejak kemerdekaan kita telah mempunyai komponen dasar negara yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Apakah itu bukan suatu kemunduran. Bahkan saat inipun, di pinggir ibukota, di daerah Bekasi, dapat saja terjadi penggusuran rumah ibadat yang kontroversial. Ini beritanya. Jadi aneh saja khan, di satu sisi ada sebagian rakyat yang sedang memperjuangkan mengamalkan sila pertama Pancasila, eh negara tidak mendukung. Di sisi lain, wakil rakyat yang diharapkan bahkan memperjuangkan santet. Khan ini tidak urgent, ditambah pemimpinnya yang diharapkan oleh sebagian rakyat hanya sibuk memikirkan partai. Anda itu dipilih menjadi paling atas di negara ini, dengan maksud agar mengayomi rakyat. Itu berarti di atas semua golongan. Partai dibentuk hanya sebagai sarana menuju ke situ. Ingat pak, ada yang lebih besar dan jangan terjebak pada rutinitas.

    Eh koq jadi keluhan. Mari kita kembali ke rasional dan irrasional.

    Perdebatan tentang masalah irrasional dan rasional bagi manusia adalah wajar, maklum pada dasarnya kita ini terbatas, tidak berdaya, dan yang namanya kesengsaraan (kesedihan, ketakutan ) itu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Itulah mengapa kita bersatu padu mengatasinya, membentuk negara dan hukum. Untuk apa itu semua, ya agar kita tidak takut lagi dan tidak sedih lagi. Dengan adanya negara dan hukum maka kita tidak hidup seperti ditengah hutan, yang mengandalkan hukum rimba. Maklum, manusia itu kalau dibiarkan saja semaunya bisa lebih menakutkan daripada serigala. Dengan cara pikir seperti itulah, bahwa kita yang telah mempunyai negara dan hukum, tetapi kaget juga dengan dapat terjadinya peristiwa seperti di Bekasi tersebut. Mana fungsi negara kalau begitu.

    Itu tadi di sisi lain, di sisi pribadi juga terlihat tidak ada pertumbuhan dalam hal rasional dan irrasional. Lihat saja sekarang banyak diungkap media tentang pentingnya perdukunan. Bahkan baru-baru ini ada kesaksian artis yang merasa ditipu dukunnya, yang disiarkan berulang-ulang.

    Apakah itu semua bukan merupakan upaya menurunkan derajat agama, hanya sekedar menjadi identitas sekelompok orang, dan bahkan nantinya menjadi tidak berbeda dengan sebutan ormas atau semacamnya.

    Banyaknya dukun dan dibahasnya santet menjadi agenda resmi negara menunjukkan bahwa banyak dari kita ini tidak sanggup menjangkau yang Maha Kuasa, yang Maha Kasih melalui agama yang dianutnya. Sedih tentunya, karena memang ada yang melihat bahwa menghadiri misa di Gereja sebagai sebagai ritual kewajiban, yang jika tidak hadir dianggap tidak beragama. Dimana itu menjadi stigma yang ditakuti daripada tidak dekat dengan yang Maha Kuasa itu sendiri.

    Maklum saat ini orang lebih puas dengan kenampakan lahir, sudah puas dengan melihat orang datang ke Gereja atau ke Mesjid secara rutin, atau bersembahyang tepat lima waktu. Itu semua khan sekedar petunjuk agama agar kita lekat dengan sang Maha Kuasa itu sendiri. Itu pula yang menjadi jawaban, mengapa di Indonesia yang rakyatnya rajin beribadah, tetapi korupsinya tetap hingar bingar, dukun-dukun masih eksis, bahkan di promosikan di media-media ini juga.

    Bagaimanapun, agama adalah penting karena di dalamnya terdapat petunjuk yang jelas bagaimana kita dapat bersatu dengan yang Maha Kuasa dan menjadi saluran berkat-Nya. Nah bagaimana itu caranya, saya kira itu sudah cukup jelas. Jika belum puas bisa langsung ke pemuka agama masing-masing.

    Nah yang paling penting adalah mengetahui bagaimana ciri-ciri orang yang telah melekat dengan-Nya. Tentu ini pendapat pribadi, jika ada yang lebih baik mohon ditambahkan.

    Orang yang lekat dengan Tuhan secara umum adalah orang yang membawa suka-cita, mensyukuri kehidupannya dan merasa dipilih untuk membawa berkat bagi orang lain, lebih baik memberi daripada menerima, bahkan bersedia melayani dalam kasih untuk mengupayakan damai dan sejahtera bagi sesama.

    Jadi selain taat beribadah, sudahkan buahnya seperti itu. Selamat Paskah, Tuhan memberkati kita semua.

  • Di sela-sela hingar bingar berita di media elektronik, yang umumnya hanya berkisar tentang diketemukannya kasus korupsi, narkoba, juga kekisruhan politik, ternyata diam-diam ada juga yang mempertanyakan profesi guru.

    Ini berita yang dimaksud :

    Kamis, 28/03/2013 18:49 WIB
    MK Putuskan Profesi Guru Bukan Monopoli Sarjana Pendidikan
    Danu Damarjati – detikNews

    Ternyata diam-diam ada yang ngotot memperjuangkan persyaratan orang untuk berprofesi menjadi guru. Idenya mungkin seperti dokter, yang mana hanya boleh diberikan bagi orang yang telah lulus menempuh pendidikan dokter. Jadi mereka yang menuntut itu berharap bahwa hanya orang-orang yang telah menempuh sarjana pendidikan saja yang boleh menjadi guru.

    Guru, profesi yang menarikkah.

    Saat ini mungkin begitu, maklum adanya pengakuan UU menyebabkan logis jika pada profesi tersebut diberikan tunjangan dari pemerintah, sebagai tambahan dari gaji yang telah diterima selama ini oleh guru. Hanya memang, rasanya belum menjangkau semua guru, hanya yang telah ter-sertifikasi saja.

    Terlepas dari itu (belum semuanya tersertifikasi), tetapi karena ada jaminan undang-undang dan juga kecenderungan, “guru-tetap” (lawannya adalah guru tidak tetap) lebih diprioritaskan, maka profesi menjadi guru dapat dianggap sebagai peluang yang menarik, untuk mendapatkan kepastian suatu pekerjaan. Maklum, jadi pegawai swasta atau buruh, juga rawan lho untuk kena PHK.

    Tentang PHK atau perusahaan bangkrut, memang beritanya jarang kita dengar. Koran-koran media umumnya lebih suka memberitakan adanya segerombolan buruh-buruh yang sedang melakukan protes kenaikan UMR. Mereka (media) menganggapnya berita yang populer, atau seakan-akan berita yang memihak pada yang lemah (keadilan).

    Faktanya, memang ada perubahan kenaikan UMR. Ada buruh-buruh yang senang mendapatkan itu, tetapi ternyata ada juga sebagian (kecil) yang bahkan tidak mendapatkan apa-apa, maklum perusahaan tempatnya bekerja telah mengalokasikan pabriknya, pindah ke tempat baru yang dirasakan lebih menguntungkan (UMR yang dianggap wajar atau buruh yang tidak suka sedikit-sedikit demo). Kalau mau melihat lapangan, kadang-kadang ngeri juga karena untuk demo tersebut kesannya paksaan, ada sebagian buruh, yang mengaku dari kelompok (kelompok apa ya) yang datang untuk sweeping jika ada buruh yang tidak bersolidaritas. Padahal kalau pabriknya bangkrut, kelompok tadi diem saja. 😦

    Relokasi pabrik memang bisa saja dikesankan  positip, tetapi tidak menutup pula jika ternyata pabrik tersebut menjadi bangkrut. Kalau nggak percaya, lihat saja pabrik-pabrik di sekitar pinggiran Jakarta. Pak Jokowi saja tempo hari pernah menyatakan bahwa ada puluhan pabrik yang melakukan relokasi. Bayangkan saja, apakah pemiliknya juga mengajak serta buruhnya. Kondisi tersebut di atas, terjadi pada perusahaan atau pabrik, dan jarang sekali hal itu terjadi pada sekolah-sekolah, tempat bekerjanya guru. Kondisi itu khan jelas menunjukkan bahwa kepastian kerja profesi guru adalah lebih baik dibanding menjadi buruh. 😀

    Adanya hal-hal yang positip itulah maka ada sekelompok orang yang memperjuangkan melalui mekanisme undang-undang bahwa yang boleh bekerja sebagai guru hanya lulusan sarjana pendidikan. Mau di monopoli begitu kelihatannya.

    Untunglah, MK dapat mengambil keputusan, yang menurutku adalah tepat, bahwa profesi guru adalah berbeda dengan profesi kedokteran. Yang boleh menjadi guru, tidak terbatas hanya lulusan sarjana pendidikan saja, tetapi sarjana-sarjana yang lain, yang memenuhi kualifikasi tertentu.

    Ini penting diungkapkan, karena meskipun guru pekerjaan utamanya adalah mendidik dan mengajar, tetapi sebenarnya yang dipentingkan adalah kemampuan mentransfer materi / pengetahuan / keahlian yang dimilikinya. Memang sih, pada level bawah, pendidikan dasar, maka fungsi pendidikan siswa lebih besar porsinya, yaitu memberi nilai-nilai dasar kehidupan. Semakin tinggi level pendidikan maka kompetensi non-kependidikan akan menjadi besar. Apalagi guru di level perguruan tinggi, yang kadang disebut juga sebagai dosen. Nama sih boleh beda-beda penyebutannya, tetapi sebenarnya adalah guru juga. Itulah mengapa aku yang dosen ini (katanya) juga menulis tentang topik guru ini.

    Guru di level pendidikan tinggi, atau dosen, karena lebih banyak diharapkan pada level kompetensi non-kependikan maka mereka mengenal istilah tridharma perguruan tinggi, dimana pendidikan dan pengajaran hanya mendapat porsi 1/3 (kira-kira), ada yang lain, yaitu porsi riset-publikasi ilmiah dan porsi pengabdian masyarakat. Pada porsi yang terakhir itulah maka kadang-kadang ada harapan bahwa keberadaan perguruan tinggi dapat menyumbangkan solusi bagi kemajuan negeri. 😀

    Nah yang namanya sarjana pendidikan, memang tidak diragukan lagi bahwa mereka telah belajar banyak tentang pendidikan itu sendiri. Tapi tentang konten, atau materi yang diajarkan maka tentu tidak bisa dipastikan. Jadi sebagai gambarannya, guru yang bertugas untuk mendidik dan mengajar, maka dapat dianggap mereka kompeten di bidang pendidikan (yang utama untuk pendidikan dasar) tetapi di bidang pengajaran (sain / pengetahuan / keahlian) belum tentu dapat dibandingkan dengan sarjana lainnya. Itulah mengapa, guru di level pendidikan tinggi, seperti aku ini, tidak berangkat dari pendidikan guru.

    Itulah mengapa, aku mendukung MK yang mengambil keputusan bahwa profesi guru tidak terbatas pada orang-orang yang telah punya gelar sarjana pendidikan.

    Jika kita berorientasi pada kemajuan bangsa bahkan profesi guru perlu diberikan persyaratan yang ketat, nggak sembarang orang dapat bekerja di sana. Ini penting, apalagi sampai-sampai ada pepatah : “guru kencing berdiri, murid kencing berlari“.

    Maklum, mendidik dan mengajar orang yang baik, adalah tidak sekedar memberikan pengetahuan atau keahlian, tetapi juga sikap hidup (attitude) yang positip. Guru harus dapat menjadi teladan, minimal dapat memberikan semangat belajar bagi anak-anak didiknya. Saya kira untuk mengantisipasi adanya orang yang dipagi hari berprofesi guru, tetapi sore hari jadi tukang ojek, maka diberikannya insentif oleh pemerintah melalui sertifikasi dosen.

    Kemampuan menjadi teladan, dapat menunjukkan atau memberikan semangat belajar yang tinggi pada anak-anak. Jika itu dijiwai dengan baik, maka meskipun tidak terasa tetapi dapat dijamin bahwa kompetisi guru tersebut nantinya pasti akan meningkat, semakin maju. Bahkan, jika lingkungannya tidak mendukung bisa dipastikan, guru yang semakin maju tersebut, akan berani mendobrak, atau minimal keluar untuk mencari lingkungan kehidupan yang lebih baik. Jika itu terjadi maka dapat dipastikan tidak akan ada lagi orang-orang yang mengaku berprofesi guru yang datang berdemo meminta kenaikan gaji dan semacamnya. Jika mereka mempunyai kompetensi yang memang sesuai dengan namanya guru (orang yang lebih pintar dari lainnya) maka tentunya mereka tidak perlu sampai mengemis-ngemis ke MK minta diperjuangkan nasibnya.

    Semoga kedepannya, profesi guru di Indonesia dapat menjadi seperti “guru silat”, disegani. Semoga.

  • Punya hobby membaca dan kemudian bekerja sebagai dosen. Wah itu seperti pepatah jawa: “tumbu oleh tutup”, kebetulan sekali. Maklum orang lain melihatnya seperti bekerja padahal memang hobby-nya.

    Kadangkala membedakan antara orang yang membaca dan yang belajar, ternyata berbeda sangat tipis. Lihat saja, kalau ada seorang anak yang terlihat memegang buku-buku fisika atau matematik, orang akan mengatakannya bahwa anak tersebut sedang belajar. Adapun yang dipegang adalah buku komik, atau majalah game, maka disebutlah membaca. Jarang yang menyebutnya sebagai sedang belajar. 😀

    (lebih…)

  • Tugasku bersama Adobe InDesign selama beberapa minggu ini untuk sementara telah selesai. Saat ini tanggung jawab telah berpindah ke bagian penerbit dan bagian percetakan. Oleh karena itu pula maka tentunya aku dapat mengisi / menulis untuk blog ini lagi. Hore !

    (lebih…)

  • Engineering design dan graphic design ternyata ada kesamaannya, yaitu sama-sama dapat dinikmati. Yah, mungkin seperti kalau anakku lupa waktu kalau sedang bermain Playstation. Jadi melakukan design itu ibarat seperti bermain game bagi seorang engineer:)

    Coba bayangkan, mengubah-ubah warna saja, situasi jadi berbeda. Apakah warnanya RGB atau CMYK ternyata dampaknya bisa lain. Jika dari RGB terlihat bagus, tetapi ketika dipindah ke CMYK warnanya berubah.

    Juga tahu, kalau outputnya adalah alat cetak, maka yang dipilih adalah warna CMYK. Nah dengan sedikit pengetahuan tentang itu, maka pilihan warna-warna yang ada aku aplikasikan pada desain sampul buku SAP2000.

    (lebih…)

  • Menarik juga ya ilmu DKV (desain komunikasi visual), layout, warna, jenis font, ternyata ada artinya semua. Untunglah sekarang ini sudah banyak program komputer yang mendukungnya, misalnya Adobe Indesign. Program itulah yang digunakan penerbit untuk menyusun layout sampul buku yang akan aku terbitkan. Maklum, sampul buku ibarat tampilan luar, nggak menarik maka nggak ada yang melirik.

    (lebih…)

  • Judul di atas selalu hadir (umumnya) di dalam sebuah buku. Tidak sembarang buku tentunya, hanya buku-buku yang diterbitkan untuk merepresentasikan keberadaan pengarangnya. Demikian juga dengan buku saya yang segera terbit ini.

    Informasi tentang penulis tentunya sangat penting, adanya hal itu menyebabkan sang penulis akan dikenal atau bahkan dikenang bertahun-tahun kemudian, bahkan setelah penulisnya meninggalkan dunia. Abadi.

    (lebih…)